LINGKUNGAN

Berau, Kompas – Seluas 37.212 hektar tanaman mangrove terhampar sepanjang pesisir 17 pulau di Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan zona utama Mangrove Information Center. Ini merupakan aset penting untuk dikembangkan menjadi ikon wisata baru di Berau, selain potensi bawah laut Derawan.

Hal itu dikatakan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan saat penanaman mangrove di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Berau, Selasa (8/5). ”Mangrove mengurangi polusi udara dan air. Juga sebagai ’tembok’ terhadap tsunami. Jika terhadang mangrove, laju tsunami hanya sejauh 600 meter, tapi jika tidak ada mangrove bisa mencapai 6 km. Tembok penghadang tsunami yang dibangun Jepang, kalah oleh mangrove,” ujar Zulkifli. Saat yang sama dilepas tukik penyu di Pulau Sangalaki.

Bupati Berau Makmur mengaku akan fokus pada mangrove. ”Mangrove jangan sampai habis. Mudah-mudahan luasnya ditambah dan kerusakannya dikurangi,” ujar Makmur.

Masrani, Kasubbag Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Berau mengatakan, 70 persen mangrove di sepanjang pesisir 17 pulau di Kecamatan Pulau Derawan masih terjaga keasriannya. Perubahan tutupan lahan, termasuk mangrove, karena dijadikan tambak, terutama tahun 2001-2009.

”Sejak tahun 2009 mulai muncul kesadaran warga untuk melestarikan mangrove, karena itu juga demi lestarinya lingkungan. Mangrove, kan, habitat ikan juga. Untuk memberdayakan masyarakat dan agar ada tempat pembibitan sekaligus pelatihan, maka dibangun Pusat Informasi Mangrove di Kampung Tanjung Batu ini,” kata Masrani. Terdapat 84 jenis mangrove di Derawan.

Bambang Supriyanto, Direktur Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Kementerian Kehutanan, menyebut, mangrove di Pulau Derawan tak hanya akan menarik minat wisatawan, tetapi juga para peneliti. ”Mangrove Information Center di Tanjung Batu juga bisa dikembangkan untuk tempat pelatihan. Ini menarik, karena mangrove adalah habitat bagi bekantan,” kata Bambang.

”Ada sejumlah bekantan pernah saya lihat di sini. Jika areal mangrove diperluas, bekantan akan bertambah banyak,” ujar Lukman (39), warga Kampung Tanjung Batu. (Pra)

 

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/09/03081577/mangrove.jadi.daya.tarik.di.derawan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    LINGKUNGAN

    Berau, Kompas – Seluas 37.212 hektar tanaman mangrove terhampar sepanjang pesisir 17 pulau di Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan zona utama Mangrove Information Center. Ini merupakan aset penting untuk dikembangkan menjadi ikon wisata baru di Berau, selain potensi bawah laut Derawan.

    Hal itu dikatakan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan saat penanaman mangrove di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Berau, Selasa (8/5). ”Mangrove mengurangi polusi udara dan air. Juga sebagai ’tembok’ terhadap tsunami. Jika terhadang mangrove, laju tsunami hanya sejauh 600 meter, tapi jika tidak ada mangrove bisa mencapai 6 km. Tembok penghadang tsunami yang dibangun Jepang, kalah oleh mangrove,” ujar Zulkifli. Saat yang sama dilepas tukik penyu di Pulau Sangalaki.

    Bupati Berau Makmur mengaku akan fokus pada mangrove. ”Mangrove jangan sampai habis. Mudah-mudahan luasnya ditambah dan kerusakannya dikurangi,” ujar Makmur.

    Masrani, Kasubbag Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Berau mengatakan, 70 persen mangrove di sepanjang pesisir 17 pulau di Kecamatan Pulau Derawan masih terjaga keasriannya. Perubahan tutupan lahan, termasuk mangrove, karena dijadikan tambak, terutama tahun 2001-2009.

    ”Sejak tahun 2009 mulai muncul kesadaran warga untuk melestarikan mangrove, karena itu juga demi lestarinya lingkungan. Mangrove, kan, habitat ikan juga. Untuk memberdayakan masyarakat dan agar ada tempat pembibitan sekaligus pelatihan, maka dibangun Pusat Informasi Mangrove di Kampung Tanjung Batu ini,” kata Masrani. Terdapat 84 jenis mangrove di Derawan.

    Bambang Supriyanto, Direktur Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Kementerian Kehutanan, menyebut, mangrove di Pulau Derawan tak hanya akan menarik minat wisatawan, tetapi juga para peneliti. ”Mangrove Information Center di Tanjung Batu juga bisa dikembangkan untuk tempat pelatihan. Ini menarik, karena mangrove adalah habitat bagi bekantan,” kata Bambang.

    ”Ada sejumlah bekantan pernah saya lihat di sini. Jika areal mangrove diperluas, bekantan akan bertambah banyak,” ujar Lukman (39), warga Kampung Tanjung Batu. (Pra)

     

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/09/03081577/mangrove.jadi.daya.tarik.di.derawan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on