Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, 1992, sepakat mengubah pola pembangunan konvensional jalur tunggal, yaitu ekonomi, ke pola pembangunan tiga jalur: ekonomi, sosial, lingkungan.

Kesimpulan ini muncul setelah peserta sidang mengamati pola pembangunan yang hanya berjalan di jalur ekonomi. Pola ini mengabaikan pembangunan sosial, seperti tecermin pada buruknya kehidupan sosial masyarakat. Juga mengabaikan lingkungan hidup yang tampak pada tumbuhnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan keanekaan hayati.

Maka, KTT Bumi 1992 menghasilkan program kerja pembangunan berkelanjutan yang mencakup bidang ekonomi, sosial dan lingkungan, serta dikerjakan serentak. Program ini dijabarkan dalam Agenda 21, Konvensi Perubahan Iklim dan Konvensi Keanekaan Hayati.

Suasana sidang diliputi optimisme tinggi karena situasi politik global ketika itu menunjukkan redanya ”perang dingin” Blok Komunis melawan Blok Barat. Optimisme juga berkembang di Indonesia yang menyelenggarakan Pemilu 1992 disusul rangkaian kegiatan memperingati ulang tahun ke-50 Republik Indonesia (1995) yang berlangsung semarak.

Semangat hancur

Tiba-tiba teroris muncul dan meluluhlantakkan gedung ganda New York di jantung Amerika Serikat (September 2001) dan memorak-porandakan semangat kerja sama global. Maka, yang kemudian membahana adalah genderang perang terhadap terorisme. Presiden Amerika Serikat berucap, ”Siapa tidak memihak kami, adalah musuh kami.”

Api semangat kesepakatan Rio 1992 ini ingin dibangkitkan kembali dalam KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg 2002, 10 tahun sesudah Rio 1992. Namun, semangat ”perang” yang dominan mengubur gairah menata hidup yang selaras dengan lingkungan. Gagasan Pembangunan Berkelanjutan dengan Agenda 21-nya lenyap.

Konvensi Perubahan Iklim yang semula penuh gairah akan diwujudkan melalui Protokol Kyoto terseok-seok pelaksanaannya. Bahkan, dengan habisnya masa berlaku Protokol Kyoto pada Desember 2012, bisa jadi upaya ini tidak ada kelanjutannya mengingat semangat penolakan negara-negara adikuasa.

Konvensi Keanekaan Hayati pun merangkak lamban. Apalagi dunia saat ini menghadapi krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, serta krisis politik di negara-negara Timur Tengah.

Beban bertambah

Padahal, jumlah penduduk terus bertambah dan derap pembangunan harus dilanjutkan. Ada 7 miliar penduduk dengan pendapatan global bruto (PGB) 70 triliun dollar AS (2012), naik menjadi 9 miliar jiwa dengan PGB 200 triliun dollar AS (2050).

Indonesia memperkirakan jumlah penduduk naik dari 230 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto (PDB) 0,7 triliun dollar AS (2010) ke 335 juta jiwa dengan PDB 15 triliun dollar AS (2045). Baik di tingkat global maupun Indonesia perkembangan ekonomi ini berlangsung di kawasan yang berukuran tetap: planet Bumi dan Tanah Air Indonesia.

Apabila pola pembangunan konvensional berlanjut, akan bertambah besar tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan. Menurut perhitungan Kementerian Pekerjaan Umum, jejak ekologi pembangunan fisik telah melampaui daya dukung lingkungan alam Pulau Jawa dan Bali, dengan dampak banjir pada musim hujan dan kering-gersang pada musim kemarau.

Bila pembangunan konvensional seperti sekarang berlanjut, Bumi dan Tanah Air Indonesia akan melampaui ambang batas daya dukung lingkungan. Maka, pembangunan ekonomi tidak akan tercapai tahun 2045.

