25 Agustus 2012

Kepada Yth:

Kapolres Teluk Wondama

Di Wondama, Rasiei.

Dengan hormat,

Kami masyarakat Dusner ingin menyampaikan musibah yang sedang kami alami yang dilakukan oleh perusahaan PT. Sinar Wijaya Sentosa, yang menginjak-injak dan memperkosa hak-hak adat kami sebagai masyarakat adat. Kami sudah melaporkan permasalahan tersebut kepada Kepolisian Wondama yang mencoba memfasilitasi menyelesaikan permasalahan tersebut diatas,  tetapi dalam dua kali pertemuan, permasalahan ini tidak ada titik temu.

Oleh karena itu kami ingin menyampaikan hal ini kepada bapak sebagai Kapolres yang sekaligus sebagai anak adat untuk mengambil langkah-langkah yang tegas dalam penyelesaian masalah kami.

Dalam proses sosialisasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan, masyarakat Dusner tetap menolak kehadiran perusahaan PT. Sinar Wijaya Sentosa untuk beroperasi di wilayah adat mereka, berhubung pengalaman buruk dari pada perusahaan WMT, yang disepakati bersama Sinar Wijaya Sentosa adalah penggunaan log pond dan jasa jalan menuju lokasi penebangan di lokasi Kampung Simiei.

Dalam pertemuan ketiga, sosialisasi yang dilakukan pada tanggal 21 Juli 2012, masyarakat Dusner hanya mengijinkan perusahaan untuk memakai log pond dan jasa jalan, pada pertemuan tersebut hadir juga pihak Muspika dan pihak perusahaan, yang juga ikut mengetahui kesepakatan tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat sempat menanyakan kepada perusahaan tentang ijin perusahaan, luasan kerja dan RKT, tetapi pihak perusahaan dan kehutanan tidak dapat menunjukkan apa yang ditanyakan masyarakat, malah ada jawaban lain dari pihak Kehutanan, dalam hal ini Sdra. Yakob Werbete, menyatakan, “Masyarakat tidak punya hak untuk menanyakan semua itu, kalo masyarakat mau peta, bikin sendiri toh. Masyarakat harus percaya pemerintah karena pemerintah adalah wakil Allah. Kalau masyarakat tidak percaya kamu kerja sendiri sudah”.

Kronologis:

2 Agustus 2012

Pihak perusahaan melakukan penurunan alat dan sekaligus melakukan pembersihan, penebangan tanaman dan pengambilan material masyarakat, tanpa pemberitahuan kepada masyarakat setempat di log pond Simiei, wilayah Kampung Dusner dan sekaligus melakukan pekerjaan penebangan pohon di wilayah Dusner, yang diluar kesepakatan awal.

Masyarakat mengetahui hal tersebut pada tanggal 10 Agustus 2012 dan masyarakat berhasil bertemu dengan pihak perusahaan untuk menanyakan tentang penebangan yang dilakukan oleh perusahaan diluar kesepakatan awal. Dari perjanjian masyarakat jumlah kayu yang ditebang perusahaan sebanyak 114 log, dengan rincian yang belum ditarik 81 log dan yang ada di TPK 33 log.

13 Agustus 2012

Jam 22.00 malam; pihak perusahaan datang membawa uang Rp. 30 juta bersama berita acara yang sudah disiapkan oleh pihak perusahaan yang isi suratnya tentang pelepasan wilayah penebangan yang semuanya masyarakat tidak menerima hal tersebut, tetapi ada dua orang yang telah bersepakat menandatangan.

15 Agustus 2012

Saudara Amos Imburi mengadukan pelanggaran yang dilakukan pihak perusahaan kepada pihak Kapolres Wondama

18 Agustus 2012

Surat panggilan pihak kepolisian untuk menyelesaikan persoalan tersebut, tetapi pihak perusahaan tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas dan akhirnya masyarakat pulang.

