Wilayah Pesisir

Merauke, Kompas – Pasang air laut tinggi merendam puluhan rumah warga di pesisir pantai Payum, Kampung Payum, Kelurahan Samkai, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Papua, Rabu (14/3) dini hari. Sekitar 120 keluarga diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Lurah Samkai Wister Hutapea mengatakan, gelombang pasang Laut Arafuru mulai menggenangi rumah-rumah warga sekitar pukul 03.00 WIT. Meskipun hampir semua rumah warga berbentuk rumah panggung, air pasang tetap merambat naik dan menggenanginya. ”Ketinggian air 1-2 meter. Jadi meski rumah panggung pun tetap kena,” katanya.

Menurut Wister, dua RT terendam air pasang, yakni RT 22 dan 23 Kampung Samkai. Kedua RT itu berada di lokasi paling rendah. Sebanyak 120 keluarga diungsikan ke gedung Balai Latihan Kerja, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Merauke. ”Ini banjir tahunan, tetapi tahun ini paling besar. Selain pasang tinggi, juga disertai hujan,” ujarnya.

Pada pagi hingga siang, air laut kembali surut, tetapi akan kembali menggenangi rumah pada malam dan dini hari. Untuk itu warga tetap diungsikan hingga kondisi laut normal. Pemerintah Kabupaten Merauke dan Badan SAR Nasional Merauke membantu mengungsikan warga.

Menurut Yulianus Kahol, Ketua RT 23 Kampung Payum, setiap tahun ketinggian air pasang semakin tinggi, terutama dalam dua tahun terakhir. Akibatnya, setiap musim pasang laut tertinggi pada bulan Februari-Maret rumah warga selalu tergenang.

Genangan air juga diperparah maraknya penggalian liar pasir pantai. Akibatnya, tidak ada lagi penahan gelombang pasang sehingga bila pasang tertinggi, air laut akan membanjiri permukiman warga di pantai. ”Dulu ada tanggul-tanggul pasir, tetapi itu juga digali dan dijual,” ujarnya.

Secara terpisah, Muhammad Ramli, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Merauke menilai, maraknya aktivitas penambangan ilegal pasir pantai telah memicu kerusakan lingkungan di pesisir. Akibatnya, abrasi menjalar hingga ke permukiman.

Untuk membenahi kawasan pantai Merauke, ujar Ramli, telah disiapkan 35.000 bibit pohon bakau. Bibit bakau akan ditanam di wilayah Pantai Payum yang mengalami kerusakan paling parah. Pohon bakau itu diharapkan menjadi penahan alami gelombang pasang. (RWN)

http://cetak.kompas.com/read/2012/03/15/03271467/puluhan.rumah.terendam.air.pasang.di.merauke

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Wilayah Pesisir

    Merauke, Kompas – Pasang air laut tinggi merendam puluhan rumah warga di pesisir pantai Payum, Kampung Payum, Kelurahan Samkai, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Papua, Rabu (14/3) dini hari. Sekitar 120 keluarga diungsikan ke tempat yang lebih aman.

    Lurah Samkai Wister Hutapea mengatakan, gelombang pasang Laut Arafuru mulai menggenangi rumah-rumah warga sekitar pukul 03.00 WIT. Meskipun hampir semua rumah warga berbentuk rumah panggung, air pasang tetap merambat naik dan menggenanginya. ”Ketinggian air 1-2 meter. Jadi meski rumah panggung pun tetap kena,” katanya.

    Menurut Wister, dua RT terendam air pasang, yakni RT 22 dan 23 Kampung Samkai. Kedua RT itu berada di lokasi paling rendah. Sebanyak 120 keluarga diungsikan ke gedung Balai Latihan Kerja, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Merauke. ”Ini banjir tahunan, tetapi tahun ini paling besar. Selain pasang tinggi, juga disertai hujan,” ujarnya.

    Pada pagi hingga siang, air laut kembali surut, tetapi akan kembali menggenangi rumah pada malam dan dini hari. Untuk itu warga tetap diungsikan hingga kondisi laut normal. Pemerintah Kabupaten Merauke dan Badan SAR Nasional Merauke membantu mengungsikan warga.

    Menurut Yulianus Kahol, Ketua RT 23 Kampung Payum, setiap tahun ketinggian air pasang semakin tinggi, terutama dalam dua tahun terakhir. Akibatnya, setiap musim pasang laut tertinggi pada bulan Februari-Maret rumah warga selalu tergenang.

    Genangan air juga diperparah maraknya penggalian liar pasir pantai. Akibatnya, tidak ada lagi penahan gelombang pasang sehingga bila pasang tertinggi, air laut akan membanjiri permukiman warga di pantai. ”Dulu ada tanggul-tanggul pasir, tetapi itu juga digali dan dijual,” ujarnya.

    Secara terpisah, Muhammad Ramli, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Merauke menilai, maraknya aktivitas penambangan ilegal pasir pantai telah memicu kerusakan lingkungan di pesisir. Akibatnya, abrasi menjalar hingga ke permukiman.

    Untuk membenahi kawasan pantai Merauke, ujar Ramli, telah disiapkan 35.000 bibit pohon bakau. Bibit bakau akan ditanam di wilayah Pantai Payum yang mengalami kerusakan paling parah. Pohon bakau itu diharapkan menjadi penahan alami gelombang pasang. (RWN)

    http://cetak.kompas.com/read/2012/03/15/03271467/puluhan.rumah.terendam.air.pasang.di.merauke

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on