Dalam kaitan inilah relevan garis kebijakan pembangunan Presiden SBY yang dicanangkan sejak 2007: pro-growth (ekonomi), pro-job dan pro-poor (sosial), serta pro-green (lingkungan). Targetnya adalah pada tahun 2014 tercapai pertumbuhan ekonomi 7 persen, pembangunan sosial yang menurunkan tingkat pengangguran-kemiskinan, dan perbaikan lingkungan hidup berupa penurunan emisi gas CO2 pada tahun 2020 sebesar 26 persen dan mencanangkan penanaman 1 miliar pohon setiap tahun di seluruh Tanah Air.

Rio+20

Bulan Juni 2012 pelaksanaan pola pembangunan berkelanjutan dikaji ulang dalam KTT Rio+20 di Rio de Janeiro, Brasil. Indonesia dapat mengusulkan gagasan Pembangunan-Empat-Jalur Presiden SBY sebagai masukan untuk pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan KTT Rio-1992.

Indonesia sudah melaksanakan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 sebagai pilar pertama pembangunan ekonomi dilengkapi dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Penurunan Kemiskinan Indonesia (MP3KI). Saat ini, isi MP3KI baru memuat program kluster-kluster untuk membangun jejaring pengamanan-sosial yang masih bisa dikembangkan menjadi pembangunan sosial.

Aspek ketiga, yaitu lingkungan hidup, masih melekat pada M3PEI. Ini masih bisa dikembangkan sebagai pilar ketiga, yaitu pembangunan berbasis sumber daya alam hayati tropis daratan dan lautan sebagai potensi unggul daya saing Indonesia di kawasan global dan Asia. Hal ini bisa dicapai dengan mengembangkan pilar kedua pembangunan sosial: menaikkan kapasitas sumber daya manusia menguasai sains dan teknologi sehingga menaikkan nilai tambah sumber daya alam unik tropis daratan dan lautan Indonesia.

Dengan demikian, pilar pertama, ekonomi berdaya kompetitif unggul; pilar kedua, pembangunan sosial berbasis sains dan teknologi; serta pilar ketiga, lingkungan hidup menaikkan nilai tambah sumber daya alam hayati tropis daratan dan lautan dapat menjadi sumbangan berharga Indonesia untuk dunia.

Emil Salim Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/18/02255551/menjelang.rioplus20

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, 1992, sepakat mengubah pola pembangunan konvensional jalur tunggal, yaitu ekonomi, ke pola pembangunan tiga jalur: ekonomi, sosial, lingkungan.

    Kesimpulan ini muncul setelah peserta sidang mengamati pola pembangunan yang hanya berjalan di jalur ekonomi. Pola ini mengabaikan pembangunan sosial, seperti tecermin pada buruknya kehidupan sosial masyarakat. Juga mengabaikan lingkungan hidup yang tampak pada tumbuhnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan keanekaan hayati.

    Maka, KTT Bumi 1992 menghasilkan program kerja pembangunan berkelanjutan yang mencakup bidang ekonomi, sosial dan lingkungan, serta dikerjakan serentak. Program ini dijabarkan dalam Agenda 21, Konvensi Perubahan Iklim dan Konvensi Keanekaan Hayati.

    Suasana sidang diliputi optimisme tinggi karena situasi politik global ketika itu menunjukkan redanya ”perang dingin” Blok Komunis melawan Blok Barat. Optimisme juga berkembang di Indonesia yang menyelenggarakan Pemilu 1992 disusul rangkaian kegiatan memperingati ulang tahun ke-50 Republik Indonesia (1995) yang berlangsung semarak.

    Semangat hancur

    Tiba-tiba teroris muncul dan meluluhlantakkan gedung ganda New York di jantung Amerika Serikat (September 2001) dan memorak-porandakan semangat kerja sama global. Maka, yang kemudian membahana adalah genderang perang terhadap terorisme. Presiden Amerika Serikat berucap, ”Siapa tidak memihak kami, adalah musuh kami.”

    Api semangat kesepakatan Rio 1992 ini ingin dibangkitkan kembali dalam KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg 2002, 10 tahun sesudah Rio 1992. Namun, semangat ”perang” yang dominan mengubur gairah menata hidup yang selaras dengan lingkungan. Gagasan Pembangunan Berkelanjutan dengan Agenda 21-nya lenyap.

