Marius Matiwen, asal Kampung Sanggase, Okaba, sudah semenjak tahun 2012 lalu, tinggal di Kampung Harapan, Distrik Kurik, jarak Sanggase ke Kurik cukup jauh sekitar 4 – 5 jam dengan kendaraan motor melintasi Kali Bian. Marius tinggal bersama anaknya dan beberapa pemuda asal Kampung Sanggase. “Disini rumah kedua kami dan tempat kebun sawah kami”, cerita Marius. Anak-anak Kampung Sanggase juga sekolah lanjutan di Kurik.

“Saya membawa anak-anak sekolah di Kurik, supaya mereka dapat mempunyai pengetahuan yang luas dan belajar lebih banyak lagi tentang daerah lain, belajar berusaha dan bertani dari warga di Kurik”, kata Marius yang berharap kelak anak-anaknya dapat kembali ke Kampung Sanggase untuk mengembangkan pengetahuan dan memberdayakan warga kampungnya.

Kampung Harapan, Distrik Kurik, merupakan kampung penduduk transmigran asal pula Jawa yang datang ke tanah Marind sekitar tahun 1980. Saat ini, Kampung Harapan dan kampung-kampung di Distrik Kurik telah tumbuh berkembang menjadi sebuah kota agraris setelah kota Merauke, menjadi pusat pendidikan hingga sekolah lanjutan dan juga pusat perdagangan barang dan jasa bagi warga distrik sekitarnya dipesisir dan pedalaman Kali Kumbe dan Kali Bian.

Semenjak tahun 2012 lalu, Marius membeli tanah dari warga trans asal pulau Jawa seluas 12 hektar dengan harga sebesar Rp. 150 juta atau sekitar Rp. 12,5 juta per hektar. Simpanan uang Marius dan keluarga digunakan untuk membeli tanah kintal dan bekas sawah di Kampung Harapan. Marius berharap tanah sawah tersebut dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga.

Tanah seluas 12 hektar telah diolah untuk sawah padi seluas 6 hektar. Pada tahun 2012 lalu, Marius mengolah tanah sawah seluas 4 hektar dan berhasil panen satu kali. Jenis padi yang ditanam berasal dari pertanian bernama “Ampari 13 dan Ampari 7”, yang cocok dan sesuai dengan kondisi tanah setempat yang tergenang air dan rawan banjir pada musim hujan. Pengetahuan pengolahan padi sawah diperoleh dari warga trans, menggunakan hand traktor  dan tenaga kerja menggunakan anak-anak dari Kampung Sanggase.

Tahun 2012 ini, Marius bersama keluarganya di Kampung Sanggase, juga membuka kawasan rawa dan padang di kampung untuk lahan sawah seluas 8 hektar. Marius berharap langkahnya dapat menginspirasi warga Sanggase untuk mengembangkan usaha sawah dan juga kebun tanaman lainnya.

Orang Marind di Kampung Sanggase sudah terbiasa mengkonsumsi beras selain sagu, pisang dan ubi sebagai sumber pangan. Beras diperoleh dari bantuan pemerintah Raskin yang kadang datang tidak tepat waktu dan tidak tepat jumlah. Beras paling sering diperoleh dengan cara membeli dari kios-kios yang dimiliki pedagang non Papua, harganya terkadang mencapai Rp. 10.000 per kilo di Kampung Sanggase. Kios juga menjual berbagai kebutuhan pangan, bumbu masakan, rumah tangga dan sebagainya, yang harganya lebih mahal lebih dari 200 % harga dasar di kota Merauke.

“Kita yang pendapatannya sudah kecil habis saja dibelanjakan di kios dan kadang terpaksa melepaskan tanah kepada pemilik kios. Kita orang Marind harus mengolah tanah untuk sawah, kalau mau makan beras. Kita tanam pisang, kelapa, tebu, ubi dan sebagainya, untuk makan dan dijual. Kita harus berusaha kuat dan mandiri. Kalau kita tergantung pada orang lain dan miskin, maka kita tidak dihormati, tanah kita hilang dan hak kita dilecehkan”, kata Marius yang juga berpesan kepada anak-anaknya dan warga Marind harus belajar dari perkembangan di luar supaya tidak dapat tipu dari pihak luar dan perusahaan yang mengambil tanah dan hasil alam orang Marind.

