Akhir Mei 2013, Ratusan hektar tanah persawahan di Noh Deg, Kampung Salor, sudah menguning, padi berisi dan siap dituai. Para petani penuh ceria memanen padi berlomba dengan burung-burung kecil dan air hujan yang turun tak menentu. Asap dari mesin di penggilingan mengepul ke angkasa.

Tarsius Mahuze, warga Marind asal Salor Kampung, masih pagi sekali sudah bergegas keluar dari pondoknya dipinggiran hutan bus, ditepi dusun sagu, bersiap ke sawah di Noh Deg, sekitar 500 meter dari pondoknya. Beberapa batang rokok, kopi dan pisang rebus, menjadi sarapan pagi buta.

Semenjak tahun 1995, Tarsius Mahuze meninggalkan kebiasaannya berburu di hutan sekitar Kali Kumb dan banting setir menggarap lapang-lapang berawa menjadi sawah. “Hasil hutan sudah tidak bisa mencukupi menjamin keluarga lagi. Hewan buruan semakin sedikit dan sulit. Kami melihat orang-orang transmigrasi yang baru datang terus berkembang hidupnya dari usaha tani sawah. Saya tidak mau menjadi penonton, Kami ikut bersawah dan belajar dari warga transmigrasi asal pulau Jawa, hasilnya cukup memuaskan”, cerita Tarsius Mahuze penuh optimis dengan pekerjaan petani sawah yang baru dikelutinya sekitar 15 tahun.

Pada awal menjadi petani sawah memang sulit, tenaga dan waktu terkuras untuk menggarap setengah hektar sawah, apalagi kalau tidak rutin diurus, hasilnya jelek, rugi dan membuat putus asa. Tapi Tarsius bersama anggota keluarganya tetap berusaha perlahan-lahan, mulai dari setengah hektar, bertambah menjadi satu hektar, lalu dua hektar hingga tahun 2012.  Saat ini, Tarsius menggarap lahan sawah seluas 5 hektar.

Mama Basik-basik, isteri Tarsius asal Kampung Wendu, bersama 9 anggota keluarganya, dikerahkan menggarap lahan sawah hingga panen. Mereka tidak lagi mengandalkan tenaga sepenuhnya. Mesin pengolah tanah hand traktor menggantikan tenaga hewan dan manusia melipat tanah. Tahun 2013 ini, Tarsius dan beberapa petani setempat mendapatkan bantuan mesin hand traktor. Sebelumnya, Tarsius pinjam dan menyewa mesin hand traktor dari warga trans di Salor dengan harga sewa Rp. 700.000, per hektar, dan menanggung jaminan makan minum dan rokok pekerjanya.

“Tidak selamanya hasil panen padi berhasil memuaskan seperti yang diharapkan, pernah juga mengecewakan, apalagi kalau tidak diurus, tidak dirawat dan waktu tanamnya tidak sesuai”, kata Tarsius mengisahkan lika liku tantangan orang Marind yang baru menjadi petani sawah.

Meskipun sulit, tapi Tarsius yakin dengan pekerjaannya yang baru dapat menjamin kebutuhan hidup keluarganya. Mereka dapat mempunyai pendapatan dan simpanan untuk menyekolahkan anak-anak, membeli kebutuhan sehari-hari dan benda berharga, seperti motor, kuda, televisi, tape, handphone, dan sebagainya.

Hasil panen gabah padi per hektar antara 80 sampai 110 sak karung, tergantung perawatan dan waktu tanam padi. Setiap sak gabah hasilnya 40 kilo beras. Artinya jika hasil panen gabah rata-rata 100 sak karung per hektar sama dengan 4.000 kilo atau 4 ton beras per hektar per musim tanam. Jika ada 2 hektar sawah dan diolah dengan dua kali tanam setiap tahun, artinya hasil beras sama dengan 4 ton beras dikalikan dua musim tanam dan dua hektar atau sama dengan 16 ton beras.

Jenis padi yang ditanam para petani diperoleh dan tergantung dari dinas pertanian dan pasar bibit setempat, tidak ada benih lokal. Jenis padi tersebut, antara lain disebut padi 45, pari 9, mikongga, ciliwung dan PB5. Beras padi yang paling disukai dan laku terjual adalah jenis ciliwung, 64 dan PB5. Harga beras di kios pasar lokal sebesar Rp. 8.000 sampai Rp. 9.000 per kilo. Sedangkan harga beras pada pemilik mesin penggilingan padi kepada petani penggiling padi sebesar Rp. 6.000 – 6.500 perkilo.

