ALETA BAUN

Oleh Brigitta isworo Laksmi

Di kegelapan, perempuan berperawakan tegap itu terisak. Bahunya berguncang. Tangannya sibuk mengusap air mata yang menganaksungai di pipi.

Di panggung, Glenn Fredly berdendang, ”….Aku adalah Papua,.. Akulah Nusa Tenggara…, Tanah kami tanah kaya..; Laut kami laut kaya..; Kami tidur di atas emas…; Berenang di atas minyak..; Tapi bukan kami punya….”

Penggalan ”Suara Kemiskinan” mendesak gendang telinga. Malam penutupan South to South Festival, Minggu (26/2) itu, Aleta Ba’un hadir. Selama empat hari perhelatan, perempuan kelahiran Desa Lelobatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, 16 Maret 1963, ini menjadi ikon. Ikon perlawanan tambang, perusakan hutan, dan berbagai penghancuran di ranah adat secara luas.

Perempuan dari suku Mollo tersebut memiliki kegalauan yang dalam, yang berakar pada asal-muasal masyarakat adat Timor. Kegalauan yang muncul ketika gunung batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan industri kehutanan. Dan, batu Anjaf pun ”dibelah” untuk dikeruk dan diolah menjadi batu marmer. ”Batu, bagi kami orang Timor, adalah batu nama. Nama marga ada pada batu-batu itu. Kalau batu nama itu tak ada lagi, lalu kami ini siapa?” pertanyaan Aleta bernada tinggi.

Bukan sekadar eksistensi masyarakat adat yang terancam punah ketika mereka harus kehilangan ”nama” mereka. Filosofi masyarakat Mollo pun terusik. Aleta bertutur, ada empat hal mendasar yang menjadi filosofi masyarakat Mollo: nasi fani on nafum—yang berarti ”rambut atau pori-pori adalah hutan”, fatu fani on nuif—”batu adalah tulang”, eol fani on na—”air adalah darah”, afu fani on nesa—”tanah adalah daging”.

Padahal, tutur Aleta, semula wilayah yang didiami warga dari suku Amanuban, Amanatun, serta Mollo ini merupakan tanah yang subur. Di sana tumbuh pinang, jeruk, mangga, nangka, kentang, juga tanaman untuk obat tradisional, sayur-mayur, dan tanaman sejenis eucalyptus yang, menurut Aleta, endemik di Timor. Kehancuran nyata terjadi tahun 1980-an ketika hutan tanaman industri mulai masuk ketika hutan-hutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan ditebangi dan diganti dengan mahoni atau kayu jati. Debit air pun berkurang.

Aleta tak hanya memandang ke belakang hingga tahun 1980-an. Dia melayangkan pandangannya jauh ke belakang, melacak sejarah masyarakat adat di tanah kelahirannya. Pertanyaannya satu, ”Alam mulai rusak dari kapan? Pada awalnya alam bersahabat dengan manusia,” tutur Aleta. Nenek moyang Aleta bisa hidup berkecukupan. Mereka berladang di tanah seluas 2-3 are. ”Mereka bahagia,” tuturnya.

Dia menengarai bahwa rusaknya alam adalah seiring dengan masuknya Belanda yang melumpuhkan masyarakat dengan merusak tatanan ritual adat. ”Mereka memiliki peta alam kita, mereka juga tahu kekuatan Indonesia ada pada ritual adat. Maka, mereka menghancurkan adat…,” tuturnya. Menyadari hal itu, Aleta menyimpulkan, jika ingin memenangi perjuangan melawan kekuatan yang menghancurkan alam, mereka harus melacak jejak sejarah, melacak jejak ritual mereka. ”Kalau tak tahu sejarah, berjuang bagaimanapun tak bakal menang,” ujarnya tegas saat ditemui awal Februari lalu di Jakarta.

Mulailah refleksi ritual nenek moyang dihidupkan lagi oleh Aleta.

