Mereka Tersingkir

0
376
Korban Sawit di Mimika, Papua

Tanah Papua ramai dikepung oleh puluhan perusahaan sawit untuk investasi kebun tanaman sawit. Beberapa investasi baru di perkebunana sawit, yakni: di Papua Barat, setelah PTPN II di Manokwari, menyusul PT. Medcopapua Hijau Selaras (MHS), anak perusahaan Medco Grup, yang telah mengantongi ijin lokasi seluas 13.850 hektar. Di Kabupaten Kerom, perusahaan Rajawali Grup akan membuka kawasan hutan untuk perkebunan sawit seluas 23.000 hektar. Di Kabupaten Merauke, ada PT. Dongin Prabhawa, anak perusahaan Korindo Grup, yang mengantongi izin seluas 40.000 hektar, di Mimika ada perusahaan PT. Merdeka Timber, yang telah membuka kawasan hutan di Distrik Mimika Baru seluas 3.000 hektar.

Kehadiran perusahaan ini telah menyingkirkan keberadaan dan hak-hak masyarakat adat setempat. Komunitas Arfak di kampung-kampung Distrik Sidey, mengeluhkan pembebasan tanah kebun dan hutan mereka yang hanya diganti rugi ataupun disewa sebesar Rp. 45.00.- per meter. Komunitas Marind di Distrik Ngguti mengalami persoalan serupa untuk ganti rugi atau pemberian kompensasi yang tidak adil. Kekayaan hasil hutan kayu hanya diganti sebesar Rp. 5.000.- per kubik. Komunitas Kamoro di Kampung Iwaka, Mimika Baru, tidak pernah dilibatkan dan disampaikan tentang rencana dan pengelolaan kawasan hutan mereka.

Mereka tersingkir, komunitas Arfak kehilangan akses dan sumber kehidupannya yang telah dipagari dan berubah menjadi kebun sawit. Komunitas Marind di Nakias, Ngguti, kehilangan tempat berburu dan kawasan penting mereka hilang digusur. Komunitas Kamoro yang hidup dan sangat tergantung pada hutan dan sungai, khawatir sumber air mereka tercemar dan akan menimbulkan malapetaka dan penyakit.