Tarsius mengakui pendapatan kotor dari bertani padi pada setiap musim panen sepanjang satu tahun dengan lahan padi seluas dua hektar mencapai  Rp. 100.000.000.-. selain itu, beras dikonsumsi keluarga sebesar 60 kilogram per bulan dan bisa mencapai satu ton per tahun, karena digunakan untuk acara keluarga dan syukuran bagi hasil. Sisanya dijual.

Pendapatan tersebut jika dipotong dengan ongkos kerja sawah yang mencapai Rp. 15 juta per musim tanam, untuk beli BBM solar, upah tenaga kerja, makan minum, rokok dan sebagainya. Lalu sewa mesin perontok padi (treser) dari petani warga trans Jawa. Hitungan sewa mesin dengan sistem bagi hasil (10 : 1), setiap 10 sak gabah padi, satu sak gabah diberikan kepada pemilik mesin.

Cukup memuaskan. Sebagian mimpi Tarsius sudah bisa diwujudkan untuk mencukupi dan membahagiakan keluarganya. Tarsius masih merencanakan untuk membangun rumah beton yang lebih besar dan bisa didiami keluarganya, “Pondasi rumah so ada, tinggal ongkos kase berdiri tiang, dinding dan atap, semoga panen tahun berikutnya su bisa terbangun”, cerita Tarsius yang  tidak pernah meminta beras, kalaupun ada beras pemerintah “raskin”, beliau hanya membagikan beras raskin kepada keluarga yang membutuhkan.

Tarsius mendengar Bupati Romanus aksi panen padi dengan mesin perontok padi yang baru di Kuper, beliau ingin juga diajarkan dan dibantu untuk mendapatkan mesin perontok seperti itu, seperti juga yang digunakan warga trans asal Jawa di Salor. “Kami mengharapkan agar nasib petani asal suku Marind dilindungi dan diberdayakan, sehingga kami juga bisa sama dengan warga petani asal luar Papua. Pemerintah harus melindungi kami dari perusahaan yang ingin membeli tanah dan merusak lingkungan hutan rawa kami”, pesan harapan Tarsius.

Mimpi perubahan yang diharapkan semua orang Marind, jika dilakukan dengan kesungguhan, dengan kejujuran dan hati, dan persatuan, pasti akan terwujud. (Ank, Jun 2013)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Akhir Mei 2013, Ratusan hektar tanah persawahan di Noh Deg, Kampung Salor, sudah menguning, padi berisi dan siap dituai. Para petani penuh ceria memanen padi berlomba dengan burung-burung kecil dan air hujan yang turun tak menentu. Asap dari mesin di penggilingan mengepul ke angkasa.

    Tarsius Mahuze, warga Marind asal Salor Kampung, masih pagi sekali sudah bergegas keluar dari pondoknya dipinggiran hutan bus, ditepi dusun sagu, bersiap ke sawah di Noh Deg, sekitar 500 meter dari pondoknya. Beberapa batang rokok, kopi dan pisang rebus, menjadi sarapan pagi buta.

    Semenjak tahun 1995, Tarsius Mahuze meninggalkan kebiasaannya berburu di hutan sekitar Kali Kumb dan banting setir menggarap lapang-lapang berawa menjadi sawah. “Hasil hutan sudah tidak bisa mencukupi menjamin keluarga lagi. Hewan buruan semakin sedikit dan sulit. Kami melihat orang-orang transmigrasi yang baru datang terus berkembang hidupnya dari usaha tani sawah. Saya tidak mau menjadi penonton, Kami ikut bersawah dan belajar dari warga transmigrasi asal pulau Jawa, hasilnya cukup memuaskan”, cerita Tarsius Mahuze penuh optimis dengan pekerjaan petani sawah yang baru dikelutinya sekitar 15 tahun.

    Pada awal menjadi petani sawah memang sulit, tenaga dan waktu terkuras untuk menggarap setengah hektar sawah, apalagi kalau tidak rutin diurus, hasilnya jelek, rugi dan membuat putus asa. Tapi Tarsius bersama anggota keluarganya tetap berusaha perlahan-lahan, mulai dari setengah hektar, bertambah menjadi satu hektar, lalu dua hektar hingga tahun 2012.  Saat ini, Tarsius menggarap lahan sawah seluas 5 hektar.

