Pemerintah mencanangkan program pengembangan pangan dan energy nasional, yang disebut MIFEE, pengelolaannya melibatkan korporasi bermodal besar sebagai investor dan pengembang proyek yang skalanya besar. Lokasi di Merauke, Papua, yang dicanangkan dan sudah diterbitkan izin untuk MIFEE seluas lebih dari 2,5 juta hektar.

Orang Marind, suku terbesar di Merauke, hidup sangat tergantung dari hasil hutan, rawa, padang dan sungai-sungai. Mereka khawatir program pembangunan MIFEE hanya akan menghancurkan kehidupan mereka, sebagaimana proyek pembangunan yang sebelumnya.

Amandus Kaize, Kepala Suku Esam di Kampung Kaisa, Distrik Animha, termasuk salah seorang yang meragukan proyek MIFEE dapat merusak hutan dan adat Orang Marind. Amandus berkeras akan menyatakan akan mengembalikan penghargaan Kalpataru yang diterima pada tahun 2007 sebagai perintis lingkungan. Jasa beliau menyelamatkan lingkungan berdasarkan ajaran adat Orang Marind tentang Unam (segala sesuatu di alam saling berhubungan) dan nakali (semua hal berkaitan dengan kehidupan manusia). Berikut petikan perbincangan dengan Amandus Kaize:

Apa artinya tanah bagi Orang Marind?

Saya tidak pernah lihat atau belum pernah dengar dari orang tua siapapun, bahwa kalau tanah kita boleh permainkan, kita bisa melahirkan kembali (tanah, -red) lagi. Saya belum pernah lihat seumur hidup, selama sejak saya lahir sampai hari ini.

Kalau tanah ada bibit, saya berani, siapa saja saya bisa berikan, karena besok saya akan tanam lagi. Saya tinggal bersetubuh dengan isteri, dia melahirkan tanah, melahirkan anak. Tapi kalau tanah tidak ada, bibit atau siapapun tidak bisa ciptakan, saya tidak berani.

Bukan menolak perkembangan, saya juga mau dibangun, tetapi pembangunan datang, terus, kita disini, pembangunan jalan disini, kita jadi penonton.

Dari 7 mahluk ciptaan Tuhan, dua yang ganjil, lima ini yang bagus, tumbuhan dia lewat bibit, biji, ada perkembangan dan ada bibit. Binatang, ada pasangan, ikan, burung sama dengan manusia. Tapi air ini, kita bisa ambil bibit dari mana, untuk kita kalau membuat rusak hancur bumi ini, kita mau dapat sumber air yang bagus dimana?, apa kita punya uang?, jadi setiap hari beli air Fit (air kemasan, red).

Terus tanah kalau tidak kita pelihara, kalau kita kasi kepada orang lain tanpa sadar, contoh macam sekarang kita Orang Marind. Sebenarnya Orang Marind tidak bisa jual-jual tanah saat sekarang, tunggu kita punya anak-anak pintar. Contoh satu kampung harus 50 orang atau 30 orang. Ini orang pintar tidak ada, kita orang bodoh lebih banyak.

Kita sudah seratus tahun lebih, tetapi perkembangan tidak tahun dia lewat jalan mana, kita tidak kenal. 100 tahun bukan gampang, mungkin Indonesia sudah 56 tahun kemerdekaan, tetapi kita manusia Papua Marind Merauke ini?, perkembangan masuk 1902, sekarang 2013, sudah berapa tahun? Seratus berapa, tapi kok kita masih begini, sekolah tidak jelas, pemalas sembahyang, tidak menghargai Ketua Adat, tidak menghargai pemimpin.

Banyak persoalan, persoalan lebih banyak dari pada kita berpikir yang bagus, untuk mau berdoa tidak ada waktu, untuk mau beri sekolah anak-anak tidak ada waktu, kita lebih banyak sibuk dengan kesusahan, akhirnya orang bisa bilang: ah ini susah dibangun kah, begitu. Perkembangan salah masuk.

Bagaimana dengan program pemerintah, lembaga sosial dan ekonomi di Kampung?

Sekarang kamu tolong pertanggung jawabkan ini, Marind sudah hancur baru kamu mau buka mata. Salah. Waktu kamu dengan pemerintah masuk, ada buat apa terhadap Orang Marind, kesalahan besar ada duduk disitu. Sekarang mau cari obat, mau kase gula, penuh juga, air sedikit, percuma. Ini saya bicara tentang Orang Marind, saya orang Marind, namek orang Marind. Tapi saya punya kampung disana, karena ini tanah Marind saya berhak bicara, apa yang saya tahu, apa yang saya alami, dari lahir sampai sekarang 48 tahun, sekolah tidak jelas.

Apa pendapat bapak tentang proyek MIFEE?

Kalau MIFEE, dia punya itu ada dua, ada bagus ada tidak baik. Itu dulu yang dipilih, baru bicara yang lain-lain. Dia punya tujuan bagus, tapi ada tidak baiknya, tidak baiknya sama dengan investor yang ada sekarang, penanaman kayu dan pengelolaan segala macam. Kalau tanam yang kecil-kecil tidak apa, tapi yang ribuan hektar, banyak menginjak hak-hak dasar. Sebenarnya orang Marind tidak boleh korek tanah itu sekarang, tetapi begitu perusahaan besar-besar masuk, sudah tidak dihargai.

