HARI BUMI

Brigitta Isworo Laksmi

Di Amerika Serikat saja, setiap enam jam, satu juta gelas plastik digunakan dalam penerbangan. Setiap hari 426.000 telepon seluler dibuang. Setiap menit, 200.000 kaleng minuman dibuang. Padahal, proses produksi barang-barang tersebut menghasilkan emisi karbon dioksida. Di hilir, sampah-sampah tersebut tak tercerna bumi.

Fakta-fakta di atas dipaparkan Robert Didham dari Institut bagi Strategi- strategi Lingkungan Global (Institute for Global Environmental Strategies), pertengahan Februari. Tingkat konsumsi dan produksi di negara-negara maju selama era industri—sekitar 100 tahun terakhir—telah membebani Bumi.

Pada Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report) 2011 yang diterbitkan Program Pembangunan PBB (UNDP) disebutkan, emisi karbon dioksida (CO2) per kapita penduduk negara maju adalah lebih dari empat kali lipat emisi per kapita penduduk negara berkembang dan negara miskin. Angka ini menjadi fantastis jika dibandingkan dengan emisi per kapita penduduk negara miskin—negara dengan indeks pembangunan manusia yang amat rendah. Menjadi 30 kali lipat!

Angka perbandingan tersebut menjadi dua kali lipat untuk emisi gas metana (CH4) dan nitro oksida. Ketiga gas tersebut masuk dalam kelompok gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global.

Masalah pemanasan global akibat peningkatan emisi GRK secara eksponensial telah menyedot perhatian pemerintahan di berbagai belahan dunia. Pemanasan global kemudian menjadi masalah mutakhir dan utama yang menggeser berbagai perkara sosial-ekonomi yang menyertainya.

Langkah global menghadapi perubahan iklim diwadahi dalam Kerangka Kerja Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Hasil terakhir Konferensi Perubahan Iklim PBB Desember 2011 menyebutkan, semua negara anggota UNFCCC—baik miskin maupun kaya— harus bersama-sama menanggung beban dalam mengatasi pemanasan global.

Deklarasi Istanbul

Potret ketidakadilan di tingkat global tersebut mendapat tanggapan serius dalam Forum Global mengenai Pembangunan Manusia (Global Human Development Forum) di Istanbul, Turki, 22-23 Maret 2012.

Pada forum yang baru pertama kali diselenggarakan tersebut, lahir Deklarasi Istanbul yang menegaskan bahwa ”pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada manusia dengan keadilan bagi semua orang harus menjadi dasar dari kemajuan global”. Deklarasi tersebut lahir dari konsensus sekitar 200 peserta dari beragam latar belakang agama, organisasi internasional, pemerintah berbagai negara, masyarakat sipil berbagai belahan dunia, dunia usaha, dan kalangan akademis.

Konsep keberlanjutan tak bisa dilepaskan dari upaya mengatasi pemanasan global dan menghambat laju kerusakan lingkungan. Peningkatan laju produksi-konsumsi berjalan seiring dengan peningkatan laju emisi GRK serta peningkatan kecepatan pengerukan sumber daya alam sebagai bahan dasar produksi!

Deklarasi Istanbul juga menggarisbawahi perlunya pengaturan kembali pola-pola produksi-konsumsi demi generasi mendatang. Setidaknya, mereka juga harus mendapat kesempatan untuk membangun yang sama besar dengan kesempatan yang dimiliki generasi sekarang. Pengaturan kembali pola-pola produksi-konsumsi tersebut membutuhkan transformasi struktural.

Laporan Pembangunan Manusia 2011 telah berhasil memotret ketidakadilan. Laporan tersebut menunjukkan, pengurangan ketidakadilan sosial dan ekonomi dalam suatu negara dan antarnegara akan diikuti pengurangan risiko kerusakan lingkungan. Pada sisi lain, kegagalan memperlambat kerusakan lingkungan akan memperlebar ketidakadilan sosial dan ekonomi secara global.

Mobilisasi Bumi

Tema Hari Bumi tahun ini adalah ”Mobilize Earth” atau ”Kerahkan Upaya (untuk) Bumi”.

