Jakarta, 30 Oktober 2012. Proyek KFCP (Kalimantan Forest Climate Patnership) di Kapuas, Kalimantan Tengah, untuk pengurangan emisi dari kerusakan dan penggundulan hutan (atau Reducing Emissions from Deforestation and Degradation Forest, disingkat REDD) mempunyai panduan untuk mencapai kesetaraan gender dalam proyek KFCP.

Salah satu tekanan dari panduan ‘sensitif gender’ ini adalah merancang alternatif mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan perempuan dan memastikan mereka menerima keuntungan yang adil. Mempunyai akses dan kesempatan yang sama dalam berbagai kegiatan proyek.

Indu Meli, salah satu perempuan warga Desa Mantangai Hulu, mengaku baru mengetahui jika proyek KFCP memiliki panduan untuk melindungi kepentingan kaum perempuan. Faktanya, petugas-petugas KFCP yang terlibat dalam proyek dilapangan, sebagai mitra pelaksana, CE, TP (Tim Pengawas) dan TPK (Tim Pelaksana Kegiatan), mereka bekerja tidak sejalan dengan panduan ‘sensitif gender’, ungkap Indu Meli.

Indu Meli bercerita terlibat dalam proyek reforestasi, kegiatannya membersihkan lahan, merintis jalur dan membuat lubang dan penanaman berbagai jenis kayu di lahan gambut seluas 2 hektar. Efektif waktu hari kerja sekitar 20 hari dan pembayaran upah yang diterima Rp. 3.600.000. “Pendapatan ini sangat kecil dibandingkan berat pekerjaannya dan nilainya sudah termasuk konsumsi dan biaya beli minyak untuk mesin perahu ke lahan”, kata Indu Meli.

Mereka terpaksa melakukan pekerjaan ini karena perlu uang cash, meskipun meninggalkan hak asuh untuk anak dan keperluan domestic. Nursiyati alias Indu Yaka, warga perempuan lainnya, mengungkapkan “saya merasa dipaksa, tenaga dan usaha saya dikorbankan untuk proyek, kami bisa usaha mengayam yang tidak meninggalkan kewajiban mengasuh anak dan mengurus rumah, manfaat dan hasilnya juga ada”.

Perintah petugas TPK seringkali berubah-ubah setiap saat dalam proyek pembibitan tanaman, pertama diminta bibit tanaman diameter 10 – 25 cm, lalu diganti lagi dengan 15 – 35 cm. Padahal warga sudah mengusahakan dan memelihara bibit tersebut. Penggantian ukuran bibit baru pun tidak dibayar, ungkap Indu Yaka kesal.

Ada banyak lagi kejadian yang dianggap tidak sensitif gender dan mengabaikan hak perempuan. Siti Aisyah mengungkapkan permasalahan yang pernah dialaminya saat kerja proyek reforestasi. Suatu waktu Aisyah mengeluh sakit kepada petugas TPK. Aisyah tidak diminta istirahat dan hanya diberikan obat paracetamol dan antalgin masing-masing dua biji. Aisyah juga takut istirahat karena takut upahnya dipotong.

Banyak yang mengalami kasus sakit dalam pekerjaan tetapi tidak mendapatkan perlindungan. Juga dialami oleh Mardiansyah, warga RT 1 Desa Mantangai Hulu, yang kemudian mengalami sakit stroke dan tidak ada bantuan dari proyek KFCP, meskipun sudah dikeluhkan dan diminta bantuan. Ada pula kejadian tabrakan antara perahu pelangsir bibit, perahu rusak, bibit hilang dan kehilangan waktu kerja, hanya ada kompensasi Rp. 20.000.

Petugas KFCP dan pemerintah desa tidak transparan untuk pengelolaan uang kepada perempuan. Nursiyati dan sekitar 10 perempuan warga Mantangai pernah ditolak untuk hadir dalam rapat pembahasan uang bonus proyek pembibitan sebesar Rp. 10.700.000. Koordinator TP yang juga aparat pemerintah desa menolak Nursiyati mengikuti pertemuan dengan alasan terlambat. Uang bonus inipun raib tidak jelas pertanggung jawaban dan penggunaannya kepada anggota pekerja.

Petugas tidak sensitif gender dan mengabaikan hak perempuan, tidak peduli pada panduan proyek, memunculkan pertanyaan terhadap keseriusan proyek KFCP ini untuk memberdayakan masyarakat. Atau memang isu ini hanya cukup sampai pada panduan saja, atau sekedar pedoman saja sebagai syarat untuk memenuhi kepentingan proyek. Kaum perempuan di Mantangai mengharapkan ada perubahan yang bisa memberdayakan dan mengsejahterakan kehidupan mereka.

