8 Nopember 2012

XAYABURI, RABU – Seperti telah dijadwalkan, Pemerintah Laos melanjutkan megaproyek pembangunan Bendungan Xayaburi di Sungai Mekong walau diwarnai kekhawatiran dan keberatan dua negara tetangganya, Kamboja dan Vietnam.

Sikap kukuh Laos itu ditandai dengan digelarnya upacara peresmian proses pembangunan tahap awal dam senilai 3,8 miliar dollar AS itu, Rabu (7/11).

Keberadaan dam dan pembangkit listrik tenaga air di Sungai Mekong itu dikhawatirkan akan sangat berdampak buruk pada sektor perikanan, pertanian, dan keberlangsungan hidup banyak orang yang hidupnya bergantung pada salah satu sungai terpanjang di Asia itu.

”Kami telah mendengar berbagai pandangan dan opini dari negara berbeda sepanjang aliran sungai itu. Kami semua kemudian telah mencapai kesepakatan dan sekarang adalah hari pertama proyek pembangunan dimulai,” ujar Wakil Perdana Menteri Laos Somsavat Lengsavad saat upacara peresmian.

Dalam pernyataannya, Rabu, seperti dikutip harian Wall Street Journal, Perdana Menteri Laos Thongsing Thammavong menegaskan acara yang digelar itu bukanlah upacara peresmian, melainkan sekadar mengundang para jurnalis, ilmuwan, dan pihak lain untuk berkunjung.

Namun, dari spanduk yang dipasang di lokasi tampak jelas kalau acara tersebut adalah upacara peresmian pembangunan tahap awal dam, yang dibiayai perusahaan raksasa konstruksi Thailand, Ch Karnchang Pcl.

Laos selama ini memang berambisi menjadikan negerinya sebagai ”Baterai Asia Tenggara”, dengan memproduksi dan kemudian menjual pasokan listrik yang mereka hasilkan ke sejumlah negara tetangga, terutama Thailand.

Pernyataan menyesatkan

Sementara itu, di tempat terpisah, Kirk Herbertson, koordinator Asia Tenggara untuk kelompok peduli lingkungan hidup International Rivers, menilai Pemerintah Laos selama ini telah mengeluarkan pernyataan menyesatkan.

Mereka, tuduh Herbertson, seolah-olah telah tuntas mengatasi berbagai kekhawatiran yang diajukan banyak kalangan, terutama dari dua negara tetangganya, termasuk dengan membuat terobosan dalam rancangan dam yang akan dibangun itu.

”Laos membuat pernyataan menyesatkan, dengan menyebut masalah sudah selesai. Padahal, studi kelayakan dam tadi masih berjalan dan belum tuntas,” ujar Herbertson.

Di lapangan tampak lokasi seputar dam yang akan dibangun sudah siap, termasuk akses jalan dan beberapa konstruksi penting lain.

Menurut Herbertson, lembaganya telah berkunjung ke lokasi pembangunan dam, Juni lalu. Mereka melihat proses penggalian hingga dasar sungai telah berlangsung ketika itu.

”Setelah upacara peresmian dipastikan prosesnya akan berlanjut dengan pembangunan struktur awal bangunan, yang tentunya hal itu juga berarti tahap awal pembendungan sungai, termasuk aliran ikan dan berbagai nutrisi lain yang seharusnya mengalir dari hulu ke hilir sungai,” ujar Herbertson.

Para pakar ekologi memperingatkan keberlangsungan hidup sedikitnya 60 juta orang yang bergantung pada Sungai Mekong, terutama di Kamboja dan Vietnam. Keberadaan struktur dam raksasa di aliran sungai yang melalui Laos dikhawatirkan bakal menghambat proses dan jalur migrasi ikan-ikan.

Tidak hanya itu, sedimentasi yang terjadi juga dapat menghambat aliran tanah subur dari hulu ke hilir, yang akan berdampak pada pertanian.

