Emil Salim: Mahasiswa, Ubah Cara Berpikir dan Paradigma

Jakarta, Kompas – Masa depan Indonesia di dunia global adalah sumber daya alam terbarukan berupa kelimpahan flora dan fauna. Sumber daya alam tak terbarukan, seperti minyak bumi, batubara, dan mineral, akan segera habis serta menyebabkan kerusakan alam dan sistem ekologi.

Demikian mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim pada seminar ”Economy Vs Environment: Striving for Equilibrium” di Jakarta, Sabtu (12/5). Pembicara lain adalah CEO Green Line Care Bambang Adiyoso, Ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Bambang Aria Wisena dan Market Development Director GE Made Wahyu Wiratma.

”Batubara, minyak dan gas, serta mineral merupakan sumber daya alam tak terbarukan. Sekitar 25 tahun lagi akan habis,” kata Emil. Eksploitasi SDA tak terbarukan disebutnya hanya akan menghasilkan keuntungan sesaat. ”Akan menemui jalan buntu,” kata Emil.

Menyongsong tahun 2045, ketika penduduk dunia diperkirakan 9 miliar jiwa, sumber daya alam tak terbarukan akan habis. Mineral dan batubara tak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan manusia.

Abad ini, Asia menjadi pusat pembangunan global dan Indonesia harus bersaing dengan China dan India yang memiliki sumber daya manusia di atas 1 miliar jiwa. ”Kita di khatulistiwa dan merupakan negara kepulauan satu-satunya di dunia yang melintasi khatulistiwa. Kita diapit dua samudra, jadi kekayaan biologi tropis, baik daratan maupun lautan adalah yang terkaya. Itulah kekuatan daya saing kita,” kata Emil.

Daya saing Indonesia dinilai ada pada pemberian nilai tambah untuk SDA terbarukan khas tropis, yang tak dimiliki India dan China. ”Jepang dan Eropa sudah stagnan,” ujar Emil. Untuk itu, SDA flora-fauna harus diberi nilai tambah untuk pemanfaatan di bidang farmasi, industri, sandang, dan kosmetika.

Jalan buntu

Menurut Emil, yang juga ekonom, pembangunan satu jalur, yaitu ekonomi sebagai pilar tunggal pembangunan, hanya akan menemui jalan buntu. Tiga pilar pembangunan harus dikembangkan, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pada paparannya, Bambang Adiyoso menegaskan, masyarakat pada umumnya, terutama yang di daerah pedesaan, sebenarnya bergaya hidup ramah lingkungan. ”Mereka berubah ketika ada intervensi mereka yang memiliki kepentingan,” ujarnya.

Secara khusus, Emil mengajak para mahasiswa memelopori perubahan paradigma pembangunan. ”Mereka inilah yang harus didorong terus untuk melakukan perubahan. Mengubah cara berpikir, mengubah paradigma pembangunan. Pembangunan harus tiga jalur dengan berlandaskan sains dan teknologi,” ujarnya.(ISW)

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/14/04123698/sda.masa.depan.indonesia

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Emil Salim: Mahasiswa, Ubah Cara Berpikir dan Paradigma

    Jakarta, Kompas – Masa depan Indonesia di dunia global adalah sumber daya alam terbarukan berupa kelimpahan flora dan fauna. Sumber daya alam tak terbarukan, seperti minyak bumi, batubara, dan mineral, akan segera habis serta menyebabkan kerusakan alam dan sistem ekologi.

    Demikian mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim pada seminar ”Economy Vs Environment: Striving for Equilibrium” di Jakarta, Sabtu (12/5). Pembicara lain adalah CEO Green Line Care Bambang Adiyoso, Ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Bambang Aria Wisena dan Market Development Director GE Made Wahyu Wiratma.

    ”Batubara, minyak dan gas, serta mineral merupakan sumber daya alam tak terbarukan. Sekitar 25 tahun lagi akan habis,” kata Emil. Eksploitasi SDA tak terbarukan disebutnya hanya akan menghasilkan keuntungan sesaat. ”Akan menemui jalan buntu,” kata Emil.

    Menyongsong tahun 2045, ketika penduduk dunia diperkirakan 9 miliar jiwa, sumber daya alam tak terbarukan akan habis. Mineral dan batubara tak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan manusia.

    Abad ini, Asia menjadi pusat pembangunan global dan Indonesia harus bersaing dengan China dan India yang memiliki sumber daya manusia di atas 1 miliar jiwa. ”Kita di khatulistiwa dan merupakan negara kepulauan satu-satunya di dunia yang melintasi khatulistiwa. Kita diapit dua samudra, jadi kekayaan biologi tropis, baik daratan maupun lautan adalah yang terkaya. Itulah kekuatan daya saing kita,” kata Emil.

    Daya saing Indonesia dinilai ada pada pemberian nilai tambah untuk SDA terbarukan khas tropis, yang tak dimiliki India dan China. ”Jepang dan Eropa sudah stagnan,” ujar Emil. Untuk itu, SDA flora-fauna harus diberi nilai tambah untuk pemanfaatan di bidang farmasi, industri, sandang, dan kosmetika.

    Jalan buntu

    Menurut Emil, yang juga ekonom, pembangunan satu jalur, yaitu ekonomi sebagai pilar tunggal pembangunan, hanya akan menemui jalan buntu. Tiga pilar pembangunan harus dikembangkan, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

    Pada paparannya, Bambang Adiyoso menegaskan, masyarakat pada umumnya, terutama yang di daerah pedesaan, sebenarnya bergaya hidup ramah lingkungan. ”Mereka berubah ketika ada intervensi mereka yang memiliki kepentingan,” ujarnya.

    Secara khusus, Emil mengajak para mahasiswa memelopori perubahan paradigma pembangunan. ”Mereka inilah yang harus didorong terus untuk melakukan perubahan. Mengubah cara berpikir, mengubah paradigma pembangunan. Pembangunan harus tiga jalur dengan berlandaskan sains dan teknologi,” ujarnya.(ISW)

    sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/14/04123698/sda.masa.depan.indonesia

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on