Siang terik di akhir Agustus 2011, Tim Pemetaan Tanah Adat Kampung Onggari, yang dipimpin Sabastinus Mahuze, bergerak menelusuri jalan rintisan tanah di daerah Sanayu, disekitar Kali Itawan, ujung barat dari Kampung Onggari yang berbatasan dengan Kampung Domande. Sasaran tim menelusuri dan mengambil titik GPS (Global Positioning System) dan informasi tempat-tempat yang dianggap sebagai perbatasan tanah adat suku Malind yang ada di Kampung Onggari dengan kampung sekitar, serta tempat penting dan bersejarah.

Daerah Sanayu merupakan salah satu kawasan padang rumput sabana di Kampung Onggari. Orang Malind menyebutkan kawasan padang rumput ini sebagai kahakla (dalam dialek bahasa setempat) yang mempunyai kekhasan ekologi dan fungsi tertentu. Serupa dengan kahakla, namun dengan tanah datar dan padang rumputnya yang lebih luas lagi disebut mamui (dalam dialek bahasa setempat) dan disebut juga lapang. Masyarakat dapat menunjukkan perbedaan mamui dan kahakla berdasarkan keadaan tanah dan jenis tanaman yang tumbuh dalam kawasan tersebut. Pada kawasan hutan mamui terdapat tanaman khas yang jarang ada di tempat lain, seperti: kayu bus merah, palem, pandan hutan, bambu, pohon kayu putih (alola, dalam bahasa setempat). Sedangkan kahakla, tanah datar tidak lebih luas dari mamui dan ditumbuhi rumput ilalang, beberapa tanaman sejenis pandan hutan dan kayu bus putih. Kondisi iklim dan perilaku manusia sangat mempengaruhi perkembangan kawasan hutan dan daerah padang rumput kahakla dan mamui.

Curah hujan yang rendah tidak cukup basah untuk menjadi hutan. Suhu udara pada musim kering terasa lebih dingin dan angin pantai bertiup kencang di malam hari.

Sebagian besar sumber kehidupan dan mata pencaharian suku Malind di Kampung Onggari, Distrik Malind, Merauke, berada dalam kawasan mamui, yang jumlahnya sangat luas. Pada musim kering seperti saat ini, air pada anak sungai dan rawa-rawa kecil di sekitar dan dalam kawasan kahakla menjadi surut, penangkap ikan dengan berbagai alat tangkap ramai mendatangi rawa dan sumur alam yang disebut bob dan sungai-sungai kecil. Mereka memasang perangkap ikan sederhana dari bambu, biasa juga menggunakan panah (mii), parang dan racun ikan yang diolah dari tanaman. Penduduk dari kampung sekitar juga dapat mengambil ikan. “Bebas, tapi ambil secukupnya”, kata Paulinus dalam menyikapi penduduk kampung trans asal luar Papua yang sering juga mendatangi dan mencari ikan di wilayah Onggari.

Kegiatan Survei Pemetaan di Merauke

Kegiatan Survei Pemetaan di Merauke

Masyarakat memilih dan lebih suka mengkonsumsi ikan lokal, seperti: palala (sejenis kakap), mujair, nila, tung, heyabog, ikan duri (kelob), ikan sembilan, kalambu, Katih dan Nambim. Kehadiran proyek pemerintah dan penduduk baru datang, menambah jenis ikan baru yang disebut gastor (singkatan dari gabus Toraja), sejenis ikan gabus yang konon berasal dari Toraja. Perkembangan gastor sangat cepat dan dapat tahan hidup dalam kondisi air yang minim. Ikan hasil tangkapan diutamakan untuk konsumsi keluarga dan sisanya dijual di kampung dan pengumpul.

