Kronologis Kejadian Tindakan Kekerasan Aparat  TNI AD Terhadap Masyarakat Adat Papua yang berada di Wilayah Kerja Perusahaan Pembalakan Kayu PT. Kurnia Tama Sejahtera, di Kampung Ambumi, Distrik Kuriwamesa dan Kampung Sararti, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama

Jumat, 25 Januari 2013 (02.00 am, pagi hari)  

Beberapa masyarakat asal Kampung Sararti meminta tolong pada sopir truk perusahaan pembalakan kayu PT. Kurnia Tama Sejahtera (KTS) yang berada dilokasi logpond (tempat penimbunan kayu) Kampung Ambumi, Distrik Kuriwamesa, untuk mengantar mereka pulang ke Kampung Sararti, yang berada sekitar kilometer 38 dari logpond, tidak jauh dari lokasi camp KTS di kilometer 48.

Saksi bernama Absalon Natama dan Elias Natama menyampaikan mereka tiba dengan perahu motor dari Wasior ke logpond Ambumi sekitar pukul 02.00 am. Perjalanan penyebarangan tengah malam dari Wasior ke logpond Ambumi sebelumnya direncanakan sore hari, tetapi karena ombak maka masyarakat melanjutkan perjalanan pada tengah malam dan tidak mau menunda sampai pagi hari yang dikhawatirkan cuaca akan kembali angin dan berombak.

Absalon dan kawannya mendatangi Pos di logpond dan meminta bantuan sopir truk KTS untuk mengantar pulang warga ke Kampung Sararti, namun sopir beralasan sudah malam dan sedang sakit. Kemudian, Yulian Kiri warga asal Kampung Ambumi yang bertugas sebagai tenaga keamanan kampung di logpond Ambumi datang menyampaikan permohonan bantuan warga. Yulian beralasan mereka lapar dan jika mereka tinggal di logpond, perusahaan KTS tidak memberikan makanan dan penginapan. Yulian juga menyampaikan sikapnya bahwa masyarakat perlu dibantu karena mereka pemilik hutan dan kayu yang diambil oleh KTS.

Seorang anggota TNI, petugas Babinsa, yang baru bertugas di logpond KTS datang dan memukul wajah Yulian. Yulian marah-marah tidak menerima perlakuan Babinsa. Yulian mengambil tombaknya di kamar logpond, tetapi kawan-kawannya datang menenangkan. Beberapa saat kemudian, Yulian kembali ke Pos dan meminta maaf kepada Babinsa tersebut. Yulian menjelaskan juga alasannya marah-marah karena tidak menerima aksi pemukulan Babinsa tersebut padahal merasa tidak melakukan kesalahan.

Akhirnya masyarakat diantar pulang ke Kampung Sararti.

Pukul 14.00 pm di Logpond Ambumi

Petugas dari anggota TNI Yonif 752 yang bertugas di basecamp KTS Km 48 dan baru turun ke logpond Ambumi memanggil Yulian. Lalu terjadi pemukulan dan penganiayaan oleh lima anggota TNI. Secara bergilir dan bersama-sama mereka melakukan penganiayaan terhadap Yulian, memukul dan menendang menggunakan sepatu laras, berkali-kali, ke bagian kepala, telinga, dada, punggung dan tulang rusuk, sehingga Yulian merasa seluruh tubuh dan kepala sakit, bengkak dan memar. Mulut Yulian mengeluarkan darah dan sempat tidak sadarkan diri.

Sore hari di Basecamp Km 48

Elias Natama, warga Kampung Sararti, yang bertugas sebagai keamanan lokal di perusahaan KTS, dijemput dari Kampung Sararti oleh seorang anggota TNI ke  Pos mereka di basecamp Km 48.

Elias diminta keterangan oleh komandan regu tentang kejadian di logpond Ambumi. Setelah memberikan penjelasan, Elias diperintahkan komandang regu berdiri dibawah tiang bendera dan pushup sebanyak 100 kali. Elias yang ketakutan dan tidak mengetahui kesalahannya hanya pasrah saja menjalankan perintah siksaan. Komandan regu dan dua orang anggota TNI lainnya, juga memukul wajah Elias dan memukul dengan kayu rotan ke bagian ulu hati dan rusuk, lalu disuruh meyelam ke dalam lumpur selama 30 menit.

