FOOD REVOLUTION DAY

Jakarta, Kompas – Seluk- beluk pangan sehat dan ramah lingkungan, baik dalam proses maupun distribusinya, menjadi salah satu topik diskusi ”Food Revolution Day” di dua tempat di Jakarta, Sabtu (19/5). Sebagian besar konsumen dinilai tak peduli lagi dengan seluk-beluk pangan yang mereka konsumsi.

Ketersediaan pangan terkait banyak hal, mulai dari asal, pengolahan, transportasi, anggaran negara, hingga jejak karbon di atmosfer (akibat transportasi).

”Apa (kedelai impor) lebih sehat, lebih bagus? Mengapa impor? Bagaimana jejak karbonnya?” ujar Elisha Kartini dari Departemen Kajian Strategis Nasional Serikat Petani Indonesia, Sabtu lalu.

Narasumber lain dalam diskusi adalah Beriozka Anita dari Indonesia Berkebun dan Boun Koesnandar dari Serikat Hijau Indonesia.

Menurut Kartini, bila kesadaran pangan dikenalkan sejak dini, maka sangat menghemat anggaran negara. ”Sekarang Rp 60 triliun hingga Rp 110 triliun untuk impor. Untuk pembangunan hanya Rp 30 triliun. Bila dana impor itu dialihkan untuk pembangunan pertanian Indonesia, hasil pertanian bisa dikembangkan. Petani bisa lebih berpengetahuan,” katanya.

Menurut Boun, dengan pertanian kota (urban farming), seperti Indonesia Berkebun, rantai pemasaran menjadi amat pendek, dari delapan titik menjadi satu titik. ”Keuntungan petani lebih besar,” ujarnya.

Di Jakarta Timur, Food Revolution Day Java berkampanye agar bangsa Indonesia tak melupakan makanan tradisional. Tentu diolah memperhatikan kesehatan dan keamanan pangan.

Kegiatan ini merupakan bentuk penyadaran yang dilakukan secara global di seluruh dunia sebagai cara mencegah berbagai macam penyakit akibat pola makan yang salah. ”Kami membekali masyarakat dengan pengetahuan ataupun cara memilih bahan makanan dan mengolah makanan sehat,” kata Dian Anggraini, Program Manager dari Omar Niode Foundation.

Di dunia, Food Revolution Day setiap 19 Mei dicanangkan oleh Jamie Oliver, koki Inggris. ”Tujuan saya memberi inspirasi kepada orang untuk berpikir ulang tentang pangan. Ini soal penyadartahuan dan tanggung jawab pribadi, menghadirkan kembali budaya makan yang telah mati di seluruh dunia, dan akhirnya untuk mempertahankan keahlian memasak,” katanya.

Ia mendirikan Jamie Oliver Food Foundation di AS untuk mendidik dan menginspirasi publik tentang makanan sejati.

(ISW/IND)

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/21/0522296/kesadaran.pangan.masih.rendah

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    FOOD REVOLUTION DAY

    Jakarta, Kompas – Seluk- beluk pangan sehat dan ramah lingkungan, baik dalam proses maupun distribusinya, menjadi salah satu topik diskusi ”Food Revolution Day” di dua tempat di Jakarta, Sabtu (19/5). Sebagian besar konsumen dinilai tak peduli lagi dengan seluk-beluk pangan yang mereka konsumsi.

    Ketersediaan pangan terkait banyak hal, mulai dari asal, pengolahan, transportasi, anggaran negara, hingga jejak karbon di atmosfer (akibat transportasi).

    ”Apa (kedelai impor) lebih sehat, lebih bagus? Mengapa impor? Bagaimana jejak karbonnya?” ujar Elisha Kartini dari Departemen Kajian Strategis Nasional Serikat Petani Indonesia, Sabtu lalu.

    Narasumber lain dalam diskusi adalah Beriozka Anita dari Indonesia Berkebun dan Boun Koesnandar dari Serikat Hijau Indonesia.

    Menurut Kartini, bila kesadaran pangan dikenalkan sejak dini, maka sangat menghemat anggaran negara. ”Sekarang Rp 60 triliun hingga Rp 110 triliun untuk impor. Untuk pembangunan hanya Rp 30 triliun. Bila dana impor itu dialihkan untuk pembangunan pertanian Indonesia, hasil pertanian bisa dikembangkan. Petani bisa lebih berpengetahuan,” katanya.

    Menurut Boun, dengan pertanian kota (urban farming), seperti Indonesia Berkebun, rantai pemasaran menjadi amat pendek, dari delapan titik menjadi satu titik. ”Keuntungan petani lebih besar,” ujarnya.

    Di Jakarta Timur, Food Revolution Day Java berkampanye agar bangsa Indonesia tak melupakan makanan tradisional. Tentu diolah memperhatikan kesehatan dan keamanan pangan.

    Kegiatan ini merupakan bentuk penyadaran yang dilakukan secara global di seluruh dunia sebagai cara mencegah berbagai macam penyakit akibat pola makan yang salah. ”Kami membekali masyarakat dengan pengetahuan ataupun cara memilih bahan makanan dan mengolah makanan sehat,” kata Dian Anggraini, Program Manager dari Omar Niode Foundation.

    Di dunia, Food Revolution Day setiap 19 Mei dicanangkan oleh Jamie Oliver, koki Inggris. ”Tujuan saya memberi inspirasi kepada orang untuk berpikir ulang tentang pangan. Ini soal penyadartahuan dan tanggung jawab pribadi, menghadirkan kembali budaya makan yang telah mati di seluruh dunia, dan akhirnya untuk mempertahankan keahlian memasak,” katanya.

    Ia mendirikan Jamie Oliver Food Foundation di AS untuk mendidik dan menginspirasi publik tentang makanan sejati.

    (ISW/IND)

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/21/0522296/kesadaran.pangan.masih.rendah

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on