Oleh Pietsau Amafnini

LSM GEMAPALA di Fakfak, mempunyai pengalaman dalam mendorong dan memfasilitasi masyarakat adat di kabupaten Fakfak terkait pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan. Djemris Nikolas Imunuplatia Direktur GEMAPALA menyatakan bahwa sejak tahun 2010, pihaknya telah berupaya mendorong sistem pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan di Kampung Baru, Distrik Kokas. Sampai saat ini, kondisi hutan di Kampung Baru masih alami.

Masyarakat adat di Kokas cukup antusias dengan program pelestarian hutan. Program ini tidak hanya diikuti oleh laki-laki, tetapi juga kaum perempuan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang difasilitasi oleh GEMAPALA, seperti yang banyak ditemukan di kampung di Distrik Kokas dan distrik lainnya.

Di Kampung Baru, kaum perempuan yang justru menjadi penggerak dan pendorong pengelolaan hutan lestari. Nama penggerak mama-mama di Kampung Baru, Kokas, antara lain: mama Ambarwati Iribaram, Fatmawati Patiran, Halima Heremba, Hawa Aheek, Rano Geramatan, Lasta Heremba, Semi Sulastri, Patisan Kuda, Norma Heremba, Binti Patiran, Atika Ginuni, Sumia Aheek, Bonega Iha.

Kaum perempuan mempunyai program alternatif di bidang pertanian dan kehutanan yakni menanam pala, yang diusahakan secara bersama melalui Kelompok Usaha Bersama. Saat ini, mereka membutuhkan dukungan untuk pembibitan, penanaman dan pemeliharaan. Mereka mengharapkan ada tenaga penyuluh kehutanan yang ditugaskan oleh dinas untuk mendampingi masyarakat dan juga melibatkan LSM, serta masyarakat adat sebagai pemilik hak atas hutan.

Kaum perempuan merekomendasikan supaya Kampung Baru dijadikan kampung percontohan yang mampu melestarikan hutan. Mereka meminta perhatian Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Fakfak, untuk mendukung dan memfasilitasi pengelolaan hutan lestari dan berkelanjutan di seluruh kabupaten Fakfak, serta bekerjasama dengan perusahaan dan masyarakat adat, khususnya kaum perempuan.

Usaha Bersama Mama-mama

Kelompok usaha bersama mama-mama papua di Kampung Baru sebenarnya sudah ada sejak tahun 2005 dengan nama Kelompok Arisan Henggi (bhs. Baham/onim: pala). Pada  tahun 2007, Gemapala mulai dengan assessment awal. Pada tahun 2008, terjadi pembaruan nama kelompok menjadi Kelompok Syangga (bhs. Lokal: Cenderawasih) dan bertujuan untuk ke KSP (Kelompok Simpan Pinjam), bernama KSP Syangga, dengan jumlah anggota 18 orang ibu rumah tangga.

Melalui KSP Syangga, Gemapala melakukan kegiatan pelatihan untuk penguatan kapasitas mama-mama, terutama di bidang manejemen koperasi, menejemen usaha dan mengelola hutan secara lestari. Gemapala juga memfasilitasi dan mendorong KSP Syangga untuk dapat mendanai diri sendiri melalui usaha ekonomi rumah tangga dan usaha simpan pinjam.

Bisnis simpan pinjam, dengan pinjaman pokok Rp. 50,000 dan simpanan wajib Rp. 10,000. Dalam kredit/pinjaman, bunga yang disepakati 4% per bulan. Bunga ini juga dimaksudkan untuk membiayai operasional KSP dan juga menjamin pengurusnya. Anggota kelompok memberlakukan model arisan kerja bersamaan dengan arisan kebun dengan pembebanan biaya untuk kas 10% dari pendapatan itu. Arisan uang diawali dengan per anggota sebesar Rp. 5.000, sekarang sudah naik menjadi Rp. 10,000. Dalam proses ini, bukan hanya soal nilai uang arisan, tetapi semangat silaturahmi, kebersamaan dan saling mendukung untuk maju bersama.