Para petugas TNI juga mengancam kepada Elias dan saudaranya Absalom Natama, akan menembak mereka berdua hingga mati karena dianggap memprovokasi masyarakat untuk menolak dan menutup perusahaan KTS. Petugas juga mengancam akan menembak warga kampung.

Minggu, 27 Januari 2013

Yulian masih sakit seringkali terbaring hingga tidak menyadarkan diri. Keluarga pun berinisiatif membawa Yulian ke petugas kesehatan di Kampung Ambumi. Pihak keluarga meminta bantuan perusahaan KTS mengurus pengobatan Yulian. Keluarga mempersoalkan dan marah kepada pihak perusahaan KTS yang tidak ada perhatian terhadap Yulian.

Senin, 28 Januari 2013

Yulian dan keluarganya, dikawal beberapa anggota TNI diantar ke UGD RSUD Manggurai, Wasior.

Hingga saat ini, keadaan  Yulian masih sedang sakit, kedua telinganya masih sakit dan terganggu pendengaran, sering pusing, bagian rusuk kiri dan kanan terasa nyeri dan berjalan pincang.

Sebelum aksi kekerasan yang melibatkan anggota TNI setempat, diketahui pada tanggal 5 Januari 2013, warga dari Kampung Ambumi dan Yerenusi, Distrik Kuriwamesa, melakukan aksi protes terhadap perusahan PT. Kurnia Tama Sejahtera (KTS), warga mengikat tongkang Global  Samudera II yang bermuatan kayu log jenis merbau sebanyak 4.750 meter kubik. Aksi  ini dilakukan karena perusahaan KTS melanggar hak-hak warga dengan mengambil kayu di lahan milik masyarakat setempat, tetapi tidak pernah permisi dan memberikan kompensasi kayu, yang diberikan hanya jasa penggunaan jalan sebesar Rp. 15 juta – Rp. 20 juta. Perusahaan KTS dalam beroperasi hanya mendapat ijin dan berhubungan dengan seseorang yang mengaku wakil masyarakat dan pemilik hak, bernama Jetro Kawietha, yang tinggal di Kampung Muri, Distrik Etna, Kabupaten Kaimana.

Masyarakat menahan tongkang hingga empat hari, hingga kedatangan manager perusahaan KTS yang bertemu dengan warga pada 9 Januari 2013, malam hari. Pihak perusahaan KTS yang diwakili Bpk. Sugiharto dan Bpk. Titus Mariai, dikawal oleh 4 orang anggota TNI Yonif 752 Manokwari dan 1 anggota Koramil Wasior, bertemu dengan masyarakat. Tetapi perusahaan tidak membawa Bpk. Jetro, yang dituntut warga untuk dihadirkan perusahaan. Perusahaan KTS tidak juga menanggapi tuntutan masyarakat untuk pembayaran kompensasi kepada pihak yang berhak.

Pertemuan berlangsung di Pos Keamanan, Logpond Ambumi, dihadiri sekitar 20 warga kampung (Yerenusi, Ambumi dan Nanimori), pertemuan hanya berlangsung selama satu jam dan cenderung komunikasi satu arah. Masyarakat merasa tidak bebas dan takut berbicara karena adanya petugas keamanan membawa senjata api. Petugas TNI sering mengarahkan senjata kepada peserta.

Pada Rabu, tanggal 9 Januari 2013, ditempat yang lain, Kostan Natama, Sekretaris Distrik Naikere bersama beberapa masyarakat Kampung Wombu dan Sararti, mendatangi Kadis Kehutanan, Ir Mulyono Herbalang, di Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Teluk Wondama, di Isei, untuk melaporkan pelanggaran pelanggaran ketidakjelasan hak-hak masyarakat dan meminta agar tongkang yang mengangkut kayu log milik perusahaan KTS tidak diberangkatkan, sebelum hak-hak masyarakat diselesaikan. Petugas Dishut, Bernard Setiawan, menghubungi pihak perusahaan KTS, Sugianto, tapi telpon tidak diangkat.

