Pertanian: Mau Dibawa Kemana

0
561
Petani Pedagang Orang Asli Papua di Pasar Merauke
Petani Pedagang Orang Asli Papua di Pasar Merauke

TAHUN 2013 sudah berlalu. Menyisakan kisah pahit dan manis di sektor pertanian. Catatan positifnya swasembada beras bisa dicapai. Indonesia kembali mengulang sejarah swasembada.

Apakah swasembada beras akan berkelanjutan atau hanya sesaat? Sulit untuk menebak-tebak. Di luar cerita sukses soal swasembada beras, catatan kelam terjadi untuk komoditas jagung, kedelai, gula, dan daging sapi.

Komoditas yang lain, seperti kopi, teh, dan karet, belum keluar dari deritanya. Komoditas minyak sawit mentah (CPO) juga masih menghadapi tekanan global. Komoditas hortikultura, seperti buah dan sayur, jangan ditanya, babak belur!

Industri unggas masih menghadapi masalah akibat harga yang terus bergejolak. Kadang naik tinggi, kadang turun tajam. Dalam lima tahun terakhir, jumlah peternak unggas (ayam pedaging) berkurang 20.000 peternak atau 50 persen.

Memandang 2014 dalam jejak kelam 2013, sungguhkah akan memberi harapan, khususnya untuk sektor pertanian dan pangan Indonesia ke depan?

Apakah bangsa kita akan mampu membuat lompatan penting dalam sektor pertanian sehingga menorehkan sejarah gemilang?

Atau sebaliknya, kerja apa adanya dan bangsa kita bakal membuat sektor pertanian dan petani makin terjerembap dalam jurang kesengsaraan yang kian dalam.

Pemerintah hadir untuk memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ada pemerataan ekonomi sehingga kesejahteraan bisa dinikmati bersama. Tidak hanya milik segelintir orang.

Membahas kesejahteraan, tentu tak lepas dari persoalan daya beli. Semakin kuat daya beli masyarakat, semakin banyak kebutuhan yang bisa mereka beli sehingga diharapkan kesejahteraan rakyat lebih baik.

Bicara daya beli, semua sektor butuh daya beli yang lebih baik. Namun, kenyataannya pemerintah tidak memiliki anggaran cukup untuk secara serentak menaikkan daya beli masyarakat.

Butuh prioritas. Sektor pertanian menyerap hampir 40 juta tenaga kerja. Jika satu pekerja menanggung kehidupan tiga anggota keluarga, ada 160 juta orang Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Angka ini lebih dari 50 persen penduduk Indonesia.

Pertanyaan klasik, apa yang akan dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kehidupan 160 juta rakyatnya di sektor pertanian itu? Dari 160 juta itu, setidaknya 40 persen adalah para petani pangan.

Mereka tak mempunyai lahan. Kalaupun ada, kurang dari 5.000 meter persegi. Daya tawar mereka rendah. Akses terhadap sumber permodalan sulit. Dan yang lebih memprihatinkan, sumsum tulang mereka selalu digerogoti pasar.

Di negara berkembang, termasuk Indonesia, kegagalan pasar mengakibatkan petani semakin menderita. Kadang pasar muncul dengan sendirinya bukan karena diciptakan. Akibatnya mereka sesuka hati mematok keuntungan sehingga menekan produsen di satu sisi dan konsumen di sisi lainnya.

Mata rantai tata niaga komoditas pertanian, terutama komoditas pangan, begitu panjang, mulai dari petani, penebas, tengkulak, pedagang skala kecil, skala besar, pasar induk, pasar tradisional, pedagang keliling, hingga konsumen.

Kegagalan pasar mengakibatkan muncul mata rantai pedagang yang keuntungannya jauh melebihi produsen. Mereka bahkan semakin nyata mengatur harga. Kegagalan pasar mengakibatkan hak-hak produsen dan konsumen terampas. Pelan, tetapi pasti produsen akan meninggalkan sektor pertanian dan memilih bidang usaha lain yang belum tentu memberi jaminan lebih baik. (HERMAS E PRABOWO)

Sumber: KOMPAS, 2 Januari 2014, http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003915838