Selasa, 22 Januari 2013

Di awal tahun 2013, pemerintah berniat mengirim tim renegosiasi kontrak penjualan gas ke China. Tim yang dipimpin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu akan merenegosiasikan kontrak penjualan gas dari Kilang Tangguh, Papua Barat, dan selama ini diekspor ke China.

Masalah harga jual gas alam cair (liquified natural gas/LNG) Tangguh ke Fujian, China, selama ini paling sering disorot. Harga itu dianggap terlalu murah sebagai akibat ada harga batas atas (ceiling price) yang rendah dari harga minyak kini.

Apalagi belakangan permintaan gas di dalam negeri naik pesat tanpa diikuti ketersediaan gas yang cukup. Muncul masalah kekurangan pasokan gas domestik. Padahal, pembeli berani membeli gas dengan harga yang lebih mahal dibandingkan harga LNG ke Fujian itu.

Namun, analis kebijakan fiskal dari OPEC, Benny Lubiantara, dalam bukunya mengingatkan saat negosiasi harga gas Tangguh awal tahun 2000-an, pasar dibanjiri LNG di antaranya dari Qatar, Rusia, Yaman, dan Australia. Pasar LNG dikendalikan pembeli. Akibatnya, negara-negara pemasok LNG terpaksa menerima formula batas atas dan batas bawah harga LNG. Apalagi, saat itu, hampir semua institusi internasional meramalkan harga minyak berkisar 20-30 dollar AS per barrel.

Karena tidak ada infrastruktur LNG dan rendahnya permintaan gas di dalam negeri, Pemerintah Indonesia agresif mencari calon pembeli gas yang akan diproduksi dari Proyek Tangguh. Namun, LNG Tangguh kalah tender untuk memasok Guangdong yang dimenangi North West Shelf (NWS) dari Australia, dengan formula batas bawah 15 dollar AS per barrel dan batas atas 25 dollar AS per barrel.

Tahun 2002, harga LNG ke Fujian 2,4 dollar AS per juta British thermal unit (MMBTU), dengan batas atas harga minyak disepakati 25 dollar AS per barrel. Artinya, meski harga minyak lalu naik, harga jual LNG itu tetap. Setelah proses renegosiasi, tahun 2006 harga jual LNG Tangguh naik menjadi 3,35 dollar AS per MMBTU, dengan batas atas harga minyak 38 dollar AS. Masih jauh di bawah harga rata-rata minyak mentah selama tahun 2006 yang sebesar 65 dollar AS.

Saat ini rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia crude oil price/ICP) di atas 100 dollar AS per barrel. Adapun harga LNG di pasar dunia lebih dari 15 dollar AS per MMBTU. Bahkan harga gas di dalam negeri 7-11 dollar AS per MMBTU. Sungguh besar potensi penerimaan negara yang hilang akibat formula harga LNG Tangguh terkait batas atas harga minyak.

Maka, pemerintah didesak agar segera merenegosiasikan harga LNG Tangguh ke Fujian, China. Apalagi di dalam banyak kontrak LNG, ada klausul evaluasi harga yang bisa diterapkan selama interval waktu tertentu, misalnya tiap empat tahun.

Hal penting yang jadi pembelajaran adalah dalam kontrak bisnis migas jangka panjang yang penuh ketidakpastian, perlu dipertimbangkan berbagai kondisi tidak terduga. Dengan asumsi harga minyak 100 dollar AS per barrel, renegosiasi kenaikan harga gas Tangguh agar mengikuti perkembangan harga di pasar dunia menjadi keharusan. (EVY RACHMAWATI)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2013/01/22/02320131/alotnya.harga.gas

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Selasa, 22 Januari 2013

    Di awal tahun 2013, pemerintah berniat mengirim tim renegosiasi kontrak penjualan gas ke China. Tim yang dipimpin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu akan merenegosiasikan kontrak penjualan gas dari Kilang Tangguh, Papua Barat, dan selama ini diekspor ke China.

    Masalah harga jual gas alam cair (liquified natural gas/LNG) Tangguh ke Fujian, China, selama ini paling sering disorot. Harga itu dianggap terlalu murah sebagai akibat ada harga batas atas (ceiling price) yang rendah dari harga minyak kini.

    Apalagi belakangan permintaan gas di dalam negeri naik pesat tanpa diikuti ketersediaan gas yang cukup. Muncul masalah kekurangan pasokan gas domestik. Padahal, pembeli berani membeli gas dengan harga yang lebih mahal dibandingkan harga LNG ke Fujian itu.

    Namun, analis kebijakan fiskal dari OPEC, Benny Lubiantara, dalam bukunya mengingatkan saat negosiasi harga gas Tangguh awal tahun 2000-an, pasar dibanjiri LNG di antaranya dari Qatar, Rusia, Yaman, dan Australia. Pasar LNG dikendalikan pembeli. Akibatnya, negara-negara pemasok LNG terpaksa menerima formula batas atas dan batas bawah harga LNG. Apalagi, saat itu, hampir semua institusi internasional meramalkan harga minyak berkisar 20-30 dollar AS per barrel.

    Karena tidak ada infrastruktur LNG dan rendahnya permintaan gas di dalam negeri, Pemerintah Indonesia agresif mencari calon pembeli gas yang akan diproduksi dari Proyek Tangguh. Namun, LNG Tangguh kalah tender untuk memasok Guangdong yang dimenangi North West Shelf (NWS) dari Australia, dengan formula batas bawah 15 dollar AS per barrel dan batas atas 25 dollar AS per barrel.

    Tahun 2002, harga LNG ke Fujian 2,4 dollar AS per juta British thermal unit (MMBTU), dengan batas atas harga minyak disepakati 25 dollar AS per barrel. Artinya, meski harga minyak lalu naik, harga jual LNG itu tetap. Setelah proses renegosiasi, tahun 2006 harga jual LNG Tangguh naik menjadi 3,35 dollar AS per MMBTU, dengan batas atas harga minyak 38 dollar AS. Masih jauh di bawah harga rata-rata minyak mentah selama tahun 2006 yang sebesar 65 dollar AS.

    Saat ini rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia crude oil price/ICP) di atas 100 dollar AS per barrel. Adapun harga LNG di pasar dunia lebih dari 15 dollar AS per MMBTU. Bahkan harga gas di dalam negeri 7-11 dollar AS per MMBTU. Sungguh besar potensi penerimaan negara yang hilang akibat formula harga LNG Tangguh terkait batas atas harga minyak.

    Maka, pemerintah didesak agar segera merenegosiasikan harga LNG Tangguh ke Fujian, China. Apalagi di dalam banyak kontrak LNG, ada klausul evaluasi harga yang bisa diterapkan selama interval waktu tertentu, misalnya tiap empat tahun.

    Hal penting yang jadi pembelajaran adalah dalam kontrak bisnis migas jangka panjang yang penuh ketidakpastian, perlu dipertimbangkan berbagai kondisi tidak terduga. Dengan asumsi harga minyak 100 dollar AS per barrel, renegosiasi kenaikan harga gas Tangguh agar mengikuti perkembangan harga di pasar dunia menjadi keharusan. (EVY RACHMAWATI)

    Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2013/01/22/02320131/alotnya.harga.gas

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on