5 Juli 2012

Oleh M Final Daeng 

Di Desa Lambakara, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, setiap batang pohon memiliki makna istimewa. Pohon itu menjadi wujud kasih terhadap alam, sekaligus tonggak perekonomian masyarakat.

Dua sisi yang kerap berbenturan, yakni fungsi konservasi dan ekonomi hutan, melebur menjadi suatu keseimbangan di desa itu. Masyarakat menjaga hutan miliknya sebagai upaya pelestarian lingkungan sekaligus memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Tahun 2006, di desa itu lahir Peraturan Desa (Perdes) tentang Penanaman Pohon, Pengawasan, Pengelolaan, dan Pelestarian Hutan Masyarakat. Isinya, antara lain, mewajibkan warga menanam pohon di lahan atau kebun masing-masing. Warga juga dilarang menebang habis semua pohon di lahannya dalam satu kali pemanenan kayu.

Selain itu, setiap memanen pohon warga juga diharuskan menanam bibit lebih banyak atau setidaknya sama dengan jumlah yang ditebangnya. Tidak sampai di situ, urusan tanam-menanam ini juga merasuk hingga kehidupan sosial warga.

Bab IV Perdes itu diberi judul ”Kewajiban Menanam Pohon”. Tiga pasal pada bab itu khusus mengatur kewajiban penanaman sekurang-kurangnya 10 pohon bagi warga yang akan melangsungkan pernikahan, warga yang melahirkan anak, dan warga baru.

”Sampai saat ini aturan itu masih berlaku dan dipatuhi warga,” ujar Abdul Haris Tamburaka, mantan Kepala Desa Lambakara yang menginisiasi perdes itu, pekan lalu.

”Social Forestry”

Pengelolaan hutan secara berkelanjutan dengan basis masyarakat di desa itu dimulai sejak 2003. Saat itu, wilayah Konawe Selatan menjadi sasaran program ”Social Forestry” Departemen Kehutanan. Program itu memberikan pemahaman dan pelatihan kepada warga soal mengelola hutan secara berkelanjutan. Hal itu juga dilatarbelakangi maraknya aktivitas pembalakan liar di wilayah itu.

Lepas program itu, dengan didampingi beberapa lembaga swadaya masyarakat, pada 2004 warga membentuk Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Koperasi itu menaungi pemilik hutan rakyat dari 46 desa di enam kecamatan, termasuk Lambakara.

”Pembentukan koperasi itu bertujuan mengubah pola pikir masyarakat, dari yang tadinya menggantungkan hidup dengan hanya mengambil kayu di hutan menjadi menanam sebanyak mungkin pohon yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Haris, yang menjadi Ketua KHJL hingga tahun 2007.

Hampir setiap warga di Lambakara memiliki lahan hutan milik. Namun, awalnya tidak semua dikelola dengan baik. Ada pula sisa lahan perkebunan, seperti kakao dan jambu mete yang sudah tak produktif. Sejak dibentuknya koperasi dan tumbuhnya kesadaran akan keuntungan mengelola hutan secara berkelanjutan, warga mulai antusias menanam berbagai jenis pohon kayu keras, terutama jati.

Harga jual kayu legal dengan pola berkelanjutan jauh lebih tinggi daripada kayu ilegal. Untuk jati, misalnya, Haris mengatakan, harganya di tingkat petani mencapai Rp 2,75 juta per meter kubik. ”Kalau hasil illegal logging, paling hanya laku Rp 1 juta per meter kubik,” katanya.

Kini, dari luas Desa Lambakara yang mencapai 300 hektar, 80 persennya adalah hutan rakyat yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Selain jati, terdapat pula pohon sengon, biti, dan jabon yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, ada pula yang menanam pohon buah, seperti rambutan, durian, dan sukun.

Karena masa panen pohon-pohon itu terhitung lama, seperti jati yang baru dapat dipanen setelah 15 tahun, warga juga menyelingi lahannya dengan tanaman palawija. ”Ini supaya warga tetap bisa memperoleh hasil jangka pendek sambil menunggu panen kayu,” papar Haris lagi.

Haris kini memiliki lahan hutan seluas 125 hektar yang ditanami 250.000 pohon, sebagian besar jati. Selain motif ekonomi, ia juga membawa misi konservasi dengan turut menanami lahan kritis di bantaran sungai yang melintasi lahannya sepanjang 3 kilometer. Hal itu guna mengurangi laju erosi dan banjir ke permukiman penduduk di hilir sungai.

Seluruh kayu hasil panen anggota dijual ke KHJL yang menerapkan mekanisme lacak balak untuk setiap pohon. Itu guna memastikan asal dan legalitas kayu. KHJL mengantongi sertifikat dari Forest Stewardship Council (FSC) untuk periode 2005-2010 dan 2010-2015. FSC merupakan organisasi nirlaba internasional yang mempromosikan praktik manajemen hutan bertanggung jawab.

KHJL kini memiliki 750 anggota dengan luas lahan hutan rakyat yang dikelola mencapai 1.000 hektar. Pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan juga membawa berkah bagi warga, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja.

Yaman (22), seorang pekerja di lahan Haris, menyatakan bisa menopang hidup orangtua dan adiknya dengan pekerjaan itu. Dalam sehari, ia memperoleh upah Rp 40.000. ”Selepas lulus SMA, mencari kerja susah. Daripada menganggur, saya ikut bekerja mengolah hutan,” katanya. Di Lambakara, manusia dan hutan pun berteman.

