Kamis, 5 Juli 2012

(Analisa/zainal abidin). Ribuan massa yang tergabung dalam Komite Tani Menggugat Serdang Bedagai dengan memajangkan berbagai poster serta menyampaikan orasi di depan kantor BPN Sergai di Jalan Negara Desa Firdaus Kecamatan Sei Rampah, Serdang Bedagai, Senin (2/7) untuk mendesak BPN Sergai agar kasus tanah di Sergai diselesaikan.

Sei Rampah, (Analisa). Ribuan massa yang tergabung dari 12 kelompok tani dengan menggunakan bus dan pick-up melakukan unjukrasa di kantor DPRD dan BPN Sergai di Jalan Negara Desa Firdaus Kecamatan Sei Rampah, Sergai, Senin (2/7). Mereka membawa spanduk dan keranda mayat sebagai simbol matinya keadilan.

Pantauan wartawan kehadiran massa dikawal personil Polres Sergai dan Tebing Tinggi. Mereka yang tergabung dalam Komite Tani Menggugat Serdang Bedagai berasal dari beberapa kelompok di antaranya, Badan Perjuangan Masyarakat Pergulaan (BPMP), Kelompok Tani Bandar Rejo Bersatu Naga Kesiangan,Rakyat Menggugat Perampasan Tanah Silau Rakyat.

Selain itu, Organisasi Tani Maju Bersama Sinangkong, Reformasi Karya Sejati Penggalian, Barak Bersatu Pamela dan Serba Jahe Naga Tongah Sihorahora.

Pertama sekali massa mendatangi kantor DPRD Sergai dan meminta bertemu dengan Ketua DPRD. Akan tetapi mereka tidak berhasil, soalnya ketua dewan tidak berada di lokasi. Massa melakukan orasi dengan menggunakan pengeras suara di atas pick-up.

Setelah setengah jam berorasi, massa bergerak mendatangi kantor BPN Sergai yang berjarak satu kilometer lebih dengan pengawalan polisi bersama sejumlah anggota DPRD Sergai.

Di halaman kantor BPN Sergai massa kembali berorasi secara bergantian oleh masing masing ketua kelompok tani. Dalam orasi tersebut mereka mengungkapkan, BPN Sergai merupakan akar sumber masalah pertanahan dan sarang korupsi sembari membentang spanduk, poster dan meletakkan keranda mayat di depan Kasubag TU BPN Sergai Rosmaida Br Gultom dan beberapa stafnya.

Sekitar tiga jam berorasi perwakilan kelompok tani diterima Rosmaida Br Gultom dan berdialog di aula BPN dengan disaksikan Kapolres Sergai AKBP Arif Budiman SIK MH dan Kapolres Tebing Tinggi AKBP Andi Rian.

Dalam pernyataannya koordinator aksi Wendi Hutabarat meminta BPN Sergai menyelesaikan kasus tanah yang disampaikan dengan memberi waktu sepekan. Jika tidak diselesaikan, maka akan terjadi aksi pendudukan terhadap lahan yang sengketa, sambung Suwarno.

Usai melakukan dialog koordinator aksi Wendi Hutabarat bersama massa lainnya bergerak pulang ke daerah mereka masing-masing dengan tertib dan damai,walaupun ada beberapa massa dari mereka hingga sore hari masih bertahan di kantor BPN Sergai. (bah)

Sumber:

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/07/05/61037/ribuan_petani_datangi_dprd_dan_bpn_sergai_minta_tuntaskan_kasus_tanah/#.T_UwHWhpsb0

Kamis, 28 Juni 2012

JAKARTA, KOMPAS.com – Terkait penembakan dan kekerasan yang terjadi di Papua, Pendeta Benny Giay, yang ikut dalam aksi ‘bakar lilin’ di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (28/6/2012), mengatakan kondisi di tanah Papua memperihatinkan. Ia kemudian meminta agar pelaku penembakan dan pelanggar HAM di Papua diadili.

“Papua yang ada sekarang ini seperti ‘neraka’. Impian kami ini untuk Papua yang aman. Pikiran dasarnya, kami ingin hidup lebih baik. Tetapi harapan itu tidak pernah terpenuhi,” ujar Benny.