Bisnis ini telah berkembang, pada akhir tahun 2008 jumah anggota KSP sebanyak 36 anggota dan pada akhir tahun 2009, anggota meningkat menjadi 44 orang. Dana yang sudah dikumpulkan KSP, dari Rp. 12 juta meningkat  mencapai Rp. 20 juta. KSP juga mempunyai mekanisme pertemuan rutin keanggotaan yang dilakukan setiap bulan 2 kali (tgl 15 dan 30 dalam bulan berjalan). Dalam pertemuan mereka sharing tentang bagaimana meningkatkan usaha dan keanggotaan mereka.

Saat ini (2012), anggota KSP Syangga sudah mencapai 74 orang. KSP Syangga sudah bisa melayani pinjaman anggota mencapai sebesar Rp. 3,000,000. Modal yang diolah hingga saat ini sudah mencapai Rp. 50,000,000. Semua anggota mempunyai buku tabungan KSP dengan biaya administrasi Rp. 5,000. Setiap anggota mempunyai simpanan pokok, simpanan wajib (3 bulan sekali) dan simpanan sukarela. Tidak ada pembebanan biaya administrasi. Banyak anak-anak juga ikut menabung di KSP, tidak ada pembebanan biaya administrasi. Namun dengan menabung di KSP, uang pribadi dapat tersimpan dan sewaktu-waktu diambil untuk kebutuhan dengan status pinjam, tanpa bunga. Karena tabungan di KSP tidak ada bunga modal selayaknya perbankan. KSP hanya bersedia mengamankan uang pribadi dari setiap anggota.

Tahun 2010, PNPM-Mandiri program pertanian masuk ke Kampung Baru dan memfasilitasi masyarakat dengan dana proyek PNPM yang juga pengurusnya adalah KSP Syangga. PNPM juga mengembangkan koperasi simpan pinjam dengan bunga 2%, tetapi kemudian hal ini dilihat sebagai upaya mematikan kemandirian KSP Syangga. Pernah terjadi konflik, perselisihan, tetapi setelah mereka ketahui bahwa biangnya ternyata adalah PNPM, maka mereka membuat keputusan bersama kepala desa setempat untuk menolak program PNPM di Kampung Baru, kecuali pembangunan fisik. Akhirnya, KSP Syangga milik mama-mama Fakfak di Kampung Baru, dapat berjalan normal kembali.

Jemris, Direktur Gemapala menyatakan bahwa tindakan yang diambil oleh mama-mama melalui musyawarah yang menghentikan intervensi PNPM adalah jalan terbaik, karena semestinya kemandirian masyarakat yang sudah ada itu yang didukung, bukannya malah membangun kekuatan tandingan bagi mereka.

Kota Pala

Masyarakat di Kampung Baru, kebanyakan berkebun dan berladang. Salah satu hasil hutan dan kebun tanaman yang menjadi andalan masyarakat adalah buah Pala yang hasilnya dipanen saat bulan September dan Oktober. Mama-mama anggota KSP Syangga terlibat dalam usaha kebun  dan pengelolaan buah pala, yang menjadi sumber pendapatan masyarakat di Kampung Baru.

Usaha pala dapat menjanjikan peningkatan pendapatan masyarakat asalkan dikelola dengan baik. Pala bisa diperdagangkan bunga dan biji serta daging buahnya (untuk bahan jadi manisan). Di sini perlu manejemen pengelolaan dan pemasaran yang bisa mengatur kapan saatnya mempengaruhi pasar, sehingga harga dapat ditentukan oleh masyarakat sendiri. Selanjutnya, sekedar promosi, daya tarik ‘Kota Pala’ sangat kuat, karena keindahan alamnya, harumnya aroma bunga pala, lezatnya bumbu buah pala. Soal keharmonisan kehidupan sosial di ‘Kota Pala’ ini, orang bilang ‘semanis daging pala’.***

Pietsaw, Koordinator JASOIL Tanah Papua, Juli 2012

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    One Comment

    1. Joko Waluyo 5 Agustus 2012 at 11:31 - Reply

      Sistem “ijon” semakin marak dalam praktik usaha tani pala di Fakfak.

