Hutan

DWI BAYU RADIUS

Empat batang kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang masing-masing berdiameter 50 sentimeter dan panjang lima meter dibiarkan tergeletak di hutan Palawi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu (12/2). Kayu-kayu itu adalah sisa bahan pembangunan rumah betang atau rumah adat Dayak Tumbang Gagu pada tahun 1870.

Meskipun sudah 142 tahun ditebang dan diletakkan di atas tanah, kayu ulin tampak tetap utuh. Bahkan membuktikan sebutan sebagai kayu besi. ”Bayangkan, kayu ulin tersebut hendak dipakai untuk membuat rumah betang Tumbang Gagu tahun 1870, tetapi hingga kini masih utuh,” kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng Berdodi Samuel.

Batang kayu tersebut masih sangat keras. Tak ada tanda kelapukan. Sebagian luar kayu diliputi lapisan lumut, tetapi bagian dalam gelondongan tetap padat. Terbukti saat ulin diketuk, jari terasa agak sakit. Bunyi pepat terdengar, seperti kayu tak berongga. Kayu juga sangat berat bagai logam.

Usia ulin di hutan itu yang mencapai lebih dari 100 tahun juga dibenarkan para penghuni betang Tumbang Gagu. ”Cerita turun-temurun dari para penghuni rumah ini, ulin itu hendak digunakan untuk membangun rumah betang ini, tetapi bahan bangunannya sudah cukup memenuhi, lalu dibiarkan,” jelas Mira Rindu (53), penghuni betang Tumbang Gagu.

Potongan ulin di hutan tersebut merupakan bukti betapa perkasanya pohon yang banyak tumbuh di Kalimantan dan sebagian Sumatera itu. Selain untuk membangun rumah adat masyarakat Dayak, ulin juga digunakan, antara lain, untuk sumpit, bagian kapal, dan jembatan.

Dekat gelondongan, berdiri sekitar lima pohon ulin dengan tinggi sekitar 30 meter dan diameter sekitar satu meter.

Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Chartina Pidjath, menjelaskan, tetap kokohnya ulin meski telah dibiarkan ratusan tahun adalah wajar. ”Saya tak tahu berapa abad ulin bisa digunakan, tapi betang-betang di Kalimantan bisa jadi petunjuk betapa kuatnya ulin,” paparnya.

Betang di Desa Tumbang Malahui, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, misalnya, mulai dibangun pada tahun 1869. Sementara, betang Tumbang Apat di Desa Tumbang Apat, Kecamatan Sungai Babuat, Kabupaten Murung Raya, Kalteng, sudah berdiri pada tahun 1828.

”Leluhur masyarakat Dayak belum merasa mantap membangun rumah betang kalau tidak pakai ulin. Setelah ditebang, ulin kering dan mengeras,” katanya.

Namun, kini kayu ini terancam punah. Ulin dilarang diperjualbelikan. Kelangkaan dipicu pertumbuhan ulin sangat lambat. ”Biji ulin besar dan berpelindung kuat semacam zat tanduk. Pelindung itu tebal seperti batok kelapa. Ketika jatuh ke tanah, tak langsung tumbuh,” kata Chartina.

Buah yang dibiarkan jatuh itu baru mengeluarkan tunas setelah enam bulan hingga satu tahun. Zat tanduk ulin lebih banyak dibandingkan dengan kayu lain. Teras atau bagian luar ulin juga lebih kuat. Jika ingin tumbuh lebih cepat, buah harus dipecahkan.

”Buah diperlakukan khusus dengan mengikir cangkang. Meski demikian, budi daya belum juga berhasil. Padahal, sejumlah penelitian sudah dilakukan,” ujarnya.

Gagal budidaya

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng Sipet Hermanto mengakui, budidaya ulin di Kalteng belum menunjukkan hasil yang baik. ”Beberapa perusahaan kehutanan sudah pernah mencoba membudidayakan pohon itu, tetapi hasilnya belum signifikan,” jelasnya.

Persoalannya, pertumbuhan ulin sangat lambat. Pemerintah setempat berencana membuka kawasan konservasi ulin di Kabupaten Katingan. ”Luas lahan yang disiapkan sekitar 200 hektar. Program itu akan dimulai pada tahun 2012,” katanya.