Menurutnya, kondisi Papua saat ini dalam keadaan tertekan, terutama dengan adanya aksi kekerasan dan penembakan yang terjadi di Papua. Ia menilai pemerintah berlaku tidak adil terhadap masyarakat Papua.

“Kami melihat pemerintah memainkan kaset lama, lagu lama. Semua gerakan masyarakan dilihat sebagai bentuk perjuangan sparatis. Masyarakat Papua seperti warga ‘kelas dua’,” ujar Benny.

Sementara itu, Dorus Wakum (40) mantan aktivis kontras Papua, menyesalkan peristiwa kekerasan dan penembakan yang terjadi di Papua. “Sebenarnya kalau soal penembakan sudah banyak oleh aparat Polri dan TNI atas nama NKRI. Manusia ini dibunuh atas nama NKRI dan atas nama papua merdeka (OPM) ini omong kosong,” ujar Dorus.

Ia mengharapkan kekerasan dan penembakan yang terjadi, segera di hentikan. Pemerintah pun, sambungnya, harus mengetahui letak permasalahan yang terjadi di Papua.

“Saya berharap adanya dialog, dengan begitu saya rasa tidak ada persoalan yang tidak bisa diatasi. Negara harus berinisiatif. Negara harus hadir. Saya minta atas nama masyarakat Papua, Presiden hadir, kalau perlu berkantor di tanah Papua,” tegas Dorus.

Seperti diberitakan sebelumnya, massa yang tergabung dari berbagai aliansi, melakukan aksi ‘bakar lilin’ menuntut demokrasi di Papua dan meminta konflik ‘senjata’ serta kekerasan di Papua tidak terulang. Dalam aksi itu juga dilakukan penyalaan lilin oleh pendeta Benny, yang dikatakannya sebagai simbol cahaya rakyat Papua yang tidak akan pernah padam pada 250 suku yang ada di papua.

Massa juga kemudian menyayikan beberapa lagu dan menarikan tarian ‘yospan’ khas Papua.

Editor : Pepih Nugraha

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/06/28/22324568/Marak.Penembakan.Papua.Sudah.Seperti.Neraka

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kamis, 5 Juli 2012

    (Analisa/zainal abidin). Ribuan massa yang tergabung dalam Komite Tani Menggugat Serdang Bedagai dengan memajangkan berbagai poster serta menyampaikan orasi di depan kantor BPN Sergai di Jalan Negara Desa Firdaus Kecamatan Sei Rampah, Serdang Bedagai, Senin (2/7) untuk mendesak BPN Sergai agar kasus tanah di Sergai diselesaikan.

    Sei Rampah, (Analisa). Ribuan massa yang tergabung dari 12 kelompok tani dengan menggunakan bus dan pick-up melakukan unjukrasa di kantor DPRD dan BPN Sergai di Jalan Negara Desa Firdaus Kecamatan Sei Rampah, Sergai, Senin (2/7). Mereka membawa spanduk dan keranda mayat sebagai simbol matinya keadilan.

    Pantauan wartawan kehadiran massa dikawal personil Polres Sergai dan Tebing Tinggi. Mereka yang tergabung dalam Komite Tani Menggugat Serdang Bedagai berasal dari beberapa kelompok di antaranya, Badan Perjuangan Masyarakat Pergulaan (BPMP), Kelompok Tani Bandar Rejo Bersatu Naga Kesiangan,Rakyat Menggugat Perampasan Tanah Silau Rakyat.

    Selain itu, Organisasi Tani Maju Bersama Sinangkong, Reformasi Karya Sejati Penggalian, Barak Bersatu Pamela dan Serba Jahe Naga Tongah Sihorahora.

    Pertama sekali massa mendatangi kantor DPRD Sergai dan meminta bertemu dengan Ketua DPRD. Akan tetapi mereka tidak berhasil, soalnya ketua dewan tidak berada di lokasi. Massa melakukan orasi dengan menggunakan pengeras suara di atas pick-up.

    Setelah setengah jam berorasi, massa bergerak mendatangi kantor BPN Sergai yang berjarak satu kilometer lebih dengan pengawalan polisi bersama sejumlah anggota DPRD Sergai.