24 Agustus 2012

Polres Wondama memfasilitasi pertemuan lanjutan dengan pihak perusahaan dan masyarakat, sebagai berikut:

  1. Perusahaan tidak merespon tempat aktivitasnya di wilayah RKT: (a) Ijin perusahaan, (b) Ijin penebangan, (c) peta.
  2. Perusahaan tidak menjalankan prinsip-prinsip FPIC, yang mana secara global melindungi hak masyarakat adat. Perusahaan wajib memberikan segala informasi tentang kegiatan perusahaan kepada masyarakat adat. Perusahaan juga wajib memberikan informasi tentang dampak baik dan buruknya kegiatannya kepada masyarakat adat.
  3. Masyarakat memutuskan penghentian aktifitas Sinar Wijaya Sentosa di wilayah adat masyarakat Dusner.
  4. Masyarakat menuntut ganti rugi dan denda adat atas penebangan tanaman kayu dan material masyarakat yang dilakukan oleh PT. Sinar Wijaya Sentosa secara se pihak di wilayah adat masyarakat Dusner sebesar Rp. 5 miliar.
  5. Masyarakat Dusner  memohon kepada bapak Kapolres Teluk Wondama untuk menghentikan seluruh aktifitas dari Sinar Wijaya Sentosa sampai terpenuhinya tuntutan denda adat dari masyarakat Dusner.
  6. Masyarakat Dusner akan mengambil langkah-langkah sepihak bilamana permohonan penghentian PT. Sinar Wijaya Sentosa dan denda adat belum dipenuhi.

Demikian permohonan dan pengaduan yang kami sampaikan kepada bapak, dengan harapan bapak dapat membantu penyelesaian persoalan kami, semoga Tuhan menyertai langkah perjuangan kita.

Kami yang bermohon masyarakat Dusner:

Nama pemilik hak ulayat:

  1. Amos Imburi
  2. Yakob Imburi
  3. Daud Madio
  4. Alex Mananian
  5. Alex Waprak
  6. Nelson Gowe
  7. Antomina Baransano
  8. Markus Semisal
  9. Hubertus Imburi
  10. Aris Madioi
  11. Abigat Imburi
  12. Ruben Warami
  13. Bernad Imburi

Mengetahui,

Kepala Kampung Siwosawo: Adam Imburi

Kepala Kampung Muandarisi: Markus Wamisa

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    25 Agustus 2012

    Kepada Yth:

    Kapolres Teluk Wondama

    Di Wondama, Rasiei.

    Dengan hormat,

    Kami masyarakat Dusner ingin menyampaikan musibah yang sedang kami alami yang dilakukan oleh perusahaan PT. Sinar Wijaya Sentosa, yang menginjak-injak dan memperkosa hak-hak adat kami sebagai masyarakat adat. Kami sudah melaporkan permasalahan tersebut kepada Kepolisian Wondama yang mencoba memfasilitasi menyelesaikan permasalahan tersebut diatas,  tetapi dalam dua kali pertemuan, permasalahan ini tidak ada titik temu.

    Oleh karena itu kami ingin menyampaikan hal ini kepada bapak sebagai Kapolres yang sekaligus sebagai anak adat untuk mengambil langkah-langkah yang tegas dalam penyelesaian masalah kami.

    Dalam proses sosialisasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan, masyarakat Dusner tetap menolak kehadiran perusahaan PT. Sinar Wijaya Sentosa untuk beroperasi di wilayah adat mereka, berhubung pengalaman buruk dari pada perusahaan WMT, yang disepakati bersama Sinar Wijaya Sentosa adalah penggunaan log pond dan jasa jalan menuju lokasi penebangan di lokasi Kampung Simiei.

    Dalam pertemuan ketiga, sosialisasi yang dilakukan pada tanggal 21 Juli 2012, masyarakat Dusner hanya mengijinkan perusahaan untuk memakai log pond dan jasa jalan, pada pertemuan tersebut hadir juga pihak Muspika dan pihak perusahaan, yang juga ikut mengetahui kesepakatan tersebut.

    Dalam pertemuan tersebut, masyarakat sempat menanyakan kepada perusahaan tentang ijin perusahaan, luasan kerja dan RKT, tetapi pihak perusahaan dan kehutanan tidak dapat menunjukkan apa yang ditanyakan masyarakat, malah ada jawaban lain dari pihak Kehutanan, dalam hal ini Sdra. Yakob Werbete, menyatakan, “Masyarakat tidak punya hak untuk menanyakan semua itu, kalo masyarakat mau peta, bikin sendiri toh. Masyarakat harus percaya pemerintah karena pemerintah adalah wakil Allah. Kalau masyarakat tidak percaya kamu kerja sendiri sudah”.

