Sistem Tenurial dan Pengelolaan Sumberdaya Alam Komunitas Suku Mpur, Kampung Bawey, Distri Mubrani, Kabupaten Manokwari, Papua Barat

0
698

Kampung Bawey berada di daerah pesisir pantai berhadapan dengan perairan laut pasifik disebelah utara dan dikelilingi oleh kawasan hutan. Kondisi topografi Kampung Bawey didominasi daerah bukit-bukit. Akses jalan darat menuju Kampung Baway dapat ditempuh dengan kendaraan motor dan mobil dengan kondisi jalan yang rusak parah, sekitar 5 – 6 jam dari Kota Manokwari. Tidak ada angkutan umum di daerah ini, selain kendaraan sewa. Pola perkampungan warga umumnya berada di pesisir pantai dan tidak jauh dari sungai, perumahan penduduk yang sederhana terdapat disepanjang jalan kampung, tanpa ada pengelompokkan berdasarkan golongan tertentu.

Kawasan hutan yang mengelilingi Kampung Bawey masih di dominasi hutan primer dan terdapat banyak hutan “dusun sagu”. Hasil hutan pohon merbau didaerah ini masih sering ditebang dan di komersialkan secara illegal. Tanaman hasil hutan yang paling sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan, keperluan rumah tangga, kegiatan produksi komersial dan sebagainya, antara lain: rotan, berbagai macam jenis kayu, jenis anggrek hutan, tanaman pakis, bamboo, pohon buah matoa, kemiri, cempedak, durian, belimbing, pakis, enau, langsat dan sagu. Sedangkan hewan yang di konsumsi dan di manfaatkan/komersialkan, yakni: penyu, kus-kus, kanguru, burung cenderawasih, burung kakatua putih, burung kakatua raja, burung maleo, burung nuri, rusa, babi hutan dan sebagainya.

Jumlah penduduk di kampung Bawey sekitar 140 jiwa dan sebagian besar bermata pencaharian bertani menanam pisang, kacang, ubi dan sayur-sayuran, berkebun tanaman cokelat untuk dijual (sudah semenjak tahun 2000 an) dan kelapa (sudah sejak lama), meramu hasil hutan, berburu hewan dengan peralatan tombak dan jerat tali, beternak babi, ayam dan bebek. Pada musim tertentu saat laut teduh (Mei – Agustus), masyarakat mencari ikan di laut dengan perahu dan peralatan menangkap ikan. Semua kegiatan masih dilakukan dengan pengetahuan dan peralatan sederhana dan subsisten.

Adapun susunan masyarakat masih sederhana. Hubungan keluarga dan kekerabatan dalam masyarakat setempat masih amat kuat, dalam kegiatan produksi ekonomi cenderung masih dikerjakan secara gotong royong, kecuali dalam usaha perkebunan tanaman komersial skala kecil sudah menggunakan tenaga kelompok yang disewa. Terdapat kelompok-kelompok berdasarkan ikatan se keturunan yang disebut Marga yang dipimpin Kepala Marga dan menguasai wilayah tertentu secara turun temurun yang wilayah penguasaan tanahnya menjangkau hingga ke kampung lain disekitarnya. Terdapat pula kelembagaan Suku yang dipimpin oleh Kepala Suku, yang susunan keanggotaannya terdiri dari beberapa marga dan terikat dalam sebuah kawasan tertentu berdasarkan identifikasi dialek bahasa dan keadaan lingkungan, serta adanya hubungan kekerbatan dan sejarah persatuan dalam menghadapi kekuasaan dari luar lingkungannya. Teridentifikasi kelompok marga yang sudah sejak lama berada di Bawey adalah Marga Masu, Bompaya dan Manimbu Pantai, sedangkan yang marga yang baru datang berasal dari daerah dataran tinggi pegunungan Tambrau, yakni: Marga Manim, Marbuan, Manimbu, Rumbiak, Manisra dan Wandoki. Mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai Suku Mpur Pantai dan Mpur Gunung.