    Di halaman kantor BPN Sergai massa kembali berorasi secara bergantian oleh masing masing ketua kelompok tani. Dalam orasi tersebut mereka mengungkapkan, BPN Sergai merupakan akar sumber masalah pertanahan dan sarang korupsi sembari membentang spanduk, poster dan meletakkan keranda mayat di depan Kasubag TU BPN Sergai Rosmaida Br Gultom dan beberapa stafnya.

    Sekitar tiga jam berorasi perwakilan kelompok tani diterima Rosmaida Br Gultom dan berdialog di aula BPN dengan disaksikan Kapolres Sergai AKBP Arif Budiman SIK MH dan Kapolres Tebing Tinggi AKBP Andi Rian.

    Dalam pernyataannya koordinator aksi Wendi Hutabarat meminta BPN Sergai menyelesaikan kasus tanah yang disampaikan dengan memberi waktu sepekan. Jika tidak diselesaikan, maka akan terjadi aksi pendudukan terhadap lahan yang sengketa, sambung Suwarno.

    Usai melakukan dialog koordinator aksi Wendi Hutabarat bersama massa lainnya bergerak pulang ke daerah mereka masing-masing dengan tertib dan damai,walaupun ada beberapa massa dari mereka hingga sore hari masih bertahan di kantor BPN Sergai. (bah)

    Sumber:

    http://www.analisadaily.com/news/read/2012/07/05/61037/ribuan_petani_datangi_dprd_dan_bpn_sergai_minta_tuntaskan_kasus_tanah/#.T_UwHWhpsb0

    Kamis, 28 Juni 2012

    JAKARTA, KOMPAS.com – Terkait penembakan dan kekerasan yang terjadi di Papua, Pendeta Benny Giay, yang ikut dalam aksi ‘bakar lilin’ di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (28/6/2012), mengatakan kondisi di tanah Papua memperihatinkan. Ia kemudian meminta agar pelaku penembakan dan pelanggar HAM di Papua diadili.

    “Papua yang ada sekarang ini seperti ‘neraka’. Impian kami ini untuk Papua yang aman. Pikiran dasarnya, kami ingin hidup lebih baik. Tetapi harapan itu tidak pernah terpenuhi,” ujar Benny.

    Menurutnya, kondisi Papua saat ini dalam keadaan tertekan, terutama dengan adanya aksi kekerasan dan penembakan yang terjadi di Papua. Ia menilai pemerintah berlaku tidak adil terhadap masyarakat Papua.

    “Kami melihat pemerintah memainkan kaset lama, lagu lama. Semua gerakan masyarakan dilihat sebagai bentuk perjuangan sparatis. Masyarakat Papua seperti warga ‘kelas dua’,” ujar Benny.

    Sementara itu, Dorus Wakum (40) mantan aktivis kontras Papua, menyesalkan peristiwa kekerasan dan penembakan yang terjadi di Papua. “Sebenarnya kalau soal penembakan sudah banyak oleh aparat Polri dan TNI atas nama NKRI. Manusia ini dibunuh atas nama NKRI dan atas nama papua merdeka (OPM) ini omong kosong,” ujar Dorus.

    Ia mengharapkan kekerasan dan penembakan yang terjadi, segera di hentikan. Pemerintah pun, sambungnya, harus mengetahui letak permasalahan yang terjadi di Papua.

    “Saya berharap adanya dialog, dengan begitu saya rasa tidak ada persoalan yang tidak bisa diatasi. Negara harus berinisiatif. Negara harus hadir. Saya minta atas nama masyarakat Papua, Presiden hadir, kalau perlu berkantor di tanah Papua,” tegas Dorus.

    Seperti diberitakan sebelumnya, massa yang tergabung dari berbagai aliansi, melakukan aksi ‘bakar lilin’ menuntut demokrasi di Papua dan meminta konflik ‘senjata’ serta kekerasan di Papua tidak terulang. Dalam aksi itu juga dilakukan penyalaan lilin oleh pendeta Benny, yang dikatakannya sebagai simbol cahaya rakyat Papua yang tidak akan pernah padam pada 250 suku yang ada di papua.

    Massa juga kemudian menyayikan beberapa lagu dan menarikan tarian ‘yospan’ khas Papua.

    Editor : Pepih Nugraha

    Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/06/28/22324568/Marak.Penembakan.Papua.Sudah.Seperti.Neraka

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on