Keluarga Tahija Kuasai Ruang Hidup Tiga Suku di Papua Barat

1
52
Simbol Penanaman Sawit Oleh Keluarga Tahija di Area Sawit ANJ Hekcsagon Robate Bloc C
Simbol Penanaman Sawit Oleh Keluarga Tahija di Area Sawit ANJ Hekcsagon Robate Bloc C

Perusahaan kelapa sawit milik keluarga Tahija yang bernama Austindo Nusantara Jaya (ANJ), menguasai ruang hidup orang Papua. Ada tiga suku besar yang terpengaruh dan menanggung dampak dari usaha perkebunan kelapa sawit, yakni: Suku Awe di bagian selatan Kali Kais, Suku Kais (kaiso) dan Suku Maybrat yang berada di daratan Kais, Sorong Selatan. Mereka kehilangan  tanah, hutan dan kerusakan lingkungan habitat, tempat hidup berbagai keanekaragaman hayati.

Perkebunan kelapa sawit ANJ di daerah ketiga suku tersebut, dikelola oleh PT. PMP (Putera Manunggal Perkasa) luasnya mencapai 23.424 hektar. Selain itu, ANJ juga memiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit lainnya didaerah ini, yakni:  PT. Permata Putera Mandiri (PT.PPM) di Sorong Selatan dan PT. PAM (Pusaka Agro Makmur) di Maybrat.

Kebanyakan warga pemilik ulayat tidak paham apa itu sawit? karena ini jenis tanaman yang mereka baru temui. Selama ini mereka hanya tahu sagu dan jenis pohon lainnya yang menjadi sumber penghidupan mereka secara turun temurun.

Aplikasi Bisnis dan HAM yang baru diadobsi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melarang segelintir atau kelompok untuk menguasai hajat hidup orang banyak. Sebab, regulasi UN itu menghendaki perusahaan wajib menyelenggarakan urusan HAM dari sebelumnya hanya dikenal negara.

Simbol Penanaman Sawit Oleh Keluarga Tahija di Area Sawit ANJ Hekcsagon Robate Bloc C
Simbol Penanaman Sawit Oleh Keluarga Tahija di Area Sawit ANJ Hekcsagon Robate Bloc C

Jejaring Keluarga Tahija

Gerge Tahija, pemilik perusahaan ANJ, merupakan anak dari Julius Tahija (JT), dikenal sebagai tentara yang berbisnis. Pada era Presiden Suharto, JT ditunjuk untuk melakukan hubungan bisnis dengan perusahaan asal Amerika Serikat di Timika Papua, Freeport. Praktik dari keberadaan freeport sudah banyak diketahui publik. Mulai dari tanah seluas 2 juta hektar hingga konsensi kontrak karya yang cenderung mengalahkan regulasi Undang-Undang Indosia.

Afiliasi bisnis keluarga Tahija antara lain sebagaimana dihimpun oleh PUSAKA, pada tahun 1990 PT AGRO MUKO buka sawit di Bengkulu. Para pemegang saham PT AGRO MUKO (PT AM) antara lain PT TOLAN TIGA INDONESIA of Indonesia, M.P. EVANS & CO LIMITED of the UK, PT AUSTINDO NUSANTARA JAYA of Indonesia, DUETSCHE INVESTITIONS-UND, ENTWICKLUG GESELSCHAFT MBH (DEG) of Germany, INTERNATIONAL FINANCE CORPORATION (I.F.C) of the US. Sementara Mr. George Santosa Tahija dicatat sebagai anggota dari manajemen PT AM

Perusahaan PT AM di Sumatera ini juga anggota dari beberapa group, yakni: member of the SIPEF Group of Belgium, PT TOLAN TIGA INDONESIA, PT BANK DANAMON, PT ROWE EVANS LTD. of the United Kingdom, DEG of Germany, AMBONI ESTATE LIMITED of Chanel Island. Bisnis keluarga Tahija sangat luas. ANJ juga tercatat pada perusahaan perkebunan sawit dan karet di Sumatera Utara, PT PANGKATAN INDONESIA. ANJ mempunyai saham pada perusahaan Produk Baja PT MOON LION INDUSTRIES INDONESIA dan perusahaan perkebunan sawit di Medan, PT ONDOP PERKASA MAKMUR.

