Bogor, Kompas-Laju penggundulan hutan di Indonesia saat ini 0,45 juta hektar per tahun. Hal ini merupakan penurunan terbesar angka deforestasi yang pernah mencapai 3,5 juta hektar pada tahun 1996-2000. Upaya penurunan dilakukan bertahap. Tahun 2003-2006 terjadi penurunan 1,2 juta hektar.

Yuyu Rahayu, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Kementerian Kehutanan, Senin (23/7), di Bogor, Jawa Barat, mengatakan, penurunan laju deforestasi yang mencapai 675.000 hektar per tahun telah mengerem emisi senilai 489 juta ton karbon. Penurunan laju deforestasi ini didapatkan dari intensifikasi pengelolaan, pemberantasan penebangan kayu ilegal, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

Jika dihitung nilai nominal kayu di lahan 675.000 hektar itu, angkanya bisa Rp 10 triliun. Perhitungannya, luasan itu menghasilkan 20 juta meter kubik kayu jenis terendah yang dihargai Rp 500.000 per meter kubik.

”Ini baru dari nilai kayu. Dari sisi lingkungan, seperti tangkapan air, kehidupan fauna, dan oksigen yang dihasilkan pohon, nilainya tak terkira,” kata Yuyu di sela-sela Workshop Allometric Equation.

Dihitung tersendiri

Yuyu mengatakan, angka emisi 489 juta hektar diperoleh menggunakan penghitungan umum yang disepakati para ahli perubahan iklim di tingkat internasional. Agar hasilnya lebih akurat untuk kondisi hutan Indonesia, Kementarian Kehutanan sedang merumuskan penghitungan tersendiri.

Perhitungan yang melibatkan peneliti biometri lintas kementerian dan perguruan tinggi diarahkan untuk menghitung karbon secara regional berdasarkan aspek geografis dan jenis spesies tanaman. Menurut dia, langkah pemerintah ini untuk menguatkan posisi Indonesia di dunia internasional, salah satunya dalam negosiasi karbon dan iklim.

Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim dan Lingkungan Kementerian Kehutanan Yetty Rusli menyatakan, hasil penghitungan kehutanan juga mendukung komitmen penurunan emisi 26-41 persen karbon. Komitmen ini dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan puncak G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat.

Yetty mengatakan, emisi dari sisi kehutanan hanya 18 persen. Mayoritas (77 persen) emisi berasal dari pembakaran energi fosil. Karena itu, selain penurunan laju deforestasi, diperlukan langkah untuk mengurangi penggunaan energi fosil.

Pelepasan emisi karbon melalui gas karbon dioksida ke udara menyebabkan perubahan iklim di sejumlah negara. Bagi Indonesia yang berbentuk kepulauan dan memiliki pantai sangat luas, perubahan iklim akan signifikan memengaruhi kehidupan masyarakat. (ICH)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/07/24/04592326/laju.deforestasi.ditekan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    2 Comments

    1. fajar yurinto 10 September 2012 at 17:03 - Reply

      Kepada Yth Pusaka,
      saya Fajar-Tangerang. Saya dan teman-teman LSM sedang berusaha ingin membantu upaya reboisasi hutan di Indonesia. Bagaimana langkah konkrit untuk membantu upaya tersebut yang dapat kami lakukan? selain program penanaman hutan di daerah masing-masing..Sedangkan di sisi lain industri minyak kelapa sawit membutuhkan lahan untuk penanaman kelapa sawit, yang telah menyumbang deforestasi terbesar di indonesia beberapa tahun terakhir. Mohon tangggapan saran dan solusi, Terima kasih.