Sama dengan Indonesia bagian barat, saya pernah lihat di film, baca di buku, di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sekarang kita di Papua bagian selatan ini baru mulai sekarang, dengan adanya program MIFEE. Merauke ini mau dijadikan apa, ihhh nanti, saya juga tidak sekolah, jadi saya tidak omong apa-apa. Katanya mau jadi program pangan nasional.

Tapi, tanahnya memang bagus, tapi kalau sudah lebih dari situ, macam kalau sawah saja, tanah memang terbatas, sawah paling bagian pantai, kita tidak dapat karena tidak bisa tanam. Tapi yang serang kita didaratan tinggi, itu investasi, seperti Medco, perkebunan tebu, sawit juga mungkin ada, jadi itu yang lebih besar, tapi semuanya masuk MIFEE toh.

Kalau padi itu yang masuk di akal. Kalau kita bisa lihat, kita makan nasi, sagu itu agak kurang, tapi yang kelapa sawit, tebu, ini persoalan. Terus yang penanaman industi, HTI.

Investor pernah turun ke kampung bapak?

Investor takut saya. Saya babi punya anak, saya punya mama itu fam babi. Saya fam kasuari.  Babi itu kalau dia cium bau kotor, tetap dia mengamuk. Kasuari tidak bisa berkelahi dengan orang, tapi dia pintar. Kau jarak jauh sana, dia bisa lihat langsung, oh itu manusia yang berdiri, dia mau bunuh saya, dia harus jaga selak dari sini. Kalau babi ini memang jahat, jadi saya punya mama itu keturunan babi.

Berarti bapak dari jauh sudah tahu investor ini orang jahat?

Saya ini belajar adat sudah 20 tahun lebih. Saya lebih cinta adat dari pada isteri. Sebelum isteri, sebelum makan, saya harus urus adat. Karena hukum yang lebih tinggi. Kalau di Alkitab kita sering baca, Tuhan Allah serahkan bumi kepada Adam, tapi saya punya tulisan buku, hukum lebih tinggi dari pada manusia, karenanya hukum yang harus dihargai, baru manusia bisa tenang, kalau kita taruh hukum dibawah dan manusia diatas, kacau. Ini sudah sekarang ini, macam Indonesia punya Undang-Undang Dasar 45, sekarang apakah UUD 1945 ini, dia jaminkah?. Karena kita ini perserikatan bangsa-bangsa. Di Indonesia itu suku bangsa terlalu banyak, dari Sabang sampai Merauke, ribut, sibuk masing-masing bikin dia punya. Apa bisa UUD 1945 dia bisa jamin. Tuhan berikan kemerdekaan itu setelah penggabungan seluruh suku bangsa untuk menjadikan suatu negara, tetapi setelah negara jadi, sekarang apa, pertanggung jawaban?.

Kita juga bagian Marind, Soekarno pernah datang sampai sini untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia punya barang-barang masih saya simpan, sekarang mana bukti.

Apa tanah bapak belum diambil investor?

Satu meter pun saya tidak akan berikan siapa-siapa, yang penting sudah dalam lindungan batas NKRI. Saya ada di dalam, saya tidak bisa beken apa-apa. Karena kalau saya sudah lepas hutan berarti saya sudah keluar dari sombar menuju panas, disitu saya akan haus, tahan angin, hujan dan segala macam. Tetapi kalau saya masih tetap di hutan maka saya tidak akan susah, saya tidak ada uang, saya pergi pangkur, saya tidak ada uang, saya pergi cari ikan, busur anjing. Kalau saya punya alam, yang ciptaan, yang dulu Tuhan tinggalkan. Sama seperti kita kembali ke taman eden, waktu Adam masih tinggal dengan Hawa, segala itu ada. Begitu menurut tulisan, begitu Adam jatuh ke tangan dosa, sama seperti sekarang. Undang-undang okay kita hargai, tapi pelaksanaannya apa, pertanggung jawabannya.

Katanya perusahaan membuat sosialisasi?

Sosialisasi itu bahasa Indonesia, kalau bahasa Marind itu artinya kabur. Kalau yang disebut sosialisasi itu, LMA Kabupaten harus ada, empat golongan adat Marind harus ada, tua-tua adat harus ada, tapi ini investor dorang masuk langsung ke pemiliknya. Terus kita punya lembaga tradisional di kampung, di kabupaten, tetapi tidak melalui sana. Dia langsung masuk ke pemilik.

Jadi cara sosialisasi itu yang saya berikan keterangan. Dia tidak masuk melalui lembaga adat di Merauke, terus disini dia tidak melalui tua-tua. Dia langsung masuk ke pemilik, langsung ke marga.