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh Pietsau Amafnini

    LSM GEMAPALA di Fakfak, mempunyai pengalaman dalam mendorong dan memfasilitasi masyarakat adat di kabupaten Fakfak terkait pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan. Djemris Nikolas Imunuplatia Direktur GEMAPALA menyatakan bahwa sejak tahun 2010, pihaknya telah berupaya mendorong sistem pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan di Kampung Baru, Distrik Kokas. Sampai saat ini, kondisi hutan di Kampung Baru masih alami.

    Masyarakat adat di Kokas cukup antusias dengan program pelestarian hutan. Program ini tidak hanya diikuti oleh laki-laki, tetapi juga kaum perempuan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang difasilitasi oleh GEMAPALA, seperti yang banyak ditemukan di kampung di Distrik Kokas dan distrik lainnya.

    Di Kampung Baru, kaum perempuan yang justru menjadi penggerak dan pendorong pengelolaan hutan lestari. Nama penggerak mama-mama di Kampung Baru, Kokas, antara lain: mama Ambarwati Iribaram, Fatmawati Patiran, Halima Heremba, Hawa Aheek, Rano Geramatan, Lasta Heremba, Semi Sulastri, Patisan Kuda, Norma Heremba, Binti Patiran, Atika Ginuni, Sumia Aheek, Bonega Iha.

    Kaum perempuan mempunyai program alternatif di bidang pertanian dan kehutanan yakni menanam pala, yang diusahakan secara bersama melalui Kelompok Usaha Bersama. Saat ini, mereka membutuhkan dukungan untuk pembibitan, penanaman dan pemeliharaan. Mereka mengharapkan ada tenaga penyuluh kehutanan yang ditugaskan oleh dinas untuk mendampingi masyarakat dan juga melibatkan LSM, serta masyarakat adat sebagai pemilik hak atas hutan.

    Kaum perempuan merekomendasikan supaya Kampung Baru dijadikan kampung percontohan yang mampu melestarikan hutan. Mereka meminta perhatian Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Fakfak, untuk mendukung dan memfasilitasi pengelolaan hutan lestari dan berkelanjutan di seluruh kabupaten Fakfak, serta bekerjasama dengan perusahaan dan masyarakat adat, khususnya kaum perempuan.

    Usaha Bersama Mama-mama

    Kelompok usaha bersama mama-mama papua di Kampung Baru sebenarnya sudah ada sejak tahun 2005 dengan nama Kelompok Arisan Henggi (bhs. Baham/onim: pala). Pada  tahun 2007, Gemapala mulai dengan assessment awal. Pada tahun 2008, terjadi pembaruan nama kelompok menjadi Kelompok Syangga (bhs. Lokal: Cenderawasih) dan bertujuan untuk ke KSP (Kelompok Simpan Pinjam), bernama KSP Syangga, dengan jumlah anggota 18 orang ibu rumah tangga.

    Melalui KSP Syangga, Gemapala melakukan kegiatan pelatihan untuk penguatan kapasitas mama-mama, terutama di bidang manejemen koperasi, menejemen usaha dan mengelola hutan secara lestari. Gemapala juga memfasilitasi dan mendorong KSP Syangga untuk dapat mendanai diri sendiri melalui usaha ekonomi rumah tangga dan usaha simpan pinjam.

    Bisnis simpan pinjam, dengan pinjaman pokok Rp. 50,000 dan simpanan wajib Rp. 10,000. Dalam kredit/pinjaman, bunga yang disepakati 4% per bulan. Bunga ini juga dimaksudkan untuk membiayai operasional KSP dan juga menjamin pengurusnya. Anggota kelompok memberlakukan model arisan kerja bersamaan dengan arisan kebun dengan pembebanan biaya untuk kas 10% dari pendapatan itu. Arisan uang diawali dengan per anggota sebesar Rp. 5.000, sekarang sudah naik menjadi Rp. 10,000. Dalam proses ini, bukan hanya soal nilai uang arisan, tetapi semangat silaturahmi, kebersamaan dan saling mendukung untuk maju bersama.