    Mama Basik-basik, isteri Tarsius asal Kampung Wendu, bersama 9 anggota keluarganya, dikerahkan menggarap lahan sawah hingga panen. Mereka tidak lagi mengandalkan tenaga sepenuhnya. Mesin pengolah tanah hand traktor menggantikan tenaga hewan dan manusia melipat tanah. Tahun 2013 ini, Tarsius dan beberapa petani setempat mendapatkan bantuan mesin hand traktor. Sebelumnya, Tarsius pinjam dan menyewa mesin hand traktor dari warga trans di Salor dengan harga sewa Rp. 700.000, per hektar, dan menanggung jaminan makan minum dan rokok pekerjanya.

    “Tidak selamanya hasil panen padi berhasil memuaskan seperti yang diharapkan, pernah juga mengecewakan, apalagi kalau tidak diurus, tidak dirawat dan waktu tanamnya tidak sesuai”, kata Tarsius mengisahkan lika liku tantangan orang Marind yang baru menjadi petani sawah.

    Meskipun sulit, tapi Tarsius yakin dengan pekerjaannya yang baru dapat menjamin kebutuhan hidup keluarganya. Mereka dapat mempunyai pendapatan dan simpanan untuk menyekolahkan anak-anak, membeli kebutuhan sehari-hari dan benda berharga, seperti motor, kuda, televisi, tape, handphone, dan sebagainya.

    Hasil panen gabah padi per hektar antara 80 sampai 110 sak karung, tergantung perawatan dan waktu tanam padi. Setiap sak gabah hasilnya 40 kilo beras. Artinya jika hasil panen gabah rata-rata 100 sak karung per hektar sama dengan 4.000 kilo atau 4 ton beras per hektar per musim tanam. Jika ada 2 hektar sawah dan diolah dengan dua kali tanam setiap tahun, artinya hasil beras sama dengan 4 ton beras dikalikan dua musim tanam dan dua hektar atau sama dengan 16 ton beras.

    Jenis padi yang ditanam para petani diperoleh dan tergantung dari dinas pertanian dan pasar bibit setempat, tidak ada benih lokal. Jenis padi tersebut, antara lain disebut padi 45, pari 9, mikongga, ciliwung dan PB5. Beras padi yang paling disukai dan laku terjual adalah jenis ciliwung, 64 dan PB5. Harga beras di kios pasar lokal sebesar Rp. 8.000 sampai Rp. 9.000 per kilo. Sedangkan harga beras pada pemilik mesin penggilingan padi kepada petani penggiling padi sebesar Rp. 6.000 – 6.500 perkilo.

    Tarsius mengakui pendapatan kotor dari bertani padi pada setiap musim panen sepanjang satu tahun dengan lahan padi seluas dua hektar mencapai  Rp. 100.000.000.-. selain itu, beras dikonsumsi keluarga sebesar 60 kilogram per bulan dan bisa mencapai satu ton per tahun, karena digunakan untuk acara keluarga dan syukuran bagi hasil. Sisanya dijual.

    Pendapatan tersebut jika dipotong dengan ongkos kerja sawah yang mencapai Rp. 15 juta per musim tanam, untuk beli BBM solar, upah tenaga kerja, makan minum, rokok dan sebagainya. Lalu sewa mesin perontok padi (treser) dari petani warga trans Jawa. Hitungan sewa mesin dengan sistem bagi hasil (10 : 1), setiap 10 sak gabah padi, satu sak gabah diberikan kepada pemilik mesin.

    Cukup memuaskan. Sebagian mimpi Tarsius sudah bisa diwujudkan untuk mencukupi dan membahagiakan keluarganya. Tarsius masih merencanakan untuk membangun rumah beton yang lebih besar dan bisa didiami keluarganya, “Pondasi rumah so ada, tinggal ongkos kase berdiri tiang, dinding dan atap, semoga panen tahun berikutnya su bisa terbangun”, cerita Tarsius yang  tidak pernah meminta beras, kalaupun ada beras pemerintah “raskin”, beliau hanya membagikan beras raskin kepada keluarga yang membutuhkan.

    Tarsius mendengar Bupati Romanus aksi panen padi dengan mesin perontok padi yang baru di Kuper, beliau ingin juga diajarkan dan dibantu untuk mendapatkan mesin perontok seperti itu, seperti juga yang digunakan warga trans asal Jawa di Salor. “Kami mengharapkan agar nasib petani asal suku Marind dilindungi dan diberdayakan, sehingga kami juga bisa sama dengan warga petani asal luar Papua. Pemerintah harus melindungi kami dari perusahaan yang ingin membeli tanah dan merusak lingkungan hutan rawa kami”, pesan harapan Tarsius.

    Mimpi perubahan yang diharapkan semua orang Marind, jika dilakukan dengan kesungguhan, dengan kejujuran dan hati, dan persatuan, pasti akan terwujud. (Ank, Jun 2013)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on