Pemerintahan Kampung berperan memimpin dan mengatur secara umum usaha ketertiban social, serta menjadi perpanjangan tangan untuk progam pemerintahan kabupaten. Namun dalam kegiatan produksi, social budaya dan penyelesaian konflik di tingkat kampung efektif diurus langsung oleh Kepala Marga dan orang tua kampung. Selain itu, terdapat organisasi gereja yang sangat berpengaruh dalam bidang pengembangan rohani, pendidikan dan pelayanan social. Ada sekolah dasar dan Pos Pelayanan Kesehatan, tetapi tidak banyak berfungsi karena kurangnya petugas dan fasilitas, masyarakat masih menggunakan pengobatan tradisional dan pengetahuan baca tulis yang sangat terbatas. Aturan adat masih kuat pengaruhnya dalam mengatur ketertiban social dan hubungan dengan tanah, demikian pula terdapat kepercayaan pada hal-hal supranatural untuk tempat dan benda tertentu maupun kejadian-kejadian yang dianggap luar biasa. Masyarakat memiliki seni budaya dalam pesta syukuran panen, perkawinan dan pergaulan muda mudi, seperti: tari-tarian jantaat atau jaanbarin.

Setiap kelompok marga mempunyai cerita sejarah asal usul, awalnya berdiam ditempat tertentu secara berkelompok dan tanpa kejelasan waktunya. Pada awal abad ke 18, warga mengenali injil yang dibawakan oleh Guru Injil dari daerah Manokwari dan Mansinam, kemudian mereka tinggal bersama dan mendirikan kampung, yang mana ada bangunan gereja bersama di kampung tersebut. Terdapat peninggalan situs tempat bersejarah dan penamaan tempat (tanah, sungai, gunung, pesisir pantai, dan sebagainya) berdasarkan cerita dan dialek bahasa setempat.

Sejarah Kampung Bawey berasal dari dua nama tempat, yaitu Baryambeker dan Wesui yang di singkat Bawei. Pernah beberapa kali terjadi migrasi penduduk ke beberapa tempat disekitarnya dan kemudian kembali bermukim ditempat sekarang hingga kini. Secara administrative kampung ini awalnya berada dalam wilayah Distrik Amberbaken dan kemudian dimekarkan menjadi dua distrik pada tahun 2004 berdasarkan Perda Kabupaten Manokwari No. 32 tahun 2004.
Mengenai konsep tentang tanah, bahwa tanah dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya merupakan sumber kehidupan yang diberikan dan dianugerahkan Tuhan kepada manusia, manfaat tanah adalah untuk menghidupi manusia dan segala isinya yang ada didalamnya. Tanah dan kekayaan alam (termasuk daerah perairan laut hingga ke batas luar laut dalam) dikuasai dan dimiliki oleh kelompok Marga berdasarkan ketentuan adat, sejarah penguasaan dan diwariskan secara turun temurun oleh leluhur mereka. Marga penguasa dan pemilik tanah disebut maniek atau tuan tanah. Biasanya dibawah Marga terdapat lagi sub Marga, yang biasa disebut Keret, mereka menguasai se bidang tanah tertentu dari pembagian tanah marga. Setiap tanah milik marga mempunyai batas-batas tertentu yang disebut batwop, dengan tanda alam, seperti sungai dan gunung, yang diketahui oleh seluruh warga kampung setempat dan sekitarnya. Tanah marga dimiliki secara bersama oleh seluruh anggota marga dan tidak bisa dimiliki secara pribadi, serta tanah tidak bisa dijual.