      • Yayasan Pusaka 11 September 2012 at 18:29

        Inisiatif yang baik, saran kami, silahkan menghubungi Departemen Kehutanan maupun Dinas Kehutanan yang mempunyai program reforestasi.Trims

    Leave A Comment Batalkan balasan

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Bogor, Kompas-Laju penggundulan hutan di Indonesia saat ini 0,45 juta hektar per tahun. Hal ini merupakan penurunan terbesar angka deforestasi yang pernah mencapai 3,5 juta hektar pada tahun 1996-2000. Upaya penurunan dilakukan bertahap. Tahun 2003-2006 terjadi penurunan 1,2 juta hektar.

    Yuyu Rahayu, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Kementerian Kehutanan, Senin (23/7), di Bogor, Jawa Barat, mengatakan, penurunan laju deforestasi yang mencapai 675.000 hektar per tahun telah mengerem emisi senilai 489 juta ton karbon. Penurunan laju deforestasi ini didapatkan dari intensifikasi pengelolaan, pemberantasan penebangan kayu ilegal, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

    Jika dihitung nilai nominal kayu di lahan 675.000 hektar itu, angkanya bisa Rp 10 triliun. Perhitungannya, luasan itu menghasilkan 20 juta meter kubik kayu jenis terendah yang dihargai Rp 500.000 per meter kubik.

    ”Ini baru dari nilai kayu. Dari sisi lingkungan, seperti tangkapan air, kehidupan fauna, dan oksigen yang dihasilkan pohon, nilainya tak terkira,” kata Yuyu di sela-sela Workshop Allometric Equation.

    Dihitung tersendiri

    Yuyu mengatakan, angka emisi 489 juta hektar diperoleh menggunakan penghitungan umum yang disepakati para ahli perubahan iklim di tingkat internasional. Agar hasilnya lebih akurat untuk kondisi hutan Indonesia, Kementarian Kehutanan sedang merumuskan penghitungan tersendiri.

    Perhitungan yang melibatkan peneliti biometri lintas kementerian dan perguruan tinggi diarahkan untuk menghitung karbon secara regional berdasarkan aspek geografis dan jenis spesies tanaman. Menurut dia, langkah pemerintah ini untuk menguatkan posisi Indonesia di dunia internasional, salah satunya dalam negosiasi karbon dan iklim.

    Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim dan Lingkungan Kementerian Kehutanan Yetty Rusli menyatakan, hasil penghitungan kehutanan juga mendukung komitmen penurunan emisi 26-41 persen karbon. Komitmen ini dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan puncak G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat.

    Yetty mengatakan, emisi dari sisi kehutanan hanya 18 persen. Mayoritas (77 persen) emisi berasal dari pembakaran energi fosil. Karena itu, selain penurunan laju deforestasi, diperlukan langkah untuk mengurangi penggunaan energi fosil.

    Pelepasan emisi karbon melalui gas karbon dioksida ke udara menyebabkan perubahan iklim di sejumlah negara. Bagi Indonesia yang berbentuk kepulauan dan memiliki pantai sangat luas, perubahan iklim akan signifikan memengaruhi kehidupan masyarakat. (ICH)

    Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/07/24/04592326/laju.deforestasi.ditekan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      2 Comments

      1. fajar yurinto 10 September 2012 at 17:03 - Reply

        Kepada Yth Pusaka,
        saya Fajar-Tangerang. Saya dan teman-teman LSM sedang berusaha ingin membantu upaya reboisasi hutan di Indonesia. Bagaimana langkah konkrit untuk membantu upaya tersebut yang dapat kami lakukan? selain program penanaman hutan di daerah masing-masing..Sedangkan di sisi lain industri minyak kelapa sawit membutuhkan lahan untuk penanaman kelapa sawit, yang telah menyumbang deforestasi terbesar di indonesia beberapa tahun terakhir. Mohon tangggapan saran dan solusi, Terima kasih.

        • Yayasan Pusaka 11 September 2012 at 18:29

          Inisiatif yang baik, saran kami, silahkan menghubungi Departemen Kehutanan maupun Dinas Kehutanan yang mempunyai program reforestasi.Trims

      Leave A Comment Batalkan balasan

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on