• Mona Sihombing / Rosmi Julitasari
  • 22 Maret 2012 – 17:22 WIB
FAO memprediksi 1,8 miliar orang akan hidup di negara atau wilayah yang mengalami kelangkaan air mutlak di tahun 2025. Dua pertiga populasi dunia juga diprediksi akan hidup di kondisi-kondisi yang stres air.
VHRmedia, Roma – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menekankan peran penting air dalam keamanan pangan. Kini, kelangkaan air telah mempengaruhi setiap benua dan lebih dari 40 persen penduduk dunia. Pernyataan itu dirilis dalam peringatan Hari Air Dunia 22 Maret 2012.
Di tahun 2025, sebanyak 1,8 miliar orang akan hidup di negara atau wilayah yang mengalami kelangkaan air mutlak. Dua pertiga populasi dunia juga diprediksi akan hidup di kondisi-kondisi yang stres air.
Seiring perkiraan pertumbuhan jumlah penduduk, konsumsi air di sektor agrikultur akan naik 19 persen di tahun 2050 nanti. Bisa lebih besar lagi bila efisiensi hasil dan produksi panen tidak meningkat secara dramatis, demikian isi laporan terakhir PBB mengenai perkembangan air dunia.
FAO, badan pangan dan pertanian PBB, menyatakan dunia harus memproduksi 70 persen lebih banyak pangan di tahun 2050. Di tahun itu, penduduk dunia diperkirakan mencapai sembilan miliar jiwa, dua miliar lebih banyak dibanding tahun ini. Kondisi itu membutuhkan manajemen air yang lebih baik, peningkatan keuletan petani menghadapi perubahan iklim, dan pengurangan pemborosan makanan dan air.
“Pangan, terutama agrikultur, merupakan pengguna air terbesar,” kata Pasquael Studeto, ketua program air di FAO, kepada voanews.com. Penggunannya mencapai 70 persen air sungai dan air tanah.
Sekarang saja, agrikultur telah menjadi sektor yang rentan. “Dengan perkembangan cepat urbanisasi dan industri, banyak air yang sebelumnya digunakan untuk irigasi kini beralih ke sektor-sektor lain … sehingga kita harus menggunakan air nonkonvensional,” kata Gao Zhanyi, presiden International Commission on Irrigation and Drainage, kepada trust.org.
Polusi air juga menjadi penyebab kekurangan ketersediaan air. Polusi itu berasal dari praktik industri  dan limbah perkotaan. Di agrikultur pun, penggunaan bahan kimia berlebihan dapat meracuni sumber-sumber air.
Bagi petani-petani kecil di negara-negara berkembang punya dua masalah yang tidak dapat dipisahkan, air dan tanah. “Bila kita ingin mengurangi kemiskinan di daerah pedesaan, kita harus mengembangkan pendekatan holistik yang berfokus pada kontribusi air bagi seluruh bidang, misalnya kesehatan dan agrikultur,” kata Rudolph Cleveringa, penasihat pengembangan pedesaan bagi International Fund for Agricultural Development, seperti dikutip allafrica.com.
“Saat mencari solusi bagi masalah sumber air, kita harus fokus pada orang-orang yang berurusan dengan isu ini dan kebutuhan mereka. Kita harus menyesuaikan solusi-solusi air dengan komunitas pedesaan untuk memastikan keamanan dan nutrisi pangan mereka,” tambah Cleveringa.
Di awal bulan ini, PBB mengumumkan telah mencapai target mengurangi jumlah penduduk dunia tanpa akses ke air sehat, yang seharusnya tenggat di tahun 2015. Tetapi, masih ada sekitar semiliar orang yang belum punya akses itu. Ditambah lagi, target sanitasi belum tercapai sama sekali.
Hari Air Dunia diperingati setiap tahun di tanggal ini. Bermula di tahun 1993, PBB ingin memusatkan perhatian pada pentingnya air segar dan menganjurkan penerapan manajemen berkelanjutan atas sumber air segar. Tema tiap tahun berbeda dan kali ini adalah keamanan pangan. (E3)
sumber: http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=5490
Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA
    • Mona Sihombing / Rosmi Julitasari
    • 22 Maret 2012 – 17:22 WIB
    FAO memprediksi 1,8 miliar orang akan hidup di negara atau wilayah yang mengalami kelangkaan air mutlak di tahun 2025. Dua pertiga populasi dunia juga diprediksi akan hidup di kondisi-kondisi yang stres air.