(REUTERS/DWA)

Sumber: http://pusaka.or.id/demo/wp-admin/post-new.php

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    8 Nopember 2012

    XAYABURI, RABU – Seperti telah dijadwalkan, Pemerintah Laos melanjutkan megaproyek pembangunan Bendungan Xayaburi di Sungai Mekong walau diwarnai kekhawatiran dan keberatan dua negara tetangganya, Kamboja dan Vietnam.

    Sikap kukuh Laos itu ditandai dengan digelarnya upacara peresmian proses pembangunan tahap awal dam senilai 3,8 miliar dollar AS itu, Rabu (7/11).

    Keberadaan dam dan pembangkit listrik tenaga air di Sungai Mekong itu dikhawatirkan akan sangat berdampak buruk pada sektor perikanan, pertanian, dan keberlangsungan hidup banyak orang yang hidupnya bergantung pada salah satu sungai terpanjang di Asia itu.

    ”Kami telah mendengar berbagai pandangan dan opini dari negara berbeda sepanjang aliran sungai itu. Kami semua kemudian telah mencapai kesepakatan dan sekarang adalah hari pertama proyek pembangunan dimulai,” ujar Wakil Perdana Menteri Laos Somsavat Lengsavad saat upacara peresmian.

    Dalam pernyataannya, Rabu, seperti dikutip harian Wall Street Journal, Perdana Menteri Laos Thongsing Thammavong menegaskan acara yang digelar itu bukanlah upacara peresmian, melainkan sekadar mengundang para jurnalis, ilmuwan, dan pihak lain untuk berkunjung.

    Namun, dari spanduk yang dipasang di lokasi tampak jelas kalau acara tersebut adalah upacara peresmian pembangunan tahap awal dam, yang dibiayai perusahaan raksasa konstruksi Thailand, Ch Karnchang Pcl.

    Laos selama ini memang berambisi menjadikan negerinya sebagai ”Baterai Asia Tenggara”, dengan memproduksi dan kemudian menjual pasokan listrik yang mereka hasilkan ke sejumlah negara tetangga, terutama Thailand.

    Pernyataan menyesatkan

    Sementara itu, di tempat terpisah, Kirk Herbertson, koordinator Asia Tenggara untuk kelompok peduli lingkungan hidup International Rivers, menilai Pemerintah Laos selama ini telah mengeluarkan pernyataan menyesatkan.

    Mereka, tuduh Herbertson, seolah-olah telah tuntas mengatasi berbagai kekhawatiran yang diajukan banyak kalangan, terutama dari dua negara tetangganya, termasuk dengan membuat terobosan dalam rancangan dam yang akan dibangun itu.

    ”Laos membuat pernyataan menyesatkan, dengan menyebut masalah sudah selesai. Padahal, studi kelayakan dam tadi masih berjalan dan belum tuntas,” ujar Herbertson.

    Di lapangan tampak lokasi seputar dam yang akan dibangun sudah siap, termasuk akses jalan dan beberapa konstruksi penting lain.

    Menurut Herbertson, lembaganya telah berkunjung ke lokasi pembangunan dam, Juni lalu. Mereka melihat proses penggalian hingga dasar sungai telah berlangsung ketika itu.

    ”Setelah upacara peresmian dipastikan prosesnya akan berlanjut dengan pembangunan struktur awal bangunan, yang tentunya hal itu juga berarti tahap awal pembendungan sungai, termasuk aliran ikan dan berbagai nutrisi lain yang seharusnya mengalir dari hulu ke hilir sungai,” ujar Herbertson.

    Para pakar ekologi memperingatkan keberlangsungan hidup sedikitnya 60 juta orang yang bergantung pada Sungai Mekong, terutama di Kamboja dan Vietnam. Keberadaan struktur dam raksasa di aliran sungai yang melalui Laos dikhawatirkan bakal menghambat proses dan jalur migrasi ikan-ikan.

    Tidak hanya itu, sedimentasi yang terjadi juga dapat menghambat aliran tanah subur dari hulu ke hilir, yang akan berdampak pada pertanian.

    (REUTERS/DWA)

    Sumber: http://pusaka.or.id/demo/wp-admin/post-new.php

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on