Pesan yang tertulis dalam tema tersebut adalah, ”Sudah saatnya kita kerahkan upaya Bumi (mobilize the Earth) dan berbicara dengan satu suara, satu pesan. Kami lelah dengan janji-janji di bibir yang diucapkan. Inilah saatnya bagi para pemimpin membawa dunia ke jalur menuju keberlanjutan dan membahas perekonomian pada masa mendatang dengan mempertimbangkan perekonomian yang lebih ramah lingkungan.”

Seruan tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Direktur Biro Kebijakan Pembangunan UNDP Olav Kjorven pada pertemuan di Istanbul. Ia mengatakan, ”Respons yang tepat akan membawa para pengambil keputusan dari wilayah lingkungan, sosial, dan ekonomi yang selama ini terpecah-pecah untuk bersama- sama menciptakan masa depan yang kita inginkan.”

Deklarasi Istanbul secara tegas mengingatkan, ”Sungguh vital, dalam mengukur kemajuan pembangunan berkelanjutan, pengukurannya harus dilakukan dengan cara-cara yang lebih komprehensif. Pengukuran-pengukuran tersebut harus lebih luas dari sekadar mengukur pencapaian produk domestik bruto agar bisa menangkap potret pengembangan manusia secara lebih menyeluruh dan memberi penekanan pada keberlanjutan serta pendapatan yang adil.”

Seiring dengan seruan pada Hari Bumi, dan sejalan dengan Deklarasi Istanbul, Indonesia tentunya tak luput dari tuntutan moral yang dilantunkan. Pelepasliaran orangutan di Kalimantan Timur oleh tiga menteri: Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Koordinator Perekonomian, dan Menteri Kehutanan, cukupkah memadai ketika di sisi lain hutan-hutan Indonesia dihancurkan demi bongkahan batubara atau perluasan perkebunan, termasuk kelapa sawit…?

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/04/23/03392716/ketidakadilan.dan.keberlanjutan..

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    HARI BUMI

    Brigitta Isworo Laksmi

    Di Amerika Serikat saja, setiap enam jam, satu juta gelas plastik digunakan dalam penerbangan. Setiap hari 426.000 telepon seluler dibuang. Setiap menit, 200.000 kaleng minuman dibuang. Padahal, proses produksi barang-barang tersebut menghasilkan emisi karbon dioksida. Di hilir, sampah-sampah tersebut tak tercerna bumi.

    Fakta-fakta di atas dipaparkan Robert Didham dari Institut bagi Strategi- strategi Lingkungan Global (Institute for Global Environmental Strategies), pertengahan Februari. Tingkat konsumsi dan produksi di negara-negara maju selama era industri—sekitar 100 tahun terakhir—telah membebani Bumi.

    Pada Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report) 2011 yang diterbitkan Program Pembangunan PBB (UNDP) disebutkan, emisi karbon dioksida (CO2) per kapita penduduk negara maju adalah lebih dari empat kali lipat emisi per kapita penduduk negara berkembang dan negara miskin. Angka ini menjadi fantastis jika dibandingkan dengan emisi per kapita penduduk negara miskin—negara dengan indeks pembangunan manusia yang amat rendah. Menjadi 30 kali lipat!

    Angka perbandingan tersebut menjadi dua kali lipat untuk emisi gas metana (CH4) dan nitro oksida. Ketiga gas tersebut masuk dalam kelompok gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global.

    Masalah pemanasan global akibat peningkatan emisi GRK secara eksponensial telah menyedot perhatian pemerintahan di berbagai belahan dunia. Pemanasan global kemudian menjadi masalah mutakhir dan utama yang menggeser berbagai perkara sosial-ekonomi yang menyertainya.

    Langkah global menghadapi perubahan iklim diwadahi dalam Kerangka Kerja Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Hasil terakhir Konferensi Perubahan Iklim PBB Desember 2011 menyebutkan, semua negara anggota UNFCCC—baik miskin maupun kaya— harus bersama-sama menanggung beban dalam mengatasi pemanasan global.

