Oleh  : April Perlindungan

Dalam catatan Sarekat Hijau Indonesia, Sejak tahun 2009-hingga tahun 2013, perkebunan tebu PTPN VII Cinta Manis dengan menggunakan jasa aparat kepolisian, telah melakukan kekerasan, pembunuhan dan pemenjaraan kepada petani yang berjuang menuntut pengembalian lahan sebanyak 85 orang, 5 (lima ) diantaranya perempuan, 3 orang anak-anak (salah satunya Alm. Angga Bin Darmawan ) dan satu orang Balita (Farel). Kemudian akibat penembakan dan kekerasan lainnya, 80 % korban mengalami luka berat, 2 (dua ) orang mengalami cacat permanen yakni (Yarman warga Limbang Jaya) dan Mukhlisin (Desa Rengas).

Perampasan tanah rakyat yang dilakukan oleh korporasi dalam hal ini PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis, Sumatera Selatan semakin menjadi-jadi, ketika aparat TNI maupun Polri untuk kesekian kalinya menegaskan posisi mereka sebagai “centeng” kaum pemodal. Setelah meninggalnya anak usia 14 tahun, Angga Bin Darmawan yang ditembak aparat Brimob di Desa Limbang Jaya, Ogan-Ilir Sumatera Selatan, 25 Juli 2012 lalu, kini aparat polres Ogan Ilir dan Polda Sumatera Selatan kembali melakukan penganiayaan dan kriminalisasi terhadap aktifis dan sejumlah petani ketika mereka memperjuangkan lahan yang dirampas  PTPN VII Cinta Manis sejak 1982.

Tindakan brutal aparat selama konflik PTPN VII Cinta Manis itu dicatat pertama kali ketika terjadi peristiwa berdarah terhadap petani Desa Rengas (2009), kemudian Petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Penesak Bersatu-GPPB (2012), Petani yang tergabung dalam Sarekat Petani Sriwijaya, Serikat Petani Indonesia, Mahasiswa Hijau Indonesia dan Sarekat Hijau Indonesia-Sumatera Selatan (2013).

Perlu diketahui, PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis melakukan perampasan tanah rakyat dimulai sejak tahun 1982 dengan cara-cara pemaksaan, penggusuran, penembakan dan bentuk intimidasi lainnya. Sejak tahun 1982 hingga saat ini, rakyat terus melakukan perlawanan. Meskipun Hak Guna Usaha Cinta Manis (HGU) berdasarkan catatan Badan Pertanahan Nasional setempat dari total 20.000 ha hanya 6.500 yang dinyatakan ber HGU, namun rakyat yang memperjuangkan lahan diluar HGU selalu menjadi korban.

Hal itu terulang pada hari Selasa, 29 Januari 2013,  sebanyak 25 orang petani ditangkap dan dipukuli, dan 3 (tiga) aktifis Anwar Sadat ( Direktur Walhi Sumsel ) Dedek Chaniago ( SHI Sumsel ) Doni ( Mahasiswa Hijau Indonesia ) ditangkap dan mengelami luka berat. Hingga saat ini menurut informasi terakhir hingga tulisan ini dirilis, Anwar Sadat dan 11 petani lainnya masih ditahan oleh Polda Sumatera Selatan. Mereka dianiaya dan dipenjarakan ketika memperjuangkan hak-hak petani atas tanah yang telah dirampas oleh PTPN VII Cinta Manis.

Atas kejadian itu, sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam tindakan represif aparat terhadap rakyat, desakan itu sebagian muncul dalam bentuk aksi solidaritas yang dilakukan oleh elemen pro demokrasi di Sumatera Selatan dan Lampung serta organisasi tingkat nasional lainnya dijakarta. Selama aparat terus ikut campur dalam penanganan sengketa agraria antara petani versus korporasi, yang berujung kepada penembakan serta pemenjaraan rakyat, aksi solidaritas tersebut tidak akan dapat dibendung lagi.

Dengan demikian, setelah melihat jumlah korban sengketa PTPN VII Cinta Manis, sudah selayaknya, perkebunan tebu itu dibubarkan, kemudian secara adil alas hak tanah itu diberikan kepada rakyat. kemudian hal itu akan tercipta, selama aparat kepolisian kembali menjalankan fungsinya, yakni sebagai aparat pelindung rakyat. Aparat kembali bertugas dimasing-masing pos nya, karena kehadiran mereka diperkebunan, sama sekali tidak bermanfaat bagi rakyat. Tugas aparat adalah mengamankan rakyat, bukan bermain-main di kebun yang digarap rakyat.

