Menolak MIFEE, Menyelamatkan “Mama”

0
526

Namanya Selviana Rumkorem, aktifis Sorpatom (Solidaritas Rakyat Papua Tolak Mifee) ini biasa dipanggil Evi. Satu minggu ini Evi bersama dengan papa-papa dan mama-mama dari Merauke berada di Jakarta. Evi ke Jakarta bukan untuk berwisata atau bersenang-senang, kedatangan evi bersama dengan warga Merauke lainnya ingin memperjuangkan sikap masyarakat adat Malind menolak kehadiran investasi yang masuk ke Merauke “berbaju” Mifee (Merauke Integrated Food and Energy Estate) seluas 1,2 juta hektar di wilayah tanah adat suku Malind.

Tanpa lelah dalam setiap pertemuan, Evi menjelaskan mengapa orang Malind dan khususnya perempuan menolak kehadiran Mifee. “Kita orang tidak tahu apa itu Mifee, tidak tahu itu bagaimana bentuk dan rupanya”, itu ungkapan pembuka yang disampaikan. Kami perempuan di Papua tidak pernah dilibatkan atau dikutsertakan dalam pertemuan untuk menjelaskan tentang mifee. Bahkan menurut Evi. Pertemuan yang bertujuan untuk mensosialisasikan Mifee tidak lebih hanya sekadar “pasar janji”. “Tidak ada itu sosialisasi, yang ada hanya perusahaan mengiming-imingi dengan berbagai janji agar kami mau menerima Mifee, misalnya soal peluang kerja, padahal masyaralat lokal hanya dijadikan pekerja kasar, karena tingkat pendiidkan yang kebanyakan masih rendah”. Demikian ungkap Evi, perempuang yang lahir 14 Maret 1983 ini.

Evi menjelaskan, bahwa Mifee tidak akan menyelesaikan berbagai persoalan yang dialami oleh orang Malind, terutama perempuan Malind. Misalnya soal pendidikan atau sumber daya manusia yang masih rendah. Bukannya meningkatkan sumber daya manusia orang Malind, Mifee justru memperdaya orang-orang Malind. Bahkan, Mifee hanya akan menambah persoalan baru bagi orang Malind, buktinya saat ini ada persoalan dengan tanah yang berawal dari pengabaian perusahaan dan pemerintah terhadap hak-hak adat suku Malind, dan tanpa penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang berlaku dan mengatur hidup orang Malind.

Masyarakat adat Malind memiliki filosofi hidup yang tinggi terkait dengan spiritualitas alam dan kehidupannya. Dalam pandangan hidup orang Malind, tanah adalah mama, tanah adalah identitas adat, dan tanah adalah sumber kehidupan. Membiarkan tanah dieksploitasi, sama dengan membiarkan mama kami diperkosa. Mengambil tanah adat orang Malind sama dengan secara perlahan-lahan menghilangkan identitas diri suku Malind. Karena itulah, tanah tidak diperjualkan. Pandangan hidup orang Malind ini merupakan sebuah pandangan atas alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup. inilah yang dimaknai oleh pendekatan Ekofeminis dimana esensialisasi posisi dan peran perempuan dalam pengelolaan kekayaan alamnya.

Budaya orang Malind menyatu erat dengan alamnya, perempuan Malind berperan sangat besar dalam pemenuhan kehidupan keluarga dengan bertani, berkebun, mencari ikan di kali, menonggok sagu, berjualan kecil-kecilan yang kesemuanya sangat berarti untuk menghidupi keluarga mereka. Ketergantungan perempuan dan masyarakat adat Malind begitu tinggi terhadap alam, selain mencari kehidupannya dari dalam hutan, alam juga menjadi penyatu orang Malind. Orang-orang dalam marga disatukan oleh alam, batas-batas wilayah tanah diketahui secara turun temurun melalui lagu dan puisi yang menceritakan silsilah keluarga dan batas-batas wilayah marga. Demikian juga dengan perhiasan-perhiasan yang terbuat dari alam yang akan dipakai dalam ritual-ritual adat sebagai salah satu ruang social komunitas orang Malind.

Bagi perempuan Malind, hutan merupakan sumber kehidupannya, mereka bisa menongkok sagu dan meramu obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang dialami masyarakat. Hutan juga sebagai apotik bagi orang Malind, dimana hampir semua obat-obatan bersumber dari hutan. Semua yang dilakukan oleh perempuan di Malind merupakan pengetahuan lokal yang dimiliki, dan proyek Mifee akan menghancurkan itu semua. Menghancurkan kehidupan perempuan dan orang Malind dengan semua pengetahuan yang berbasiskan dan khas dibangun dari pengalaman hidup perempuan terkait dengan alam dan relasi diri dan komunitasnya.

Proyek mifee telah ikut memutus rantai akses dan control perempuan terhadap hutannya, karena perusahaan yang telah mendapat ijin di area hutan masyarakat adat Malind, tidak memperbolehkan lagi masyarakat masuk dan mengambil manfaat dari kekayaan hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan orang Malind. “Itu artinya proyek ini sama dengan secara perlahan-lahan memutus regenerasi kami, menghilangkan identitas kami sebagai orang Malind. Karena itu, bagaimanapun kami akan terus memperjuangkan tanah kami, memperjuangkan mama kami, dan kami akan terus berjuang menolak Mifee”.