Di daerah paling utara bernama donit, perbatasan antara Kampung Onggari dan Kampung Kaliki, Distrik Kurik, terdapat rawa (pamaa) yang sangat luas memanjang dari daerah sekitar Kali Bian di sebelah barat hingga ke daerah sebelah timur di Kurik dan Kaiburse. Rawa Donit bersumber dari kali kecil dan besar disekitarnya. Air rawa Donit juga menjadi sumber air untuk lingkungan dan masyarakat di kampung-kampung dipesisir dan kampung trans, yang disebarkan melalui puluhan sungai kecil dan besar, melewati lereng bukit dan kahakla.

Kawasan perbukitan yang dikenal dengan sebutan ‘urat tanah’ sangat terbatas sekali jumlah dan luasnya. Punggungan bukit dari urat tanah disebut deg, yang merupakan kawasan hutan rimba dan terdapat berbagai tanaman pohon kayu (dan besar) yang tumbuh lebat dengan jarak yang rapat, seperti: pohon rahai, bintangor, kayu susu, kayu kuu dan cendana. Pada bagian lereng urat tanah disebut palee, merupakan kawasan hutan rimba, bedanya dengan deg, pertumbuhan tanaman pohon kayu di kawasan hutan palee tidak se lebat dan se rapat tanaman di kawasan hutan deg dan terdapat pohon bambu.

Pada kawasan palee inilah tempat awal mula sejarah dan kebudayaan suku-suku Malind. Disetiap tempat urat tanah kita temukan cerita-cerita ‘jalur leluhur’ asal mula penduduk datang, berdiam dan berkembang, seperti: tempat bersejarah yang keramat di Mbalenam Unum Adap Liuhanak, tidak jauh dari tempat ini terdapat tempat disebut Selesawita, bekas kampung tua, yang ditumbuhi pohon bambu, sisa peninggalan leluhur orang Malind di Onggari.

Malind Anim atau orang dari Mayo atau orang yang memiliki kepercayaan pada spritualitas Mayo, yang antara lain meyakini bahwa seluruh mahluk hidup yang diciptakan dalam Unam (alam) mempunyai hubungan kekerabatan dan saling membutuhkan satu sama yang lain, antara sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya (hewan, tumbuhan dan benda) yang harus berkesinambungan, dalam bahasa Malind diungkapkan sebagai berikut: “kamopha katalob la es – hanid naggo”. Dasar pemikirannya bahwa semua yang ada dalam dunia ini, “sama saja” saling terkait, mempunyai hubungan kekerabatan satu sama yang lain. Perbedaannya, hanya manusia punya bahasa yang disebut Anim Mayan. Manusia tidak bisa terpisahkan dari Unam (bumi) khususnya dalam hal makan, karenanya tanah tidak boleh diperjual belikan atau dirusak, karena hubungan tanah dan manusia itu melekat, jika tanah dirusak, manusia sendiri akan punah.

Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha).

Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha).

***

“Ini maksudnya apa pak?” tanya Stephanus Gebze, petugas pencatat info dan data GPS, sambil menunjuk patok dengan ujungnya di cat kuning. Patok-patok ini terpasang memanjang dari timur ke barat sangat rapi sepanjang rintisan. Patok ini kemungkinan berhubungan dengan tata batas proyek, proyek pemerintah atau swasta.

Ada empat orang tokoh masyarakat dalam tim, Sabastinus Mahuze yang juga Ketua LMA Onggari (Lembaga Masyarakat Adat), Martinus Mahuze yang dipanggil Pace Gaul dan menguasai informasi tempat-tempat di hutan, Stephanus Mahuze yang selalu bersenandung dengan lagu dalam taraian ritual Gatzi, Fransiskus Mahuze dari Domande, mereka cemas dan mengkonfirmasi belum pernah terlibat membicarakan tanah dan kawasan hutan di Onggari ini untuk diberikan kepada pemerintah dan perusahaan. Kejelasan siapa pemilik patok terungkap saat tim menemukan patok yang bertuliskan ‘tapak pabrik” dan sepotong label dengan tulisan rapi pada pohon bus “CJM”, hanya ada satu pemilik nama tersebut, yakni: perusahaan Cendrawasih Jaya Mandiri.

Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha). Kegiatan ini menghasilkan Peta Tanah Adat di Wilayah Kampung Onggari.

Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha). Kegiatan ini menghasilkan Peta Tanah Adat di Wilayah Kampung Onggari.

Perusahaan PT. Cendrawasih Jaya Mandiri (CJM) dan PT. Karya Bumi Papua (KBP) adalah dua anak perusahaan Rajawali Grup, milik Peter Sondakh. Majalah Forbes (2011) mendaftarkan Peter Sondakh sebagai salah satu dari tujuh pengusaha terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sebesar US$ 2,4 miliar. Perusahaan induk (holding company) Rajawali Grup memiliki banyak bisnis berskala besar, antara lain: bisnis industri rokok PT. Bentoel International Investama Tbk (BINI), bisnis broadcasting (2000) televisi RCTI bersama PT. Bimantara Citra Tbk. Masih bersama unit bisnis keluarga Soeharto dan kroninya, mereka mengembangkan bisnis pariwisata dan perdagangan, seperti: Plaza Indonesia, Metro, Hotel Sheraton, St. Regis Bali Resort, Novotel dan Hotel Marriott di pusat pariwisata Gold Coast, Queensland Australia, bisnis transportasi Taxi Express dan telepon selular.

Rajawali juga memiliki saham pada PT. Semen Gresik Tbk (SMGR) melalui anak perusahaan PT. Blue Valley Holding Pte. Ltd, yang membeli saham SMGR sebesar 24,9 % seharga US$ 337 (Juli 2006) dan pada April 2010, Rajawali menjual 23,6 % saham SMGR dengan nilai Rp. 9,8 triliun. Rajawali dapat meraup margin keuntungan sebesar USD 563 juta dalam tempo empat tahun dari aksi jual beli saham SMGR.  Hasil penjualan saham inilah yang dipakai untuk memperluas bisnisnya, seperti: membeli saham Transpacific Railway Infrastructure untuk proyek pembangunan rel kereta api. Rajawali juga memperbesar sahamnya pada perusahaan tambang emas di London Archipelago Resources, dari 39,6 % menjadi 51,1 %. Rajawali juga mengakuisisi tambang batu bara milik PT. BHP Billiton di Maruwai, Kalimantan Tengah, dengan nilai hampir Rp. 7 triliun. Rajawali membeli saham Baker Steel Funds senilai 26,22 juta poundsterling (Rajawali Caplok Transpacific, Bisnis Indonesia, 24 April 2010). Rajawali juga mengakuisi 70,85 % saham eatertainment International Tbk, senilai Rp. 12,739 miliar. Rajawali mengembangkan bisnis ke perkebunan sawit, melalui Green Palm Resources Pte Ltd dan PT. Mutiara Timur Pratama. Kini, Rajawali menancapkan kakinya di tanah besar Papua dan mengembangkan sayap bisnis perkebunan sawit atas nama PT. Tandan Sawit Papua di Distrik Arso Timur, Kabupaten Kerom, seluas 26.300 ha. Di Merauke, Rajawali menggunakan nama PT. Cendrawasih Jaya Mandiri (CJM) dan PT. Karya Bumi Papua (KBP), yang akan mengusahakan perkebunan tebu dan pabriknya diatas lahan seluas 37.795 ha.

Pada akhir Maret 2011 lalu, Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli mengeluarkan ijin prinsip pelepasan kawasan hutan produksi yang ada dipinggiran DAS Kali Bian. Artinya tanah-tanah dan hutan adat, palee, deg, mamuii, kahakla, bob, pamaa milik Orang Malind yang menjadi sumber mata pencaharian, tempat bersejarah dan tempat penting lainnya, maupun identitas orang Malind, sudah beralih haknya secara legal dan berada dalam cengkeraman Rajawali. Dengan modal ijin tersebut, Rajawali bebas dan tanpa halangan mengobok-obok kawasan hidup masyarakat.

