Senin, 23 Juli 2012

KUPANG, KOMPAS.com – Masyarakat adat Tiga Batu Tungku (Amanatun, Amanuban, Molo) yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), akan kembali menggelar Festival Ningkam Haumeni yang ketiga kalinya, pada 24-26 Juli 2012. Festival dilaksanakan di bukit Keramat Mollo, Anjaf-Nausus, di Desa Naususu, TTS, NTT.

Festival ketiga ini mengangkat tema Menuju Kedaulatan Pangan, Air dan Energi.

“Festival ini bukan hanya sekadar ajang kumpul untuk menari dan menyanyi. Lebih dari itu, festival ini merupakan suatu kesadaran dalam mengedepankan Produktifitas budaya dan perayaan terhadap sebuah komitmen adat. Itu jauh lebih penting. Karena itu masyarakat Tiga Batu membangun slogan perjuangan yang didengungkan selalu dalam festival yaitu, ami tidak menjual apa yang kami buat,” ujar Pantoro Tri Kuswardono, Knowledge Management and Public Outreach Director, PIKUL, Senin (23/7/2012) dalam siaran persnya.

Pantoro Tri Kuswardono menjelaskan slogan yang dibangun masyarakat tiga batu bermakna dalam bahwa batu atau bahan tambang tidak dibuat manusia, jadi tidak ada haknya Masyarakat Tiga Batu Tungku menjualnya. Mereka harus membuat sesuatu dahulu, baru kemudian bisa menjual, maka itulah yang membuat mereka menjadi manusia.

“Festival ini sebuah proses, semacam perayaan peneguhan komitmen Masyarakat Adat Tiga Batu Tungku, tentang komitmen orang-orang yang telah gugur berjuang untuk hidup mereka yang harus dihargai, juga perayaan komitmen untuk masa depan atas dasar budaya yang telah merek miliki,” ungkapnya.

Festival kali ini membahas tentang tenun dan pangan. Kesadaran itu membuat orang berpikir untuk kembali berproduktifitas tentang pertanian dan tenun, sebagai potensi yang memang mereka bisa buat terkait dengan pengelolaan alam. Tenun bukan hanya sekadar menjadi nilai komersil lebih dari itu mempunyai nilai filosofi yang dalam.

“Menenun bukan hanya sekadar menenun dari benang, tapi menenun dengan menggunakan kapas itu jauh lebih penting, kembali memintal itu penting, mencari pewarna-warni alami itu penting. Karena itu bagian dari ekosistem, ketika pewarna alam itu berasal dari hutan dan hutan tidak ada, maka tidak ada tenun ikat yang indah dan mahal. Lebih dari itu sejarah identitas dari masyarakat juga punah,” kata Pantoro Tri Kuswardono.

Ditambahkan, festival juga sebagai ajang membangun solidaritas antartiga wilayah, untuk bertukar pengalaman dalam pertanian. Misalnya mereka saling bertukar bibit, bertukar pengalaman tentang makanan yang khas, makanan pokok yang khas, serta bagaimana mereka bisa memilikinya dengan rasa bangga.

Editor :
Agus Mulyadi

Sumber:

http://regional.kompas.com/read/2012/07/23/16260925/Festival.Ningkam.Haumeni.untuk.Produktivitas.Budaya.dan.Kedaulatan.Pangan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Senin, 23 Juli 2012

    KUPANG, KOMPAS.com – Masyarakat adat Tiga Batu Tungku (Amanatun, Amanuban, Molo) yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), akan kembali menggelar Festival Ningkam Haumeni yang ketiga kalinya, pada 24-26 Juli 2012. Festival dilaksanakan di bukit Keramat Mollo, Anjaf-Nausus, di Desa Naususu, TTS, NTT.

    Festival ketiga ini mengangkat tema Menuju Kedaulatan Pangan, Air dan Energi.

    “Festival ini bukan hanya sekadar ajang kumpul untuk menari dan menyanyi. Lebih dari itu, festival ini merupakan suatu kesadaran dalam mengedepankan Produktifitas budaya dan perayaan terhadap sebuah komitmen adat. Itu jauh lebih penting. Karena itu masyarakat Tiga Batu membangun slogan perjuangan yang didengungkan selalu dalam festival yaitu, ami tidak menjual apa yang kami buat,” ujar Pantoro Tri Kuswardono, Knowledge Management and Public Outreach Director, PIKUL, Senin (23/7/2012) dalam siaran persnya.

    Pantoro Tri Kuswardono menjelaskan slogan yang dibangun masyarakat tiga batu bermakna dalam bahwa batu atau bahan tambang tidak dibuat manusia, jadi tidak ada haknya Masyarakat Tiga Batu Tungku menjualnya. Mereka harus membuat sesuatu dahulu, baru kemudian bisa menjual, maka itulah yang membuat mereka menjadi manusia.

    “Festival ini sebuah proses, semacam perayaan peneguhan komitmen Masyarakat Adat Tiga Batu Tungku, tentang komitmen orang-orang yang telah gugur berjuang untuk hidup mereka yang harus dihargai, juga perayaan komitmen untuk masa depan atas dasar budaya yang telah merek miliki,” ungkapnya.

    Festival kali ini membahas tentang tenun dan pangan. Kesadaran itu membuat orang berpikir untuk kembali berproduktifitas tentang pertanian dan tenun, sebagai potensi yang memang mereka bisa buat terkait dengan pengelolaan alam. Tenun bukan hanya sekadar menjadi nilai komersil lebih dari itu mempunyai nilai filosofi yang dalam.

    “Menenun bukan hanya sekadar menenun dari benang, tapi menenun dengan menggunakan kapas itu jauh lebih penting, kembali memintal itu penting, mencari pewarna-warni alami itu penting. Karena itu bagian dari ekosistem, ketika pewarna alam itu berasal dari hutan dan hutan tidak ada, maka tidak ada tenun ikat yang indah dan mahal. Lebih dari itu sejarah identitas dari masyarakat juga punah,” kata Pantoro Tri Kuswardono.

    Ditambahkan, festival juga sebagai ajang membangun solidaritas antartiga wilayah, untuk bertukar pengalaman dalam pertanian. Misalnya mereka saling bertukar bibit, bertukar pengalaman tentang makanan yang khas, makanan pokok yang khas, serta bagaimana mereka bisa memilikinya dengan rasa bangga.

    Editor :
    Agus Mulyadi

    Sumber:

    http://regional.kompas.com/read/2012/07/23/16260925/Festival.Ningkam.Haumeni.untuk.Produktivitas.Budaya.dan.Kedaulatan.Pangan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on