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/2012/07/05/0545535/bersahabat.dengan.hutan.di.lambakara

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    5 Juli 2012

    Oleh M Final Daeng 

    Di Desa Lambakara, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, setiap batang pohon memiliki makna istimewa. Pohon itu menjadi wujud kasih terhadap alam, sekaligus tonggak perekonomian masyarakat.

    Dua sisi yang kerap berbenturan, yakni fungsi konservasi dan ekonomi hutan, melebur menjadi suatu keseimbangan di desa itu. Masyarakat menjaga hutan miliknya sebagai upaya pelestarian lingkungan sekaligus memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

    Tahun 2006, di desa itu lahir Peraturan Desa (Perdes) tentang Penanaman Pohon, Pengawasan, Pengelolaan, dan Pelestarian Hutan Masyarakat. Isinya, antara lain, mewajibkan warga menanam pohon di lahan atau kebun masing-masing. Warga juga dilarang menebang habis semua pohon di lahannya dalam satu kali pemanenan kayu.

    Selain itu, setiap memanen pohon warga juga diharuskan menanam bibit lebih banyak atau setidaknya sama dengan jumlah yang ditebangnya. Tidak sampai di situ, urusan tanam-menanam ini juga merasuk hingga kehidupan sosial warga.

    Bab IV Perdes itu diberi judul ”Kewajiban Menanam Pohon”. Tiga pasal pada bab itu khusus mengatur kewajiban penanaman sekurang-kurangnya 10 pohon bagi warga yang akan melangsungkan pernikahan, warga yang melahirkan anak, dan warga baru.

    ”Sampai saat ini aturan itu masih berlaku dan dipatuhi warga,” ujar Abdul Haris Tamburaka, mantan Kepala Desa Lambakara yang menginisiasi perdes itu, pekan lalu.

    ”Social Forestry”

    Pengelolaan hutan secara berkelanjutan dengan basis masyarakat di desa itu dimulai sejak 2003. Saat itu, wilayah Konawe Selatan menjadi sasaran program ”Social Forestry” Departemen Kehutanan. Program itu memberikan pemahaman dan pelatihan kepada warga soal mengelola hutan secara berkelanjutan. Hal itu juga dilatarbelakangi maraknya aktivitas pembalakan liar di wilayah itu.

    Lepas program itu, dengan didampingi beberapa lembaga swadaya masyarakat, pada 2004 warga membentuk Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Koperasi itu menaungi pemilik hutan rakyat dari 46 desa di enam kecamatan, termasuk Lambakara.

    ”Pembentukan koperasi itu bertujuan mengubah pola pikir masyarakat, dari yang tadinya menggantungkan hidup dengan hanya mengambil kayu di hutan menjadi menanam sebanyak mungkin pohon yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Haris, yang menjadi Ketua KHJL hingga tahun 2007.

    Hampir setiap warga di Lambakara memiliki lahan hutan milik. Namun, awalnya tidak semua dikelola dengan baik. Ada pula sisa lahan perkebunan, seperti kakao dan jambu mete yang sudah tak produktif. Sejak dibentuknya koperasi dan tumbuhnya kesadaran akan keuntungan mengelola hutan secara berkelanjutan, warga mulai antusias menanam berbagai jenis pohon kayu keras, terutama jati.

    Harga jual kayu legal dengan pola berkelanjutan jauh lebih tinggi daripada kayu ilegal. Untuk jati, misalnya, Haris mengatakan, harganya di tingkat petani mencapai Rp 2,75 juta per meter kubik. ”Kalau hasil illegal logging, paling hanya laku Rp 1 juta per meter kubik,” katanya.

    Kini, dari luas Desa Lambakara yang mencapai 300 hektar, 80 persennya adalah hutan rakyat yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Selain jati, terdapat pula pohon sengon, biti, dan jabon yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, ada pula yang menanam pohon buah, seperti rambutan, durian, dan sukun.

    Karena masa panen pohon-pohon itu terhitung lama, seperti jati yang baru dapat dipanen setelah 15 tahun, warga juga menyelingi lahannya dengan tanaman palawija. ”Ini supaya warga tetap bisa memperoleh hasil jangka pendek sambil menunggu panen kayu,” papar Haris lagi.

    Haris kini memiliki lahan hutan seluas 125 hektar yang ditanami 250.000 pohon, sebagian besar jati. Selain motif ekonomi, ia juga membawa misi konservasi dengan turut menanami lahan kritis di bantaran sungai yang melintasi lahannya sepanjang 3 kilometer. Hal itu guna mengurangi laju erosi dan banjir ke permukiman penduduk di hilir sungai.

    Seluruh kayu hasil panen anggota dijual ke KHJL yang menerapkan mekanisme lacak balak untuk setiap pohon. Itu guna memastikan asal dan legalitas kayu. KHJL mengantongi sertifikat dari Forest Stewardship Council (FSC) untuk periode 2005-2010 dan 2010-2015. FSC merupakan organisasi nirlaba internasional yang mempromosikan praktik manajemen hutan bertanggung jawab.

    KHJL kini memiliki 750 anggota dengan luas lahan hutan rakyat yang dikelola mencapai 1.000 hektar. Pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan juga membawa berkah bagi warga, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja.

    Yaman (22), seorang pekerja di lahan Haris, menyatakan bisa menopang hidup orangtua dan adiknya dengan pekerjaan itu. Dalam sehari, ia memperoleh upah Rp 40.000. ”Selepas lulus SMA, mencari kerja susah. Daripada menganggur, saya ikut bekerja mengolah hutan,” katanya. Di Lambakara, manusia dan hutan pun berteman.

    Sumber:

    http://cetak.kompas.com/read/2012/07/05/0545535/bersahabat.dengan.hutan.di.lambakara

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on