Jadi, karena sudah lewat mau bicara, jadi salah. Padahal informasinya sudah jelas. Itu tetap ada konflik. Kalau kita Orang Marind tidak bisa bicara terang. Memang dihadapan orang lain nanti kita bilang oke, tapi akibat dari perusahaan, kita akan baku bunuh lagi sendiri, itu tidak akan lari. Hari ini kau jual tanah di muka orang lain oke, tapi dibelakang kalau kita baku bunuh lagi sendiri. Itu akibatnya kalau kena di suku Marind.

Sebenarnya contoh disini Zanegi dan Buepe. Buepe 200 juta dan Zanegi 300 juta (jumlah uang kompensasi, red). Zanegi dia minta gereja, terlambat, terus ada apa lagi tidak jadi. Dulu, kaka Jon, waktu masih bupati, dia bilang begini, nanti ada sebagian lahan itu nanti orang kampung sendiri yang tanam,  ternyata tidak ada masyarakat punya tanaman di areal yang medco ada kerja, nanti perusahaan bayar, mana sekarang?, tidak ada.

Kenapa bapak tidak buat rumah adat, lalu bongkar hutan. Apa bapak sudah mulai empat golongan adatkah, itu salah jauh. kau sudah lewat LMA Kabupaten, LMA itu resmi sekarang, dilantik oleh Menteri.

Sebenarnya kalau mau masuk ke bawah harus minta rekomendasi, yang bagus, supaya masyarakat tidak kena tipu, harga tidak turun.

Saya juga sebenarnya kacau dengan omongan itu. Saya ngomong yang bagus-bagus saja. Dimana orang mau tertawa, mau pikir karna kenapa kita bisa ketinggalan. Karena ya kalau kita mau bicara barang itu,  karena ini sudah perang dari nenek moyang, waktu manusia masih hilang-hilang. Datang sekarang kita masih lagi perang batas tanah, tidak akan habis. karena menurut sejarah itu, begitu peralihan menjelma menjadi manusia biasa kita ini. Tanah sudah selesai dibagi. terus Kalau kita kase orang lagi, Sebenarnya tidak ada bahasa untuk kita mau bicara.  Kita mau kase orang lagi, terus kita punya anak cucu mau kemana, Bagus kalau kita tidak buat turunan. Lebih bagus tutup semua. Perempuan tutup, laki-laki tutup. 

Ada rencana pembayaran kompensasi perusahaan (Hardaya)?

Saya belum tenang di tempat, karena dorang besok ada mau pembayaran dari Hardaya, tanah yang di Jagebob 10 dan 11. Dorang punya sambungan tanah yang ada di Koa yang mau dibayar. Kalau disebelah sini ARN, yang dorang ganti nama lagi Wilmar lagi, dia ambil batas Sakor, Kali Kumbe sebelah dan sebelah sini 5 kilometer.

Bagaimana tanggapan bapak, karena wilayah Kampung Koa separuh arealnya milik perusahaan ARN dan separuh untuk Hardaya?

Terus saya tanya dorang. Kamu berani, sekarang kamu coba jawab, kamu mau ambil parang untuk mau potong pucuk sagu dan dusun sagu tebal, yang mana. Koa hidup dari dusun itu. Kau mesti tanam padi. Dorang tidak jawab.

Kamu coba pikir dulu, baru mengaku ke perusahaan, jangan langsung karena dengar uang milyar. kita ini belum bisa bikin uang jadi uang sampai jadi orang kaya. Kita punya tangan ini belum bersih. Kalau orang lain, macam contoh rambut panjang, sudah dapat sedikit, dia punya uang jadi banyak. Kita dapat banyak, uang habis ditangan. Berarti kita jangan lepas yang besar-besar, boleh tapi yang kecil-kecil, orang mau bikin rumah kah, rumah pribadi kah, atau untuk memperluas kampung kah, distrik kah, tapi kalau yang itu kan kosong. Kita buka lepas tanah, buka pintu, banyak orang masuk. orang yang datang itu orang-orang yang sudah siap diri, yang sudah sekolah, sampeee, apa kita bisa bersaing. dorang tidak pikir kesitu dulu

Ini begitu dengar orang milyar, besok isteri banyak, mabok rata, ini itu… susah. saya hanya bicara saja, kita hanya tugas bicara, tidak mau dengar kase tinggal, kita juga lahir dan mati tidak sama, dosa juga tidak sama dapat, siapa yang berbuat salah dia dapat dosa….kacau.

Apa perkembangannya?

Kita hitung tahun saja, kita ini sudah seratus tahun, agama masuk, perubahan masuk, waktu masih belanda, terus peralihan Papua jatuh ke tangan ibu pertiwi, sudah berapa puluh tahun, tambah jauh lagi, bukan maju. Manusia tambah banyak, Tapi sebenarnya kalu kita bisa menghargai masing-masing budaya sendiri, baru keluar ke daerah lain, masih bisa bagus, karena kita ini perserikatan bangsa-bangsa, contoh macam PBB, ribuan suku bangsa dari sabang sampai merauke, tapi kok barang itu tidak kelihatan, kita cari juga sampai keluar masuk kantor tidak dapat, pejabat diatas pejabat. kita punya anak-anak sendiri naik juga sama saja.

