Suku Miere dan Kerusakan Hutan di Naikere

0
2354

Suku Miere adalah salah satu suku kecil di Papua, yang penyebutan nama sukunya berdasarkan sebutan bahasa Miere yang digunakan. Mereka kebanyakan berdiam dipedalaman dalam kawasan hutan sekitar Kali Jawore dan Kali Wosimi. Kampung Jawore, salah satu tempat tinggal Suku Miere. Kampung Jawore baru definitif sebagai pemerintahan sendiri pada tahun 2004, secara administratif kampung ini berada di Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Lokasi kampung Jawore berada disekitar muara atau pertemuan antara Kali Jawore dengan Kali Wosimi, kedua sungai ini berasal dari arah timur didaerah Kaimana. Air kali Jawore masuk ke kali besar Wosimi hingga bermuara ke Teluk Wondama. Sekitar muara kali Wosimi terdapat tanah datar dan dusun sagu yang luas dikelola oleh warga setempat untuk sumber pangan dan tempat berburu hewan liar.

Pada Desember 2010, saya mendatangi Kampung Jawore, berjalan kaki mengikuti jalan setapak, melintasi gunung, menyusuri sungai Wosimi dan rawa-rawa didaerah ini, dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam hingga tiba di Jawore.

Kampung kecil, hanya ada satu bangunan rumah yang dibuat sendiri, empat rumah panjang yang dibangun dengan dana bantuan pemerintah dan satu gedung gereja. Tidak ada fasilitas kesehatan, sekolah dan fasilitas informasi komunikasi, radio, SSB dan sebagainya.

Ketika itu, penduduk kampung kebanyakan pergi mengunjungi keluarga mereka di Kampung Senderawoi dan Rasiei, letaknya tidak jauh dari Kota Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama. Kampung sepi dan hanya ada Kepala Kampung dengan keluarga saja.

Kampung lain di Distrik Naikere yang saya kunjungi saat itu adalah Kampung Sararti dan Kampung Wombu, yang didiami oleh Suku Mairasi. Mereka sering disebut Suku Mairasi Wondama, karena kampungnya berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama. Kampung-kampung ini bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat melewati jalan perusahaan kayu PT. Kurnia Tama Sejahtera. Tidak ada kendaraan umum disini, kecuali kendaraan truk milik perusahaan dan kendaraan aparat keamanan yang bertugas di kantor distrik setempat.

Saat itu, saya dan beberapa warga tidak menemukan kendaraan perusahaan. Kami terpaksa berjalan kaki dari dusun kecil di Wosimi, letak Kantor Distrik, menuju Kampung Sararti di Kilometer 38. Kami bersama warga Sararti mengunjungi Kampung Wombu untuk merayakan natal bersama. Orang tua, pemuda, anak-anak, ibu hamil, semuanya berjalan kaki sejauh lebih dari 10 Km hingga di Wombu.
Kampung Wombu, seperti daerah tempat persinggahan semua warga kampung-kampung dipedalaman sekitar Kaimana dan kepala sungai Naramasa, sebelum menuju Kota Wasior atau kembali dari kota untuk menuju ke kampung masing-masing. Saat itu, warga asal Kampung Sararti, Oya, Urere, Undurara, Nyora dan warga kampung asal Kaimana lain, sudah berada berkumpul di Kampung Wombu.

Disini, mereka merayakan natal bersama Suku Mairasi asal Kaimana dan Wondama, dengan sembahyang bersama, silaturahmi dan makan bersama secara sederhana.

PEMBONGKARAN HUTAN ADAT

Tahun 2013, saya kembali mengunjungi Kampung Jawore. Kini, tidak jauh dari Kampung Jawore sedang ada proyek pembuatan jalan kendaraan mobil yang menghubungkan Kota Wasior dan Kaimana. Proyek jalan trans ini dilakukan oleh perusahaan PT. Raja Pala, milik Roberth Sirait. Hutan dibongkar dan bukit-bukit digusur.

Saya turun dipinggir jalan penggusuran di Kali Goro dan bertemu dengan Kepala Kampung Jawore, Sefnat Kawieta, lalu melanjutkan perjalanan menyusuri kali Wosimi hingga tiba di Kampung Jawore.
Di Kampung Jawore, kami membicarakan situasi masyarakat, proyek jalan, aktivitas perusahaan, keberadaan hutan dan batas tanah adat, juga sosialisasi pemetaan partisipatif untuk memperkuat.

Warga mengeluhkan dusun tempat berburu dan tempat keramat mereka yang dihancurkan oleh perusahaan kayu PT. Kurnia Tama Sejahtera (KTS) didaerah Panai. Tempat keramat Jawudu atau batu api, tempat asal mula leluhur Suku Miere menemukan pengetahuan sumber api dengan cara menggesek kedua batu yang dianggap keramat, yang mana batu tersebut hanya ada ditempat tersebut. Ketika kami ke tempat ini di daerah Kilometer 72 (ukuran perusahaan), tempat tersebut sudah digusur dan dihancurkan oleh kendaraan ‘buldozer’ perusahaan.

Sebelum ada perusahaan KTS dan pembongkaran hutan untuk jalan trans, binatang liar buruan masih ada disekitar hutan dalam kampung. Pada pagi hari ketika mau mandi, kami bisa menemukan kotoran rusa, babi atau jejak mereka bermain pada malam hari di sekitar kali, tempat warga mandi dan mencuci. Tapi, kini binatang sudah jauh.

LARANGAN PERBURUAN

Pada suatu malam, sekitar jam delapan, tanggal 28 April 2017, warga kampung Jawore dikagetkan dengan bunyi suara tembakan, diduga berasal dari senjata milik oknum anggota Polres Wondama yang sedang melakukan peburuan disekitar hutan Kampung Jawore.

