Masyarakat pesisir disekitar kawasan hutan Kampung Siwosawo dan Kampung Simiei, Distrik Kuriwamesa, Kabupaten Teluk Wondama, resah oleh ulah perusahaan kayu PT. Sinar Wijaya, asal Jakarta, yang melakukan penebangan kayu di wilayah ulayat warga Kampung Siwosawo tanpa ada persetujuan dan kesepakatan dengan masyarakat setempat.

Yakob Imburi, tokoh masyarakat setempat dari Suku Imburi, saat dihubungi tadi malam (11/8), mengatakan, “Kami sudah tegaskan dalam pertemuan sosialisasi dengan perusahaan dan pemerintah, kami sepakat untuk tidak pernah memberikan ijin wilayah hutan Siwosawo dikelola perusahaan. Keputusan ini kami lakukan secara sadar. Tapi kenapa perusahaan tidak peduli dan melakukan penebangan di wilayah ulayat Siwosawo”.

Perusahaan melakukan penebangan kayu di kawasan hutan di kilometer dua Siwosawo, tidak jauh dari pinggir jalan logpond bekas perusahaan Wapoga Mutiara Timber (WMT). Masyarakat Kampung Siwosawo punya alasan menolak kehadiran perusahaan yang dianggap hanya merugikan masyarakat. Sebelumnya perusahaan WMT beroperasi diwilayah ini sekitar 20 tahun tapi tidak ada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi  sebagaimana yang dijanjikan WMT. Padahal hasil hutan kayu sudah habis dikuras.

“Kami hanya mau melindungi hutan kami yang tersisa untuk kehidupan kami hari ini dan generasi mendatang. Tapi mengapa pemerintah berikan ijin perusahaan dan merusak hutan kami”, kata Yakob Imburi, yang merasa pemerintah tidak konsisten dengan misinya untuk melindungi hak masyarakat Papua dan lingkungan hutan.

Pohon-pohon kayu roboh ditebang secara liar, tanpa ada survei dan tanpa ada RKT (Rencana Kerja Tebangan). Mereka bekerja seperti diburu-buru. Operator perusahaan bekerja seperti kerja membuka kebun saja, menebang pohon disembarang tempat, kata warga Dusner yang melihat di tempat kejadian.

Pada akhir Juli 2012 lalu, Deni Mangoli, yang mengaku manager ataupun perwakilan perusahaan PT. Sinar Wijaya di Wasior, Papua Barat, mengatakan dihadapan warga Kampung Simiei dan Siwosawo serta petugas Dinas Kehutanan Wondama, aparat keamanan TNI dan Tripika Kuriwamesa, bahwa ijin (IUPHHK-HA) perusahaan dengan mengambil alih ijin WMT segera akan selesai. Tapi hingga saat ini, perusahaan belum bisa menunjukkan surat ataupun ijin legalitas (IUPHHK) apapun dari Kemeneterian Kehutanan maupun instansi teknis terkait.

Frengky Nelwan, Sekretaris Kampung Simiei, menceritakan bahwa tokoh masyarakat Simiei bersepakat menerima perusahaan beroperasi mengambil hasil hutan kayu di wilayah adat Kampung Simiei. Perusahaan berjanji akan memberikan surat ijin dan dokumen yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan kepada masyarakat Kampung Simiei.

Tapi praktiknya, perusahaan sudah mulai bekerja tanpa memenuhi perjanjian. Frengky Nelwan menanyakan status perusahaan melalui SMS, yang dijawab Deni Mangoli, “masalah Wapoga nanti kalian akan tahu sendiri beberapa bulan lagi sudah disahkan oleh Menteri Kehutanan ke Sinar Wijaya, ditunggu saja pak ya!”. Lalu perusahaan kerja sekarang menggunakan ijin siapa? SMS Deni Mangoli, “kalau masalah legalitas, kamu cek sama pemerintah (Dinas Kehutanan) begitu, sosialisasi kan sama pemerintah, kalo gak ada pemerintah berarti ijinnya belum ada pak Frengky, nanti di cek saja disana.

SMS manager perusahaan ini membuat Frengky dan warga Simiei sangsi dan mempertanyakan keberadaan perusahaan yang beroperasi di tempat yang salah dan tidak bisa menunjukkan ijin. Mungkin perusahaan telah menggunakan persetujuan masyarakat Simiei untuk meloloskan operasi bisnis mereka, menyusul penolakan dari warga Siwosawo. Masyarakat resa dan khawatir mereka kena tipu dan dibenturkan dengan saudara mereka wara Siwosawo.

Yakob Imburi dan warga Siwosawo bertekad menghentikan kegiatan perusahaan yang terlalu memaksa bekerja tanpa ada kesepakatan.