Makanya saya punya pikiran selalu timbul, saya tidak mau lepas hutan karena itu salah satunya payung yang melindungi, saya punya turun temurun bisa hidup tenang, manusia, binatang, ikan, burung, jadi ada hiburan, ada pohon, ikan, air, bagus. Kalau kita alihkan itu lagi, apa kita bisa kah di zaman yang sana, belum. Karena itu mencintai ciptaan Tuhan, masih sayang, takut Tuhan, sayang Tuhan, ucap terima kasih, karena itu dia punya ciptaan, karena manusia tidak bisa berbuat itu. Tidak bisa bikin pohon, tidak bisa bikin binatang, biar gambar juga dia tidak akan jadi, kalau Tuhan dia jadi, Dia gambar saja, selesai. Apa manusia kita bisa? kalau manusia tidak pikir saja susah, kalau tidak cinta ciptaan Tuhan, memang Tuhan tidak kita lihat, tapi dia punya karya, dia punya peninggalan, kita lihat nyata, ada.

Dekat Kampung Kaiza ada juga investor lain?

Itu sudah Kampung Koa. Ada Hardaya disebelah timur dan ARN disebalah selatan. Dorang mau maju ke sana dong takut. Saya babi punya anak, saya punya pilihan cuma, saya punya kunci cuma satu, berani siapa yang ganggu saya, Kalpataru saya bawa pulang ke presiden. Saya so bilang Kapolsek, Danramil, Kamu siap ganti Kapolri dengan Panglima, karena setiap kepala negara Indonesia harus diambil dari ABRI, tanggung jawab. Bawa pulang, tapi saya undang wartawan dulu. pasti yang macam begini saya panggil. Telepon dulu Jakarta, okey, saya mau bawa pulang dulu ini barang tidak masuk akal, sebenarnya itu salah satu langka untuk bisa bantu yang ini, cuma dananya yang macet, kalau dia punya dana dulu saya dapat untuk penanaman kembali, tanaman khas, perintas presiden tanggal 6 Juni di Istana negara dari sabang sampai Merauke, oiii tidak dapat.

Kalpataru itu dari Jawa. Penghargaan untuk perintis, pengabdi, penyelamat dan pembina lingkungan. Saya termasuk dalam kategori perintis. Dari 132 peserta diseluruh Indonesia, 22 yang masuk dan 12 yang dapat.

Kalau ada yang ganggu saya bawa pulang, tapi saya mesti panggil wartawan dulu. Cuma mau melayang-layang, saya agak ragu. Karena Bupati, dorang sudah kase ijin perusahaan masuk, dong mau kasi dana untuk itu tidak bisa, dorang bilang tidak ada dana. Tapi Presiden bilang ada dia punya itu. Saya tidak mau bicara lagi, karena itu Tuhan Allah punya barang, kalo Tuhan Allah kirim dari surga, boleh. Ini manusia yang pegang bumi jadi susah.

ARN juga sudah masuk ke Koa?

ARN itu yang tadi ada bilang, sedikit lagi dorang dapa bayar, selesai yang ini. Dorang sudah ganti nama lagi dengan Wilmar kah. Saya tidak cocok memang, karena saya ini lain. Saya lebih cinta adat dari pada pikir yang lain-lain, karena kalau saya sudah lepas ada, saya bingung, kesasar, lebih bagus saya tetap, tidak boleh pindah kemana-mana. biar susah, yang penting bisa bernapas, ada makan, ada teman banyak. Apa yang bisa kita buat ya itu saja, yang besar-besar tidak usah pikir. siapa yang merasa diri penolong bisa datang, kita terima.

Saya tidak bisa bicara lagi, musti pikir, kita ini kan tidak sekolah, jadi mesti pikir dulu, kalau mereka sudah bilang, cari lagi. kalo sekolah kan ada buku petunjuk yang bisa dilihat. Kalo kita bicara saja, lihat pohon, ini angina, ini apa, lihat burung bersura begini arti tandanya apa. Kita sekolah dari situ. (Ank, Sept 2013)

Keterangan:

Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru sendiri adalah bahasa Sanskerta yang berarti pohon kehidupan (Kalpavriksha).

Hardaya adalah nama sebutan untuk perusahaan yang dimiliki oleh Hartati Murdaya Poo, dibawah holding company Central Cipta Murdaya (CCM).  Ada tiga perusahaan dibawah payung CCM yang mempunyai investasi di Merauke, yakni: (1) PT. Hardaya Sawit Papua Plantation, untuk usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 62.150 ha di Distrik Jagebob; (2) PT. Central Cipta Murdaya, untuk usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 40.000 ha di Distrik Muting, Ulilin dan Elikobel; (3) PT. Hardaya Sugar Plantation Merauke, untuk usaha perkebunan tebu dengan luas areal 44.812 ha di Distrik Jagebob.

ARN singkatan dari Anugerah Rezeki Nusantara, nama perusahaan perkebunan tebu milik Wilmar International Group, yang luasnya mencapai 27.500 ha, beroperasi di Distrik Animha, Tanah Miring dan Jagebob.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Pemerintah mencanangkan program pengembangan pangan dan energy nasional, yang disebut MIFEE, pengelolaannya melibatkan korporasi bermodal besar sebagai investor dan pengembang proyek yang skalanya besar. Lokasi di Merauke, Papua, yang dicanangkan dan sudah diterbitkan izin untuk MIFEE seluas lebih dari 2,5 juta hektar.