(Pada awalnya, Belanda datang ke Timor karena tertarik pada ”lilin dan cendana”—dalam bahasa setempat disebut ”ningkam haumeni”. Cendana atau ”kayu setan” bagi orang Timor harus dipotong secara sembunyi-sembunyi dan didahului ritual adat. Ketika itu cendana mulai ditebas untuk diperdagangkan. Cendana pun hilang ketika ada pemutihan oleh dinas kehutanan.)

Sejarah tambang di Mollo sudah mulai tahun 1980-an dengan tambang marmer yang berakhir tahun 1982. Masyarakat pun belajar: tambang telah menghancurkan sumber kehidupan mereka. Sumber air kering, tanah menjadi gersang, dan tak bisa ditanami. Tahun 1994, mereka berhasil menolak masuknya investor tambang. Sekitar tahun 1995-1996, investor datang dengan persiapan lebih baik. Mereka merekrut banyak tenaga kerja, melibatkan polisi, tentara, mempersiapkan perumahan karyawan serta kendaraan berat. Perlawanan masyarakat pun mulai bangkit. Ketika itu, Aleta mendatangi berbagai tokoh masyarakat serta menyurati bupati dan tambang pun bisa dicegah hadir.

Selanjutnya, Aleta berefleksi, apa arti bumi bagi masyarakat Timor. ”Mama kita itu siapa? Mama kita adalah tanah. Tanah adalah ibu yang menyusui. Bagaimana bisa kita menyangkal mama? Kita tak bisa dipisahkan dari sumber daya alam karena kita tak bisa dipisahkan dari tanah, kita hidup dari situ. Orang meninggal kembali ke tanah,” tutur Aleta.

Aleta yang keturunan raja berdarah Portugis dari garis mama dan ayahnya adalah tetua semacam MPR-turut memilih dan memberhentikan raja, tak sungkan memulai kiprahnya. ”Semula orang tidak mengakui saya karena sudah zaman merdeka. Tidak ada raja lagi, tetapi camat, dan orang tidak pusing dengan adat,” kata Aleta. Langkah awalnya sarat tantangan kultural dan sejarah. Di Timor, lelaki adalah pemegang dominasi.

Mengawali perlawanan terhadap investor tambang, Aleta hanya bergerak bersama Yohance Lase, Yeheskiel Nune, dan Lambert Kase. Mulailah perjuangan fisik dengan bergerilya di tengah malam hingga dini hari dia lakukan.

”Selepas maghrib, kami mulai menghilang, berpikir, malam ini mencuri motor dari mana untuk jalan,” ungkapnya. ”Pagi saya kerja, malam saya keluar dari jendela,” ujarnya. Suami dan dua anaknya ditinggalkan di rumah. Kadang motor harus disembunyikan di kolong jembatan atau di got karena jalanan berbatu. Dia berdiskusi dengan warga hingga dini hari dan sekitar pukul 04.00 dia tiba di rumah.

”Kita pakai ritual adat sehingga orang tak tahu kita rapat di situ,” kata Aleta. Kondisi jalan yang buruk kadang mengharuskan dia berjalan kaki hingga dua jam. Pertemuan harus berakhir pukul 02.00 agar bisa sampai ke rumah lagi pukul 04.00. Dukungan datang dari sang suami yang akhirnya tahu kegiatan Aleta. Tahun 1999, dia bersama rekannya mendirikan organisasi, Yayasan Oat atau Organisasi Attaemamus—yang mengandung arti ”mengayomi, melindungi, memperbaiki, merangkul, dan mempertahankan”.

Pasangan Aleta-Liftus tak pernah hidup tenang sejak akhir 1990-an. Rumah mereka diancam dibakar dan nyaris setiap malam rumah itu dilempari batu. ”Setiap jam 11 malam, saya bangun dan berjaga. Saya ganti melempar mereka yang melempari rumah saya,” Aleta berkisah. Perjuangan Aleta tak hanya untuk soal tambang. Hak masyarakat atas tanah adat yang diambil oleh pemerintah sejak hilangnya sistem kerajaan di Timor—semula ada Kerajaan Netpala dan Nunbena—atau sejak masa kemerdekaan, membawa pergulatan panjang.

