Masa Depan Anak Papua Dicuri

0
2846

Suatu hari, Titus Guani dan Albertina Baransano, suami isteri asal Kampung Fuau, Distrik Mamberamo Hulu, Kabupatan Mamberamo, mengantar anaknya bernama Imsos Melany Guani untuk berobat ke Puskesmas didaerah Distrik Dabra. Tapi selama seminggu berada di sana, Melany dirawat tanpa fasilitas yang memadai.

Mereka tidak punya apa-apa. Nama Pusat Kesehatan Masyarakat hanya sekedar nama saja. Ini semua karena kurangnya kemampuan pekerja kesehatan dan terbatasnya persediaan obat-obatan dan peralatan. Yulianus Abarude, seorang penginjil yang bertugas melayani di daerah ini menceritakan apa yang dialami Melany dan potret situasi pelayanan kesehatan di Mamberamo, Provinsi Papua.

Kondisi Melany makin memburuk, Dia dibawa dari Puskesmas Dabra ke RSUD Abepura. Namun, RSUD Abepura tidak menerima perawatan untuk Melany, alasannya tidak ada ruang perawatan lagi karena semua sudah penuh, bahkan di IGD juga sudah penuh.

Melany tidak ditolong dengan baik selama seharian penuh dan kondisi tubuhnya makin menurun. Melihat keadaan anaknya, kedua orangtua mengambil tindakan dengan membawanya ke RSUD Dok 2, Jayapura dan dirawat dalam ruang ICU. Tapi malangnya, Melany tidak tertolong lagi dan akhirnya meninggal dunia pada 1 Juli 2018.

Seorang pilot yang melayani di Papua juga mendukung kesaksian Yulianus mengenai buruknya pelayanan yang diterima di Dabra. Dia menulis, “ketika saya mengunjungi Dabra pada tahun 2016, mereka punya bangunan dan staf klinik baru (saya tidak bisa mengatakan apa-apa tentang pelatihan yang mereka terima dan peralatan yang mereka miliki) tapi selama saya ada disana klinik itu tutup karena tidak ada obat. Orang-orang setempat berkata mereka menunggu pemerintah di Kaso untuk mengirimkan mereka obat-obatan. Dari cerita yang kami dengar, ketika akhirnya ada obat-obatan, obat-obat tersebut disalahgunakan. Jadi, yah, sistem ini rusak.”

Pendeta Trevor Johnson, kolega Yulianus, bersama Albertina (ibu Melany) membantu pendidikan anak-anak dipedalaman Kampung Fuau. Mereka sering menghadapi sakit penyakit atau kekurangan bahan persediaan. Albertina mengerti akan resiko ini tapi ia tetap memilih untuk mengajar di Fuau daripada tinggal di kota yang lebih berkembang. Dia ingin memberkati anak-anak di pedalaman dan karena keinginan ini, ia kehilangan anaknya sendiri.

Pdt. Trevor menceritakan keterbatasan pelayanan kesehatan dan kesulitan membeli obat-obatan di Sentani dengan dana pribadi.

“Kabar menyedihkan ini datang hanya satu bulan setelah usaha saya. Biasanya saya bisa membeli beberapa boks besar berisi obat malaria untuk dikirim ke wilayah pedalaman yang membutuhkan dimana tidak ada satupun kehadiran bantuan pemerintah, tapi kini saya hanya bisa membeli 40-50 tablet sekali beli, diatas itu, perlu resep dokter”, ungkap Pdt. Trevor Johnson.

Peraturan yang ketat membatasi niat Trevor untuk memberikan pelayanan kesehatan mandiri bagi warga kampung dipedalaman yang membutuhkan dan jauh dari pelayanan kesehatan.

“Belum ada aparatur pemerintah disana (Mamberamo) untuk membantu masyarakat pedalaman dan lebih parahnya lagi karena birokrasi, kini orang perseorangan pun tidak mampu menolong masyarakat dengan mengirimkan obat-obatan”, ungkap Trevor.

Ketentuan pembelian obat-obatan dan pengabaian pelayanan kesehatan telah menelantarkan warga dan nyawa manusia meninggal. Bahaya penyalahgunaan obat malaria tidak akan separah bahaya penelantaran negara dengan tidak mengirimkan obat-obatan sama sekali.

Jika saja pemerintah berfungsi dan melakukan tugas dengan baik, maka gereja-gereja dan orang-orang tidak akan merasa perlu untuk membeli boks-boks obat-obatan malaria untuk dikirim ke kampung-kampung di pedalaman dengan uang mereka sendiri.

Bukan hal yang sulit dimengerti mengapa banyak orang Melanesia di Indonesia yang percaya bahwa ada genosida secara perlahan dan pemusnahan etnis Melanesia adalah sesuatu yang direncanakan untuk masa depan Papua.

Ketidakadilan dialami orang Papua, banyak orang dan kelompok tertentu yang datang bekerja keras untuk mengambil kekayaan alam, hasil hutan, tanah dan mineral di Papua, tapi ketika datang untuk pendidikan dan kesehatan bagi keuntungan masyarakat setempat, sebagian besar sangat malas dan ceroboh. Ini sangat memalukan. Masa depan anak-anak Papua dicuri dari mereka.

Kini saatnya bertobat dan merubah sistem yang rusak. Mari kita juga mereformasi dan memajukan pendidikan dan pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah ini, dengan atau tanpa bantuan pemerintah, sehingga kematian sia-sia ini tidak perlu terjadi lagi.

Ank, Juli 2018

#artikel ini diolah dari tulisan Pdt. Trevor Johnson