    Orang Marind, suku terbesar di Merauke, hidup sangat tergantung dari hasil hutan, rawa, padang dan sungai-sungai. Mereka khawatir program pembangunan MIFEE hanya akan menghancurkan kehidupan mereka, sebagaimana proyek pembangunan yang sebelumnya.

    Amandus Kaize, Kepala Suku Esam di Kampung Kaisa, Distrik Animha, termasuk salah seorang yang meragukan proyek MIFEE dapat merusak hutan dan adat Orang Marind. Amandus berkeras akan menyatakan akan mengembalikan penghargaan Kalpataru yang diterima pada tahun 2007 sebagai perintis lingkungan. Jasa beliau menyelamatkan lingkungan berdasarkan ajaran adat Orang Marind tentang Unam (segala sesuatu di alam saling berhubungan) dan nakali (semua hal berkaitan dengan kehidupan manusia). Berikut petikan perbincangan dengan Amandus Kaize:

    Apa artinya tanah bagi Orang Marind?

    Saya tidak pernah lihat atau belum pernah dengar dari orang tua siapapun, bahwa kalau tanah kita boleh permainkan, kita bisa melahirkan kembali (tanah, -red) lagi. Saya belum pernah lihat seumur hidup, selama sejak saya lahir sampai hari ini.

    Kalau tanah ada bibit, saya berani, siapa saja saya bisa berikan, karena besok saya akan tanam lagi. Saya tinggal bersetubuh dengan isteri, dia melahirkan tanah, melahirkan anak. Tapi kalau tanah tidak ada, bibit atau siapapun tidak bisa ciptakan, saya tidak berani.

    Bukan menolak perkembangan, saya juga mau dibangun, tetapi pembangunan datang, terus, kita disini, pembangunan jalan disini, kita jadi penonton.

    Dari 7 mahluk ciptaan Tuhan, dua yang ganjil, lima ini yang bagus, tumbuhan dia lewat bibit, biji, ada perkembangan dan ada bibit. Binatang, ada pasangan, ikan, burung sama dengan manusia. Tapi air ini, kita bisa ambil bibit dari mana, untuk kita kalau membuat rusak hancur bumi ini, kita mau dapat sumber air yang bagus dimana?, apa kita punya uang?, jadi setiap hari beli air Fit (air kemasan, red).

    Terus tanah kalau tidak kita pelihara, kalau kita kasi kepada orang lain tanpa sadar, contoh macam sekarang kita Orang Marind. Sebenarnya Orang Marind tidak bisa jual-jual tanah saat sekarang, tunggu kita punya anak-anak pintar. Contoh satu kampung harus 50 orang atau 30 orang. Ini orang pintar tidak ada, kita orang bodoh lebih banyak.

    Kita sudah seratus tahun lebih, tetapi perkembangan tidak tahun dia lewat jalan mana, kita tidak kenal. 100 tahun bukan gampang, mungkin Indonesia sudah 56 tahun kemerdekaan, tetapi kita manusia Papua Marind Merauke ini?, perkembangan masuk 1902, sekarang 2013, sudah berapa tahun? Seratus berapa, tapi kok kita masih begini, sekolah tidak jelas, pemalas sembahyang, tidak menghargai Ketua Adat, tidak menghargai pemimpin.

    Banyak persoalan, persoalan lebih banyak dari pada kita berpikir yang bagus, untuk mau berdoa tidak ada waktu, untuk mau beri sekolah anak-anak tidak ada waktu, kita lebih banyak sibuk dengan kesusahan, akhirnya orang bisa bilang: ah ini susah dibangun kah, begitu. Perkembangan salah masuk.

    Bagaimana dengan program pemerintah, lembaga sosial dan ekonomi di Kampung?

    Sekarang kamu tolong pertanggung jawabkan ini, Marind sudah hancur baru kamu mau buka mata. Salah. Waktu kamu dengan pemerintah masuk, ada buat apa terhadap Orang Marind, kesalahan besar ada duduk disitu. Sekarang mau cari obat, mau kase gula, penuh juga, air sedikit, percuma. Ini saya bicara tentang Orang Marind, saya orang Marind, namek orang Marind. Tapi saya punya kampung disana, karena ini tanah Marind saya berhak bicara, apa yang saya tahu, apa yang saya alami, dari lahir sampai sekarang 48 tahun, sekolah tidak jelas.

    Apa pendapat bapak tentang proyek MIFEE?

    Kalau MIFEE, dia punya itu ada dua, ada bagus ada tidak baik. Itu dulu yang dipilih, baru bicara yang lain-lain. Dia punya tujuan bagus, tapi ada tidak baiknya, tidak baiknya sama dengan investor yang ada sekarang, penanaman kayu dan pengelolaan segala macam. Kalau tanam yang kecil-kecil tidak apa, tapi yang ribuan hektar, banyak menginjak hak-hak dasar. Sebenarnya orang Marind tidak boleh korek tanah itu sekarang, tetapi begitu perusahaan besar-besar masuk, sudah tidak dihargai.