Jika demikian ceritanya, usaha pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sangat tergantung dan mengandalkan perusahaan akan mengakibatkan tergusurnya masyarakat. Bagaimanapun proyek food estate di Brazil melalui pengembangan Industri tebu memberikan inspirasi pemerintah dalam proyek pembangunan ketahanan pangan untuk kebutuhan konsumsi energi dunia. Pemerintah menyerahkan tanah-tanah kepada perusahaan untuk memproduksi tanaman pangan tetapi bukan untuk pangan manusia, melainkan untuk menghasilkan energi berbahan bakar nabati yang akan digunakan mesin-mesin industri negara maju, seperti yang direncanakan kedua perusahaan anak Rajawali ini untuk memproduksi tebu.

Cengkeraman Rajawali dan fasilitas kebijakan negara dipastikan akan memaksa dan menghancurkan kuasa, nilai dan praktik-praktik hubungan antar masyarakat dan dengan lingkungannya, sebagaimana ajaran kepercayaan Mayo. Proyek yang melepaskan hak dan bahkan memisahkan hubungan antara Orang Malind dan tanah (termasuk hubungan sosio religius) akan membuat masyarakat menderita dan punah. Jika demikian, apakah adil kalo pemerintah hanya melindungi beberapa perusahaan-perusahaan raksasa yang hanya berkepentingan memperkaya diri dan membiarkan ratusan ribu warga Malind Anim tertindas dan punah? Singkat saja, tidak adil.

Angky, Awal Oktober 2011

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Siang terik di akhir Agustus 2011, Tim Pemetaan Tanah Adat Kampung Onggari, yang dipimpin Sabastinus Mahuze, bergerak menelusuri jalan rintisan tanah di daerah Sanayu, disekitar Kali Itawan, ujung barat dari Kampung Onggari yang berbatasan dengan Kampung Domande. Sasaran tim menelusuri dan mengambil titik GPS (Global Positioning System) dan informasi tempat-tempat yang dianggap sebagai perbatasan tanah adat suku Malind yang ada di Kampung Onggari dengan kampung sekitar, serta tempat penting dan bersejarah.

    Daerah Sanayu merupakan salah satu kawasan padang rumput sabana di Kampung Onggari. Orang Malind menyebutkan kawasan padang rumput ini sebagai kahakla (dalam dialek bahasa setempat) yang mempunyai kekhasan ekologi dan fungsi tertentu. Serupa dengan kahakla, namun dengan tanah datar dan padang rumputnya yang lebih luas lagi disebut mamui (dalam dialek bahasa setempat) dan disebut juga lapang. Masyarakat dapat menunjukkan perbedaan mamui dan kahakla berdasarkan keadaan tanah dan jenis tanaman yang tumbuh dalam kawasan tersebut. Pada kawasan hutan mamui terdapat tanaman khas yang jarang ada di tempat lain, seperti: kayu bus merah, palem, pandan hutan, bambu, pohon kayu putih (alola, dalam bahasa setempat). Sedangkan kahakla, tanah datar tidak lebih luas dari mamui dan ditumbuhi rumput ilalang, beberapa tanaman sejenis pandan hutan dan kayu bus putih. Kondisi iklim dan perilaku manusia sangat mempengaruhi perkembangan kawasan hutan dan daerah padang rumput kahakla dan mamui.

    Curah hujan yang rendah tidak cukup basah untuk menjadi hutan. Suhu udara pada musim kering terasa lebih dingin dan angin pantai bertiup kencang di malam hari.

