Foto Aksi #13Juni2017, 16 Tahun Wasior Berdarah

0
110
Diskusi Publik di Jakarta

Papua kita kenal sebagai daerah konflik. Konflik berkepanjangan tersebut terjadi dari tahun 1962, setelah dikumandangkannya Trikora 19 Desember 1961 hingga saat ini. Pendekatan militer, kekerasan negara, perampasan hak-hak sipil politik, perampasan tanah dan pengrusakan ruang-ruang hidup orang asli Papua atas nama pembangunan, terus terjadi hingga saat ini. Hal itu terus terjadi berulang-ulang seakan-akan tiada akhirnya. Kita hampir tak mampu untuk berhitung berapa banyak kasus pelanggaran HAM, kejahatan kemanusiaan dan lingkungan di Papua. Banyak korban, tidak hanya para pria dewasa, perempuan dan anak pun mengalami peristiwa yang sama. Peristiwa kemanusiaan ini merendahkan martabat kemanusiaan dan tidak adil.

Pada 16 tahun lalu (Juni 2001) di Wasior, bermula dari sengketa antara masyarakat adat yang menuntut haknya terhadap perusahaan pembalakan kayu yang mengeksploitasi kekayaan hutan setempat, namun aparat keamanan negara dan didukung korporasi, terlibat melakukan kekerasan hingga pelanggaran HAM berat, yang menewaskan 4 orang masyarakat sipil, 39 orang disiksa, 1 perempuan diperkosa dan 5 orang lainnya dihillangkan paksa. Peristiwa “Wasior Berdarah” ini merupakan satu kasus dari banyaknya kasus pelanggaran HAM di Papua.

Wasior Berdarah ini telah melukai tidak hanya korban dan keluarga korban, tapi juga pekerja pejuang kemanusiaan dan lingkungan yang mendorong pentingnya penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Banyak pihak yang pro terhadap kemanusiaan dan rakyat, turut dalam perjuangan penegakan hukum sebagai wujud dan tegaknya keadilan bagi korban dan keluarga korban. Namun hingga kini 16 tahun berlalu tak ada kejelasan maupun kemajuan dalam menyelesaikan kasus Wasior.

Setelah peristiwa Wasior Berdarah, kita diperhadapkan juga pada beberapa kasus di Papua, yakni peristiwa Mariadi 2001, Wamena Berdarah 4 April 2003, Abepura Berdarah 26 Maret 2006, Penembakan Opinus Tabuni 2008, Penembakan Kelly Kwalik 16 Desember 2009, Penembakan Yawan Wayeni 2009, Penembakan Mako Tabuni 14 Juni 2012, Kasus Aimas, Sorong 2013 hingga Paniai Berdarah 8 Desember 2014. Selain kasus-kasus ini masih banyak peristiwa kekerasan negara yang tak terselesaikan hingga kini.

Dalam proses hukum untuk kasus Wasior Berdarah, 13 Juni 2001 oleh Komnas HAM telah melakukan penyelidikan dengan Tim Ad Hoc berdasarkan UU 39 Thn 1999 dan dimajukan dengan mekanisme UU 26 Thn 2000 tentang Pengadilan HAM. Dalam penyelidikan kasus Wasior dilakukan bersamaan dengan Wamena Berdarah, yang kemudian disebut Tim Ad Hoc Papua (Wamena – Wasior).

Dalam proses KPP-HAM Abepura, telah membuktikan pada kita bahwa lebih dari 6 bulan, tensi kekerasan terlihat menurun, walau putusan pengadilan yang terjadi “Putusan Bebas bagi Pelaku”. Proses ini menunjukan minimal terjadi penurunan tensi kekerasan, walau hanya berjalan sampai 6 bulan. Andai tiap kasus kekerasan ada ruang dan proses hukum yang dilakukan, tentu akan selalu memberikan efek jerah pada pelaku, dan tentu akan meminimalisir kasus kekerasan yang selalu terjadi tanpa terhentikan ini.

Rentetan kekerasan ini harus bisa dihentikan, sehingga rantai Impunitas terputus demi keadilan dan upaya-upaya damai di Tanah Papua. Dalam perspektif itu, kami pejuang kemanusiaan berkehendak bersama korban dan keluarga korban memperjuangkan keadilan agar hak-hak korban dan keluarga korban mendapatkan keadilan, perlindungan, dipenuhi dan dipulihkan hak-haknya. Hal ini sebagai perwujudan dari penghormatan pada nilai kemanusiaan. Penyelesaian seharusnya dilakukan secara transparan dan bermartabat melalui proses hukum lebih lanjut.

Dokumentasi foto-foto aksi #13Juni2017, “Melawan Lupa: 16 Tahun Wasior Berdarah”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here