Kampung Siwosawo dan Maundarisi di Distrik Kuriwamesa, Teluk Wondama, yang biasanya sepi sontak berubah menjadi ramai oleh kehadiran perusahaan PT. Sinar Wijaya Sentosa (SWS), yang datang membawakan uang kompensasi tuntutan warga sebesar satu miliar rupiah, pada Jumat lalu (14 Desember 2012).

Warga takjub dengan uang satu miliar rupiah yang datang menjelang hari raya natal pada pertengahan Desember. Uang kompensasi tersebut masih kurang dan belum terlunaskan dari tuntutan sebesar Rp. 5 miliar, sebagaimana dituntut warga melalui surat pernyataan pada Agustus 2012 lalu.  Konon perusahaan sudah menawar nilai uang kompensasi dan sangsi denda tersebut hingga menjadi Rp. 2 miliar. Perusahaan menjanjikan akan membayarkan bulan depan atau tahun depan.

Beberapa warga dan pimpinan marga Imburi mulai menawarkan kemungkinan kerjasama dengan perusahaan SWS untuk beroperasi dalam kawasan hutan yang dimiliki masyarakat dan menegosiasikan kemungkinan jumlah dana kompensasi. Telah diatur waktu untuk melakukan pertemuan sedini mungkin, artinya selangkah lagi perusahaan yang sudah berada dipinggiran hutan untuk dapat mudah melangkah ke dalam, mengobrak abrik hutan Siwosawo yang tersisa.

Penawaran uang seketika menutupi pelanggaran dan ingkar janji yang dilakukan perusahaan pada masa lalu yang dilakukan oleh WMT (Wapoga Mutiara Timber) dan SWS. Untuk sementara, tidak ada lagi yang mengkritisi ijin dan rencana pemanfaatan hasil hutan SWS yang tidak berijin. Semua melupakan ancaman-ancaman kelangkaan dan hilangnya sumber pangan, pelanggaran dan kekerasan HAM, bencana dan bahaya banjir, yang baru saja dialami sebagian besar keluarga mereka di daratan Wasior, pada Oktober 2012 lalu.

Hutan yang dianggap sebagai benteng teraahir di kampung untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat akhirnya dibobol juga. Hanya ada beberapa orang yang tetap lantang mengkritik kehadiran dan tanggung jawab perusahaan. Ada juga memang yang ribut karena tidak mendapatkan pembagian uang secara adil. Ada yang menerima tiga juta, empat juta dan lainnya lima juta rupiah, terjadi keributan, gossip yang tidak sedap dan saling curiga. Muspika setempat hanya menonton saja hiruk pikuk di Dusner pada siang itu.

Kabarnya, hanya sekejap uang denda dan kompensasi kayu sudah berpindah dari tangan warga ke pedagang-pedagang di Kota Wasior.

Ank, Des 2012

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kampung Siwosawo dan Maundarisi di Distrik Kuriwamesa, Teluk Wondama, yang biasanya sepi sontak berubah menjadi ramai oleh kehadiran perusahaan PT. Sinar Wijaya Sentosa (SWS), yang datang membawakan uang kompensasi tuntutan warga sebesar satu miliar rupiah, pada Jumat lalu (14 Desember 2012).

    Warga takjub dengan uang satu miliar rupiah yang datang menjelang hari raya natal pada pertengahan Desember. Uang kompensasi tersebut masih kurang dan belum terlunaskan dari tuntutan sebesar Rp. 5 miliar, sebagaimana dituntut warga melalui surat pernyataan pada Agustus 2012 lalu.  Konon perusahaan sudah menawar nilai uang kompensasi dan sangsi denda tersebut hingga menjadi Rp. 2 miliar. Perusahaan menjanjikan akan membayarkan bulan depan atau tahun depan.

    Beberapa warga dan pimpinan marga Imburi mulai menawarkan kemungkinan kerjasama dengan perusahaan SWS untuk beroperasi dalam kawasan hutan yang dimiliki masyarakat dan menegosiasikan kemungkinan jumlah dana kompensasi. Telah diatur waktu untuk melakukan pertemuan sedini mungkin, artinya selangkah lagi perusahaan yang sudah berada dipinggiran hutan untuk dapat mudah melangkah ke dalam, mengobrak abrik hutan Siwosawo yang tersisa.

    Penawaran uang seketika menutupi pelanggaran dan ingkar janji yang dilakukan perusahaan pada masa lalu yang dilakukan oleh WMT (Wapoga Mutiara Timber) dan SWS. Untuk sementara, tidak ada lagi yang mengkritisi ijin dan rencana pemanfaatan hasil hutan SWS yang tidak berijin. Semua melupakan ancaman-ancaman kelangkaan dan hilangnya sumber pangan, pelanggaran dan kekerasan HAM, bencana dan bahaya banjir, yang baru saja dialami sebagian besar keluarga mereka di daratan Wasior, pada Oktober 2012 lalu.

    Hutan yang dianggap sebagai benteng teraahir di kampung untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat akhirnya dibobol juga. Hanya ada beberapa orang yang tetap lantang mengkritik kehadiran dan tanggung jawab perusahaan. Ada juga memang yang ribut karena tidak mendapatkan pembagian uang secara adil. Ada yang menerima tiga juta, empat juta dan lainnya lima juta rupiah, terjadi keributan, gossip yang tidak sedap dan saling curiga. Muspika setempat hanya menonton saja hiruk pikuk di Dusner pada siang itu.

    Kabarnya, hanya sekejap uang denda dan kompensasi kayu sudah berpindah dari tangan warga ke pedagang-pedagang di Kota Wasior.

    Ank, Des 2012

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on