Rabu, 25 Juli 2012

Jakarta, Kompas – Dampak kekeringan di Amerika Serikat yang menyebabkan sejumlah komoditas mengalami lonjakan harga menjadi bukti Indonesia rentan krisis pangan. Ketergantungan pada pangan impor mengakibatkan guncangan pasokan dan kenaikan harga di pasar dalam negeri.

Saat ini Indonesia bergantung pada komoditas pangan impor dalam jumlah besar, seperti beras, jagung, kedelai, gandum, sapi, buah, dan susu.

Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia yang juga anggota Komisi IV DPR, Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Selasa (24/7), mengatakan, peristiwa melonjaknya harga kedelai menjadi pelajaran yang mahal bagi Indonesia apabila bergantung pada pangan impor.

”Kejadian itu telah memukul kita. Kedaulatan nasional kita sungguh terusik. Kenaikan harga itu membuat perajin industri tahu dan tempe tak bisa bekerja dengan harga lama, sementara meningkatkan harga jualnya terhadang keterbatasan daya beli. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait dengan masalah pengadaan pangan harus menyadari, kita harus mandiri dalam ketersediaan pangan,” katanya.

Sementara itu, Arif Budimanta, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P, mengatakan, dari aspek makro, guncangan yang terjadi sekarang akibat liberalisasi pangan yang berlebihan.

Arif menyatakan, pemerintah harus mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Tidak seperti sekarang yang cantik di mata dunia, tetapi pahit di masyarakat.

Perlu menguasai stok

Siswono memperlihatkan bukti empiris, jika bisa menguasai stok, Indonesia tak akan pernah bisa diguncang oleh gejolak harga pasar dunia. Misalnya, Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbesar sehingga tidak pernah menghadapi gejolak harga minyak goreng. Indonesia tidak pernah menghadapi gejolak harga lada karena Indonesia produsen lada terbesar di dunia.

”Solusinya adalah dengan meningkatkan produksi. Kalau Indonesia bisa jadi eksportir pangan, gejolak bisa diatasi. Oleh karena itu, peningkatan produksi hingga ekspor harus menjadi perhatian kita semua. Pemerintah jangan mengulangi dengan solusi instan, setiap kita kekurangan, langsung memilih impor. Kasus kedelai adalah pelajaran yang kita petik sekarang. Kita harus mengambil solusi dengan jangka panjang,” katanya.

Siswono menolak tegas apabila ada solusi yang mempermudah impor kedelai. Ia mengajak semua pihak berpikir strategis yang menguntungkan petani di dalam negeri.

Arif mengatakan, dari aspek makro, guncangan terjadi karena pemerintah hampir tidak punya tangan untuk mengendalikan harga.

”Sementara dalam sisi mikro lebih karena ketidakmampuan pemerintah mengendalikan persediaan kedelai di tingkat nasional,” ujarnya.

Ada sejumlah masalah, yaitu produksi yang tidak mencapai target serta tata niaga kedelai yang cenderung merugikan petani dan mencekik leher perajin tahu-tempe. ”Khusus dalam konteks produksi, kita mempertanyakan anggaran APBN yang naik terus, tetapi tidak menunjukkan hasil signifikan,” kata Arif.

Jagung juga naik

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengatakan, sekalipun industri pakan ternak tidak mengimpor jagung dari Amerika Serikat tahun ini, harga jagung dunia tetap terkena pengaruh. Sampai Juni 2012 industri pakan baru mengimpor jagung 650.000 ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang mencapai 1,5 juta ton.

Impor sebagian besar dari India. Meskipun begitu, Sudirman memperkirakan harga jagung India juga akan terimbas dampak kekeringan di AS. Apalagi produksi jagung AS diduga turun 10 persen atau sekitar 30 juta ton.

GPMT memproyeksikan kebutuhan jagung impor tahun ini 1,5 juta ton, lebih rendah dari tahun lalu yang 3,1 juta ton. ”Kekurangan jagung impor dipenuhi dari Amerika Latin, tentunya dengan harga AS,” katanya.