Pada Senin, tanggal 13 Januari 2013, masyarakat adat Suku Mairasi dan Suku Miere yang ada di Kampung Sararti, Wosimi, Urere dan Jawore, mendatangi kantor Dinas Kehutanan, untuk memenuhi undangan pertemuan dengan pihak KTS. Namun, pihak KTS tidak hadir, alasannya ada kunjungan Dandim untuk persiapan peresmian Gereja Getzemani Wonggema yang dibangun pihak TNI 752 Manokwari. Pada pertemuan tersebut masyarakat menyatakan sikap yang intinya meminta pemerintah menarik TNI di wilayah mereka, meminta agar perusahaan KTS dihentikan dan menuntut perusahaan KTS menyelesaikan hak-hak masyarakat.

Masyarakat beralasan bahwa perusahaan KTS telah melakukan pelanggaran, antara lain: (1) Perusahaan KTS melanggar kesepakatan, yang mana KTS hanya menggunakan jalan, tetapi kenyataannya hutan juga ditebang tanpa persetujuan masyarakat; (2) Perusahaan tidak terbuka tentang jumlah kubikasi kayu dan berapa kompensasi yang menjadi hak masyarakat; (3) Adanya TNI yang membiat resah warga, karena trauma atas peristiwa Wasior Berdarah pada tahun 2001 dan seringnya aparat TNI melakukan teror kepada masyarakat yang kritis dan protes terhadap perusahaan. Masyarakat takut menjadi korban penembakan lagi; (4) Terjadi penebangan kayu yang merusak karena melakukan penebangkan kayu di bawah diameter 50 up.

Sebelumnya sekitar bulan Juni 2012, warga dari Sararti dan Wombu, Distrik Kuriwamesa, juga telah menyampaikan surat kepada MRP (Majelis Rakyat Papua) di Manokwari, menuntut penutupan aktivitas perusahaan KTS karena melakukan pelanggaran, melakukan penebangan kayu diareal masyarakat tanpa kesepakatan, tidak pernah ada komunikasi tentang lokasi penebangan, tidak ada kompensasi kecuali pembayaran jasa jalan dan merusak lingkungan hutan setempat.

Perkiraan kontribusi Perusahaan KTS terhadap warga setempat:

  1. Satu buah truk untuk antar jemput warga dari kampung ke logpond di Ambumi.
  2. Bantuan gedung gereja di Kampung Sararti dan pembangunan pagar gereja di Ambumi, yang dikerjakan oleh pihak TNI 752 Manokwari.
  3. Bantuan pakaian untuk anak SD di Wombu.
  4. Bantuan kesehatan belum pernah terealisasi.
  5. Jasa penggunaan jalan Rp. 1.500.000, untuk tiap kampung.
  6. Pembayaran kompensasi hak ulayat sebanyak 2000 meter kubik x Rp. 60.000 permeter kubik (SK Gubernur), hasilnya dibagikan kepada lima kampung, dengan rincian, sebagai berikut:
  7. Kampung Wombu (diberikan kepada Maklon Uryo, Sekretaris Kampung Wosimo). Kompensasi untuk pemuatan pertama sebesar Rp. 25 juta, telah dibagikan ketiga kampung Wosimo, Undurara, Urere. Kompensasi untuk pemuatan kedua dan ketiga sebesar Rp. 20 juta, dibagikan ketiga kampung; Jasa TPK di Kilometer 34 per tahun sebesar Rp. 10. Juta untuk marga Uryo; Satu motor tempel 15 PK, yang dipotong melalui pemotongan hak.
  8. Kampung Sararti (diberikan kepada Yan Natama, Kepala Suku Sararti). Kompensasi untuk pengangkutan pertama dan kedua sebesar Rp. 22 juta, sedangkan kompensasi untuk pemuatan ketiga dan keempat, belum diterima.
Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kronologis Kejadian Tindakan Kekerasan Aparat  TNI AD Terhadap Masyarakat Adat Papua yang berada di Wilayah Kerja Perusahaan Pembalakan Kayu PT. Kurnia Tama Sejahtera, di Kampung Ambumi, Distrik Kuriwamesa dan Kampung Sararti, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama

    Jumat, 25 Januari 2013 (02.00 am, pagi hari)  

    Beberapa masyarakat asal Kampung Sararti meminta tolong pada sopir truk perusahaan pembalakan kayu PT. Kurnia Tama Sejahtera (KTS) yang berada dilokasi logpond (tempat penimbunan kayu) Kampung Ambumi, Distrik Kuriwamesa, untuk mengantar mereka pulang ke Kampung Sararti, yang berada sekitar kilometer 38 dari logpond, tidak jauh dari lokasi camp KTS di kilometer 48.

    Saksi bernama Absalon Natama dan Elias Natama menyampaikan mereka tiba dengan perahu motor dari Wasior ke logpond Ambumi sekitar pukul 02.00 am. Perjalanan penyebarangan tengah malam dari Wasior ke logpond Ambumi sebelumnya direncanakan sore hari, tetapi karena ombak maka masyarakat melanjutkan perjalanan pada tengah malam dan tidak mau menunda sampai pagi hari yang dikhawatirkan cuaca akan kembali angin dan berombak.

    Absalon dan kawannya mendatangi Pos di logpond dan meminta bantuan sopir truk KTS untuk mengantar pulang warga ke Kampung Sararti, namun sopir beralasan sudah malam dan sedang sakit. Kemudian, Yulian Kiri warga asal Kampung Ambumi yang bertugas sebagai tenaga keamanan kampung di logpond Ambumi datang menyampaikan permohonan bantuan warga. Yulian beralasan mereka lapar dan jika mereka tinggal di logpond, perusahaan KTS tidak memberikan makanan dan penginapan. Yulian juga menyampaikan sikapnya bahwa masyarakat perlu dibantu karena mereka pemilik hutan dan kayu yang diambil oleh KTS.

    Seorang anggota TNI, petugas Babinsa, yang baru bertugas di logpond KTS datang dan memukul wajah Yulian. Yulian marah-marah tidak menerima perlakuan Babinsa. Yulian mengambil tombaknya di kamar logpond, tetapi kawan-kawannya datang menenangkan. Beberapa saat kemudian, Yulian kembali ke Pos dan meminta maaf kepada Babinsa tersebut. Yulian menjelaskan juga alasannya marah-marah karena tidak menerima aksi pemukulan Babinsa tersebut padahal merasa tidak melakukan kesalahan.

    Akhirnya masyarakat diantar pulang ke Kampung Sararti.

    Pukul 14.00 pm di Logpond Ambumi

    Petugas dari anggota TNI Yonif 752 yang bertugas di basecamp KTS Km 48 dan baru turun ke logpond Ambumi memanggil Yulian. Lalu terjadi pemukulan dan penganiayaan oleh lima anggota TNI. Secara bergilir dan bersama-sama mereka melakukan penganiayaan terhadap Yulian, memukul dan menendang menggunakan sepatu laras, berkali-kali, ke bagian kepala, telinga, dada, punggung dan tulang rusuk, sehingga Yulian merasa seluruh tubuh dan kepala sakit, bengkak dan memar. Mulut Yulian mengeluarkan darah dan sempat tidak sadarkan diri.

    Sore hari di Basecamp Km 48

    Elias Natama, warga Kampung Sararti, yang bertugas sebagai keamanan lokal di perusahaan KTS, dijemput dari Kampung Sararti oleh seorang anggota TNI ke  Pos mereka di basecamp Km 48.

    Elias diminta keterangan oleh komandan regu tentang kejadian di logpond Ambumi. Setelah memberikan penjelasan, Elias diperintahkan komandang regu berdiri dibawah tiang bendera dan pushup sebanyak 100 kali. Elias yang ketakutan dan tidak mengetahui kesalahannya hanya pasrah saja menjalankan perintah siksaan. Komandan regu dan dua orang anggota TNI lainnya, juga memukul wajah Elias dan memukul dengan kayu rotan ke bagian ulu hati dan rusuk, lalu disuruh meyelam ke dalam lumpur selama 30 menit.