Tanah itu, menurut Aleta, sudah 20 tahun tidak dikembalikan ke rakyat, tetapi dikuasai negara, dipakai untuk beternak dan ditebang besar-besaran tahun 2008. Padahal, itu adalah hutan larangan. Tanah seluas 16.000 hektar tersebut adalah milik masyarakat adat Amanuban. Perjuangan panjang secara fisik dan ritual pun dimulai. Akibatnya, sejak tahun 2006, Aleta tidak bertemu dengan dengan anak-anaknya dan suami.

”Saya harus lari-lari di hutan. Saya kena pukul di pengadilan. Genteng dan jendela rumah saya pecah. Saya ditabrak di jalan sambil dilempar batu, kena bacok di kaki,” ujar Aleta menggambarkan tantangan yang dihadapinya.

Setahun Aleta dan warga dari Amanuban dan Amanatun tidur di hutan. Tahun 2006 ada tembakan peringatan dan 16 orang ditahan—sebenarnyalah Aleta menjadi target. Ketika anak bungsunya, Ainina (5), berusia dua bulan, Aleta sudah turun lagi ke jalan. Ainina kemudian banyak dibawanya tidur di hutan. ”Dia kurus sekali, kurang gizi, kurang terurus hingga sakit, hampir meninggal. Bagaimana saya mau urus dia, urus diri sendiri saja tak sempat,” Aleta bercerita.

Dalam suatu demo yang dia pimpin, yang selalu disertai strategi berdasarkan refleksi ritual, para perempuan berada di garis depan. Ketika mereka terus didesak oleh aparat pemerintah, para perempuan itu diminta Aleta membuka baju dan mempertontonkan dadanya. ”Untuk menegaskan bahwa bumi adalah mama yang menyusui. Mereka tak berani untuk bersikap kasar kepada perempuan karena mereka tahu maksudnya,” ujar Aleta.

Perjuangannya juga menggunakan pendekatan melalui jalur legal. ”Kami sekarang sedang membuat pemetaan dengan masyarakat, pemetaan partisipatif untuk menunjukkan kepada Menteri Kehutanan bahwa itu hak kami. Kami baru petakan 12 desa dari 29 desa. Di seluruh Timor Tengah Selatan ada 137 desa,” ujarnya. Sekarang pun Aleta menyiapkan pleno di DPRD dan Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) untuk masalah kemiskinan di Kabupaten TTS.

Aleta kini melanjutkan hidupnya: berjalan dari kasus ke kasus. Mana yang sempat dia jalani lebih dulu, dia jalani bersama-sama dengan masyarakat setempat. Kini tiga suku yang tinggal di wilayah Mollo sudah bersatu. Sejak tahun 2010, mereka menggelar Festival Ningkam Haumeni. Festival itu merupakan simbol semangat berkumpul dan ajang refleksi masyarakat ”tiga batu tungku”, menyatukan masyarakat Mollo, Amanuban, dan Amanatun.

”Kami membangun mimpi masyarakat ke depan, mimpi akan apa yang akan dilakukan,” ucap Aleta tentang festival itu.

Di festival itu, setiap kelompok suku mempertunjukkan tarian wilayahnya yang berhubungan dengan pangan dan tarian yang berhubungan dengan sumber daya alam. ”Mengapa harus tunjukkan seperti itu? Ketika sumber daya alam rusak, sumber pangan mereka juga akan hancur,” katanya. Satu prinsip yang dipegangnya teguh, ”Kami jual apa yang bisa kami buat. Kami tidak jual apa yang kami tidak bisa buat.”

Sampai kapan Aleta akan berjuang? Aleta sendiri tak bisa menjawab. Kasus terdekat adalah usaha tambang migas di wilayah Amanuban dan Amanatun. Sementara tambang Mangan di Amanuban belum disentuhnya. ”Belum ada yang mengadu…,” ujarnya, sementara matanya bersinar tajam. Di dalamnya ada janji bahwa dia akan terus berjalan dari kasus ke kasus demi keadilan bagi warga dan keharmonisan manusia-alam.