Berkenaan dengan kenaikan harga produk pangan impor dan dampaknya pada inflasi, Kepala Grup Humas Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah, BI yakin tak akan ada masalah dengan pasokan jagung dan kedelai.

”Bobot impor produk turunan jagung, gandum, dan kedelai relatif kecil sehingga tidak signifikan pada inflasi nasional,” kata Difi. Bobot produk turunan ketiga komoditas itu pada indeks harga konsumen sebesar 8 persen. Bobot itu dinilai BI kecil.

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan meminta konsumen dan produsen tahu-tempe memahami dampak dari fluktuasi harga kedelai dunia dan diharapkan segera melakukan penyesuaian. Terlalu jauh bagi pemerintah kalau harus memberikan subsidi seperti yang terjadi empat tahun lalu.

”Yang bisa kita lakukan adalah memberikan toleransi kenaikan kedelai yang berpengaruh pada naiknya harga tahu-tempe. Terlalu jauh bagi pemerintah harus memberikan subsidi harga,” kata Rusman.

Atasi kelangkaan

Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan jajaran terkait untuk segera mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai. Kementerian terkait di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian tengah bekerja untuk memulihkan pasokan dan harga kedelai itu.

”Soal kedelai itu tentu menjadi perhatian kita bersama. Presiden dan pemerintah memperhatikan hal itu. Semua pihak yang memiliki andil bisa mengupayakan agar tidak terjadi kelangkaan kedelai dan harga yang meningkat bisa diatasi cepat,” ujarnya.

(IDR/MAS/WHY/MAR)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/07/25/04095596/indonesia.rentan.krisis.pangan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    One Comment

    1. Joko Waluyo 14 Agustus 2012 at 11:32 - Reply

      UU 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan nampaknya tidak mampu bertahan menghadapi gempuran pembangunan infrastruktur dan kawasan industri.

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Rabu, 25 Juli 2012

    Jakarta, Kompas – Dampak kekeringan di Amerika Serikat yang menyebabkan sejumlah komoditas mengalami lonjakan harga menjadi bukti Indonesia rentan krisis pangan. Ketergantungan pada pangan impor mengakibatkan guncangan pasokan dan kenaikan harga di pasar dalam negeri.

    Saat ini Indonesia bergantung pada komoditas pangan impor dalam jumlah besar, seperti beras, jagung, kedelai, gandum, sapi, buah, dan susu.

    Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia yang juga anggota Komisi IV DPR, Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Selasa (24/7), mengatakan, peristiwa melonjaknya harga kedelai menjadi pelajaran yang mahal bagi Indonesia apabila bergantung pada pangan impor.

    ”Kejadian itu telah memukul kita. Kedaulatan nasional kita sungguh terusik. Kenaikan harga itu membuat perajin industri tahu dan tempe tak bisa bekerja dengan harga lama, sementara meningkatkan harga jualnya terhadang keterbatasan daya beli. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait dengan masalah pengadaan pangan harus menyadari, kita harus mandiri dalam ketersediaan pangan,” katanya.

    Sementara itu, Arif Budimanta, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P, mengatakan, dari aspek makro, guncangan yang terjadi sekarang akibat liberalisasi pangan yang berlebihan.

    Arif menyatakan, pemerintah harus mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Tidak seperti sekarang yang cantik di mata dunia, tetapi pahit di masyarakat.

    Perlu menguasai stok

    Siswono memperlihatkan bukti empiris, jika bisa menguasai stok, Indonesia tak akan pernah bisa diguncang oleh gejolak harga pasar dunia. Misalnya, Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbesar sehingga tidak pernah menghadapi gejolak harga minyak goreng. Indonesia tidak pernah menghadapi gejolak harga lada karena Indonesia produsen lada terbesar di dunia.

