Jakarta, Kompas rabu 28 September 2011-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, tiga tahun terakhir masa jabatannya akan didedikasikan untuk mengamankan hutan dan lingkungan. Konsekuensinya, kebijakan yang ramah lingkungan dan hutan, tetapi tetap membawa pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.

”Saya akan melanjutkan kerja saya dan mendedikasikan tiga tahun terakhir masa jabatan sebagai presiden untuk terus mendukung dan meningkatkan upaya pelestarian lingkungan dan hutan di Indonesia,” ujar Presiden saat membuka Konferensi Internasional Kehutanan Indonesia yang digelar Lembaga Penelitian Kehutanan Internasional (Cifor) di Jakarta, Selasa (27/9).

Presiden mengatakan, keberhasilan Indonesia mengelola hutan akan menentukan masa depan. ”Kita harus mengubah cara kita memperlakukan hutan sehingga hutan tetap lestari meski kita berupaya keras memacu pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Indonesia kehilangan kira-kira 1,1 juta hektar hutan setiap tahun. Sebagian besar disebabkan penebangan tidak lestari, seperti konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan industri pulp dan kertas. Pembalakan liar diperkirakan merugikan Indonesia sekitar 4 miliar dollar AS setiap tahunnya.

Presiden kembali mengingatkan komitmen yang disampaikan tahun 2009 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca 26 persen pada tahun 2020. Salah satu cara adalah dengan melindungi dan menyelamatkan hutan.

Secara global, deforestasi menyumbang hingga 20 persen dari emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, lanjut Presiden, proporsi itu hampir 85 persen dan menjadikan Indonesia pengemisi gas rumah kaca tertinggi di dunia.

Bantuan Norwegia

Terkait pencapaian target penurunan emisi, Pemerintah Norwegia berkomitmen membantu 1 miliar dollar AS dengan beberapa syarat pencairan. Bulan Mei 2011, pemerintah mengeluarkan moratorium dua tahun izin konsesi hutan baru setelah tertunda.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Internasional Norwegia Erik Solheim, moratorium tak menjawab persoalan secara sempurna. ”Tapi ini sebuah langkah besar dari Pak Kuntoro (Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan/Ketua Satgas REDD+) dan Kementerian Kehutanan, serta instansi lain. Ini awal yang bagus,” ujarnya.

Dukungan bagi Indonesia, lanjut Erik, yang penting adalah pemberian kompensasi. Ia bisa memaklumi persoalan di Indonesia yang membuat pencairan bantuan tersendat. ”Kami memaklumi negara besar seperti Indonesia ada banyak hal terkait politik. Saya juga ingin cepat selesai, tapi ini tahapan dan memang ada penundaan. Belum ada penundaan berarti,” ucapnya. (ICH/ATO)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jakarta, Kompas rabu 28 September 2011-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, tiga tahun terakhir masa jabatannya akan didedikasikan untuk mengamankan hutan dan lingkungan. Konsekuensinya, kebijakan yang ramah lingkungan dan hutan, tetapi tetap membawa pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.

    ”Saya akan melanjutkan kerja saya dan mendedikasikan tiga tahun terakhir masa jabatan sebagai presiden untuk terus mendukung dan meningkatkan upaya pelestarian lingkungan dan hutan di Indonesia,” ujar Presiden saat membuka Konferensi Internasional Kehutanan Indonesia yang digelar Lembaga Penelitian Kehutanan Internasional (Cifor) di Jakarta, Selasa (27/9).

    Presiden mengatakan, keberhasilan Indonesia mengelola hutan akan menentukan masa depan. ”Kita harus mengubah cara kita memperlakukan hutan sehingga hutan tetap lestari meski kita berupaya keras memacu pertumbuhan ekonomi,” katanya.

    Indonesia kehilangan kira-kira 1,1 juta hektar hutan setiap tahun. Sebagian besar disebabkan penebangan tidak lestari, seperti konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan industri pulp dan kertas. Pembalakan liar diperkirakan merugikan Indonesia sekitar 4 miliar dollar AS setiap tahunnya.

    Presiden kembali mengingatkan komitmen yang disampaikan tahun 2009 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca 26 persen pada tahun 2020. Salah satu cara adalah dengan melindungi dan menyelamatkan hutan.

    Secara global, deforestasi menyumbang hingga 20 persen dari emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, lanjut Presiden, proporsi itu hampir 85 persen dan menjadikan Indonesia pengemisi gas rumah kaca tertinggi di dunia.

    Bantuan Norwegia

    Terkait pencapaian target penurunan emisi, Pemerintah Norwegia berkomitmen membantu 1 miliar dollar AS dengan beberapa syarat pencairan. Bulan Mei 2011, pemerintah mengeluarkan moratorium dua tahun izin konsesi hutan baru setelah tertunda.

    Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Internasional Norwegia Erik Solheim, moratorium tak menjawab persoalan secara sempurna. ”Tapi ini sebuah langkah besar dari Pak Kuntoro (Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan/Ketua Satgas REDD+) dan Kementerian Kehutanan, serta instansi lain. Ini awal yang bagus,” ujarnya.

    Dukungan bagi Indonesia, lanjut Erik, yang penting adalah pemberian kompensasi. Ia bisa memaklumi persoalan di Indonesia yang membuat pencairan bantuan tersendat. ”Kami memaklumi negara besar seperti Indonesia ada banyak hal terkait politik. Saya juga ingin cepat selesai, tapi ini tahapan dan memang ada penundaan. Belum ada penundaan berarti,” ucapnya. (ICH/ATO)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on