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/11/05454530/aleta.baun.perempuan.yang.terus.berjalan…

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    ALETA BAUN

    Oleh Brigitta isworo Laksmi

    Di kegelapan, perempuan berperawakan tegap itu terisak. Bahunya berguncang. Tangannya sibuk mengusap air mata yang menganaksungai di pipi.

    Di panggung, Glenn Fredly berdendang, ”….Aku adalah Papua,.. Akulah Nusa Tenggara…, Tanah kami tanah kaya..; Laut kami laut kaya..; Kami tidur di atas emas…; Berenang di atas minyak..; Tapi bukan kami punya….”

    Penggalan ”Suara Kemiskinan” mendesak gendang telinga. Malam penutupan South to South Festival, Minggu (26/2) itu, Aleta Ba’un hadir. Selama empat hari perhelatan, perempuan kelahiran Desa Lelobatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, 16 Maret 1963, ini menjadi ikon. Ikon perlawanan tambang, perusakan hutan, dan berbagai penghancuran di ranah adat secara luas.

    Perempuan dari suku Mollo tersebut memiliki kegalauan yang dalam, yang berakar pada asal-muasal masyarakat adat Timor. Kegalauan yang muncul ketika gunung batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan industri kehutanan. Dan, batu Anjaf pun ”dibelah” untuk dikeruk dan diolah menjadi batu marmer. ”Batu, bagi kami orang Timor, adalah batu nama. Nama marga ada pada batu-batu itu. Kalau batu nama itu tak ada lagi, lalu kami ini siapa?” pertanyaan Aleta bernada tinggi.

    Bukan sekadar eksistensi masyarakat adat yang terancam punah ketika mereka harus kehilangan ”nama” mereka. Filosofi masyarakat Mollo pun terusik. Aleta bertutur, ada empat hal mendasar yang menjadi filosofi masyarakat Mollo: nasi fani on nafum—yang berarti ”rambut atau pori-pori adalah hutan”, fatu fani on nuif—”batu adalah tulang”, eol fani on na—”air adalah darah”, afu fani on nesa—”tanah adalah daging”.

    Padahal, tutur Aleta, semula wilayah yang didiami warga dari suku Amanuban, Amanatun, serta Mollo ini merupakan tanah yang subur. Di sana tumbuh pinang, jeruk, mangga, nangka, kentang, juga tanaman untuk obat tradisional, sayur-mayur, dan tanaman sejenis eucalyptus yang, menurut Aleta, endemik di Timor. Kehancuran nyata terjadi tahun 1980-an ketika hutan tanaman industri mulai masuk ketika hutan-hutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan ditebangi dan diganti dengan mahoni atau kayu jati. Debit air pun berkurang.

    Aleta tak hanya memandang ke belakang hingga tahun 1980-an. Dia melayangkan pandangannya jauh ke belakang, melacak sejarah masyarakat adat di tanah kelahirannya. Pertanyaannya satu, ”Alam mulai rusak dari kapan? Pada awalnya alam bersahabat dengan manusia,” tutur Aleta. Nenek moyang Aleta bisa hidup berkecukupan. Mereka berladang di tanah seluas 2-3 are. ”Mereka bahagia,” tuturnya.

    Dia menengarai bahwa rusaknya alam adalah seiring dengan masuknya Belanda yang melumpuhkan masyarakat dengan merusak tatanan ritual adat. ”Mereka memiliki peta alam kita, mereka juga tahu kekuatan Indonesia ada pada ritual adat. Maka, mereka menghancurkan adat…,” tuturnya. Menyadari hal itu, Aleta menyimpulkan, jika ingin memenangi perjuangan melawan kekuatan yang menghancurkan alam, mereka harus melacak jejak sejarah, melacak jejak ritual mereka. ”Kalau tak tahu sejarah, berjuang bagaimanapun tak bakal menang,” ujarnya tegas saat ditemui awal Februari lalu di Jakarta.

    Mulailah refleksi ritual nenek moyang dihidupkan lagi oleh Aleta.

