Senin, 9 Juli 2012

Gorontalo, Kompas – Pada saat warga di sejumlah daerah di negeri ini dilanda kekeringan karena masuk musim kemarau, warga di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, dan di empat kecamatan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, justru tergenang air bah. Air bercampur lumpur itu belum sepenuhnya surut hingga Minggu (8/7). Padahal, banjir di kedua daerah itu terjadi sejak Jumat lalu.

Di Tenilo, air bercampur lumpur itu berasal dari bekas tambang galian C di Bukit Limehe yang berjarak sekitar 100 meter dari permukiman warga. Genangan lumpur itu, meskipun tak menimbulkan korban dan kerusakan bangunan, amat merepotkan warga untuk membersihkannya. Apalagi, dalam dua minggu terakhir, wilayah itu justru selalu diguyur hujan.

”Kasus ini bukan kali pertama terjadi. Ini terjadi sejak ada bekas tambang galian C (pasir, batu, dan tanah) di Bukit Limehe. Sayangnya, pemerintah tak melakukan pencegahan,” kata Nurlela Ponu, seorang warga Tenilo.

Kepala Seksi Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo Taher Laendeng mengatakan, pemerintah hanya bisa merekomendasikan pembangunan tanggul pencegah erosi di kaki Bukit Limehe. Diakui, jika hujan deras, air bercampur material longsoran bukit selalu memenuhi permukiman warga.

Fatuhri, prakirawan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Gorontalo, mengingatkan, hujan lebat masih akan terjadi di provinsi itu karena adanya gangguan tropis di Filipina. Daerah sekitar sungai dan perbukitan gundul pun rawan banjir dan longsor, terutama di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Dari Luwu dilaporkan, banjir yang melanda empat kecamatan di kabupaten itu, yakni Kecamatan Suli, Larompong, Larompong Selatan, dan Suli Barat, Minggu mulai surut. Ketinggian air tinggal sekitar 20 sentimeter, terutama di Kecamatan Larompong dan Larompong Selatan. Sebelumnya ketinggian air sempat dilaporkan mencapai 1,5 meter.

Muhammad Saleh (35), warga Desa Betta, Kecamatan Suli, mengatakan, ia dan warga lain yang sempat mengungsi gara-gara banjir, Minggu, bisa kembali ke rumahnya. Jalan utama menuju Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara di daerah itu, yang juga sempat terendam air, sudah kembali bisa dilalui kendaraan.

Kepala BPBD Luwu Mursyid Jufri mengatakan, banjir terjadi akibat hujan deras yang mengguyur Luwu sejak Kamis malam. Sebanyak 856 rumah warga dan 15 bangunan pemerintah sempat terendam. Hujan masih akan terjadi di Luwu. (RIZ/APO)

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/2012/07/09/01442495/warga.gorontalo.dan.luwu.dilanda.banjir.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Senin, 9 Juli 2012

    Gorontalo, Kompas – Pada saat warga di sejumlah daerah di negeri ini dilanda kekeringan karena masuk musim kemarau, warga di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, dan di empat kecamatan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, justru tergenang air bah. Air bercampur lumpur itu belum sepenuhnya surut hingga Minggu (8/7). Padahal, banjir di kedua daerah itu terjadi sejak Jumat lalu.

    Di Tenilo, air bercampur lumpur itu berasal dari bekas tambang galian C di Bukit Limehe yang berjarak sekitar 100 meter dari permukiman warga. Genangan lumpur itu, meskipun tak menimbulkan korban dan kerusakan bangunan, amat merepotkan warga untuk membersihkannya. Apalagi, dalam dua minggu terakhir, wilayah itu justru selalu diguyur hujan.

    ”Kasus ini bukan kali pertama terjadi. Ini terjadi sejak ada bekas tambang galian C (pasir, batu, dan tanah) di Bukit Limehe. Sayangnya, pemerintah tak melakukan pencegahan,” kata Nurlela Ponu, seorang warga Tenilo.

    Kepala Seksi Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo Taher Laendeng mengatakan, pemerintah hanya bisa merekomendasikan pembangunan tanggul pencegah erosi di kaki Bukit Limehe. Diakui, jika hujan deras, air bercampur material longsoran bukit selalu memenuhi permukiman warga.

    Fatuhri, prakirawan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Gorontalo, mengingatkan, hujan lebat masih akan terjadi di provinsi itu karena adanya gangguan tropis di Filipina. Daerah sekitar sungai dan perbukitan gundul pun rawan banjir dan longsor, terutama di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

    Dari Luwu dilaporkan, banjir yang melanda empat kecamatan di kabupaten itu, yakni Kecamatan Suli, Larompong, Larompong Selatan, dan Suli Barat, Minggu mulai surut. Ketinggian air tinggal sekitar 20 sentimeter, terutama di Kecamatan Larompong dan Larompong Selatan. Sebelumnya ketinggian air sempat dilaporkan mencapai 1,5 meter.

    Muhammad Saleh (35), warga Desa Betta, Kecamatan Suli, mengatakan, ia dan warga lain yang sempat mengungsi gara-gara banjir, Minggu, bisa kembali ke rumahnya. Jalan utama menuju Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara di daerah itu, yang juga sempat terendam air, sudah kembali bisa dilalui kendaraan.

    Kepala BPBD Luwu Mursyid Jufri mengatakan, banjir terjadi akibat hujan deras yang mengguyur Luwu sejak Kamis malam. Sebanyak 856 rumah warga dan 15 bangunan pemerintah sempat terendam. Hujan masih akan terjadi di Luwu. (RIZ/APO)

    Sumber:

    http://cetak.kompas.com/read/2012/07/09/01442495/warga.gorontalo.dan.luwu.dilanda.banjir.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on