    Konvensi Perubahan Iklim yang semula penuh gairah akan diwujudkan melalui Protokol Kyoto terseok-seok pelaksanaannya. Bahkan, dengan habisnya masa berlaku Protokol Kyoto pada Desember 2012, bisa jadi upaya ini tidak ada kelanjutannya mengingat semangat penolakan negara-negara adikuasa.

    Konvensi Keanekaan Hayati pun merangkak lamban. Apalagi dunia saat ini menghadapi krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, serta krisis politik di negara-negara Timur Tengah.

    Beban bertambah

    Padahal, jumlah penduduk terus bertambah dan derap pembangunan harus dilanjutkan. Ada 7 miliar penduduk dengan pendapatan global bruto (PGB) 70 triliun dollar AS (2012), naik menjadi 9 miliar jiwa dengan PGB 200 triliun dollar AS (2050).

    Indonesia memperkirakan jumlah penduduk naik dari 230 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto (PDB) 0,7 triliun dollar AS (2010) ke 335 juta jiwa dengan PDB 15 triliun dollar AS (2045). Baik di tingkat global maupun Indonesia perkembangan ekonomi ini berlangsung di kawasan yang berukuran tetap: planet Bumi dan Tanah Air Indonesia.

    Apabila pola pembangunan konvensional berlanjut, akan bertambah besar tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan. Menurut perhitungan Kementerian Pekerjaan Umum, jejak ekologi pembangunan fisik telah melampaui daya dukung lingkungan alam Pulau Jawa dan Bali, dengan dampak banjir pada musim hujan dan kering-gersang pada musim kemarau.

    Bila pembangunan konvensional seperti sekarang berlanjut, Bumi dan Tanah Air Indonesia akan melampaui ambang batas daya dukung lingkungan. Maka, pembangunan ekonomi tidak akan tercapai tahun 2045.

    Dalam kaitan inilah relevan garis kebijakan pembangunan Presiden SBY yang dicanangkan sejak 2007: pro-growth (ekonomi), pro-job dan pro-poor (sosial), serta pro-green (lingkungan). Targetnya adalah pada tahun 2014 tercapai pertumbuhan ekonomi 7 persen, pembangunan sosial yang menurunkan tingkat pengangguran-kemiskinan, dan perbaikan lingkungan hidup berupa penurunan emisi gas CO2 pada tahun 2020 sebesar 26 persen dan mencanangkan penanaman 1 miliar pohon setiap tahun di seluruh Tanah Air.

    Rio+20

    Bulan Juni 2012 pelaksanaan pola pembangunan berkelanjutan dikaji ulang dalam KTT Rio+20 di Rio de Janeiro, Brasil. Indonesia dapat mengusulkan gagasan Pembangunan-Empat-Jalur Presiden SBY sebagai masukan untuk pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan KTT Rio-1992.

    Indonesia sudah melaksanakan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 sebagai pilar pertama pembangunan ekonomi dilengkapi dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Penurunan Kemiskinan Indonesia (MP3KI). Saat ini, isi MP3KI baru memuat program kluster-kluster untuk membangun jejaring pengamanan-sosial yang masih bisa dikembangkan menjadi pembangunan sosial.

    Aspek ketiga, yaitu lingkungan hidup, masih melekat pada M3PEI. Ini masih bisa dikembangkan sebagai pilar ketiga, yaitu pembangunan berbasis sumber daya alam hayati tropis daratan dan lautan sebagai potensi unggul daya saing Indonesia di kawasan global dan Asia. Hal ini bisa dicapai dengan mengembangkan pilar kedua pembangunan sosial: menaikkan kapasitas sumber daya manusia menguasai sains dan teknologi sehingga menaikkan nilai tambah sumber daya alam unik tropis daratan dan lautan Indonesia.

    Dengan demikian, pilar pertama, ekonomi berdaya kompetitif unggul; pilar kedua, pembangunan sosial berbasis sains dan teknologi; serta pilar ketiga, lingkungan hidup menaikkan nilai tambah sumber daya alam hayati tropis daratan dan lautan dapat menjadi sumbangan berharga Indonesia untuk dunia.

    Emil Salim Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/18/02255551/menjelang.rioplus20

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on