Hak Asasi Manusia (HAM) saat ini sudah merupakan istilah yang sangat mudah didengar setiap hari di berbagai ruang oleh berbagai kalangan. Orang dapat dengan mudah menggunakan istilah HAM dengan sangat jeli, yang membedakannya secara mendasar dengan istilah “hak” itu sendiri. “Saya yang berhak atas rumah ini. Ada surat-suratnya. Lengkap”. Lebih lanjut, “Aparat menggusur rumah saya. Itu melanggar HAM saya sebagai manusia”. Sangat jelaslah perbedaan penggunaan kedua istilah itu. HAM tidak berbicara secara khusus tentang bentuk-bentuk hak atas berbagai barang dan jasa. Justru HAM berbicara tentang esensi hak yang ‘mengatasi’ bentuk-bentuk hak tersebut.

Jika saya tidak punya rumah, saya tidak dapat membuat sebuah pernyataan yang sifatnya absah di hadapan orang lain: “Saya berhak atas rumah itu atau rumah ini”. Tapi saya dapat membuat pernyataan yang lain yang absah: “Saya mempunyai hak untuk memiliki hunian yang layak”. Saya boleh jadi tidak punya kesempatan untuk mengikuti pendidikan di sekolah formal sekarang ini. Atau saya tidak mau bersekolah walaupun orang tua saya kaya raya. Orang dapat menyatakan: “Oh si Anu tidak pernah sekolah”. Tetapi orang tidak dapat menyatakan “Si Anu tidak punya hak atas pendidikan yang layak”.

HAM bicara tentang sebuah esensi yang lebih abstrak, yang berada di”atas” berbagai klaim-klaim hak atas objek barang dan jasa. Esensi tersebut dikatakan sebagai “melekat” dalam diri seseorang manusia. Dengan karakternya seperti itu, maka HAM sebetulnya bersifat “dogmatis”. Namun dogma itu harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Esensi itu harus termanifestasi, agar kita dapat menilai apakah seseorang memang sudah dipenuhi atau belum dipenuhi hak-hak asasinya. Penilaian itu hanya dapat terjadi jika manifestasi dalam kehidupan sehari-hari itu dapat terukur, terlihat, terdengar, terasa.

Karena itu maka manifestasi harus berkaitan langsung dengan objek barang dan jasa. Dan yang paling mendasar dari antara semua objek itu adalah tanah. Dimulai dari relasi intens dengan tanah, manusia membangun kebudayaannya sebagai manusia. Boleh dikata bahwa dia menjadi manusia pertama-tama dan terutama karena ada tanah. Tanah di sini adalah ruang wilayah di mana sekelompok masyarakat hidup dan membangun kebudayaan mereka.

Oleh karena itu setiap kelompok masyarakat, terutama mereka yang masih sangat tergantung pada tanah secara langsung layak dan penuh keyakinan dapat berkata: Di atas tanah ini kubangun kemanusiaanku.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Hak Asasi Manusia (HAM) saat ini sudah merupakan istilah yang sangat mudah didengar setiap hari di berbagai ruang oleh berbagai kalangan. Orang dapat dengan mudah menggunakan istilah HAM dengan sangat jeli, yang membedakannya secara mendasar dengan istilah “hak” itu sendiri. “Saya yang berhak atas rumah ini. Ada surat-suratnya. Lengkap”. Lebih lanjut, “Aparat menggusur rumah saya. Itu melanggar HAM saya sebagai manusia”. Sangat jelaslah perbedaan penggunaan kedua istilah itu. HAM tidak berbicara secara khusus tentang bentuk-bentuk hak atas berbagai barang dan jasa. Justru HAM berbicara tentang esensi hak yang ‘mengatasi’ bentuk-bentuk hak tersebut.

    Jika saya tidak punya rumah, saya tidak dapat membuat sebuah pernyataan yang sifatnya absah di hadapan orang lain: “Saya berhak atas rumah itu atau rumah ini”. Tapi saya dapat membuat pernyataan yang lain yang absah: “Saya mempunyai hak untuk memiliki hunian yang layak”. Saya boleh jadi tidak punya kesempatan untuk mengikuti pendidikan di sekolah formal sekarang ini. Atau saya tidak mau bersekolah walaupun orang tua saya kaya raya. Orang dapat menyatakan: “Oh si Anu tidak pernah sekolah”. Tetapi orang tidak dapat menyatakan “Si Anu tidak punya hak atas pendidikan yang layak”.

    HAM bicara tentang sebuah esensi yang lebih abstrak, yang berada di”atas” berbagai klaim-klaim hak atas objek barang dan jasa. Esensi tersebut dikatakan sebagai “melekat” dalam diri seseorang manusia. Dengan karakternya seperti itu, maka HAM sebetulnya bersifat “dogmatis”. Namun dogma itu harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Esensi itu harus termanifestasi, agar kita dapat menilai apakah seseorang memang sudah dipenuhi atau belum dipenuhi hak-hak asasinya. Penilaian itu hanya dapat terjadi jika manifestasi dalam kehidupan sehari-hari itu dapat terukur, terlihat, terdengar, terasa.

    Karena itu maka manifestasi harus berkaitan langsung dengan objek barang dan jasa. Dan yang paling mendasar dari antara semua objek itu adalah tanah. Dimulai dari relasi intens dengan tanah, manusia membangun kebudayaannya sebagai manusia. Boleh dikata bahwa dia menjadi manusia pertama-tama dan terutama karena ada tanah. Tanah di sini adalah ruang wilayah di mana sekelompok masyarakat hidup dan membangun kebudayaan mereka.

    Oleh karena itu setiap kelompok masyarakat, terutama mereka yang masih sangat tergantung pada tanah secara langsung layak dan penuh keyakinan dapat berkata: Di atas tanah ini kubangun kemanusiaanku.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on