Keluarga A (nama sengaja tidak disebutkan) kaget mendengarkan bunyi tembakan. Ibu berkata kepada suaminya, “Coba cek bunyi tembakan itu, kalau bagaimana-bagaimana kita lari”, kemudian suaminya lompat dari rumah panggung menyelidiki sumber bunyi tersebut sambil menunggu di depan rumah.
Saat itu, warga kampung sedang melakukan pelarangan berburu dengan memasang tanda “palang” pada jalan yang menghubungkan Wasior ke Kaimana dan Wasior ke Nabire. Palang pelarangan berburu ini ditandai dengan robohan kayu besar ditengah jalan. Sebelumnya pada Maret 2017, warga sudah memasang papan larangan berburu di mata jalan Goro, pingggiran jembatan kali Waira dan sekitar kantor distrik Nakere, namun papan larangan dirusaki dan di tebang.

Kendaraan roda empat dan eoda dua hanya boleh melalui jalan dalam kampung. Beberapa saat, mobil yang diduga milik para pemburu memasuki kampung dan dihentikan oleh sang suami.

Lantas bertanya, “Kenapa melekukan penembakan di pinggir kampung, bapak dorang harus tahu kalau sekarang kampung sepi, semua warga lagi ke hutan untuk mencari kayu masohi dan keluarga saya sendiri di kampung. Kalau mau berburu disini harus bapak dong harus lapor dan tidak perlu untuk melakukan penembakan di pinggir kampung“ kata sang suami.

Seseorang yang ditenggarai oknum anggota kepolisian setempat, dari dalam mobil berkata, “Itu lagi”, lalu pergi meninggalkan kampung menuju ke arah jalan Kaimana.

Warga megeluh tentang aktifitas perburuan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian. Namun keluhan tidak pernah didengar dan palang pelarangan berburu justeru dirusak oleh orang yang diduga pelaku perburuan. Kegiatan berburu terus saja terjadi hingga saat ini.

PROYEK PEMBANGUNAN

Pada April 2017, saya kembali berkunjung ke Kampung Jawore dengan menumpang kendaraan mobil sewa Kepala Distrik Naikere, Kostan Natama, yang hendak mengantar hewan babi untuk acara perkawinan suadaranya di Nabire. Kami berangkat dari Wasior sekitar jam 16.00 sore dan tiba di Kampung Jawore sekitar jam 21.00 malam.

Kini, Kampung Jawore sudah mudah dijangkau. Kehadiran jalan penghubung sedikit membantu masyarakat untuk lebih cepat menjangkau dan membawa hasil usaha masyarakat ke kota Wasior. Mereka menumpangi kendaraan perusahaan proyek jalan, atau kendaraan para pemburu dan penebang kayu. Kendaraan tidak setiap saat ada dan jalan masih sangat buruk, berlumpur dimusim hujan dan kondisi rusak. Kerusakan ini disebabkan juga oleh aktifitas perusahaan dan warga yang melakukan pengambilkan kayu didaerah ini.

Proyek jalan ini juga sangat menguntungkan bagi orang-orang yang melakukan perburuan liar dan pembalakan kayu secara besar-besaran. Aparat keamanan dan karyawan perusahaan PT. Raja Pala, melakukan perburuan hingga mengangkut puluhan hewan rusa, babi, laolao dan sebagainya sebanyak empat mobil sehari. Pemilik modal dari kota mengongkosi pekerja kayu untuk menebang dan mengeluarkan kayu dari hutan sekitar. Sedangkan warga setempat hanya diberikan uang “harga rokok” sebagai kompensasi kayu.

Hari itu, kampung sepi, hanya ada satu keluarga, seorang bapak tua bersama anak perempunnya, suami anak perempuan itu dan lima orang anaknya. Kebanyakan warga kampung pergi ke hutan dan dusun-dusun tempat mencari kulit kayu masohi. Mereka sedang berusaha mengumpulkan hasil hutan untuk keperluan mencari dana peresmian gereja di Jawore.

Mereka kembali ke kampung menjelang hari Sabtu dan kampung kembali ramai. Warga menceritakan hutan tempat mencari kulit Masohi di Kali Ausa dan kepala air Kali Jawore.

Kepala Kampung Sefnat Kawieta menceritakan rencana proyek pemerintah di wilayah Jawore. Badan Penanaman Modal dan Dinas Pertanian Perkebunan, melibatkan perusahaan swasta, merencanakan pembukaan hutan untuk pengembangan lahan perkebunan komoditi tebu, cokelat dan kelapa, ditambah kebun palawija jagung seluas 200 hektar. Mereka sudah membicarakan lokasi proyek ini disekitar Kerewani, Kali Mao hingga ke Kampung Muri (daerah Kaimana). Untuk kelapa dan coklat belum ada penjelasan besarnya lahan yang akan di gunanakan.

Kami berdiskusi dan mempertanyakan proyek pembangunan lahan ini. Apakah ini cara pemerintah atau perusahan untuk mendapatkan lahan untuk perkebunan atau tambang? Sebelumnya, pemerintah telah mengizinkan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Menara Wasior dan perusahan tambang batu bara PT .Abisai, tetapi warga protes menolak kedua perusahaan ini.

Kawasan hutan di wilayah Jawore adalah salah satu tempat yang masih terbilang baik dibandingankan wilayah sekitar lainnya. Disini terdapat hutan dataran rendah yang luas dengan berbagai keanekaragaman hayati yang masih lengkap, penuh kayu bernilai, banyak binatang buruan dan tempat burung cenderawasih. Semestinya pemerintah mengembangkan program pemberdayaan masyarakat setempat secara bijaksana dan adil, serta dapat mengelola hasil hutan secara berkelanjutan.

Steve Marani, Juli 2017