peta areal PT PAM di Maybrat
peta areal PT PAM di Maybrat

Pada tahun 2014, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. mengakuisisi seluruh saham PT Pusaka Agro Makmur, perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Papua Barat. Emiten dengan kode saham ANJT itu membeli PT Pusaka Agro Makmur dari Wodi Kaifa Ltd. dan PT Pusaka Agro Sejahtera. Akta jual beli saham No 55 antara Pusaka Agra Sejahtera dan ANJT telah dilakukan dihadapan Mala Mukti, S.H.,LL.M sebagai Notaris.

Pagar Sawit

Ketika anda menuju lokasi sawit melalui jalur kali, maka wajib lapor di pos keamanan. Semuanya wajib lapor dengan menulis nama entah anda pemilik hak ulayat atau hanya pekerja wajib lapor. Alasan sekuriti disini supaya dijemput mobil. Usai dari pos daftar nama, masuk tiap blok anda melewati anjungan pengamanan dan disitu pos penjagaan.

Pihak keamanan ANJ menjaga sawit seperti sipir di penjara jaga para tahanan. Diatas anjungan setinggi ratusan meter itu nampak balon lampu besar yang mampu menerangi dalam beberapa radius. Entah mereka ingin jaga sawit dari hama penghuni huta disini atau demi tujuan lain?

PT Freeport eksis selama 48 tahun lebih dengan skema pengamanan satu pintu. Dimana hanya mereka yang punya ID CARD saja bisa masuk ke areal perusahaan. Pemandangan yang sama persis di areal sawit buatan keluarga Tahija ini. Bukan hanya itu, antara kamp perusahaan dengan kampung disekitar juga beda. Di KAMP Hecksagon lampu menyala 24 jam, sementara kampung Sumano di pinggiran Kali Robate penerangan dengan bahan minyak tanah dengan pelita.

Tergusur dari Ruang Hidup

Sebelum perusahaan kelapa sawit ANJ hadir disini, masyarakat setempat mengantungkan hidup pada luasan hutan dan kali kali disekitar serta dusun sagu. Ke darat untuk berburu dan menokok sagu, sementara ke kali untuk mencari ikan. Saai ini, tradisi tradisi tersebut sudah jarang terlihat.

Tanah rata membentang berubah menjadi lahan sawit, tak ada aktivitas masyarakat adat seperti berburu dan menokok sagu disini. Hanya ada aktivitas para pekerja sawit yang sebagian besar dari luar daerah setempat pikul, tanam dan merawat anakan sawit yang sudah tumbuh.

Tidak ada lagi kicauan burung yang bersolek sana sini. Teriknya matahari  panas tanpa penghalang tajuk pohon langsung menyengat tubuh. Tiada lagi tempat untuk berlindung. Kita hanya memandang ada anjungan keamanan dan mobil perusahaan lalu lintas sana sini. Situasi pemandangan ini berubah sejak tahun 2011.

Orang orang adat yang peka dengan lingkungan mereka  sudah berubah. Perempuan  bercerita masa lalu dan menangisi tanah hutan yang sudah berubah dan hilang. Martha Taerare, perempuan asal Suku Kais, bertanya gusar, “Kemana lagi bersuara untuk menyampaikan masalah yang dihadapi masyarakat? Kami ini tidak punya MOU membuat persetujuan apapun dengan perusahaan, kenapa hutan kami sudah rata?”, ungkap Martha.

Usut punya usut, mereka tahunya ada konsultan yang datang diskusi dengan mereka, sebagaimana diceritakan lembaga adat setempat. Saat musyawarah itulah dianggap masyarakat adat telah mendukung dan menyerahkan wilayah ini untuk sawit.

Arkilaus Baho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here