ANK, Agustus 2012

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Masyarakat pesisir disekitar kawasan hutan Kampung Siwosawo dan Kampung Simiei, Distrik Kuriwamesa, Kabupaten Teluk Wondama, resah oleh ulah perusahaan kayu PT. Sinar Wijaya, asal Jakarta, yang melakukan penebangan kayu di wilayah ulayat warga Kampung Siwosawo tanpa ada persetujuan dan kesepakatan dengan masyarakat setempat.

    Yakob Imburi, tokoh masyarakat setempat dari Suku Imburi, saat dihubungi tadi malam (11/8), mengatakan, “Kami sudah tegaskan dalam pertemuan sosialisasi dengan perusahaan dan pemerintah, kami sepakat untuk tidak pernah memberikan ijin wilayah hutan Siwosawo dikelola perusahaan. Keputusan ini kami lakukan secara sadar. Tapi kenapa perusahaan tidak peduli dan melakukan penebangan di wilayah ulayat Siwosawo”.

    Perusahaan melakukan penebangan kayu di kawasan hutan di kilometer dua Siwosawo, tidak jauh dari pinggir jalan logpond bekas perusahaan Wapoga Mutiara Timber (WMT). Masyarakat Kampung Siwosawo punya alasan menolak kehadiran perusahaan yang dianggap hanya merugikan masyarakat. Sebelumnya perusahaan WMT beroperasi diwilayah ini sekitar 20 tahun tapi tidak ada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi  sebagaimana yang dijanjikan WMT. Padahal hasil hutan kayu sudah habis dikuras.

    “Kami hanya mau melindungi hutan kami yang tersisa untuk kehidupan kami hari ini dan generasi mendatang. Tapi mengapa pemerintah berikan ijin perusahaan dan merusak hutan kami”, kata Yakob Imburi, yang merasa pemerintah tidak konsisten dengan misinya untuk melindungi hak masyarakat Papua dan lingkungan hutan.

    Pohon-pohon kayu roboh ditebang secara liar, tanpa ada survei dan tanpa ada RKT (Rencana Kerja Tebangan). Mereka bekerja seperti diburu-buru. Operator perusahaan bekerja seperti kerja membuka kebun saja, menebang pohon disembarang tempat, kata warga Dusner yang melihat di tempat kejadian.

    Pada akhir Juli 2012 lalu, Deni Mangoli, yang mengaku manager ataupun perwakilan perusahaan PT. Sinar Wijaya di Wasior, Papua Barat, mengatakan dihadapan warga Kampung Simiei dan Siwosawo serta petugas Dinas Kehutanan Wondama, aparat keamanan TNI dan Tripika Kuriwamesa, bahwa ijin (IUPHHK-HA) perusahaan dengan mengambil alih ijin WMT segera akan selesai. Tapi hingga saat ini, perusahaan belum bisa menunjukkan surat ataupun ijin legalitas (IUPHHK) apapun dari Kemeneterian Kehutanan maupun instansi teknis terkait.

    Frengky Nelwan, Sekretaris Kampung Simiei, menceritakan bahwa tokoh masyarakat Simiei bersepakat menerima perusahaan beroperasi mengambil hasil hutan kayu di wilayah adat Kampung Simiei. Perusahaan berjanji akan memberikan surat ijin dan dokumen yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan kepada masyarakat Kampung Simiei.

    Tapi praktiknya, perusahaan sudah mulai bekerja tanpa memenuhi perjanjian. Frengky Nelwan menanyakan status perusahaan melalui SMS, yang dijawab Deni Mangoli, “masalah Wapoga nanti kalian akan tahu sendiri beberapa bulan lagi sudah disahkan oleh Menteri Kehutanan ke Sinar Wijaya, ditunggu saja pak ya!”. Lalu perusahaan kerja sekarang menggunakan ijin siapa? SMS Deni Mangoli, “kalau masalah legalitas, kamu cek sama pemerintah (Dinas Kehutanan) begitu, sosialisasi kan sama pemerintah, kalo gak ada pemerintah berarti ijinnya belum ada pak Frengky, nanti di cek saja disana.

    SMS manager perusahaan ini membuat Frengky dan warga Simiei sangsi dan mempertanyakan keberadaan perusahaan yang beroperasi di tempat yang salah dan tidak bisa menunjukkan ijin. Mungkin perusahaan telah menggunakan persetujuan masyarakat Simiei untuk meloloskan operasi bisnis mereka, menyusul penolakan dari warga Siwosawo. Masyarakat resa dan khawatir mereka kena tipu dan dibenturkan dengan saudara mereka wara Siwosawo.

    Yakob Imburi dan warga Siwosawo bertekad menghentikan kegiatan perusahaan yang terlalu memaksa bekerja tanpa ada kesepakatan.

    ANK, Agustus 2012

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on