    (Pada awalnya, Belanda datang ke Timor karena tertarik pada ”lilin dan cendana”—dalam bahasa setempat disebut ”ningkam haumeni”. Cendana atau ”kayu setan” bagi orang Timor harus dipotong secara sembunyi-sembunyi dan didahului ritual adat. Ketika itu cendana mulai ditebas untuk diperdagangkan. Cendana pun hilang ketika ada pemutihan oleh dinas kehutanan.)

    Sejarah tambang di Mollo sudah mulai tahun 1980-an dengan tambang marmer yang berakhir tahun 1982. Masyarakat pun belajar: tambang telah menghancurkan sumber kehidupan mereka. Sumber air kering, tanah menjadi gersang, dan tak bisa ditanami. Tahun 1994, mereka berhasil menolak masuknya investor tambang. Sekitar tahun 1995-1996, investor datang dengan persiapan lebih baik. Mereka merekrut banyak tenaga kerja, melibatkan polisi, tentara, mempersiapkan perumahan karyawan serta kendaraan berat. Perlawanan masyarakat pun mulai bangkit. Ketika itu, Aleta mendatangi berbagai tokoh masyarakat serta menyurati bupati dan tambang pun bisa dicegah hadir.

    Selanjutnya, Aleta berefleksi, apa arti bumi bagi masyarakat Timor. ”Mama kita itu siapa? Mama kita adalah tanah. Tanah adalah ibu yang menyusui. Bagaimana bisa kita menyangkal mama? Kita tak bisa dipisahkan dari sumber daya alam karena kita tak bisa dipisahkan dari tanah, kita hidup dari situ. Orang meninggal kembali ke tanah,” tutur Aleta.

    Aleta yang keturunan raja berdarah Portugis dari garis mama dan ayahnya adalah tetua semacam MPR-turut memilih dan memberhentikan raja, tak sungkan memulai kiprahnya. ”Semula orang tidak mengakui saya karena sudah zaman merdeka. Tidak ada raja lagi, tetapi camat, dan orang tidak pusing dengan adat,” kata Aleta. Langkah awalnya sarat tantangan kultural dan sejarah. Di Timor, lelaki adalah pemegang dominasi.

    Mengawali perlawanan terhadap investor tambang, Aleta hanya bergerak bersama Yohance Lase, Yeheskiel Nune, dan Lambert Kase. Mulailah perjuangan fisik dengan bergerilya di tengah malam hingga dini hari dia lakukan.

    ”Selepas maghrib, kami mulai menghilang, berpikir, malam ini mencuri motor dari mana untuk jalan,” ungkapnya. ”Pagi saya kerja, malam saya keluar dari jendela,” ujarnya. Suami dan dua anaknya ditinggalkan di rumah. Kadang motor harus disembunyikan di kolong jembatan atau di got karena jalanan berbatu. Dia berdiskusi dengan warga hingga dini hari dan sekitar pukul 04.00 dia tiba di rumah.

    ”Kita pakai ritual adat sehingga orang tak tahu kita rapat di situ,” kata Aleta. Kondisi jalan yang buruk kadang mengharuskan dia berjalan kaki hingga dua jam. Pertemuan harus berakhir pukul 02.00 agar bisa sampai ke rumah lagi pukul 04.00. Dukungan datang dari sang suami yang akhirnya tahu kegiatan Aleta. Tahun 1999, dia bersama rekannya mendirikan organisasi, Yayasan Oat atau Organisasi Attaemamus—yang mengandung arti ”mengayomi, melindungi, memperbaiki, merangkul, dan mempertahankan”.

    Pasangan Aleta-Liftus tak pernah hidup tenang sejak akhir 1990-an. Rumah mereka diancam dibakar dan nyaris setiap malam rumah itu dilempari batu. ”Setiap jam 11 malam, saya bangun dan berjaga. Saya ganti melempar mereka yang melempari rumah saya,” Aleta berkisah. Perjuangan Aleta tak hanya untuk soal tambang. Hak masyarakat atas tanah adat yang diambil oleh pemerintah sejak hilangnya sistem kerajaan di Timor—semula ada Kerajaan Netpala dan Nunbena—atau sejak masa kemerdekaan, membawa pergulatan panjang.