Ank, Okt 2012

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jakarta, 30 Oktober 2012. Proyek KFCP (Kalimantan Forest Climate Patnership) di Kapuas, Kalimantan Tengah, untuk pengurangan emisi dari kerusakan dan penggundulan hutan (atau Reducing Emissions from Deforestation and Degradation Forest, disingkat REDD) mempunyai panduan untuk mencapai kesetaraan gender dalam proyek KFCP.

    Salah satu tekanan dari panduan ‘sensitif gender’ ini adalah merancang alternatif mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan perempuan dan memastikan mereka menerima keuntungan yang adil. Mempunyai akses dan kesempatan yang sama dalam berbagai kegiatan proyek.

    Indu Meli, salah satu perempuan warga Desa Mantangai Hulu, mengaku baru mengetahui jika proyek KFCP memiliki panduan untuk melindungi kepentingan kaum perempuan. Faktanya, petugas-petugas KFCP yang terlibat dalam proyek dilapangan, sebagai mitra pelaksana, CE, TP (Tim Pengawas) dan TPK (Tim Pelaksana Kegiatan), mereka bekerja tidak sejalan dengan panduan ‘sensitif gender’, ungkap Indu Meli.

    Indu Meli bercerita terlibat dalam proyek reforestasi, kegiatannya membersihkan lahan, merintis jalur dan membuat lubang dan penanaman berbagai jenis kayu di lahan gambut seluas 2 hektar. Efektif waktu hari kerja sekitar 20 hari dan pembayaran upah yang diterima Rp. 3.600.000. “Pendapatan ini sangat kecil dibandingkan berat pekerjaannya dan nilainya sudah termasuk konsumsi dan biaya beli minyak untuk mesin perahu ke lahan”, kata Indu Meli.

    Mereka terpaksa melakukan pekerjaan ini karena perlu uang cash, meskipun meninggalkan hak asuh untuk anak dan keperluan domestic. Nursiyati alias Indu Yaka, warga perempuan lainnya, mengungkapkan “saya merasa dipaksa, tenaga dan usaha saya dikorbankan untuk proyek, kami bisa usaha mengayam yang tidak meninggalkan kewajiban mengasuh anak dan mengurus rumah, manfaat dan hasilnya juga ada”.

    Perintah petugas TPK seringkali berubah-ubah setiap saat dalam proyek pembibitan tanaman, pertama diminta bibit tanaman diameter 10 – 25 cm, lalu diganti lagi dengan 15 – 35 cm. Padahal warga sudah mengusahakan dan memelihara bibit tersebut. Penggantian ukuran bibit baru pun tidak dibayar, ungkap Indu Yaka kesal.

    Ada banyak lagi kejadian yang dianggap tidak sensitif gender dan mengabaikan hak perempuan. Siti Aisyah mengungkapkan permasalahan yang pernah dialaminya saat kerja proyek reforestasi. Suatu waktu Aisyah mengeluh sakit kepada petugas TPK. Aisyah tidak diminta istirahat dan hanya diberikan obat paracetamol dan antalgin masing-masing dua biji. Aisyah juga takut istirahat karena takut upahnya dipotong.

    Banyak yang mengalami kasus sakit dalam pekerjaan tetapi tidak mendapatkan perlindungan. Juga dialami oleh Mardiansyah, warga RT 1 Desa Mantangai Hulu, yang kemudian mengalami sakit stroke dan tidak ada bantuan dari proyek KFCP, meskipun sudah dikeluhkan dan diminta bantuan. Ada pula kejadian tabrakan antara perahu pelangsir bibit, perahu rusak, bibit hilang dan kehilangan waktu kerja, hanya ada kompensasi Rp. 20.000.

    Petugas KFCP dan pemerintah desa tidak transparan untuk pengelolaan uang kepada perempuan. Nursiyati dan sekitar 10 perempuan warga Mantangai pernah ditolak untuk hadir dalam rapat pembahasan uang bonus proyek pembibitan sebesar Rp. 10.700.000. Koordinator TP yang juga aparat pemerintah desa menolak Nursiyati mengikuti pertemuan dengan alasan terlambat. Uang bonus inipun raib tidak jelas pertanggung jawaban dan penggunaannya kepada anggota pekerja.

    Petugas tidak sensitif gender dan mengabaikan hak perempuan, tidak peduli pada panduan proyek, memunculkan pertanyaan terhadap keseriusan proyek KFCP ini untuk memberdayakan masyarakat. Atau memang isu ini hanya cukup sampai pada panduan saja, atau sekedar pedoman saja sebagai syarat untuk memenuhi kepentingan proyek. Kaum perempuan di Mantangai mengharapkan ada perubahan yang bisa memberdayakan dan mengsejahterakan kehidupan mereka.

    Ank, Okt 2012

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on