    Deklarasi Istanbul

    Potret ketidakadilan di tingkat global tersebut mendapat tanggapan serius dalam Forum Global mengenai Pembangunan Manusia (Global Human Development Forum) di Istanbul, Turki, 22-23 Maret 2012.

    Pada forum yang baru pertama kali diselenggarakan tersebut, lahir Deklarasi Istanbul yang menegaskan bahwa ”pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada manusia dengan keadilan bagi semua orang harus menjadi dasar dari kemajuan global”. Deklarasi tersebut lahir dari konsensus sekitar 200 peserta dari beragam latar belakang agama, organisasi internasional, pemerintah berbagai negara, masyarakat sipil berbagai belahan dunia, dunia usaha, dan kalangan akademis.

    Konsep keberlanjutan tak bisa dilepaskan dari upaya mengatasi pemanasan global dan menghambat laju kerusakan lingkungan. Peningkatan laju produksi-konsumsi berjalan seiring dengan peningkatan laju emisi GRK serta peningkatan kecepatan pengerukan sumber daya alam sebagai bahan dasar produksi!

    Deklarasi Istanbul juga menggarisbawahi perlunya pengaturan kembali pola-pola produksi-konsumsi demi generasi mendatang. Setidaknya, mereka juga harus mendapat kesempatan untuk membangun yang sama besar dengan kesempatan yang dimiliki generasi sekarang. Pengaturan kembali pola-pola produksi-konsumsi tersebut membutuhkan transformasi struktural.

    Laporan Pembangunan Manusia 2011 telah berhasil memotret ketidakadilan. Laporan tersebut menunjukkan, pengurangan ketidakadilan sosial dan ekonomi dalam suatu negara dan antarnegara akan diikuti pengurangan risiko kerusakan lingkungan. Pada sisi lain, kegagalan memperlambat kerusakan lingkungan akan memperlebar ketidakadilan sosial dan ekonomi secara global.

    Mobilisasi Bumi

    Tema Hari Bumi tahun ini adalah ”Mobilize Earth” atau ”Kerahkan Upaya (untuk) Bumi”.

    Pesan yang tertulis dalam tema tersebut adalah, ”Sudah saatnya kita kerahkan upaya Bumi (mobilize the Earth) dan berbicara dengan satu suara, satu pesan. Kami lelah dengan janji-janji di bibir yang diucapkan. Inilah saatnya bagi para pemimpin membawa dunia ke jalur menuju keberlanjutan dan membahas perekonomian pada masa mendatang dengan mempertimbangkan perekonomian yang lebih ramah lingkungan.”

    Seruan tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Direktur Biro Kebijakan Pembangunan UNDP Olav Kjorven pada pertemuan di Istanbul. Ia mengatakan, ”Respons yang tepat akan membawa para pengambil keputusan dari wilayah lingkungan, sosial, dan ekonomi yang selama ini terpecah-pecah untuk bersama- sama menciptakan masa depan yang kita inginkan.”

    Deklarasi Istanbul secara tegas mengingatkan, ”Sungguh vital, dalam mengukur kemajuan pembangunan berkelanjutan, pengukurannya harus dilakukan dengan cara-cara yang lebih komprehensif. Pengukuran-pengukuran tersebut harus lebih luas dari sekadar mengukur pencapaian produk domestik bruto agar bisa menangkap potret pengembangan manusia secara lebih menyeluruh dan memberi penekanan pada keberlanjutan serta pendapatan yang adil.”

    Seiring dengan seruan pada Hari Bumi, dan sejalan dengan Deklarasi Istanbul, Indonesia tentunya tak luput dari tuntutan moral yang dilantunkan. Pelepasliaran orangutan di Kalimantan Timur oleh tiga menteri: Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Koordinator Perekonomian, dan Menteri Kehutanan, cukupkah memadai ketika di sisi lain hutan-hutan Indonesia dihancurkan demi bongkahan batubara atau perluasan perkebunan, termasuk kelapa sawit…?

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/04/23/03392716/ketidakadilan.dan.keberlanjutan..

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on