    Sebagian besar sumber kehidupan dan mata pencaharian suku Malind di Kampung Onggari, Distrik Malind, Merauke, berada dalam kawasan mamui, yang jumlahnya sangat luas. Pada musim kering seperti saat ini, air pada anak sungai dan rawa-rawa kecil di sekitar dan dalam kawasan kahakla menjadi surut, penangkap ikan dengan berbagai alat tangkap ramai mendatangi rawa dan sumur alam yang disebut bob dan sungai-sungai kecil. Mereka memasang perangkap ikan sederhana dari bambu, biasa juga menggunakan panah (mii), parang dan racun ikan yang diolah dari tanaman. Penduduk dari kampung sekitar juga dapat mengambil ikan. “Bebas, tapi ambil secukupnya”, kata Paulinus dalam menyikapi penduduk kampung trans asal luar Papua yang sering juga mendatangi dan mencari ikan di wilayah Onggari.

    Kegiatan Survei Pemetaan di Merauke

    Kegiatan Survei Pemetaan di Merauke

    Masyarakat memilih dan lebih suka mengkonsumsi ikan lokal, seperti: palala (sejenis kakap), mujair, nila, tung, heyabog, ikan duri (kelob), ikan sembilan, kalambu, Katih dan Nambim. Kehadiran proyek pemerintah dan penduduk baru datang, menambah jenis ikan baru yang disebut gastor (singkatan dari gabus Toraja), sejenis ikan gabus yang konon berasal dari Toraja. Perkembangan gastor sangat cepat dan dapat tahan hidup dalam kondisi air yang minim. Ikan hasil tangkapan diutamakan untuk konsumsi keluarga dan sisanya dijual di kampung dan pengumpul.

    Di daerah paling utara bernama donit, perbatasan antara Kampung Onggari dan Kampung Kaliki, Distrik Kurik, terdapat rawa (pamaa) yang sangat luas memanjang dari daerah sekitar Kali Bian di sebelah barat hingga ke daerah sebelah timur di Kurik dan Kaiburse. Rawa Donit bersumber dari kali kecil dan besar disekitarnya. Air rawa Donit juga menjadi sumber air untuk lingkungan dan masyarakat di kampung-kampung dipesisir dan kampung trans, yang disebarkan melalui puluhan sungai kecil dan besar, melewati lereng bukit dan kahakla.

    Kawasan perbukitan yang dikenal dengan sebutan ‘urat tanah’ sangat terbatas sekali jumlah dan luasnya. Punggungan bukit dari urat tanah disebut deg, yang merupakan kawasan hutan rimba dan terdapat berbagai tanaman pohon kayu (dan besar) yang tumbuh lebat dengan jarak yang rapat, seperti: pohon rahai, bintangor, kayu susu, kayu kuu dan cendana. Pada bagian lereng urat tanah disebut palee, merupakan kawasan hutan rimba, bedanya dengan deg, pertumbuhan tanaman pohon kayu di kawasan hutan palee tidak se lebat dan se rapat tanaman di kawasan hutan deg dan terdapat pohon bambu.

    Pada kawasan palee inilah tempat awal mula sejarah dan kebudayaan suku-suku Malind. Disetiap tempat urat tanah kita temukan cerita-cerita ‘jalur leluhur’ asal mula penduduk datang, berdiam dan berkembang, seperti: tempat bersejarah yang keramat di Mbalenam Unum Adap Liuhanak, tidak jauh dari tempat ini terdapat tempat disebut Selesawita, bekas kampung tua, yang ditumbuhi pohon bambu, sisa peninggalan leluhur orang Malind di Onggari.

