Markas Polisi Dikepung Massa: Warga Menuntut Pelaku Penjarahan Sawit Dilepas

0
359

Jumat, 10 Agustus 2012

Pekanbaru, Kompas – Sekitar 100 warga Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (9/8), mengepung Markas Kepolisian Resor Kampar. Mereka menuntut agar lima warga desa yang ditahan atas tuduhan menjarah kelapa sawit secara ilegal dibebaskan.

Kedatangan warga bertahap sejak Rabu malam. Awalnya hanya belasan warga, semakin malam jumlahnya terus bertambah. Pada Kamis pagi, rombongan warga yang datang ke markas polres di Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar, kian besar.

Alwi Arifin, tokoh masyarakat Desa Senama Nenek, mengatakan, warga menilai, penahanan terhadap lima orang yang dituduh mencuri kelapa sawit tidak berdasar. ”Mereka hanya mengambil kelapa sawit di lahan yang dirampas oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V,” kata Alwi.

Setelah bertemu dengan Kepala Polres Kampar Ajun Komisaris Besar Trio Santoso, akhirnya aparat mempertimbangkan penangguhan penahanan kelima warga tersebut.

Kisruh ini berawal Rabu lalu ketika ratusan warga Senama Nenek memanen secara paksa kelapa sawit di atas lahan yang disengketakan warga dengan PTPN V. Jumlah yang dipanen diperkirakan mencapai 25 ton.

Warga beralasan, pemanenan paksa merupakan wujud kekecewaan warga kepada pemerintah setempat yang tidak membantu penyelesaian konflik lahan. Konflik sudah berlangsung 17 tahun.

Pada Rabu malam, polisi menangkap lima warga yang dianggap sebagai dalang pemanenan paksa itu. Tindakan penangkapan tersebut menuai kemarahan warga sehingga akhirnya mereka mengepung markas polres.

Trio Santoso, seusai pertemuan dengan warga, mengungkapkan, pihaknya tetap akan memproses hukum lima warga Senama Nenek yang ditangkap itu. Namun, dia akan mempertimbangkan menangguhkan penahanan itu begitu proses pemeriksaan selesai dilakukan.

Setelah pertemuan itu, Kamis siang, warga berangsur-angsur meninggalkan halaman markas polres untuk kembali ke desa mereka yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Bangkinang.

Secara terpisah, Kepala Bagian Humas PTPN V F Panjaitan mengatakan, pihaknya juga menginginkan penyelesaian sengketa yang telah berlarut-larut itu.

Berdasarkan keterangan yang beredar, PTPN V memiliki lahan seluas 30.000 hektar di Desa Senama Nenek. Seluruh lahan itu sudah ditanami kelapa sawit. Sekitar 27.200 hektar dari total areal sudah memiliki sertifikat hak guna usaha. Namun, 2.800 hektar lainnya masih dipersengketakan warga.

Markas polsek dirusak

Dari Jawa Timur diwartakan, sekitar 200 warga Desa Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Rabu malam, merusak kantor Kepolisian Sektor Ranuyoso. Massa marah karena polisi diduga melepaskan seorang terduga penadah sapi curian yang sebelumnya ditangkap warga. Massa memecahkan ruangan serta merusak meja dan kursi di polsek itu.

”Warga hanya ingin menanyakan, kenapa tersangka penadah sapi curian yang sehari sebelumnya ditangkap dan diserahkan warga ke Polsek Ranuyoso ternyata hari itu dilepaskan lagi oleh polisi,” ujar Camat Ranuyoso Basuni, Kamis.

Kepala Polres Lumajang Ajun Komisaris Besar Susanto menuturkan, tim Kepolisian Daerah Jawa Timur yang terdiri dari tim Profesi dan Pengamanan serta Direktorat Reserse Kriminal Umum sudah diturunkan ke Lumajang untuk menyelidiki kasus tersebut. (SAH/DIA)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/08/10/03081936/.markas..polisi.dikepung.massa