    Sama dengan Indonesia bagian barat, saya pernah lihat di film, baca di buku, di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sekarang kita di Papua bagian selatan ini baru mulai sekarang, dengan adanya program MIFEE. Merauke ini mau dijadikan apa, ihhh nanti, saya juga tidak sekolah, jadi saya tidak omong apa-apa. Katanya mau jadi program pangan nasional.

    Tapi, tanahnya memang bagus, tapi kalau sudah lebih dari situ, macam kalau sawah saja, tanah memang terbatas, sawah paling bagian pantai, kita tidak dapat karena tidak bisa tanam. Tapi yang serang kita didaratan tinggi, itu investasi, seperti Medco, perkebunan tebu, sawit juga mungkin ada, jadi itu yang lebih besar, tapi semuanya masuk MIFEE toh.

    Kalau padi itu yang masuk di akal. Kalau kita bisa lihat, kita makan nasi, sagu itu agak kurang, tapi yang kelapa sawit, tebu, ini persoalan. Terus yang penanaman industi, HTI.

    Investor pernah turun ke kampung bapak?

    Investor takut saya. Saya babi punya anak, saya punya mama itu fam babi. Saya fam kasuari.  Babi itu kalau dia cium bau kotor, tetap dia mengamuk. Kasuari tidak bisa berkelahi dengan orang, tapi dia pintar. Kau jarak jauh sana, dia bisa lihat langsung, oh itu manusia yang berdiri, dia mau bunuh saya, dia harus jaga selak dari sini. Kalau babi ini memang jahat, jadi saya punya mama itu keturunan babi.

    Berarti bapak dari jauh sudah tahu investor ini orang jahat?

    Saya ini belajar adat sudah 20 tahun lebih. Saya lebih cinta adat dari pada isteri. Sebelum isteri, sebelum makan, saya harus urus adat. Karena hukum yang lebih tinggi. Kalau di Alkitab kita sering baca, Tuhan Allah serahkan bumi kepada Adam, tapi saya punya tulisan buku, hukum lebih tinggi dari pada manusia, karenanya hukum yang harus dihargai, baru manusia bisa tenang, kalau kita taruh hukum dibawah dan manusia diatas, kacau. Ini sudah sekarang ini, macam Indonesia punya Undang-Undang Dasar 45, sekarang apakah UUD 1945 ini, dia jaminkah?. Karena kita ini perserikatan bangsa-bangsa. Di Indonesia itu suku bangsa terlalu banyak, dari Sabang sampai Merauke, ribut, sibuk masing-masing bikin dia punya. Apa bisa UUD 1945 dia bisa jamin. Tuhan berikan kemerdekaan itu setelah penggabungan seluruh suku bangsa untuk menjadikan suatu negara, tetapi setelah negara jadi, sekarang apa, pertanggung jawaban?.

    Kita juga bagian Marind, Soekarno pernah datang sampai sini untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia punya barang-barang masih saya simpan, sekarang mana bukti.

    Apa tanah bapak belum diambil investor?

    Satu meter pun saya tidak akan berikan siapa-siapa, yang penting sudah dalam lindungan batas NKRI. Saya ada di dalam, saya tidak bisa beken apa-apa. Karena kalau saya sudah lepas hutan berarti saya sudah keluar dari sombar menuju panas, disitu saya akan haus, tahan angin, hujan dan segala macam. Tetapi kalau saya masih tetap di hutan maka saya tidak akan susah, saya tidak ada uang, saya pergi pangkur, saya tidak ada uang, saya pergi cari ikan, busur anjing. Kalau saya punya alam, yang ciptaan, yang dulu Tuhan tinggalkan. Sama seperti kita kembali ke taman eden, waktu Adam masih tinggal dengan Hawa, segala itu ada. Begitu menurut tulisan, begitu Adam jatuh ke tangan dosa, sama seperti sekarang. Undang-undang okay kita hargai, tapi pelaksanaannya apa, pertanggung jawabannya.

    Katanya perusahaan membuat sosialisasi?

    Sosialisasi itu bahasa Indonesia, kalau bahasa Marind itu artinya kabur. Kalau yang disebut sosialisasi itu, LMA Kabupaten harus ada, empat golongan adat Marind harus ada, tua-tua adat harus ada, tapi ini investor dorang masuk langsung ke pemiliknya. Terus kita punya lembaga tradisional di kampung, di kabupaten, tetapi tidak melalui sana. Dia langsung masuk ke pemilik.

    Jadi cara sosialisasi itu yang saya berikan keterangan. Dia tidak masuk melalui lembaga adat di Merauke, terus disini dia tidak melalui tua-tua. Dia langsung masuk ke pemilik, langsung ke marga.