Bentuk-bentuk hak atas tanah yang teridentifikasi, antara lain:

  1. Hak membuka kawasan hutan primer untuk kepentingan membuat kebun, hanya dimiliki oleh anggota marga.
  2. Hak pakai untuk pemanfaatan kawasan hutan bekas kebun untuk membuat kebun yang dapat dilakukan oleh seluruh warga. Setiap warga yang ingin memakai tanah bekas kebun diluar lingkup marganya, diwajibkan untuk meminta ijin marga pemilik tanah. Pengelola kebun hanya mempunyai hak pakai dan hak memungut hasil kebun, tetapi tidak mempunyai hak milik atas tanah.
  3. Hak pakai atas tanah untuk perumahan yang diberikan kepada penduduk yang baru datang.
  4. Hak berburu dan menangkap ikan dimiliki semua warga kampung. Setiap warga yang ingin memasang jerat hewan di luar kawasan hutan milik marganya, maka wajib meminta ijin pemilik tanah. Warga kampung mempunyai hak menangkap ikan dan hewan lainnya di sungai, di pesisir pantai dan perairan laut. Biasanya ada perjanjian informal dan kebiasaan untuk membagi hasil hewan hasil dari berburu, hasil jeratan dan hasil tangkapan diperairan.
  5. Hak memanfaatkan dan memungut hasil hutan (kayu dan bukan kayu) serta hasil laut (batu, pesisir dan hewan ikan) dapat dimiliki oleh setiap anggota marga, warga kampung yang bukan anggota marga pemilik lahan dan orang luar atau perusahaan yang ingin memanfaatkan kekayaan alam tersebut, wajib bermusyawarah dan mendapatkan ijin dari marga pemegang hak.

Setiap peralihan dan pemberian hak dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan pihak marga pemilik tanah dan pihak yang berkepentingan, orang tua kampung, pemerintah desa dan tokoh gereja. Keterlibatan banyak pihak tergantung dari luas dan jenis penggunaan lahan, misalnya untuk kepentingan komersial dan pihak luar. Demikian pula, penyelesaian konflik melibatkan pihak-pihak tersebut diatas.

Issue yang mencuat dalam system tenurial di komunitas, antara lain:

  • Kaum perempuan tidak mempunyai hak menentukan dan memanfaatkan secara langsung terhadap tanah, apalagi perempuan dari luar kampung yang dating karena mengikuti kampong dari penduduk setempat. Kaum laki-laki mendominasi system penguasaan dan pemilikan tanah, meskipun dalam corak produksi pertanian dan perkebunan tidak ada perbedaan peran menonjol antara laki-laki dan perempuan dalam kegiatan membuka hutan, mengolah tanah, menanam, memanen hasil hingga syukuran panen.
  • Kebanyakan warga sudah memiliki lahan pertanian tetap untuk menanam tanaman jangka panjang yang dikomersialkan, seperti: kacang, kebun kelapa dan cokelat, dikhawatirkan intensitas pemakaian lahan akan mengurangi hak bersama marga menjadi hak milik.
  • Marga yang baru datang dan atau kawin dengan perempuan setempat yang bukan pemegang hak masih dapat memanfaatkan dan mengolah tanah marga dengan se ijin Kepala Marga. Namun, mereka merasa tidak punya kepastian hak dan jaminan dari pemilik tanah untuk dapat mengelola lahan. Saat ini, mereka berharap sikap toleransi, keadilan dan perilaku keinginan hidup bersama dalam ke harmonisan dapat selalu dipegang dan menjadi dasar pemberian hak pakai.
  • Pengambilan hasil hutan kayu oleh perusahaan dan penduduk dari luar yang dilakukan secara legal dan illegal (hukum negara) tanpa ada kesepakatan dengan marga pemilik tanah. Mereka hanya diberikan dan dipaksa menerima kompensasi.
  • Penetapan kebijakan pemerintah untuk pemanfaatan tanah dan kawasan hutan masyarakat untuk perusahaan perkebunan sawit, hutan konservasi dan pengusahaan hasil hutan, yang tidak melibatkan dan mengabaikan hak-hak masyarakat.

Pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam masih sederhana berdasarkan pengetahuan turun temurun yang mengandung system nilai dan kepercayaan, teknologinya sederhana dan menggunakan bahan-bahan dari lingkungan alam yang tersedia. Gambaran pengetahuan tata guna lahan masyarakat, sebagai berikut:

  1. Perkampungan dan pemukiman, merupakan tempat masyarakat sehari-hari berinteraksi dengan sesama warga, menjadi pusat kegiatan social budaya, pendidikan, keagamaan dan musyawarah yang berhubungan dengan pihak luar. Terdapat jalan tanah rintisan yang menghubungkan kampung-kampung sekitar dan ke kawasan hutan.
  2. Kawasan hutan rimba (disebut kesambuatuk) yang sangat luas, di kampung sekitar sebagian besar kawasan hutannya telah diambil hasil kayu oleh perusahaan kayu. Kawasan hutan yang mempunyai kekayaan kayu dan bukan kayu dimanfaatkan untuk keperluan membuat rumah dan peralatan rumah tangga, tempat berburu hewan, tempat obat-obatan, penyedia lahan pertanian dan perkebunan, tempat bersejarah dan sebagai identitas masyarakat, kawasan hutan untuk fungsi lindung dan penyangga air, dan sebagainya. Tidak semua kawasan hutan bisa dimanfaatkan alasannya posisi dan letaknya yang jauh dan tidak diperlukan. Selain itu, ada tempat tertentu yang dikeramatkan dan tidak boleh digunakan.Ketentuan pemanfaatan sumberdaya hutan berdasarkan adat kebiasaan dan mendapat persetujuan ‘ijin’ marga pemilik adat. Jika terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sangsi “denda adat”, berat ringannya sangsi tergantung dari jenis pelanggaran. Dalam kasus perusahaan kayu yang beroperasi di kampung tetangga, Kampung Saray yang mendapat restu dari Kepala Marga dan perwakilan masyarakat setelah ada janji-janji untuk pembuatan jalan, jembatan, pembuatan gereja dan kompensasi nilai kayu, tetapi perusahaan ingkar janji dan mengabaikan hak-hak masyarakat, program pembangunan kampung dan kompensasi tidak sampai separuh terpenuhi hingga perusahaan sudah tidak beroperasi. Masyarakat protes dan mendesak perusahaan, tetapi aparat Brimob menekan masyarakat untuk tidak menghalangi kegiatan perusahaan.
  3. Kawasan hutan sekunder dan bekas kebun, masyarakat membiarkan bekas kebun yang sudah pernah dikelola untuk menjadi hutan kembali. Kawasan ini dimanfaatkan untuk mengambil hasil tanaman yang sengaja dibiarkan hidup, seperti: pisang, papaya, enau, belimbing, dan menjadi tempat berburu. Biasanya, kalau lahannya subur, akan digunakan terus untuk menanam tanaman cokelat dan kacang.
  4. Kebun merupakan kawasan yang paling intensif digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi ke butuhan sehari-hari dan komersial, antara lain: kacang tanah, ubi (kasbi), ubi talas (batatas), pisang, sayur-sayuran, bawang, cabai, pepaya, nangka, durian, pinang, rambutan, kelapa, cokelat, jagung dan sebagainya. Kebun kebanyakan berada di punggungan bukit, tanah yang relative datar dan lokasinya tidak jauh dari kampung.Masyarakat memiliki pengetahuan tanah yang subur (nija srut) dari melihat struktur dan posisi kemiringan tanah. System pengelolaan tanah dengan cara menebang, mengeringkan, membakar, membersihkan dan menanam, semua proses ini dilakukan dengan memperhatikan keadaan musim hujan dan panas, memperhatikan arah angin dalam membakar dan tanda-tanda alam untuk memulai kegiatan berkebun.Teknologi dan sumberdaya yang digunakan masih dengan peralatan parang dan mengandalkan tenaga manusia. Begitu pula dalam kegiatan berburu masih menggunakan tombak, jerat tali dan hewan anjing buruan, atau menangkap dengan tangan untuk tikus di lubang.

Terima kasih.