Di Kampung Wendu, Distrik Semangga, tokoh pemuda dan seniman Marind, Christ Basikbasik, bergabung bersama saudaranya mengusahakan lahan sawah padi seluas 3 hektar di lokasi trans Salor 2 di Distrik Tanah Miring. Selain itu, Christ juga mempunyai kebun pisang sekitar 5 hektar di Kampung Wendu. Mereka tidak hanya menjual pisang, tetapi juga mengolah menjadi selai dan keripik pisang untuk dijual ke kota Merauke. Christ merencanakan pendapatan usaha padi dan pisangnya dapat dibelikan peralatan kesenian buat sanggar seni Marind Zety Animha. “Saya tidak mau berharap pada janji-janji pemerintah untuk sanggar. Kami bisa mempertahankan seni budaya Marind dengan usaha sendiri”, tegas Crist.

Di Kampung Onggari, Distrik Maling, tokoh masyarakat setempat, Stephanus Gebze, memanfaatkan pekarangan rumahnya seluas setengah hektar dengan tanaman ubi, jagung, pisang, tebu, sayur labu, kangkung, bayam, terong, tomat, cabe, dan sebagainya. Dikelola tanpa pupuk pestisida. Kebutuhan air diperoleh dari galian dan bob sumur alam disekitarnya. “Kami tidak lagi membeli makanan dari kios, semuanya petik dari halaman rumah. Malahan warga setempat dan dari kota datang beli ubi disini”, cerita Stephanus, yang juga pernah usaha padi sawah bersama kelompok warga Onggari. Tapi proyek bantuan pemerintah tersebut gagal karena padi diserang hama.

Orang Marind semestinya mampu mengurus dan mengembangkan pangan (tidak hanya beras) untuk keluarga, kampung dan bahkan orang-orang di luar kampung, asalkan mereka diberdayakan dan diberikan pengetahuan, serta dapat dimengerti. Ini amanah konstitusi. Tugas pemerintah juga untuk menata jalur distribusi dan transportasi yang memadai dan murah. Kembangkan pasar yang adil dengan nilai tukar hasil-hasil pertanian dan perkebunan yang sebanding dengan nilai atau harga yang harus dibelanjakan petani untuk kebutuhan konsumsi keluarga dan keperluan proses produksi pertanian. Melindungi orang Marind dari praktik jual beli tanah yang curang dan tidak membiarkan mereka bersaing dengan korporasi pemodal kaya.

Ank, April 2013

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Marius Matiwen, asal Kampung Sanggase, Okaba, sudah semenjak tahun 2012 lalu, tinggal di Kampung Harapan, Distrik Kurik, jarak Sanggase ke Kurik cukup jauh sekitar 4 – 5 jam dengan kendaraan motor melintasi Kali Bian. Marius tinggal bersama anaknya dan beberapa pemuda asal Kampung Sanggase. “Disini rumah kedua kami dan tempat kebun sawah kami”, cerita Marius. Anak-anak Kampung Sanggase juga sekolah lanjutan di Kurik.

    “Saya membawa anak-anak sekolah di Kurik, supaya mereka dapat mempunyai pengetahuan yang luas dan belajar lebih banyak lagi tentang daerah lain, belajar berusaha dan bertani dari warga di Kurik”, kata Marius yang berharap kelak anak-anaknya dapat kembali ke Kampung Sanggase untuk mengembangkan pengetahuan dan memberdayakan warga kampungnya.

    Kampung Harapan, Distrik Kurik, merupakan kampung penduduk transmigran asal pula Jawa yang datang ke tanah Marind sekitar tahun 1980. Saat ini, Kampung Harapan dan kampung-kampung di Distrik Kurik telah tumbuh berkembang menjadi sebuah kota agraris setelah kota Merauke, menjadi pusat pendidikan hingga sekolah lanjutan dan juga pusat perdagangan barang dan jasa bagi warga distrik sekitarnya dipesisir dan pedalaman Kali Kumbe dan Kali Bian.

    Semenjak tahun 2012 lalu, Marius membeli tanah dari warga trans asal pulau Jawa seluas 12 hektar dengan harga sebesar Rp. 150 juta atau sekitar Rp. 12,5 juta per hektar. Simpanan uang Marius dan keluarga digunakan untuk membeli tanah kintal dan bekas sawah di Kampung Harapan. Marius berharap tanah sawah tersebut dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga.

    Tanah seluas 12 hektar telah diolah untuk sawah padi seluas 6 hektar. Pada tahun 2012 lalu, Marius mengolah tanah sawah seluas 4 hektar dan berhasil panen satu kali. Jenis padi yang ditanam berasal dari pertanian bernama “Ampari 13 dan Ampari 7”, yang cocok dan sesuai dengan kondisi tanah setempat yang tergenang air dan rawan banjir pada musim hujan. Pengetahuan pengolahan padi sawah diperoleh dari warga trans, menggunakan hand traktor  dan tenaga kerja menggunakan anak-anak dari Kampung Sanggase.