    Para petugas TNI juga mengancam kepada Elias dan saudaranya Absalom Natama, akan menembak mereka berdua hingga mati karena dianggap memprovokasi masyarakat untuk menolak dan menutup perusahaan KTS. Petugas juga mengancam akan menembak warga kampung.

    Minggu, 27 Januari 2013

    Yulian masih sakit seringkali terbaring hingga tidak menyadarkan diri. Keluarga pun berinisiatif membawa Yulian ke petugas kesehatan di Kampung Ambumi. Pihak keluarga meminta bantuan perusahaan KTS mengurus pengobatan Yulian. Keluarga mempersoalkan dan marah kepada pihak perusahaan KTS yang tidak ada perhatian terhadap Yulian.

    Senin, 28 Januari 2013

    Yulian dan keluarganya, dikawal beberapa anggota TNI diantar ke UGD RSUD Manggurai, Wasior.

    Hingga saat ini, keadaan  Yulian masih sedang sakit, kedua telinganya masih sakit dan terganggu pendengaran, sering pusing, bagian rusuk kiri dan kanan terasa nyeri dan berjalan pincang.

    Sebelum aksi kekerasan yang melibatkan anggota TNI setempat, diketahui pada tanggal 5 Januari 2013, warga dari Kampung Ambumi dan Yerenusi, Distrik Kuriwamesa, melakukan aksi protes terhadap perusahan PT. Kurnia Tama Sejahtera (KTS), warga mengikat tongkang Global  Samudera II yang bermuatan kayu log jenis merbau sebanyak 4.750 meter kubik. Aksi  ini dilakukan karena perusahaan KTS melanggar hak-hak warga dengan mengambil kayu di lahan milik masyarakat setempat, tetapi tidak pernah permisi dan memberikan kompensasi kayu, yang diberikan hanya jasa penggunaan jalan sebesar Rp. 15 juta – Rp. 20 juta. Perusahaan KTS dalam beroperasi hanya mendapat ijin dan berhubungan dengan seseorang yang mengaku wakil masyarakat dan pemilik hak, bernama Jetro Kawietha, yang tinggal di Kampung Muri, Distrik Etna, Kabupaten Kaimana.

    Masyarakat menahan tongkang hingga empat hari, hingga kedatangan manager perusahaan KTS yang bertemu dengan warga pada 9 Januari 2013, malam hari. Pihak perusahaan KTS yang diwakili Bpk. Sugiharto dan Bpk. Titus Mariai, dikawal oleh 4 orang anggota TNI Yonif 752 Manokwari dan 1 anggota Koramil Wasior, bertemu dengan masyarakat. Tetapi perusahaan tidak membawa Bpk. Jetro, yang dituntut warga untuk dihadirkan perusahaan. Perusahaan KTS tidak juga menanggapi tuntutan masyarakat untuk pembayaran kompensasi kepada pihak yang berhak.

    Pertemuan berlangsung di Pos Keamanan, Logpond Ambumi, dihadiri sekitar 20 warga kampung (Yerenusi, Ambumi dan Nanimori), pertemuan hanya berlangsung selama satu jam dan cenderung komunikasi satu arah. Masyarakat merasa tidak bebas dan takut berbicara karena adanya petugas keamanan membawa senjata api. Petugas TNI sering mengarahkan senjata kepada peserta.

    Pada Rabu, tanggal 9 Januari 2013, ditempat yang lain, Kostan Natama, Sekretaris Distrik Naikere bersama beberapa masyarakat Kampung Wombu dan Sararti, mendatangi Kadis Kehutanan, Ir Mulyono Herbalang, di Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Teluk Wondama, di Isei, untuk melaporkan pelanggaran pelanggaran ketidakjelasan hak-hak masyarakat dan meminta agar tongkang yang mengangkut kayu log milik perusahaan KTS tidak diberangkatkan, sebelum hak-hak masyarakat diselesaikan. Petugas Dishut, Bernard Setiawan, menghubungi pihak perusahaan KTS, Sugianto, tapi telpon tidak diangkat.

