Pajak Emisi Karbon

 

BRUSSELS, SENIN – Seorang diplomat senior China mengatakan, ”masuk akal” bagi maskapai-maskapai penerbangan di China untuk beralih menggunakan pesawat-pesawat penumpang buatan Boeing dari Amerika Serikat jika Eropa tetap memaksakan penerapan pajak emisi karbon.

Pernyataan Wu Hailong, Duta Besar China yang baru untuk Uni Eropa (UE), itu dikutip harian Wall Street Journal, Senin (12/3). Pernyataan tersebut menambah panas perseteruan antara China dan UE seputar pajak emisi karbon di dunia penerbangan yang diterapkan UE.

Aturan UE tersebut mengharuskan seluruh maskapai dari negara mana pun yang menggunakan bandar udara di Eropa membayar pajak emisi karbon. Besarnya pajak tergantung jumlah emisi karbon setiap pesawat.

Pesawat dari China menuju Eropa, misalnya, diwajibkan membayar pajak sekitar 2 euro (sekitar Rp 23.900) per penumpang. Aturan ini mulai diberlakukan 1 Januari lalu. Namun, tiap maskapai akan menerima tagihan pada tahun depan setelah jumlah emisi karbon tahun ini dihitung.

UE berpendapat, dana dari pajak tersebut akan membantu 27 negara anggota UE memangkas emisi karbon hingga 20 persen pada 2020. Namun, lebih dari 24 negara—termasuk AS, Rusia, dan China—menentang langkah sepihak UE ini. Mereka menyatakan hal itu melanggar hukum internasional. Pemerintah China telah melarang maskapai-maskapainya membayar pajak itu.

Pekan lalu, China meningkatkan tekanannya dengan melarang maskapai penerbangan asal China membeli pesawat dari Airbus, perusahaan pembuat pesawat penumpang asal Eropa. Padahal, Airbus telanjur membuka pabrik perakitan pesawat di Tianjin, China, sejak 2009 untuk menggarap pasar pesawat komersial yang menggiurkan di China.

Wu mengatakan, masuk akal jika maskapai-maskapai China kemudian berpaling ke Boeing, pesaing utama Airbus di pasar global. ”Isu (pajak emisi karbon) ini terlalu besar untuk diputuskan oleh UE sendiri,” ujar Wu.

Hari Minggu (11/3), pihak Airbus bersama perusahaan penerbangan Safran dari Perancis dan MTU dari Jerman, serta enam maskapai penerbangan utama Eropa— yakni British Airways, Lufthansa, Air France, Virgin Atlantic, Air Berlin, dan Iberia—menulis surat kepada para kepala pemerintahan Inggris, Jerman, Perancis, dan Spanyol.

Mereka meminta negara-negara tersebut membatalkan aturan pajak skema perdagangan emisi (ETS) Eropa karena risiko ekonominya terlalu besar. Airbus mengatakan bisa kehilangan tak kurang dari 2.000 tenaga kerja dan kontrak senilai 12 miliar dollar AS (Rp 109,9 triliun) apabila aturan tersebut dipaksakan.

Pekan lalu, pihak Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperingatkan, aturan UE itu bisa memprovokasi perang dagang. Meski demikian, UE berkeras aturan itu akan tetap dijalankan.(AFP/Reuters/DHF)

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/14/02275168/aturan.ue.bisa.picu.perang.dagang

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Pajak Emisi Karbon

     

    BRUSSELS, SENIN – Seorang diplomat senior China mengatakan, ”masuk akal” bagi maskapai-maskapai penerbangan di China untuk beralih menggunakan pesawat-pesawat penumpang buatan Boeing dari Amerika Serikat jika Eropa tetap memaksakan penerapan pajak emisi karbon.

    Pernyataan Wu Hailong, Duta Besar China yang baru untuk Uni Eropa (UE), itu dikutip harian Wall Street Journal, Senin (12/3). Pernyataan tersebut menambah panas perseteruan antara China dan UE seputar pajak emisi karbon di dunia penerbangan yang diterapkan UE.

    Aturan UE tersebut mengharuskan seluruh maskapai dari negara mana pun yang menggunakan bandar udara di Eropa membayar pajak emisi karbon. Besarnya pajak tergantung jumlah emisi karbon setiap pesawat.

    Pesawat dari China menuju Eropa, misalnya, diwajibkan membayar pajak sekitar 2 euro (sekitar Rp 23.900) per penumpang. Aturan ini mulai diberlakukan 1 Januari lalu. Namun, tiap maskapai akan menerima tagihan pada tahun depan setelah jumlah emisi karbon tahun ini dihitung.

    UE berpendapat, dana dari pajak tersebut akan membantu 27 negara anggota UE memangkas emisi karbon hingga 20 persen pada 2020. Namun, lebih dari 24 negara—termasuk AS, Rusia, dan China—menentang langkah sepihak UE ini. Mereka menyatakan hal itu melanggar hukum internasional. Pemerintah China telah melarang maskapai-maskapainya membayar pajak itu.

    Pekan lalu, China meningkatkan tekanannya dengan melarang maskapai penerbangan asal China membeli pesawat dari Airbus, perusahaan pembuat pesawat penumpang asal Eropa. Padahal, Airbus telanjur membuka pabrik perakitan pesawat di Tianjin, China, sejak 2009 untuk menggarap pasar pesawat komersial yang menggiurkan di China.

    Wu mengatakan, masuk akal jika maskapai-maskapai China kemudian berpaling ke Boeing, pesaing utama Airbus di pasar global. ”Isu (pajak emisi karbon) ini terlalu besar untuk diputuskan oleh UE sendiri,” ujar Wu.

    Hari Minggu (11/3), pihak Airbus bersama perusahaan penerbangan Safran dari Perancis dan MTU dari Jerman, serta enam maskapai penerbangan utama Eropa— yakni British Airways, Lufthansa, Air France, Virgin Atlantic, Air Berlin, dan Iberia—menulis surat kepada para kepala pemerintahan Inggris, Jerman, Perancis, dan Spanyol.

    Mereka meminta negara-negara tersebut membatalkan aturan pajak skema perdagangan emisi (ETS) Eropa karena risiko ekonominya terlalu besar. Airbus mengatakan bisa kehilangan tak kurang dari 2.000 tenaga kerja dan kontrak senilai 12 miliar dollar AS (Rp 109,9 triliun) apabila aturan tersebut dipaksakan.

    Pekan lalu, pihak Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperingatkan, aturan UE itu bisa memprovokasi perang dagang. Meski demikian, UE berkeras aturan itu akan tetap dijalankan.(AFP/Reuters/DHF)

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/14/02275168/aturan.ue.bisa.picu.perang.dagang

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on