    Malind Anim atau orang dari Mayo atau orang yang memiliki kepercayaan pada spritualitas Mayo, yang antara lain meyakini bahwa seluruh mahluk hidup yang diciptakan dalam Unam (alam) mempunyai hubungan kekerabatan dan saling membutuhkan satu sama yang lain, antara sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya (hewan, tumbuhan dan benda) yang harus berkesinambungan, dalam bahasa Malind diungkapkan sebagai berikut: “kamopha katalob la es – hanid naggo”. Dasar pemikirannya bahwa semua yang ada dalam dunia ini, “sama saja” saling terkait, mempunyai hubungan kekerabatan satu sama yang lain. Perbedaannya, hanya manusia punya bahasa yang disebut Anim Mayan. Manusia tidak bisa terpisahkan dari Unam (bumi) khususnya dalam hal makan, karenanya tanah tidak boleh diperjual belikan atau dirusak, karena hubungan tanah dan manusia itu melekat, jika tanah dirusak, manusia sendiri akan punah.

    Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha).

    Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha).

    ***

    “Ini maksudnya apa pak?” tanya Stephanus Gebze, petugas pencatat info dan data GPS, sambil menunjuk patok dengan ujungnya di cat kuning. Patok-patok ini terpasang memanjang dari timur ke barat sangat rapi sepanjang rintisan. Patok ini kemungkinan berhubungan dengan tata batas proyek, proyek pemerintah atau swasta.

    Ada empat orang tokoh masyarakat dalam tim, Sabastinus Mahuze yang juga Ketua LMA Onggari (Lembaga Masyarakat Adat), Martinus Mahuze yang dipanggil Pace Gaul dan menguasai informasi tempat-tempat di hutan, Stephanus Mahuze yang selalu bersenandung dengan lagu dalam taraian ritual Gatzi, Fransiskus Mahuze dari Domande, mereka cemas dan mengkonfirmasi belum pernah terlibat membicarakan tanah dan kawasan hutan di Onggari ini untuk diberikan kepada pemerintah dan perusahaan. Kejelasan siapa pemilik patok terungkap saat tim menemukan patok yang bertuliskan ‘tapak pabrik” dan sepotong label dengan tulisan rapi pada pohon bus “CJM”, hanya ada satu pemilik nama tersebut, yakni: perusahaan Cendrawasih Jaya Mandiri.

    Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha). Kegiatan ini menghasilkan Peta Tanah Adat di Wilayah Kampung Onggari.

    Kegiatan Lokakarya dan Pemetaan Partisipatif di Kampung Onggari, Distrik Malind, Kab. Merauke, Papua, pada tanggal 19 – 28 Agustus 2011. Kegiatan lokakarya diikuti oleh orang Malind, suku asli setempat, berasal dari Kampung Onggari, Kaiburse, Domande, Wendu dan Wayau (Distrik Animha). Kegiatan ini menghasilkan Peta Tanah Adat di Wilayah Kampung Onggari.

    Perusahaan PT. Cendrawasih Jaya Mandiri (CJM) dan PT. Karya Bumi Papua (KBP) adalah dua anak perusahaan Rajawali Grup, milik Peter Sondakh. Majalah Forbes (2011) mendaftarkan Peter Sondakh sebagai salah satu dari tujuh pengusaha terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sebesar US$ 2,4 miliar. Perusahaan induk (holding company) Rajawali Grup memiliki banyak bisnis berskala besar, antara lain: bisnis industri rokok PT. Bentoel International Investama Tbk (BINI), bisnis broadcasting (2000) televisi RCTI bersama PT. Bimantara Citra Tbk. Masih bersama unit bisnis keluarga Soeharto dan kroninya, mereka mengembangkan bisnis pariwisata dan perdagangan, seperti: Plaza Indonesia, Metro, Hotel Sheraton, St. Regis Bali Resort, Novotel dan Hotel Marriott di pusat pariwisata Gold Coast, Queensland Australia, bisnis transportasi Taxi Express dan telepon selular.