Dalam buku Dendrologi yang ditulis Tjahjono Samingan, cetakan tahun 1982 dan diedarkan Penerbit PT Gramedia dijelaskan, sifat ulin termasuk kelas kuat I dan kelas awet I. Bandingkan, misalnya, dengan kayu jati yang termasuk kelas kuat II dan kelas awet II.

Sementara, kayu belangeran termasuk kelas kuat I-II dan kelas awet I-II serta cendana kelas kuat II dan kelas awet I-II. Berat jenis ulin 0,88-1,20, sementara jati 0,62-0,82, belangeran 0,75-0,98, dan cendana 0,73-0,94.

Berdasarkan buku Jenis-jenis Kayu Indonesia yang disusun Lembaga Biologi Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) cetakan tahun 1977, disebutkan ulin tahan terhadap serangan rayap dan serangga penggerek batang, perubahan kelembaban dan suhu, serta air laut. ”Ulin tergolong kayu yang berat sehingga tenggelam dalam air,” kata Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya Cakra Birawa.

Buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 15 sentimeter dan berdiameter sekitar tujuh sentimeter. ”Selain dikikir, perkecambahan bisa dipercepat dengan menggoreng. Buah digoreng bukan dengan minyak, melainkan pasir,” paparnya.

Lambatnya perkembangan ulin itu ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan diameter pohonnya. Cakra membandingkan dengan pertumbuhan rata-rata diameter pohon meranti, lebih kurang satu sentimeter per tahun. Sementara, pertumbuhan ulin hanya 0,058 sentimeter dalam setahun.

Sayangnya, keunggulan ulin membuatnya menjadi incaran pencuri. Menurut Chartina, harga ulin seukuran daun pintu saja bisa mencapai Rp 1,5 juta. Tak heran tiang, pagar, serta lantai jembatan di beberapa tempat dengan menggunakan kayu ulin selalu dipreteli. Akibatnya, jembatan pun rusak.

Kepala Desa Sukakarya, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan, Kalteng, Suriansah mengakui, bagian-bagian jembatan yang terbuat dari ulin di desanya kerap dicuri.

Peremajaan menjadi perhatian utama untuk mengembalikan pamor ulin sehingga kayu ini tidak lenyap selamanya.

 

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/15/03415473/ulin.kayu.perkasa.yang.terancam.punah

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Hutan

    DWI BAYU RADIUS

    Empat batang kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang masing-masing berdiameter 50 sentimeter dan panjang lima meter dibiarkan tergeletak di hutan Palawi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu (12/2). Kayu-kayu itu adalah sisa bahan pembangunan rumah betang atau rumah adat Dayak Tumbang Gagu pada tahun 1870.

    Meskipun sudah 142 tahun ditebang dan diletakkan di atas tanah, kayu ulin tampak tetap utuh. Bahkan membuktikan sebutan sebagai kayu besi. ”Bayangkan, kayu ulin tersebut hendak dipakai untuk membuat rumah betang Tumbang Gagu tahun 1870, tetapi hingga kini masih utuh,” kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng Berdodi Samuel.

    Batang kayu tersebut masih sangat keras. Tak ada tanda kelapukan. Sebagian luar kayu diliputi lapisan lumut, tetapi bagian dalam gelondongan tetap padat. Terbukti saat ulin diketuk, jari terasa agak sakit. Bunyi pepat terdengar, seperti kayu tak berongga. Kayu juga sangat berat bagai logam.

    Usia ulin di hutan itu yang mencapai lebih dari 100 tahun juga dibenarkan para penghuni betang Tumbang Gagu. ”Cerita turun-temurun dari para penghuni rumah ini, ulin itu hendak digunakan untuk membangun rumah betang ini, tetapi bahan bangunannya sudah cukup memenuhi, lalu dibiarkan,” jelas Mira Rindu (53), penghuni betang Tumbang Gagu.

    Potongan ulin di hutan tersebut merupakan bukti betapa perkasanya pohon yang banyak tumbuh di Kalimantan dan sebagian Sumatera itu. Selain untuk membangun rumah adat masyarakat Dayak, ulin juga digunakan, antara lain, untuk sumpit, bagian kapal, dan jembatan.

    Dekat gelondongan, berdiri sekitar lima pohon ulin dengan tinggi sekitar 30 meter dan diameter sekitar satu meter.

    Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Chartina Pidjath, menjelaskan, tetap kokohnya ulin meski telah dibiarkan ratusan tahun adalah wajar. ”Saya tak tahu berapa abad ulin bisa digunakan, tapi betang-betang di Kalimantan bisa jadi petunjuk betapa kuatnya ulin,” paparnya.