    Tahun 2012 ini, Marius bersama keluarganya di Kampung Sanggase, juga membuka kawasan rawa dan padang di kampung untuk lahan sawah seluas 8 hektar. Marius berharap langkahnya dapat menginspirasi warga Sanggase untuk mengembangkan usaha sawah dan juga kebun tanaman lainnya.

    Orang Marind di Kampung Sanggase sudah terbiasa mengkonsumsi beras selain sagu, pisang dan ubi sebagai sumber pangan. Beras diperoleh dari bantuan pemerintah Raskin yang kadang datang tidak tepat waktu dan tidak tepat jumlah. Beras paling sering diperoleh dengan cara membeli dari kios-kios yang dimiliki pedagang non Papua, harganya terkadang mencapai Rp. 10.000 per kilo di Kampung Sanggase. Kios juga menjual berbagai kebutuhan pangan, bumbu masakan, rumah tangga dan sebagainya, yang harganya lebih mahal lebih dari 200 % harga dasar di kota Merauke.

    “Kita yang pendapatannya sudah kecil habis saja dibelanjakan di kios dan kadang terpaksa melepaskan tanah kepada pemilik kios. Kita orang Marind harus mengolah tanah untuk sawah, kalau mau makan beras. Kita tanam pisang, kelapa, tebu, ubi dan sebagainya, untuk makan dan dijual. Kita harus berusaha kuat dan mandiri. Kalau kita tergantung pada orang lain dan miskin, maka kita tidak dihormati, tanah kita hilang dan hak kita dilecehkan”, kata Marius yang juga berpesan kepada anak-anaknya dan warga Marind harus belajar dari perkembangan di luar supaya tidak dapat tipu dari pihak luar dan perusahaan yang mengambil tanah dan hasil alam orang Marind.

    Di Kampung Wendu, Distrik Semangga, tokoh pemuda dan seniman Marind, Christ Basikbasik, bergabung bersama saudaranya mengusahakan lahan sawah padi seluas 3 hektar di lokasi trans Salor 2 di Distrik Tanah Miring. Selain itu, Christ juga mempunyai kebun pisang sekitar 5 hektar di Kampung Wendu. Mereka tidak hanya menjual pisang, tetapi juga mengolah menjadi selai dan keripik pisang untuk dijual ke kota Merauke. Christ merencanakan pendapatan usaha padi dan pisangnya dapat dibelikan peralatan kesenian buat sanggar seni Marind Zety Animha. “Saya tidak mau berharap pada janji-janji pemerintah untuk sanggar. Kami bisa mempertahankan seni budaya Marind dengan usaha sendiri”, tegas Crist.

    Di Kampung Onggari, Distrik Maling, tokoh masyarakat setempat, Stephanus Gebze, memanfaatkan pekarangan rumahnya seluas setengah hektar dengan tanaman ubi, jagung, pisang, tebu, sayur labu, kangkung, bayam, terong, tomat, cabe, dan sebagainya. Dikelola tanpa pupuk pestisida. Kebutuhan air diperoleh dari galian dan bob sumur alam disekitarnya. “Kami tidak lagi membeli makanan dari kios, semuanya petik dari halaman rumah. Malahan warga setempat dan dari kota datang beli ubi disini”, cerita Stephanus, yang juga pernah usaha padi sawah bersama kelompok warga Onggari. Tapi proyek bantuan pemerintah tersebut gagal karena padi diserang hama.

    Orang Marind semestinya mampu mengurus dan mengembangkan pangan (tidak hanya beras) untuk keluarga, kampung dan bahkan orang-orang di luar kampung, asalkan mereka diberdayakan dan diberikan pengetahuan, serta dapat dimengerti. Ini amanah konstitusi. Tugas pemerintah juga untuk menata jalur distribusi dan transportasi yang memadai dan murah. Kembangkan pasar yang adil dengan nilai tukar hasil-hasil pertanian dan perkebunan yang sebanding dengan nilai atau harga yang harus dibelanjakan petani untuk kebutuhan konsumsi keluarga dan keperluan proses produksi pertanian. Melindungi orang Marind dari praktik jual beli tanah yang curang dan tidak membiarkan mereka bersaing dengan korporasi pemodal kaya.

    Ank, April 2013

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on