    Rajawali juga memiliki saham pada PT. Semen Gresik Tbk (SMGR) melalui anak perusahaan PT. Blue Valley Holding Pte. Ltd, yang membeli saham SMGR sebesar 24,9 % seharga US$ 337 (Juli 2006) dan pada April 2010, Rajawali menjual 23,6 % saham SMGR dengan nilai Rp. 9,8 triliun. Rajawali dapat meraup margin keuntungan sebesar USD 563 juta dalam tempo empat tahun dari aksi jual beli saham SMGR.  Hasil penjualan saham inilah yang dipakai untuk memperluas bisnisnya, seperti: membeli saham Transpacific Railway Infrastructure untuk proyek pembangunan rel kereta api. Rajawali juga memperbesar sahamnya pada perusahaan tambang emas di London Archipelago Resources, dari 39,6 % menjadi 51,1 %. Rajawali juga mengakuisisi tambang batu bara milik PT. BHP Billiton di Maruwai, Kalimantan Tengah, dengan nilai hampir Rp. 7 triliun. Rajawali membeli saham Baker Steel Funds senilai 26,22 juta poundsterling (Rajawali Caplok Transpacific, Bisnis Indonesia, 24 April 2010). Rajawali juga mengakuisi 70,85 % saham eatertainment International Tbk, senilai Rp. 12,739 miliar. Rajawali mengembangkan bisnis ke perkebunan sawit, melalui Green Palm Resources Pte Ltd dan PT. Mutiara Timur Pratama. Kini, Rajawali menancapkan kakinya di tanah besar Papua dan mengembangkan sayap bisnis perkebunan sawit atas nama PT. Tandan Sawit Papua di Distrik Arso Timur, Kabupaten Kerom, seluas 26.300 ha. Di Merauke, Rajawali menggunakan nama PT. Cendrawasih Jaya Mandiri (CJM) dan PT. Karya Bumi Papua (KBP), yang akan mengusahakan perkebunan tebu dan pabriknya diatas lahan seluas 37.795 ha.

    Pada akhir Maret 2011 lalu, Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli mengeluarkan ijin prinsip pelepasan kawasan hutan produksi yang ada dipinggiran DAS Kali Bian. Artinya tanah-tanah dan hutan adat, palee, deg, mamuii, kahakla, bob, pamaa milik Orang Malind yang menjadi sumber mata pencaharian, tempat bersejarah dan tempat penting lainnya, maupun identitas orang Malind, sudah beralih haknya secara legal dan berada dalam cengkeraman Rajawali. Dengan modal ijin tersebut, Rajawali bebas dan tanpa halangan mengobok-obok kawasan hidup masyarakat.

    Jika demikian ceritanya, usaha pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sangat tergantung dan mengandalkan perusahaan akan mengakibatkan tergusurnya masyarakat. Bagaimanapun proyek food estate di Brazil melalui pengembangan Industri tebu memberikan inspirasi pemerintah dalam proyek pembangunan ketahanan pangan untuk kebutuhan konsumsi energi dunia. Pemerintah menyerahkan tanah-tanah kepada perusahaan untuk memproduksi tanaman pangan tetapi bukan untuk pangan manusia, melainkan untuk menghasilkan energi berbahan bakar nabati yang akan digunakan mesin-mesin industri negara maju, seperti yang direncanakan kedua perusahaan anak Rajawali ini untuk memproduksi tebu.

    Cengkeraman Rajawali dan fasilitas kebijakan negara dipastikan akan memaksa dan menghancurkan kuasa, nilai dan praktik-praktik hubungan antar masyarakat dan dengan lingkungannya, sebagaimana ajaran kepercayaan Mayo. Proyek yang melepaskan hak dan bahkan memisahkan hubungan antara Orang Malind dan tanah (termasuk hubungan sosio religius) akan membuat masyarakat menderita dan punah. Jika demikian, apakah adil kalo pemerintah hanya melindungi beberapa perusahaan-perusahaan raksasa yang hanya berkepentingan memperkaya diri dan membiarkan ratusan ribu warga Malind Anim tertindas dan punah? Singkat saja, tidak adil.

    Angky, Awal Oktober 2011

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on