Kamis, 09 Februari 2012

Kebangsaan

Jakarta, Kompas – Persoalan terkait Papua adalah masalah internal Indonesia. Amerika Serikat tidak pernah mempertimbangkan persoalan Papua dalam mengadakan hubungan kerja sama pertahanan.

Hal ini disampaikan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Scott Marciel, Rabu (8/2), seusai memperkenalkan United States-ASEAN Business Council (USABC) kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta. Dalam acara itu juga hadir Presiden USABC Alexander C Feldman dan perwakilan perusahaan AS, seperti Conoco Phillips, Freeport McMoran, Ford, Chevron, Caterpillar, dan Seagate.

”Kami mendukung upaya dialog Jakarta-Papua,” kata Scott. Menurut dia, Pemerintah AS menyadari adanya tantangan dalam melaksanakan pembangunan di Papua. Karena itu, AS mendukung upaya dialog.

Scott menandaskan, persepsi AS tentang masalah Papua adalah soal internal terkait pembangunan. Hal ini tak menjadi pertimbangan dalam membangun kerja sama pertahanan.

”Yang kami bicarakan itu kerja sama militer, sementara masalah di Papua bukan tentang pertahanan,” katanya. Yang dimaksud dengan kerja sama militer adalah soal penanganan bencana, keamanan laut, dan pemeliharaan perdamaian.

”Jika ada masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terkait militer, memang menjadi pertimbangan. Tetapi, pembahasan tentang itu tidak khusus terkait dengan Papua,” katanya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Erris Heryanto menambahkan, dalam pertemuan SEABC dan Pemerintah Indonesia sama sekali tidak disinggung soal Papua. Pertemuan itu sebatas memperkenalkan keberadaan USABC.

Secara terpisah, dalam pertemuan dengan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama di Jakarta, Rabu, mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agum Gumelar juga memprihatinkan persoalan di Papua yang sampai kini tak tuntas. Kekerasan masih terjadi. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, persoalan di Papua, terutama terus terjadinya kekerasan, bisa diredam.

Dialog, lanjut Agum, menjadi salah satu cara untuk meredam konflik di Papua. ”Saya pernah bertugas di Papua. Sebagian warga Papua merasa berbeda dengan mayoritas warga Indonesia. Namun, seperti di AS dan Malaysia, perbedaan warna kulit dan rambut tak pernah memisahkan mereka sebagai satu bangsa,” ujarnya lagi.

Agum menjelaskan, kekerasan bersenjata di Papua sesungguhnya tak bisa hanya ditangani polisi. Kekerasan bersenjata semestinya ditangani bersama kepolisian dan TNI.

Warga asing ditangkap

Dari Papua Barat, Rabu, dilaporkan, Polres Manokwari menangkap seorang turis asal Ceko, Petr Zamecnik (34). Dia kedapatan memotret demonstrasi yang menuntut pembebasan Presiden ataupun Perdana Menteri Republik Federal Papua Barat Forkorus Yaboisembut dan Edison Waromi. Keduanya ditahan saat Kongres Rakyat Papua III di Jayapura pada 19 Oktober 2011.

Petr yang mengaku sebagai wartawan itu diserahkan kepada pihak Imigrasi untuk dideportasi. Ia ditangkap di depan Kantor DPR Papua Barat. Pengunjuk rasa sempat protes terhadap penangkapan itu, tetapi dapat diredam oleh aparat. Petr datang ke Papua Barat sejak 2 Februari lalu.

Menurut Kepala Polres Manokwari Ajun Komisaris Besar Agustinus Supriyanto, Petr diamankan karena diduga melakukan pelanggaran visa. Tujuan dia datang ke Papua Barat adalah berwisata ke Raja Ampat, Pegunungan Arfak, dan Danau Anggi, tetapi memotret unjuk rasa.