    Kronologis:

    2 Agustus 2012

    Pihak perusahaan melakukan penurunan alat dan sekaligus melakukan pembersihan, penebangan tanaman dan pengambilan material masyarakat, tanpa pemberitahuan kepada masyarakat setempat di log pond Simiei, wilayah Kampung Dusner dan sekaligus melakukan pekerjaan penebangan pohon di wilayah Dusner, yang diluar kesepakatan awal.

    Masyarakat mengetahui hal tersebut pada tanggal 10 Agustus 2012 dan masyarakat berhasil bertemu dengan pihak perusahaan untuk menanyakan tentang penebangan yang dilakukan oleh perusahaan diluar kesepakatan awal. Dari perjanjian masyarakat jumlah kayu yang ditebang perusahaan sebanyak 114 log, dengan rincian yang belum ditarik 81 log dan yang ada di TPK 33 log.

    13 Agustus 2012

    Jam 22.00 malam; pihak perusahaan datang membawa uang Rp. 30 juta bersama berita acara yang sudah disiapkan oleh pihak perusahaan yang isi suratnya tentang pelepasan wilayah penebangan yang semuanya masyarakat tidak menerima hal tersebut, tetapi ada dua orang yang telah bersepakat menandatangan.

    15 Agustus 2012

    Saudara Amos Imburi mengadukan pelanggaran yang dilakukan pihak perusahaan kepada pihak Kapolres Wondama

    18 Agustus 2012

    Surat panggilan pihak kepolisian untuk menyelesaikan persoalan tersebut, tetapi pihak perusahaan tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas dan akhirnya masyarakat pulang.

    24 Agustus 2012

    Polres Wondama memfasilitasi pertemuan lanjutan dengan pihak perusahaan dan masyarakat, sebagai berikut:

    1. Perusahaan tidak merespon tempat aktivitasnya di wilayah RKT: (a) Ijin perusahaan, (b) Ijin penebangan, (c) peta.
    2. Perusahaan tidak menjalankan prinsip-prinsip FPIC, yang mana secara global melindungi hak masyarakat adat. Perusahaan wajib memberikan segala informasi tentang kegiatan perusahaan kepada masyarakat adat. Perusahaan juga wajib memberikan informasi tentang dampak baik dan buruknya kegiatannya kepada masyarakat adat.
    3. Masyarakat memutuskan penghentian aktifitas Sinar Wijaya Sentosa di wilayah adat masyarakat Dusner.
    4. Masyarakat menuntut ganti rugi dan denda adat atas penebangan tanaman kayu dan material masyarakat yang dilakukan oleh PT. Sinar Wijaya Sentosa secara se pihak di wilayah adat masyarakat Dusner sebesar Rp. 5 miliar.
    5. Masyarakat Dusner  memohon kepada bapak Kapolres Teluk Wondama untuk menghentikan seluruh aktifitas dari Sinar Wijaya Sentosa sampai terpenuhinya tuntutan denda adat dari masyarakat Dusner.
    6. Masyarakat Dusner akan mengambil langkah-langkah sepihak bilamana permohonan penghentian PT. Sinar Wijaya Sentosa dan denda adat belum dipenuhi.

    Demikian permohonan dan pengaduan yang kami sampaikan kepada bapak, dengan harapan bapak dapat membantu penyelesaian persoalan kami, semoga Tuhan menyertai langkah perjuangan kita.

    Kami yang bermohon masyarakat Dusner:

    Nama pemilik hak ulayat:

    1. Amos Imburi
    2. Yakob Imburi
    3. Daud Madio
    4. Alex Mananian
    5. Alex Waprak
    6. Nelson Gowe
    7. Antomina Baransano
    8. Markus Semisal
    9. Hubertus Imburi
    10. Aris Madioi
    11. Abigat Imburi
    12. Ruben Warami
    13. Bernad Imburi

    Mengetahui,

    Kepala Kampung Siwosawo: Adam Imburi

    Kepala Kampung Muandarisi: Markus Wamisa

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on