    Pada Senin, tanggal 13 Januari 2013, masyarakat adat Suku Mairasi dan Suku Miere yang ada di Kampung Sararti, Wosimi, Urere dan Jawore, mendatangi kantor Dinas Kehutanan, untuk memenuhi undangan pertemuan dengan pihak KTS. Namun, pihak KTS tidak hadir, alasannya ada kunjungan Dandim untuk persiapan peresmian Gereja Getzemani Wonggema yang dibangun pihak TNI 752 Manokwari. Pada pertemuan tersebut masyarakat menyatakan sikap yang intinya meminta pemerintah menarik TNI di wilayah mereka, meminta agar perusahaan KTS dihentikan dan menuntut perusahaan KTS menyelesaikan hak-hak masyarakat.

    Masyarakat beralasan bahwa perusahaan KTS telah melakukan pelanggaran, antara lain: (1) Perusahaan KTS melanggar kesepakatan, yang mana KTS hanya menggunakan jalan, tetapi kenyataannya hutan juga ditebang tanpa persetujuan masyarakat; (2) Perusahaan tidak terbuka tentang jumlah kubikasi kayu dan berapa kompensasi yang menjadi hak masyarakat; (3) Adanya TNI yang membiat resah warga, karena trauma atas peristiwa Wasior Berdarah pada tahun 2001 dan seringnya aparat TNI melakukan teror kepada masyarakat yang kritis dan protes terhadap perusahaan. Masyarakat takut menjadi korban penembakan lagi; (4) Terjadi penebangan kayu yang merusak karena melakukan penebangkan kayu di bawah diameter 50 up.

    Sebelumnya sekitar bulan Juni 2012, warga dari Sararti dan Wombu, Distrik Kuriwamesa, juga telah menyampaikan surat kepada MRP (Majelis Rakyat Papua) di Manokwari, menuntut penutupan aktivitas perusahaan KTS karena melakukan pelanggaran, melakukan penebangan kayu diareal masyarakat tanpa kesepakatan, tidak pernah ada komunikasi tentang lokasi penebangan, tidak ada kompensasi kecuali pembayaran jasa jalan dan merusak lingkungan hutan setempat.

    Perkiraan kontribusi Perusahaan KTS terhadap warga setempat:

    1. Satu buah truk untuk antar jemput warga dari kampung ke logpond di Ambumi.
    2. Bantuan gedung gereja di Kampung Sararti dan pembangunan pagar gereja di Ambumi, yang dikerjakan oleh pihak TNI 752 Manokwari.
    3. Bantuan pakaian untuk anak SD di Wombu.
    4. Bantuan kesehatan belum pernah terealisasi.
    5. Jasa penggunaan jalan Rp. 1.500.000, untuk tiap kampung.
    6. Pembayaran kompensasi hak ulayat sebanyak 2000 meter kubik x Rp. 60.000 permeter kubik (SK Gubernur), hasilnya dibagikan kepada lima kampung, dengan rincian, sebagai berikut:
    7. Kampung Wombu (diberikan kepada Maklon Uryo, Sekretaris Kampung Wosimo). Kompensasi untuk pemuatan pertama sebesar Rp. 25 juta, telah dibagikan ketiga kampung Wosimo, Undurara, Urere. Kompensasi untuk pemuatan kedua dan ketiga sebesar Rp. 20 juta, dibagikan ketiga kampung; Jasa TPK di Kilometer 34 per tahun sebesar Rp. 10. Juta untuk marga Uryo; Satu motor tempel 15 PK, yang dipotong melalui pemotongan hak.
    8. Kampung Sararti (diberikan kepada Yan Natama, Kepala Suku Sararti). Kompensasi untuk pengangkutan pertama dan kedua sebesar Rp. 22 juta, sedangkan kompensasi untuk pemuatan ketiga dan keempat, belum diterima.
    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on