    Tanah itu, menurut Aleta, sudah 20 tahun tidak dikembalikan ke rakyat, tetapi dikuasai negara, dipakai untuk beternak dan ditebang besar-besaran tahun 2008. Padahal, itu adalah hutan larangan. Tanah seluas 16.000 hektar tersebut adalah milik masyarakat adat Amanuban. Perjuangan panjang secara fisik dan ritual pun dimulai. Akibatnya, sejak tahun 2006, Aleta tidak bertemu dengan dengan anak-anaknya dan suami.

    ”Saya harus lari-lari di hutan. Saya kena pukul di pengadilan. Genteng dan jendela rumah saya pecah. Saya ditabrak di jalan sambil dilempar batu, kena bacok di kaki,” ujar Aleta menggambarkan tantangan yang dihadapinya.

    Setahun Aleta dan warga dari Amanuban dan Amanatun tidur di hutan. Tahun 2006 ada tembakan peringatan dan 16 orang ditahan—sebenarnyalah Aleta menjadi target. Ketika anak bungsunya, Ainina (5), berusia dua bulan, Aleta sudah turun lagi ke jalan. Ainina kemudian banyak dibawanya tidur di hutan. ”Dia kurus sekali, kurang gizi, kurang terurus hingga sakit, hampir meninggal. Bagaimana saya mau urus dia, urus diri sendiri saja tak sempat,” Aleta bercerita.

    Dalam suatu demo yang dia pimpin, yang selalu disertai strategi berdasarkan refleksi ritual, para perempuan berada di garis depan. Ketika mereka terus didesak oleh aparat pemerintah, para perempuan itu diminta Aleta membuka baju dan mempertontonkan dadanya. ”Untuk menegaskan bahwa bumi adalah mama yang menyusui. Mereka tak berani untuk bersikap kasar kepada perempuan karena mereka tahu maksudnya,” ujar Aleta.

    Perjuangannya juga menggunakan pendekatan melalui jalur legal. ”Kami sekarang sedang membuat pemetaan dengan masyarakat, pemetaan partisipatif untuk menunjukkan kepada Menteri Kehutanan bahwa itu hak kami. Kami baru petakan 12 desa dari 29 desa. Di seluruh Timor Tengah Selatan ada 137 desa,” ujarnya. Sekarang pun Aleta menyiapkan pleno di DPRD dan Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) untuk masalah kemiskinan di Kabupaten TTS.

    Aleta kini melanjutkan hidupnya: berjalan dari kasus ke kasus. Mana yang sempat dia jalani lebih dulu, dia jalani bersama-sama dengan masyarakat setempat. Kini tiga suku yang tinggal di wilayah Mollo sudah bersatu. Sejak tahun 2010, mereka menggelar Festival Ningkam Haumeni. Festival itu merupakan simbol semangat berkumpul dan ajang refleksi masyarakat ”tiga batu tungku”, menyatukan masyarakat Mollo, Amanuban, dan Amanatun.

    ”Kami membangun mimpi masyarakat ke depan, mimpi akan apa yang akan dilakukan,” ucap Aleta tentang festival itu.

    Di festival itu, setiap kelompok suku mempertunjukkan tarian wilayahnya yang berhubungan dengan pangan dan tarian yang berhubungan dengan sumber daya alam. ”Mengapa harus tunjukkan seperti itu? Ketika sumber daya alam rusak, sumber pangan mereka juga akan hancur,” katanya. Satu prinsip yang dipegangnya teguh, ”Kami jual apa yang bisa kami buat. Kami tidak jual apa yang kami tidak bisa buat.”

    Sampai kapan Aleta akan berjuang? Aleta sendiri tak bisa menjawab. Kasus terdekat adalah usaha tambang migas di wilayah Amanuban dan Amanatun. Sementara tambang Mangan di Amanuban belum disentuhnya. ”Belum ada yang mengadu…,” ujarnya, sementara matanya bersinar tajam. Di dalamnya ada janji bahwa dia akan terus berjalan dari kasus ke kasus demi keadilan bagi warga dan keharmonisan manusia-alam.

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/11/05454530/aleta.baun.perempuan.yang.terus.berjalan…

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on