    VHRmedia, Roma – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menekankan peran penting air dalam keamanan pangan. Kini, kelangkaan air telah mempengaruhi setiap benua dan lebih dari 40 persen penduduk dunia. Pernyataan itu dirilis dalam peringatan Hari Air Dunia 22 Maret 2012.
    Di tahun 2025, sebanyak 1,8 miliar orang akan hidup di negara atau wilayah yang mengalami kelangkaan air mutlak. Dua pertiga populasi dunia juga diprediksi akan hidup di kondisi-kondisi yang stres air.
    Seiring perkiraan pertumbuhan jumlah penduduk, konsumsi air di sektor agrikultur akan naik 19 persen di tahun 2050 nanti. Bisa lebih besar lagi bila efisiensi hasil dan produksi panen tidak meningkat secara dramatis, demikian isi laporan terakhir PBB mengenai perkembangan air dunia.
    FAO, badan pangan dan pertanian PBB, menyatakan dunia harus memproduksi 70 persen lebih banyak pangan di tahun 2050. Di tahun itu, penduduk dunia diperkirakan mencapai sembilan miliar jiwa, dua miliar lebih banyak dibanding tahun ini. Kondisi itu membutuhkan manajemen air yang lebih baik, peningkatan keuletan petani menghadapi perubahan iklim, dan pengurangan pemborosan makanan dan air.
    “Pangan, terutama agrikultur, merupakan pengguna air terbesar,” kata Pasquael Studeto, ketua program air di FAO, kepada voanews.com. Penggunannya mencapai 70 persen air sungai dan air tanah.
    Sekarang saja, agrikultur telah menjadi sektor yang rentan. “Dengan perkembangan cepat urbanisasi dan industri, banyak air yang sebelumnya digunakan untuk irigasi kini beralih ke sektor-sektor lain … sehingga kita harus menggunakan air nonkonvensional,” kata Gao Zhanyi, presiden International Commission on Irrigation and Drainage, kepada trust.org.
    Polusi air juga menjadi penyebab kekurangan ketersediaan air. Polusi itu berasal dari praktik industri  dan limbah perkotaan. Di agrikultur pun, penggunaan bahan kimia berlebihan dapat meracuni sumber-sumber air.
    Bagi petani-petani kecil di negara-negara berkembang punya dua masalah yang tidak dapat dipisahkan, air dan tanah. “Bila kita ingin mengurangi kemiskinan di daerah pedesaan, kita harus mengembangkan pendekatan holistik yang berfokus pada kontribusi air bagi seluruh bidang, misalnya kesehatan dan agrikultur,” kata Rudolph Cleveringa, penasihat pengembangan pedesaan bagi International Fund for Agricultural Development, seperti dikutip allafrica.com.
    “Saat mencari solusi bagi masalah sumber air, kita harus fokus pada orang-orang yang berurusan dengan isu ini dan kebutuhan mereka. Kita harus menyesuaikan solusi-solusi air dengan komunitas pedesaan untuk memastikan keamanan dan nutrisi pangan mereka,” tambah Cleveringa.
    Di awal bulan ini, PBB mengumumkan telah mencapai target mengurangi jumlah penduduk dunia tanpa akses ke air sehat, yang seharusnya tenggat di tahun 2015. Tetapi, masih ada sekitar semiliar orang yang belum punya akses itu. Ditambah lagi, target sanitasi belum tercapai sama sekali.
    Hari Air Dunia diperingati setiap tahun di tanggal ini. Bermula di tahun 1993, PBB ingin memusatkan perhatian pada pentingnya air segar dan menganjurkan penerapan manajemen berkelanjutan atas sumber air segar. Tema tiap tahun berbeda dan kali ini adalah keamanan pangan. (E3)
    sumber: http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=5490
    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on