    Jadi, karena sudah lewat mau bicara, jadi salah. Padahal informasinya sudah jelas. Itu tetap ada konflik. Kalau kita Orang Marind tidak bisa bicara terang. Memang dihadapan orang lain nanti kita bilang oke, tapi akibat dari perusahaan, kita akan baku bunuh lagi sendiri, itu tidak akan lari. Hari ini kau jual tanah di muka orang lain oke, tapi dibelakang kalau kita baku bunuh lagi sendiri. Itu akibatnya kalau kena di suku Marind.

    Sebenarnya contoh disini Zanegi dan Buepe. Buepe 200 juta dan Zanegi 300 juta (jumlah uang kompensasi, red). Zanegi dia minta gereja, terlambat, terus ada apa lagi tidak jadi. Dulu, kaka Jon, waktu masih bupati, dia bilang begini, nanti ada sebagian lahan itu nanti orang kampung sendiri yang tanam,  ternyata tidak ada masyarakat punya tanaman di areal yang medco ada kerja, nanti perusahaan bayar, mana sekarang?, tidak ada.

    Kenapa bapak tidak buat rumah adat, lalu bongkar hutan. Apa bapak sudah mulai empat golongan adatkah, itu salah jauh. kau sudah lewat LMA Kabupaten, LMA itu resmi sekarang, dilantik oleh Menteri.

    Sebenarnya kalau mau masuk ke bawah harus minta rekomendasi, yang bagus, supaya masyarakat tidak kena tipu, harga tidak turun.

    Saya juga sebenarnya kacau dengan omongan itu. Saya ngomong yang bagus-bagus saja. Dimana orang mau tertawa, mau pikir karna kenapa kita bisa ketinggalan. Karena ya kalau kita mau bicara barang itu,  karena ini sudah perang dari nenek moyang, waktu manusia masih hilang-hilang. Datang sekarang kita masih lagi perang batas tanah, tidak akan habis. karena menurut sejarah itu, begitu peralihan menjelma menjadi manusia biasa kita ini. Tanah sudah selesai dibagi. terus Kalau kita kase orang lagi, Sebenarnya tidak ada bahasa untuk kita mau bicara.  Kita mau kase orang lagi, terus kita punya anak cucu mau kemana, Bagus kalau kita tidak buat turunan. Lebih bagus tutup semua. Perempuan tutup, laki-laki tutup. 

    Ada rencana pembayaran kompensasi perusahaan (Hardaya)?

    Saya belum tenang di tempat, karena dorang besok ada mau pembayaran dari Hardaya, tanah yang di Jagebob 10 dan 11. Dorang punya sambungan tanah yang ada di Koa yang mau dibayar. Kalau disebelah sini ARN, yang dorang ganti nama lagi Wilmar lagi, dia ambil batas Sakor, Kali Kumbe sebelah dan sebelah sini 5 kilometer.

    Bagaimana tanggapan bapak, karena wilayah Kampung Koa separuh arealnya milik perusahaan ARN dan separuh untuk Hardaya?

    Terus saya tanya dorang. Kamu berani, sekarang kamu coba jawab, kamu mau ambil parang untuk mau potong pucuk sagu dan dusun sagu tebal, yang mana. Koa hidup dari dusun itu. Kau mesti tanam padi. Dorang tidak jawab.

    Kamu coba pikir dulu, baru mengaku ke perusahaan, jangan langsung karena dengar uang milyar. kita ini belum bisa bikin uang jadi uang sampai jadi orang kaya. Kita punya tangan ini belum bersih. Kalau orang lain, macam contoh rambut panjang, sudah dapat sedikit, dia punya uang jadi banyak. Kita dapat banyak, uang habis ditangan. Berarti kita jangan lepas yang besar-besar, boleh tapi yang kecil-kecil, orang mau bikin rumah kah, rumah pribadi kah, atau untuk memperluas kampung kah, distrik kah, tapi kalau yang itu kan kosong. Kita buka lepas tanah, buka pintu, banyak orang masuk. orang yang datang itu orang-orang yang sudah siap diri, yang sudah sekolah, sampeee, apa kita bisa bersaing. dorang tidak pikir kesitu dulu

    Ini begitu dengar orang milyar, besok isteri banyak, mabok rata, ini itu… susah. saya hanya bicara saja, kita hanya tugas bicara, tidak mau dengar kase tinggal, kita juga lahir dan mati tidak sama, dosa juga tidak sama dapat, siapa yang berbuat salah dia dapat dosa….kacau.

    Apa perkembangannya?

    Kita hitung tahun saja, kita ini sudah seratus tahun, agama masuk, perubahan masuk, waktu masih belanda, terus peralihan Papua jatuh ke tangan ibu pertiwi, sudah berapa puluh tahun, tambah jauh lagi, bukan maju. Manusia tambah banyak, Tapi sebenarnya kalu kita bisa menghargai masing-masing budaya sendiri, baru keluar ke daerah lain, masih bisa bagus, karena kita ini perserikatan bangsa-bangsa, contoh macam PBB, ribuan suku bangsa dari sabang sampai merauke, tapi kok barang itu tidak kelihatan, kita cari juga sampai keluar masuk kantor tidak dapat, pejabat diatas pejabat. kita punya anak-anak sendiri naik juga sama saja.

