Rabu,

05 Oktober 2011

Labuan Bajo, Kompas – Warga Desa Kasong di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, mengalami rawan pangan sejak Juli 2011. Mereka sampai saat ini berupaya bertahan hidup dengan tanaman pisang dan ubi yang tersisa.

Warga Kasong yang terdiri dari 943 jiwa dan 193 keluarga itu amat berharap ada bantuan beras bagi rakyat miskin (raskin) dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat karena sejak Januari sampai awal Oktober 2011 belum ada beras raskin yang disalurkan ke desa mereka.

”Kami hanya bertahan dengan apa yang ada. Persediaan beras sudah tidak ada lagi. Hanya pisang yang masih kami andalkan, itu pun makin menipis. Untuk ubi, kami juga mesti mencari-cari dari tanaman tahun lalu yang tersisa. Kami berharap ada bantuan raskin segera dari pemerintah,” kata Petrus Ngguet, Selasa (4/10), yang dihubungi dari Ende, Flores.

Letak Desa Kasong sekitar 100 kilometer sebelah timur kota Labuan Bajo.

Menurut Petrus, hasil panen padi 50 hektar pada Mei 2011 rata-rata hanya 1,2 ton per hektar karena tanpa pupuk dan tanpa obat-obatan. Adapun sawah yang mulai ditanami penduduk sejak Juni 2011 kini kekurangan air.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat Gayetanus Danggur di Labuan Bajo mengakui, akibat kekeringan, terjadi penurunan hasil pertanian. Namun, stok pangan secara umum di Manggarai Barat belum terganggu. ”Beras raskin untuk warga Kasong sejak Januari 2011 memang belum disalurkan. Dari informasi camat, ada permasalahan di internal desa itu. Diputuskan beras raskin jatah Desa Kasong dari Januari-Juni 2011 sebanyak 16,9 ton akan segera disalurkan,” kata Gayetanus.

Warga Kasong sebenarnya mampu membayar beras raskin dan mereka telah menyiapkan uang, tetapi tidak ada kesepakatan dengan kepala desa setempat. Warga meminta raskin disalurkan 180 kilogram (kg) per keluarga per tahun atau 15 kg per keluarga per bulan. Akan tetapi, kepala desa menargetkan raskin hanya 150 kg per keluarga per tahun dengan pertimbangan beras raskin yang 30 kg per keluarga untuk ongkos angkut dari gudang dolog ke Desa Kasong.

Waduk Djuanda kritis

Tinggi muka air Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Jabar), terus susut hingga lebih rendah dari kriteria kering. Tanpa tambahan pasokan, ketinggian air akan kian mendekati titik kritis 87,5 meter (m) dalam beberapa bulan mendatang. Tinggi muka air pada Selasa kemarin tercatat 90,97 m, lebih rendah dari kriteria kering 92,68 m. Tinggi muka air diperkirakan terus turun karena debit air keluar, yakni 132 meter kubik (m3) per detik, lebih besar dari total debit air masuk, yakni 123 m3 per detik.

Kepala Biro Pengelolaan Data Sumber Daya Air Perum Jasa Tirta II Jabar Sutisna Pikrasaleh menyebutkan, jika rata-rata debit air keluar 140 m3 per detik dan air masuk 110 m3 per detik, tinggi muka air Waduk Ir H Djuanda pada akhir November 2011 mencapai 89,58 m, mendekati titik 87,5 m. Karenanya, instansi terkait tengah mengupayakan penambahan pasokan melalui operasi hujan buatan.

(SEM/MKN)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Rabu,

    05 Oktober 2011

    Labuan Bajo, Kompas – Warga Desa Kasong di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, mengalami rawan pangan sejak Juli 2011. Mereka sampai saat ini berupaya bertahan hidup dengan tanaman pisang dan ubi yang tersisa.

    Warga Kasong yang terdiri dari 943 jiwa dan 193 keluarga itu amat berharap ada bantuan beras bagi rakyat miskin (raskin) dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat karena sejak Januari sampai awal Oktober 2011 belum ada beras raskin yang disalurkan ke desa mereka.

    ”Kami hanya bertahan dengan apa yang ada. Persediaan beras sudah tidak ada lagi. Hanya pisang yang masih kami andalkan, itu pun makin menipis. Untuk ubi, kami juga mesti mencari-cari dari tanaman tahun lalu yang tersisa. Kami berharap ada bantuan raskin segera dari pemerintah,” kata Petrus Ngguet, Selasa (4/10), yang dihubungi dari Ende, Flores.

    Letak Desa Kasong sekitar 100 kilometer sebelah timur kota Labuan Bajo.

    Menurut Petrus, hasil panen padi 50 hektar pada Mei 2011 rata-rata hanya 1,2 ton per hektar karena tanpa pupuk dan tanpa obat-obatan. Adapun sawah yang mulai ditanami penduduk sejak Juni 2011 kini kekurangan air.

    Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat Gayetanus Danggur di Labuan Bajo mengakui, akibat kekeringan, terjadi penurunan hasil pertanian. Namun, stok pangan secara umum di Manggarai Barat belum terganggu. ”Beras raskin untuk warga Kasong sejak Januari 2011 memang belum disalurkan. Dari informasi camat, ada permasalahan di internal desa itu. Diputuskan beras raskin jatah Desa Kasong dari Januari-Juni 2011 sebanyak 16,9 ton akan segera disalurkan,” kata Gayetanus.

    Warga Kasong sebenarnya mampu membayar beras raskin dan mereka telah menyiapkan uang, tetapi tidak ada kesepakatan dengan kepala desa setempat. Warga meminta raskin disalurkan 180 kilogram (kg) per keluarga per tahun atau 15 kg per keluarga per bulan. Akan tetapi, kepala desa menargetkan raskin hanya 150 kg per keluarga per tahun dengan pertimbangan beras raskin yang 30 kg per keluarga untuk ongkos angkut dari gudang dolog ke Desa Kasong.

    Waduk Djuanda kritis

    Tinggi muka air Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Jabar), terus susut hingga lebih rendah dari kriteria kering. Tanpa tambahan pasokan, ketinggian air akan kian mendekati titik kritis 87,5 meter (m) dalam beberapa bulan mendatang. Tinggi muka air pada Selasa kemarin tercatat 90,97 m, lebih rendah dari kriteria kering 92,68 m. Tinggi muka air diperkirakan terus turun karena debit air keluar, yakni 132 meter kubik (m3) per detik, lebih besar dari total debit air masuk, yakni 123 m3 per detik.

    Kepala Biro Pengelolaan Data Sumber Daya Air Perum Jasa Tirta II Jabar Sutisna Pikrasaleh menyebutkan, jika rata-rata debit air keluar 140 m3 per detik dan air masuk 110 m3 per detik, tinggi muka air Waduk Ir H Djuanda pada akhir November 2011 mencapai 89,58 m, mendekati titik 87,5 m. Karenanya, instansi terkait tengah mengupayakan penambahan pasokan melalui operasi hujan buatan.

    (SEM/MKN)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on