Aliran dana dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang setiap tahun untuk membantu memfasilitasi pengurangan deforestasi melalui program REDD+ diperkirakan mencapai Rp270 triliun.

Humas Center for International Forestry Research (CIFOR), Budhy Kristanty, Senin (26/9) di Bogor mengatakan, potensi aliran dana pengembangan program REDD+ dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang setiap tahunnya mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp270 triliun.

“Potensi aliran dana dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang untuk program REDD+ cukup besar, mencapai US$30 miliar,” ujar Budhy Kristanty.

Dikemukakannya, program REDD+ merupakan mekanisme global untuk mengurangi emisi dan deforestasi dan degradasi hutan.

Selain itu, mekanisme REDD+ disepakati secara global untuk mendorong konservasi dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan serta peningkatan cadangan karbon hutan dunia.

Menurut Budhy Kristanty, Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki proyek percontohan REDD+ dalam berbagai tahap perkembangan. “Indonesia telah menjadi peserta awal dari berbagai inisiatif bilateral dan multilateral untuk mempersiapkan pelaksanaan REDD+ di tingkat nasional,” paparnya. Kompas (Ant/ICH)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Aliran dana dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang setiap tahun untuk membantu memfasilitasi pengurangan deforestasi melalui program REDD+ diperkirakan mencapai Rp270 triliun.

    Humas Center for International Forestry Research (CIFOR), Budhy Kristanty, Senin (26/9) di Bogor mengatakan, potensi aliran dana pengembangan program REDD+ dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang setiap tahunnya mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp270 triliun.

    “Potensi aliran dana dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang untuk program REDD+ cukup besar, mencapai US$30 miliar,” ujar Budhy Kristanty.

    Dikemukakannya, program REDD+ merupakan mekanisme global untuk mengurangi emisi dan deforestasi dan degradasi hutan.

    Selain itu, mekanisme REDD+ disepakati secara global untuk mendorong konservasi dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan serta peningkatan cadangan karbon hutan dunia.

    Menurut Budhy Kristanty, Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki proyek percontohan REDD+ dalam berbagai tahap perkembangan. “Indonesia telah menjadi peserta awal dari berbagai inisiatif bilateral dan multilateral untuk mempersiapkan pelaksanaan REDD+ di tingkat nasional,” paparnya. Kompas (Ant/ICH)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on