    Makanya saya punya pikiran selalu timbul, saya tidak mau lepas hutan karena itu salah satunya payung yang melindungi, saya punya turun temurun bisa hidup tenang, manusia, binatang, ikan, burung, jadi ada hiburan, ada pohon, ikan, air, bagus. Kalau kita alihkan itu lagi, apa kita bisa kah di zaman yang sana, belum. Karena itu mencintai ciptaan Tuhan, masih sayang, takut Tuhan, sayang Tuhan, ucap terima kasih, karena itu dia punya ciptaan, karena manusia tidak bisa berbuat itu. Tidak bisa bikin pohon, tidak bisa bikin binatang, biar gambar juga dia tidak akan jadi, kalau Tuhan dia jadi, Dia gambar saja, selesai. Apa manusia kita bisa? kalau manusia tidak pikir saja susah, kalau tidak cinta ciptaan Tuhan, memang Tuhan tidak kita lihat, tapi dia punya karya, dia punya peninggalan, kita lihat nyata, ada.

    Dekat Kampung Kaiza ada juga investor lain?

    Itu sudah Kampung Koa. Ada Hardaya disebelah timur dan ARN disebalah selatan. Dorang mau maju ke sana dong takut. Saya babi punya anak, saya punya pilihan cuma, saya punya kunci cuma satu, berani siapa yang ganggu saya, Kalpataru saya bawa pulang ke presiden. Saya so bilang Kapolsek, Danramil, Kamu siap ganti Kapolri dengan Panglima, karena setiap kepala negara Indonesia harus diambil dari ABRI, tanggung jawab. Bawa pulang, tapi saya undang wartawan dulu. pasti yang macam begini saya panggil. Telepon dulu Jakarta, okey, saya mau bawa pulang dulu ini barang tidak masuk akal, sebenarnya itu salah satu langka untuk bisa bantu yang ini, cuma dananya yang macet, kalau dia punya dana dulu saya dapat untuk penanaman kembali, tanaman khas, perintas presiden tanggal 6 Juni di Istana negara dari sabang sampai Merauke, oiii tidak dapat.

    Kalpataru itu dari Jawa. Penghargaan untuk perintis, pengabdi, penyelamat dan pembina lingkungan. Saya termasuk dalam kategori perintis. Dari 132 peserta diseluruh Indonesia, 22 yang masuk dan 12 yang dapat.

    Kalau ada yang ganggu saya bawa pulang, tapi saya mesti panggil wartawan dulu. Cuma mau melayang-layang, saya agak ragu. Karena Bupati, dorang sudah kase ijin perusahaan masuk, dong mau kasi dana untuk itu tidak bisa, dorang bilang tidak ada dana. Tapi Presiden bilang ada dia punya itu. Saya tidak mau bicara lagi, karena itu Tuhan Allah punya barang, kalo Tuhan Allah kirim dari surga, boleh. Ini manusia yang pegang bumi jadi susah.

    ARN juga sudah masuk ke Koa?

    ARN itu yang tadi ada bilang, sedikit lagi dorang dapa bayar, selesai yang ini. Dorang sudah ganti nama lagi dengan Wilmar kah. Saya tidak cocok memang, karena saya ini lain. Saya lebih cinta adat dari pada pikir yang lain-lain, karena kalau saya sudah lepas ada, saya bingung, kesasar, lebih bagus saya tetap, tidak boleh pindah kemana-mana. biar susah, yang penting bisa bernapas, ada makan, ada teman banyak. Apa yang bisa kita buat ya itu saja, yang besar-besar tidak usah pikir. siapa yang merasa diri penolong bisa datang, kita terima.

    Saya tidak bisa bicara lagi, musti pikir, kita ini kan tidak sekolah, jadi mesti pikir dulu, kalau mereka sudah bilang, cari lagi. kalo sekolah kan ada buku petunjuk yang bisa dilihat. Kalo kita bicara saja, lihat pohon, ini angina, ini apa, lihat burung bersura begini arti tandanya apa. Kita sekolah dari situ. (Ank, Sept 2013)

    Keterangan:

    Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru sendiri adalah bahasa Sanskerta yang berarti pohon kehidupan (Kalpavriksha).

    Hardaya adalah nama sebutan untuk perusahaan yang dimiliki oleh Hartati Murdaya Poo, dibawah holding company Central Cipta Murdaya (CCM).  Ada tiga perusahaan dibawah payung CCM yang mempunyai investasi di Merauke, yakni: (1) PT. Hardaya Sawit Papua Plantation, untuk usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 62.150 ha di Distrik Jagebob; (2) PT. Central Cipta Murdaya, untuk usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 40.000 ha di Distrik Muting, Ulilin dan Elikobel; (3) PT. Hardaya Sugar Plantation Merauke, untuk usaha perkebunan tebu dengan luas areal 44.812 ha di Distrik Jagebob.

    ARN singkatan dari Anugerah Rezeki Nusantara, nama perusahaan perkebunan tebu milik Wilmar International Group, yang luasnya mencapai 27.500 ha, beroperasi di Distrik Animha, Tanah Miring dan Jagebob.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on