MIFEE “Seperti Datang dari Langit”

0
309

Dalam forum diskusi meja bundar yang dilaksanakan oleh organisasi masyarakat sipil bekerjasama dengan LIPI 1 Juni 2011 lalu di Jakarta , Bupati Merauke, Romanus Mbaraka ikut bergabung dalam diskusi ini melalui sambungan telepon. Berikut petikan wawancara dengan Bupati Merauke terkait dengan kebijakan proyek Mifee.

Moderator (Chalid Muhammad): Kami ingin mendapatkan pandangan anda tentang mifee, tadi ada Yando Zakaria yang mempresentasikan tentang temuan mereka, bahwa mifee sangat jauh dari angan-angan orang merauke itu sendiri. Juga ada ibu Elisabeth dari LIPI yang mengatakan bahwa masalah papua adalah masalah politik, karenanya harus diselesaikan secara politik, dan mifee dipandang bukan sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan Papua.

Bupati (Romanus Mbaraka): terkait dengan Mifee, Mifee itu didesign secara konsepsional betul-betul orang-orang di Merauke harus mengerti dan bagaimana konsep itu akan dilaksanakan, ini yang harus dijelaskan dengan baik. Tentang cara bagaimana akan dilakukan, apakah dengan investasi, apakah dengan membagi-bagi barang kepada masyarakat, apakah masyarakat harus dikorbankan untuk kepentingan investasi? Ada kurang lebih 48 investor sudah mengajukan permohonan ijin lokasi atau ruang dalam rangka investasi yang dilakukan dalam skala besar. Saya berpikir ini hal yang seperti datang dari langit biru. Orang merauke tidak tahu bahwa Mifee akan jadi apa, dan Mifee akan buat apa untuk orang Merauke, sehingga masuk ke Merauke harus dikenal dan bila akan dilaksanakan bagaimana dan apakah akan dapat membangun negeri merauke atau papua dan manusia di papua dan manusia di Merauke. Dari 48 yang sudah masuk, ada Medco Dongin Prabawa yang sudah realisasi di Merauke, kini menyusul beberapa perusahaan lain.

Satu prinsip saya, semua orang boleh datang ke Merauke, tapi manusia Papua harus menjadi tuan di negeri sendiri. Manusia Papua harus ikut di dalam, manusia Papua tidak bisa dijadikan korban. Perusahaan akan investasi diatas ruang, ruang milik ulayat manusia Papua di Merauke tidak hilang dsama sekali atau tidak bisa dimiliki oleh investor yang investasi disitu. HGU HGB boleh berada di atas hak milik, itu prinsip. Mifee harus betul-betul melindungi alam Papua, karena orang Papua secara kultural, secara adat istiadat hidup dengan kearifan alam, sangat intens untuk memperhatikan alam. Mifee harus punya konsep seperti itu.

Mifee harus memikirkan bagaimana orang Papua menjadi tuan, menjadi tuan artinya orang Papua harus diikutseratakan dalam investasi yang dilakukan. Amanat UU invetasi, 25% dari invetasi harus dikembalikan kepada pemilik ulayat. Harus jelas komitmen investor dengan pemerintah dan masyarakat pemilik ulayat. Jangan sampai Mifee membunuh orang-orang Papua. Saya tegas dalam hal ini, saya sudah menjabat selama 5 bulan, saya akan mengatakan bahwa tidak akan pernah keluarkan ijin lokasi, sebelum saya mengenalkan dan mensosialisasikan kepada masyarakat konsep mifee pemilik ulayat, saya harus sosialisasikan dengan baik. Masyarakat mengerti apa yang akan dilakukan bagi masyarakat, perusahaan yang datang harus mendatangkan kebaikan bagi masyarakat, bagi papua dan bagi Indonesia.

Moderator: Sejauhmana keterlibatan anda dan pemerintah Merauke dalam proyek mifee ini?

Bupati (Romanus Mbaraka): Mifee ini didorong sejak awal sebelum saya menjabat, pembahasan terkait dengan mifee lebih banyak dilakukan di Jakarta yang dikoordinir oleh Menteri Perekonomian dan Departemen Pertanian, tetapi konsep ini tidak dijelaskan secara lengkap kepada orang-orang Papua dan Merauke, ada 160 kampung, 20 distrik dan 8 kelurahan. Dalam Pertemuan-pertemuan tersebut mensosialisasikan mifee, namun turunannya tidak dijelaskan atau detailnya yang berupa program dan kegiatan, sehingga orang di Papua buta tentang Mifee. Mifee datang dalam bentuk apa, itu yang tidak dijelaskan. Mifee datang dan membunuh dan mengambil tanah dan hak ulayat Papua, itu konsepsi yang terbentuk dalam diri setiap manusia Papua.

Saya baru terlibat beberapa kali beberapa kali terlibat dalam pertemuan, baik di Menteri Perekonomian maupun dengan beberapa Departemen. Dengan Departemen Pertanian, dibahas tentang investor yang sudah mendapatkan ijin, tapi itu semua masih proses karena masih menunggu proses rekomendasi dari Gubernur maupun ijin pelepasan ruang dari Departemen Kehutanan.

Moderator: apakah beberapa kebijakan yang hari ini disayaratkan dalam perundangan seperti amdal kawasan atau Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sudah dilakukan untuk proyek Mifee?

Bupati: Amdal proyek itu dilakukan bagi perusahaan yang mendapatkan ijin, dari 48 perusahaan yang memiliki ijin ruang, baru beberapa yang sudah memiliki Amdal seperti Medco, tetapi Amdal total untuk kawasan mifee belum dilakukan. Baru Amdal proyek per proyek yang sudah dilakukan.

Moderator: apakah Pemerintah Daerah memiliki perencanaan terpadu terkait dengan Mifee ini? Dan apakah itu melibatkan masyarakat lokal?

Bupati: Grand masternya sudah ada yang terdokumentasi dalam buku hijau. Itu dilakukan di Jakarta dengan beberapa orang dinas teknis dan dengan Mantan Bupati. Penduduk lokal dan LSM belum dilibatkan. Semua orang pintar dan yang peduli dengan orang Papua harus duduk dan bicara tentang kepentingan orang Merauke.

Moderator: Terakhir, apa pesan untuk diskusi ini?

Bupati: Diskusi ini sangat bagus, sebenarnya saya harus hadir. Kalau kita melihat masalah Papua, kita akan menangis, tapi apakah itu akan menyelesaikan masalah? Saya berharap diskusi ini bisa dengan jujur membicarakan realitas, dan saya berharap diskusi ini bisa menjadi input bagi para pembesar di tingkat Departemen dan Pemerintah Daerah.