    ”Solusinya adalah dengan meningkatkan produksi. Kalau Indonesia bisa jadi eksportir pangan, gejolak bisa diatasi. Oleh karena itu, peningkatan produksi hingga ekspor harus menjadi perhatian kita semua. Pemerintah jangan mengulangi dengan solusi instan, setiap kita kekurangan, langsung memilih impor. Kasus kedelai adalah pelajaran yang kita petik sekarang. Kita harus mengambil solusi dengan jangka panjang,” katanya.

    Siswono menolak tegas apabila ada solusi yang mempermudah impor kedelai. Ia mengajak semua pihak berpikir strategis yang menguntungkan petani di dalam negeri.

    Arif mengatakan, dari aspek makro, guncangan terjadi karena pemerintah hampir tidak punya tangan untuk mengendalikan harga.

    ”Sementara dalam sisi mikro lebih karena ketidakmampuan pemerintah mengendalikan persediaan kedelai di tingkat nasional,” ujarnya.

    Ada sejumlah masalah, yaitu produksi yang tidak mencapai target serta tata niaga kedelai yang cenderung merugikan petani dan mencekik leher perajin tahu-tempe. ”Khusus dalam konteks produksi, kita mempertanyakan anggaran APBN yang naik terus, tetapi tidak menunjukkan hasil signifikan,” kata Arif.

    Jagung juga naik

    Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengatakan, sekalipun industri pakan ternak tidak mengimpor jagung dari Amerika Serikat tahun ini, harga jagung dunia tetap terkena pengaruh. Sampai Juni 2012 industri pakan baru mengimpor jagung 650.000 ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang mencapai 1,5 juta ton.

    Impor sebagian besar dari India. Meskipun begitu, Sudirman memperkirakan harga jagung India juga akan terimbas dampak kekeringan di AS. Apalagi produksi jagung AS diduga turun 10 persen atau sekitar 30 juta ton.

    GPMT memproyeksikan kebutuhan jagung impor tahun ini 1,5 juta ton, lebih rendah dari tahun lalu yang 3,1 juta ton. ”Kekurangan jagung impor dipenuhi dari Amerika Latin, tentunya dengan harga AS,” katanya.

    Berkenaan dengan kenaikan harga produk pangan impor dan dampaknya pada inflasi, Kepala Grup Humas Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah, BI yakin tak akan ada masalah dengan pasokan jagung dan kedelai.

    ”Bobot impor produk turunan jagung, gandum, dan kedelai relatif kecil sehingga tidak signifikan pada inflasi nasional,” kata Difi. Bobot produk turunan ketiga komoditas itu pada indeks harga konsumen sebesar 8 persen. Bobot itu dinilai BI kecil.

    Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan meminta konsumen dan produsen tahu-tempe memahami dampak dari fluktuasi harga kedelai dunia dan diharapkan segera melakukan penyesuaian. Terlalu jauh bagi pemerintah kalau harus memberikan subsidi seperti yang terjadi empat tahun lalu.

    ”Yang bisa kita lakukan adalah memberikan toleransi kenaikan kedelai yang berpengaruh pada naiknya harga tahu-tempe. Terlalu jauh bagi pemerintah harus memberikan subsidi harga,” kata Rusman.

    Atasi kelangkaan

    Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan jajaran terkait untuk segera mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai. Kementerian terkait di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian tengah bekerja untuk memulihkan pasokan dan harga kedelai itu.

    ”Soal kedelai itu tentu menjadi perhatian kita bersama. Presiden dan pemerintah memperhatikan hal itu. Semua pihak yang memiliki andil bisa mengupayakan agar tidak terjadi kelangkaan kedelai dan harga yang meningkat bisa diatasi cepat,” ujarnya.

    (IDR/MAS/WHY/MAR)

    Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/07/25/04095596/indonesia.rentan.krisis.pangan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      One Comment

      1. Joko Waluyo 14 Agustus 2012 at 11:32 - Reply

        UU 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan nampaknya tidak mampu bertahan menghadapi gempuran pembangunan infrastruktur dan kawasan industri.

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on