(edn/tht/ppg/tra)

 

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/02/09/03444094/papua.adalah.masalah.internal.indonesia

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kamis, 09 Februari 2012

    Kebangsaan

    Jakarta, Kompas – Persoalan terkait Papua adalah masalah internal Indonesia. Amerika Serikat tidak pernah mempertimbangkan persoalan Papua dalam mengadakan hubungan kerja sama pertahanan.

    Hal ini disampaikan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Scott Marciel, Rabu (8/2), seusai memperkenalkan United States-ASEAN Business Council (USABC) kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta. Dalam acara itu juga hadir Presiden USABC Alexander C Feldman dan perwakilan perusahaan AS, seperti Conoco Phillips, Freeport McMoran, Ford, Chevron, Caterpillar, dan Seagate.

    ”Kami mendukung upaya dialog Jakarta-Papua,” kata Scott. Menurut dia, Pemerintah AS menyadari adanya tantangan dalam melaksanakan pembangunan di Papua. Karena itu, AS mendukung upaya dialog.

    Scott menandaskan, persepsi AS tentang masalah Papua adalah soal internal terkait pembangunan. Hal ini tak menjadi pertimbangan dalam membangun kerja sama pertahanan.

    ”Yang kami bicarakan itu kerja sama militer, sementara masalah di Papua bukan tentang pertahanan,” katanya. Yang dimaksud dengan kerja sama militer adalah soal penanganan bencana, keamanan laut, dan pemeliharaan perdamaian.

    ”Jika ada masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terkait militer, memang menjadi pertimbangan. Tetapi, pembahasan tentang itu tidak khusus terkait dengan Papua,” katanya.

    Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Erris Heryanto menambahkan, dalam pertemuan SEABC dan Pemerintah Indonesia sama sekali tidak disinggung soal Papua. Pertemuan itu sebatas memperkenalkan keberadaan USABC.

    Secara terpisah, dalam pertemuan dengan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama di Jakarta, Rabu, mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agum Gumelar juga memprihatinkan persoalan di Papua yang sampai kini tak tuntas. Kekerasan masih terjadi. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, persoalan di Papua, terutama terus terjadinya kekerasan, bisa diredam.

    Dialog, lanjut Agum, menjadi salah satu cara untuk meredam konflik di Papua. ”Saya pernah bertugas di Papua. Sebagian warga Papua merasa berbeda dengan mayoritas warga Indonesia. Namun, seperti di AS dan Malaysia, perbedaan warna kulit dan rambut tak pernah memisahkan mereka sebagai satu bangsa,” ujarnya lagi.

    Agum menjelaskan, kekerasan bersenjata di Papua sesungguhnya tak bisa hanya ditangani polisi. Kekerasan bersenjata semestinya ditangani bersama kepolisian dan TNI.

    Warga asing ditangkap

    Dari Papua Barat, Rabu, dilaporkan, Polres Manokwari menangkap seorang turis asal Ceko, Petr Zamecnik (34). Dia kedapatan memotret demonstrasi yang menuntut pembebasan Presiden ataupun Perdana Menteri Republik Federal Papua Barat Forkorus Yaboisembut dan Edison Waromi. Keduanya ditahan saat Kongres Rakyat Papua III di Jayapura pada 19 Oktober 2011.

    Petr yang mengaku sebagai wartawan itu diserahkan kepada pihak Imigrasi untuk dideportasi. Ia ditangkap di depan Kantor DPR Papua Barat. Pengunjuk rasa sempat protes terhadap penangkapan itu, tetapi dapat diredam oleh aparat. Petr datang ke Papua Barat sejak 2 Februari lalu.

    Menurut Kepala Polres Manokwari Ajun Komisaris Besar Agustinus Supriyanto, Petr diamankan karena diduga melakukan pelanggaran visa. Tujuan dia datang ke Papua Barat adalah berwisata ke Raja Ampat, Pegunungan Arfak, dan Danau Anggi, tetapi memotret unjuk rasa.

    (edn/tht/ppg/tra)

     

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/02/09/03444094/papua.adalah.masalah.internal.indonesia

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on