    Bisnis ini telah berkembang, pada akhir tahun 2008 jumah anggota KSP sebanyak 36 anggota dan pada akhir tahun 2009, anggota meningkat menjadi 44 orang. Dana yang sudah dikumpulkan KSP, dari Rp. 12 juta meningkat  mencapai Rp. 20 juta. KSP juga mempunyai mekanisme pertemuan rutin keanggotaan yang dilakukan setiap bulan 2 kali (tgl 15 dan 30 dalam bulan berjalan). Dalam pertemuan mereka sharing tentang bagaimana meningkatkan usaha dan keanggotaan mereka.

    Saat ini (2012), anggota KSP Syangga sudah mencapai 74 orang. KSP Syangga sudah bisa melayani pinjaman anggota mencapai sebesar Rp. 3,000,000. Modal yang diolah hingga saat ini sudah mencapai Rp. 50,000,000. Semua anggota mempunyai buku tabungan KSP dengan biaya administrasi Rp. 5,000. Setiap anggota mempunyai simpanan pokok, simpanan wajib (3 bulan sekali) dan simpanan sukarela. Tidak ada pembebanan biaya administrasi. Banyak anak-anak juga ikut menabung di KSP, tidak ada pembebanan biaya administrasi. Namun dengan menabung di KSP, uang pribadi dapat tersimpan dan sewaktu-waktu diambil untuk kebutuhan dengan status pinjam, tanpa bunga. Karena tabungan di KSP tidak ada bunga modal selayaknya perbankan. KSP hanya bersedia mengamankan uang pribadi dari setiap anggota.

    Tahun 2010, PNPM-Mandiri program pertanian masuk ke Kampung Baru dan memfasilitasi masyarakat dengan dana proyek PNPM yang juga pengurusnya adalah KSP Syangga. PNPM juga mengembangkan koperasi simpan pinjam dengan bunga 2%, tetapi kemudian hal ini dilihat sebagai upaya mematikan kemandirian KSP Syangga. Pernah terjadi konflik, perselisihan, tetapi setelah mereka ketahui bahwa biangnya ternyata adalah PNPM, maka mereka membuat keputusan bersama kepala desa setempat untuk menolak program PNPM di Kampung Baru, kecuali pembangunan fisik. Akhirnya, KSP Syangga milik mama-mama Fakfak di Kampung Baru, dapat berjalan normal kembali.

    Jemris, Direktur Gemapala menyatakan bahwa tindakan yang diambil oleh mama-mama melalui musyawarah yang menghentikan intervensi PNPM adalah jalan terbaik, karena semestinya kemandirian masyarakat yang sudah ada itu yang didukung, bukannya malah membangun kekuatan tandingan bagi mereka.

    Kota Pala

    Masyarakat di Kampung Baru, kebanyakan berkebun dan berladang. Salah satu hasil hutan dan kebun tanaman yang menjadi andalan masyarakat adalah buah Pala yang hasilnya dipanen saat bulan September dan Oktober. Mama-mama anggota KSP Syangga terlibat dalam usaha kebun  dan pengelolaan buah pala, yang menjadi sumber pendapatan masyarakat di Kampung Baru.

    Usaha pala dapat menjanjikan peningkatan pendapatan masyarakat asalkan dikelola dengan baik. Pala bisa diperdagangkan bunga dan biji serta daging buahnya (untuk bahan jadi manisan). Di sini perlu manejemen pengelolaan dan pemasaran yang bisa mengatur kapan saatnya mempengaruhi pasar, sehingga harga dapat ditentukan oleh masyarakat sendiri. Selanjutnya, sekedar promosi, daya tarik ‘Kota Pala’ sangat kuat, karena keindahan alamnya, harumnya aroma bunga pala, lezatnya bumbu buah pala. Soal keharmonisan kehidupan sosial di ‘Kota Pala’ ini, orang bilang ‘semanis daging pala’.***

    Pietsaw, Koordinator JASOIL Tanah Papua, Juli 2012

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      One Comment

      1. Joko Waluyo 5 Agustus 2012 at 11:31 - Reply

        Sistem “ijon” semakin marak dalam praktik usaha tani pala di Fakfak.

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on