Rabu, 11 Januari 2012

PAPUA

Jakarta, Kompas – Rencana pemerintah menggelar dialog dengan seluruh elemen masyarakat Papua belum jauh beranjak dari wacana karena belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan penting. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus mendukung dialog sebagai satu-satunya langkah untuk mencari jalan keluar atas konflik yang berlangsung puluhan tahun di Papua.

Hal itu dikatakan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muridan Widjojo, secara terpisah di Jakarta, Selasa (10/1).

Sebagaimana diberitakan, situasi keamanan di Papua masih memanas dan menimbulkan korban jiwa. Kasus terakhir, dua karyawan PT Freeport Indonesia ditemukan tewas dengan luka tembak dan terbakar di wilayah kerja PT Freeport, Senin lalu.

Haris mengatakan, pemerintah belum pernah mengumumkan dengan terbuka kapan dialog digelar, apa agendanya, siapa yang diajak serta, dan bagaimana pendekatannya. Pendekatan pemerintah yang cenderung birokratis dianggap memperlambat proses persiapan dialog.

”Pemerintah sebaiknya menyatakan dengan terbuka tentang dialog, umumkan targetnya, pihak-pihak yang diajak dialog, serta menyusun agenda untuk mencari topik pembicaraan. Ini penting untuk membangun kepercayaan masyarakat Papua sehingga mereka tahu, apa yang sesungguhnya diinginkan pemerintah pusat,” katanya.

Saat bersamaan, ujar dia, masyarakat Papua juga perlu diberi ruang dan kebebasan untuk berkonsolidasi dan memunculkan isu-isu yang hendak dibicarakan.

”Namun, saya tidak yakin pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berhasil membangun dialog di Papua yang sudah telanjur rumit dan menyangkut banyak kepentingan. Saat ini, dia lebih sibuk mempertahankan kekuasaan sampai 2014,” katanya.

Menurut Muridan, pemerintah pusat dan pemimpin Papua harus diberi kesempatan menemukan jalan keluar itu. Pemerintah sedang menyiapkan tahap pra-dialog, yaitu menentukan siapa perwakilan dari Papua, wakil pemerintah pusat, apa agenda, dan bagaimana formatnya.

Sementara itu, polisi terus menyelidiki kasus penembakan dua karyawan PT Freeport Indonesia pada Senin lalu. Kepala Humas Polda Papua Kombes Wachyono di Jayapura mengatakan, polisi menemukan lima butir selongsong peluru FNB 84 dan TJ PSN berkaliber 5,56 milimeter. Selain itu, polisi juga memeriksa empat saksi dalam kasus ini. (iam/jos)

http://cetak.kompas.com/read/2012/01/11/0301268/dialog.masih.sebatas.wacana

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Rabu, 11 Januari 2012

    PAPUA

    Jakarta, Kompas – Rencana pemerintah menggelar dialog dengan seluruh elemen masyarakat Papua belum jauh beranjak dari wacana karena belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan penting. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus mendukung dialog sebagai satu-satunya langkah untuk mencari jalan keluar atas konflik yang berlangsung puluhan tahun di Papua.

    Hal itu dikatakan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muridan Widjojo, secara terpisah di Jakarta, Selasa (10/1).

    Sebagaimana diberitakan, situasi keamanan di Papua masih memanas dan menimbulkan korban jiwa. Kasus terakhir, dua karyawan PT Freeport Indonesia ditemukan tewas dengan luka tembak dan terbakar di wilayah kerja PT Freeport, Senin lalu.

    Haris mengatakan, pemerintah belum pernah mengumumkan dengan terbuka kapan dialog digelar, apa agendanya, siapa yang diajak serta, dan bagaimana pendekatannya. Pendekatan pemerintah yang cenderung birokratis dianggap memperlambat proses persiapan dialog.

    ”Pemerintah sebaiknya menyatakan dengan terbuka tentang dialog, umumkan targetnya, pihak-pihak yang diajak dialog, serta menyusun agenda untuk mencari topik pembicaraan. Ini penting untuk membangun kepercayaan masyarakat Papua sehingga mereka tahu, apa yang sesungguhnya diinginkan pemerintah pusat,” katanya.

    Saat bersamaan, ujar dia, masyarakat Papua juga perlu diberi ruang dan kebebasan untuk berkonsolidasi dan memunculkan isu-isu yang hendak dibicarakan.

    ”Namun, saya tidak yakin pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berhasil membangun dialog di Papua yang sudah telanjur rumit dan menyangkut banyak kepentingan. Saat ini, dia lebih sibuk mempertahankan kekuasaan sampai 2014,” katanya.

    Menurut Muridan, pemerintah pusat dan pemimpin Papua harus diberi kesempatan menemukan jalan keluar itu. Pemerintah sedang menyiapkan tahap pra-dialog, yaitu menentukan siapa perwakilan dari Papua, wakil pemerintah pusat, apa agenda, dan bagaimana formatnya.

    Sementara itu, polisi terus menyelidiki kasus penembakan dua karyawan PT Freeport Indonesia pada Senin lalu. Kepala Humas Polda Papua Kombes Wachyono di Jayapura mengatakan, polisi menemukan lima butir selongsong peluru FNB 84 dan TJ PSN berkaliber 5,56 milimeter. Selain itu, polisi juga memeriksa empat saksi dalam kasus ini. (iam/jos)

    http://cetak.kompas.com/read/2012/01/11/0301268/dialog.masih.sebatas.wacana

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on