Penulis Aktif di Sarekat Hijau Indonesia/ Staf Publikasi & Kampanye Yayasan PUSAKA

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh  : April Perlindungan

    Dalam catatan Sarekat Hijau Indonesia, Sejak tahun 2009-hingga tahun 2013, perkebunan tebu PTPN VII Cinta Manis dengan menggunakan jasa aparat kepolisian, telah melakukan kekerasan, pembunuhan dan pemenjaraan kepada petani yang berjuang menuntut pengembalian lahan sebanyak 85 orang, 5 (lima ) diantaranya perempuan, 3 orang anak-anak (salah satunya Alm. Angga Bin Darmawan ) dan satu orang Balita (Farel). Kemudian akibat penembakan dan kekerasan lainnya, 80 % korban mengalami luka berat, 2 (dua ) orang mengalami cacat permanen yakni (Yarman warga Limbang Jaya) dan Mukhlisin (Desa Rengas).

    Perampasan tanah rakyat yang dilakukan oleh korporasi dalam hal ini PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis, Sumatera Selatan semakin menjadi-jadi, ketika aparat TNI maupun Polri untuk kesekian kalinya menegaskan posisi mereka sebagai “centeng” kaum pemodal. Setelah meninggalnya anak usia 14 tahun, Angga Bin Darmawan yang ditembak aparat Brimob di Desa Limbang Jaya, Ogan-Ilir Sumatera Selatan, 25 Juli 2012 lalu, kini aparat polres Ogan Ilir dan Polda Sumatera Selatan kembali melakukan penganiayaan dan kriminalisasi terhadap aktifis dan sejumlah petani ketika mereka memperjuangkan lahan yang dirampas  PTPN VII Cinta Manis sejak 1982.

    Tindakan brutal aparat selama konflik PTPN VII Cinta Manis itu dicatat pertama kali ketika terjadi peristiwa berdarah terhadap petani Desa Rengas (2009), kemudian Petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Penesak Bersatu-GPPB (2012), Petani yang tergabung dalam Sarekat Petani Sriwijaya, Serikat Petani Indonesia, Mahasiswa Hijau Indonesia dan Sarekat Hijau Indonesia-Sumatera Selatan (2013).

    Perlu diketahui, PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis melakukan perampasan tanah rakyat dimulai sejak tahun 1982 dengan cara-cara pemaksaan, penggusuran, penembakan dan bentuk intimidasi lainnya. Sejak tahun 1982 hingga saat ini, rakyat terus melakukan perlawanan. Meskipun Hak Guna Usaha Cinta Manis (HGU) berdasarkan catatan Badan Pertanahan Nasional setempat dari total 20.000 ha hanya 6.500 yang dinyatakan ber HGU, namun rakyat yang memperjuangkan lahan diluar HGU selalu menjadi korban.

    Hal itu terulang pada hari Selasa, 29 Januari 2013,  sebanyak 25 orang petani ditangkap dan dipukuli, dan 3 (tiga) aktifis Anwar Sadat ( Direktur Walhi Sumsel ) Dedek Chaniago ( SHI Sumsel ) Doni ( Mahasiswa Hijau Indonesia ) ditangkap dan mengelami luka berat. Hingga saat ini menurut informasi terakhir hingga tulisan ini dirilis, Anwar Sadat dan 11 petani lainnya masih ditahan oleh Polda Sumatera Selatan. Mereka dianiaya dan dipenjarakan ketika memperjuangkan hak-hak petani atas tanah yang telah dirampas oleh PTPN VII Cinta Manis.

    Atas kejadian itu, sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam tindakan represif aparat terhadap rakyat, desakan itu sebagian muncul dalam bentuk aksi solidaritas yang dilakukan oleh elemen pro demokrasi di Sumatera Selatan dan Lampung serta organisasi tingkat nasional lainnya dijakarta. Selama aparat terus ikut campur dalam penanganan sengketa agraria antara petani versus korporasi, yang berujung kepada penembakan serta pemenjaraan rakyat, aksi solidaritas tersebut tidak akan dapat dibendung lagi.

    Dengan demikian, setelah melihat jumlah korban sengketa PTPN VII Cinta Manis, sudah selayaknya, perkebunan tebu itu dibubarkan, kemudian secara adil alas hak tanah itu diberikan kepada rakyat. kemudian hal itu akan tercipta, selama aparat kepolisian kembali menjalankan fungsinya, yakni sebagai aparat pelindung rakyat. Aparat kembali bertugas dimasing-masing pos nya, karena kehadiran mereka diperkebunan, sama sekali tidak bermanfaat bagi rakyat. Tugas aparat adalah mengamankan rakyat, bukan bermain-main di kebun yang digarap rakyat.

    Penulis Aktif di Sarekat Hijau Indonesia/ Staf Publikasi & Kampanye Yayasan PUSAKA

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on