    Betang di Desa Tumbang Malahui, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, misalnya, mulai dibangun pada tahun 1869. Sementara, betang Tumbang Apat di Desa Tumbang Apat, Kecamatan Sungai Babuat, Kabupaten Murung Raya, Kalteng, sudah berdiri pada tahun 1828.

    ”Leluhur masyarakat Dayak belum merasa mantap membangun rumah betang kalau tidak pakai ulin. Setelah ditebang, ulin kering dan mengeras,” katanya.

    Namun, kini kayu ini terancam punah. Ulin dilarang diperjualbelikan. Kelangkaan dipicu pertumbuhan ulin sangat lambat. ”Biji ulin besar dan berpelindung kuat semacam zat tanduk. Pelindung itu tebal seperti batok kelapa. Ketika jatuh ke tanah, tak langsung tumbuh,” kata Chartina.

    Buah yang dibiarkan jatuh itu baru mengeluarkan tunas setelah enam bulan hingga satu tahun. Zat tanduk ulin lebih banyak dibandingkan dengan kayu lain. Teras atau bagian luar ulin juga lebih kuat. Jika ingin tumbuh lebih cepat, buah harus dipecahkan.

    ”Buah diperlakukan khusus dengan mengikir cangkang. Meski demikian, budi daya belum juga berhasil. Padahal, sejumlah penelitian sudah dilakukan,” ujarnya.

    Gagal budidaya

    Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng Sipet Hermanto mengakui, budidaya ulin di Kalteng belum menunjukkan hasil yang baik. ”Beberapa perusahaan kehutanan sudah pernah mencoba membudidayakan pohon itu, tetapi hasilnya belum signifikan,” jelasnya.

    Persoalannya, pertumbuhan ulin sangat lambat. Pemerintah setempat berencana membuka kawasan konservasi ulin di Kabupaten Katingan. ”Luas lahan yang disiapkan sekitar 200 hektar. Program itu akan dimulai pada tahun 2012,” katanya.

    Dalam buku Dendrologi yang ditulis Tjahjono Samingan, cetakan tahun 1982 dan diedarkan Penerbit PT Gramedia dijelaskan, sifat ulin termasuk kelas kuat I dan kelas awet I. Bandingkan, misalnya, dengan kayu jati yang termasuk kelas kuat II dan kelas awet II.

    Sementara, kayu belangeran termasuk kelas kuat I-II dan kelas awet I-II serta cendana kelas kuat II dan kelas awet I-II. Berat jenis ulin 0,88-1,20, sementara jati 0,62-0,82, belangeran 0,75-0,98, dan cendana 0,73-0,94.

    Berdasarkan buku Jenis-jenis Kayu Indonesia yang disusun Lembaga Biologi Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) cetakan tahun 1977, disebutkan ulin tahan terhadap serangan rayap dan serangga penggerek batang, perubahan kelembaban dan suhu, serta air laut. ”Ulin tergolong kayu yang berat sehingga tenggelam dalam air,” kata Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya Cakra Birawa.

    Buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 15 sentimeter dan berdiameter sekitar tujuh sentimeter. ”Selain dikikir, perkecambahan bisa dipercepat dengan menggoreng. Buah digoreng bukan dengan minyak, melainkan pasir,” paparnya.

    Lambatnya perkembangan ulin itu ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan diameter pohonnya. Cakra membandingkan dengan pertumbuhan rata-rata diameter pohon meranti, lebih kurang satu sentimeter per tahun. Sementara, pertumbuhan ulin hanya 0,058 sentimeter dalam setahun.

    Sayangnya, keunggulan ulin membuatnya menjadi incaran pencuri. Menurut Chartina, harga ulin seukuran daun pintu saja bisa mencapai Rp 1,5 juta. Tak heran tiang, pagar, serta lantai jembatan di beberapa tempat dengan menggunakan kayu ulin selalu dipreteli. Akibatnya, jembatan pun rusak.

    Kepala Desa Sukakarya, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan, Kalteng, Suriansah mengakui, bagian-bagian jembatan yang terbuat dari ulin di desanya kerap dicuri.

    Peremajaan menjadi perhatian utama untuk mengembalikan pamor ulin sehingga kayu ini tidak lenyap selamanya.

     

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/15/03415473/ulin.kayu.perkasa.yang.terancam.punah

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on