Kompas, 7 September 2012

Morowali, Kompas – Ratusan keluarga transmigran di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah bertahun-tahun telantar akibat tak bisa menggarap lahan pertanian yang seharusnya jadi hak mereka. Di sebagian wilayah, lahan pertanian diklaim milik warga setempat, sementara di wilayah lain masuk dalam izin usaha pertambangan.

Hal ini dikatakan transmigran yang ditemui di Desa Lanona, Kecamatan Bungku Tengah; Desa Baoea, Kecamatan Bungku Barat; dan warga Desa Bimor Jaya, Kecamatan Petasia Timur, saat ditemui Selasa-Kamis (4-6/9).

Di Desa Bimor Jaya, 250-an keluarga transmigran asal Nusa Tenggara Timur bingung karena lahan rumah dan pertanian masuk areal izin usaha pertambangan (IUP). Saat datang tahun 1993, mereka dibagikan lahan sawit. Namun, sejak 2007 lahan mereka masuk dalam IUP nikel.

”Sekarang kebun-kebun sawit kami rusak oleh alat berat yang masuk perkebunan. Banyak akar pohon yang rusak karena alat berat dan sebagian tercabut. Hasil sawit kini berkurang hingga banyak warga transmigrasi yang pulang. Yang bertahan terpaksa pergi mencari rotan atau damar,” kata Oki Chris Karipalay (42), transmigran asal Alor, NTT.

Pantauan di Bamor Jaya menunjukkan banyak lahan sawit yang rusak terlindas alat berat. Bekas-bekas ban alat berat atau buldoser tampak di areal kebun hingga membentuk jalan baru. Bahkan, jalan usaha tani yang ada di permukiman ini telah jadi jalan perusahaan pertambangan. Puluhan dump truck dan alat berat setiap hari lalu lalang di permukiman, menyebabkan debu tebal beterbangan dan terhirup warga. Tidak sedikit yang sakit akibat debu. Ini juga rawan untuk anak-anak sekolah yang setiap hari melewati jalan yang juga dilalui truk.

Suriati (45), asal Cisolok, Palabuhanratu, Jawa Barat, yang datang tahun 2009 bersama 100-an keluarga transmigran lainnya mengaku harus bekerja jadi buruh harian bersama suaminya untuk bisa hidup. ”Lahan diberikan untuk kami garap, ternyata punya orang. Saat itu suami saya sudah membersihkan dan siap menanam, tiba-tiba ada orang datang mengaku jika itu tanah mereka. Akhirnya kami bekerja jadi buruh agar bisa makan,” katanya. (Ren)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/09/07/05403397/ratusan.transmigran.di.morowali.telantar

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kompas, 7 September 2012

    Morowali, Kompas – Ratusan keluarga transmigran di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah bertahun-tahun telantar akibat tak bisa menggarap lahan pertanian yang seharusnya jadi hak mereka. Di sebagian wilayah, lahan pertanian diklaim milik warga setempat, sementara di wilayah lain masuk dalam izin usaha pertambangan.

    Hal ini dikatakan transmigran yang ditemui di Desa Lanona, Kecamatan Bungku Tengah; Desa Baoea, Kecamatan Bungku Barat; dan warga Desa Bimor Jaya, Kecamatan Petasia Timur, saat ditemui Selasa-Kamis (4-6/9).

    Di Desa Bimor Jaya, 250-an keluarga transmigran asal Nusa Tenggara Timur bingung karena lahan rumah dan pertanian masuk areal izin usaha pertambangan (IUP). Saat datang tahun 1993, mereka dibagikan lahan sawit. Namun, sejak 2007 lahan mereka masuk dalam IUP nikel.

    ”Sekarang kebun-kebun sawit kami rusak oleh alat berat yang masuk perkebunan. Banyak akar pohon yang rusak karena alat berat dan sebagian tercabut. Hasil sawit kini berkurang hingga banyak warga transmigrasi yang pulang. Yang bertahan terpaksa pergi mencari rotan atau damar,” kata Oki Chris Karipalay (42), transmigran asal Alor, NTT.

    Pantauan di Bamor Jaya menunjukkan banyak lahan sawit yang rusak terlindas alat berat. Bekas-bekas ban alat berat atau buldoser tampak di areal kebun hingga membentuk jalan baru. Bahkan, jalan usaha tani yang ada di permukiman ini telah jadi jalan perusahaan pertambangan. Puluhan dump truck dan alat berat setiap hari lalu lalang di permukiman, menyebabkan debu tebal beterbangan dan terhirup warga. Tidak sedikit yang sakit akibat debu. Ini juga rawan untuk anak-anak sekolah yang setiap hari melewati jalan yang juga dilalui truk.

    Suriati (45), asal Cisolok, Palabuhanratu, Jawa Barat, yang datang tahun 2009 bersama 100-an keluarga transmigran lainnya mengaku harus bekerja jadi buruh harian bersama suaminya untuk bisa hidup. ”Lahan diberikan untuk kami garap, ternyata punya orang. Saat itu suami saya sudah membersihkan dan siap menanam, tiba-tiba ada orang datang mengaku jika itu tanah mereka. Akhirnya kami bekerja jadi buruh agar bisa makan,” katanya. (Ren)

    Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/09/07/05403397/ratusan.transmigran.di.morowali.telantar

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on