MIFEE: Kalaulah dia jadi …

0
180
Korban Sawit di Mimika, Papua

Dalam diskusi meja bundar (DMB) tentang MIFEE di LIPI pada 1 Juni 2011 lalu, Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, melalui sambungan telpon menyatakan bahwa pembangunan penting bagi Papua. Siapapun boleh berinvestasi di Papua dengan syarat tidak membuat orang Papua asli (OPA) menjadi korban……

Enam puluh lebih tahun Indonesia merdeka dan lebih 50 tahun Papua telah menjadi bagian Indonesia. Namun dunia bisa menyaksikan betapa OPA terhempas dan putus dari derap kemajuan yang diuar-uarkan Indonesia. Dibanding daerah lain, Papua lebih muda usia jadi bagian Indonesia. Tapi dia punya nasib tak ubahnya opa-opa di panti jompo bagi orang-orang tak dikenal. Urusannya jadi karitatif, dan itu melulu tergantung hati orang. Ketemu orang baik beruntunglah Papua, jumpa penipu celakalah dia.

Di tengah Papua yang seperti itulah MIFEE hadir. Merauke Integrated Food and Energy Estate itu mengibarkan bendera janji kemakmuran energi dan pangan. Tapi ia tak kunjung berujar mau keruk perut bumi Merauke sampai orang pada bertanya “apa yang akan kau bikin” agar pangan dan energi jadi melimpah.
Papua memang cermin kilap dari nasib bernegara. Cermin itu memantulkan berkas-berkas kilauan janji investasi yang datang dari luar. Bersitan pantulan bisa menerangi lorong-lorong gelap di muka bumi. Namun cermin itu tak dirawat. Ia diabaikan. Punggungnya penuh karat dan mengelupas. Depannya pudar kehitaman, sementara berwarna-warni insan menyeruak ke sana tak peduli cermin itu mulai retak … dan retak lagi.

Papua memang benih kemakmuran. Bak benih ia tumbuh dan berbuah. Daun dan rantingnya tua tumpas gugur menyuburkan batang tumbuh gagah. Kata pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Pepatah itu lupa, benih Papua tumbuh di lereng curam. Buahnya bergulir masuk gerbang-gerbang yang menganga nun jauh di bawah, menyekap melahap semua hasil pohonnya. Bahkan lereng itu makin hari makin digerus, makin curam dia. Agar buahnya makin mudah dan cepat bergulingan jatuh masuk gudang si pengeruk. Namun si pengeruk lupa. Pohon mengenal musim. Ia akan tumpas suatu saat kala kala batang menua dan lapuk. Kala itu benih barunya telah terbang melayang jauh ke tanah kerinduan untuk tumbuh bersemi lagi.

Siapa dia MIFEE di tengah Papua yang begitu? Apa dia si pengeruk? Atau pelindung setia pohon Papua di Merauke? Dunia akan lihat di mana MIFEE berdiri dan berulah. Kalaulah dia bangun gudang di lereng, menganga menanti aliran madu sungai Papua; kalaulah dia jadi penggerus tanah, urat nadi dan punggung Papua, tak pelak MIFEE adalah bencana. Kalaulah dia penawar dahaga, pun pula si penyiram pohon Papua, entah bisakah dia seperti itu?

Papua kini memang terhempas dan putus. Namun Papua bukan layang-layang. Papua adalah suku bangsa, perikatan kokoh manusia. Ia tak butuh tali kembara karena ia dapat mengembara sendiri.