(Sept, 2013) Saat ini daerah Merauke umumnya sedang mengalami musim kering, hujan sudah sekitar sebulan terakhir tidak turun dan matahari sangat terik pada siang hari. Sebaliknya udara cukup dingin pada malam hari. Kebanyakan anak-anak kali kecil didalam hutan sampai kering. Genangan air di daerah rawa dan kolam-kolam alam yang dalam surut airnya hingga kedalaman selutut orang dewasa.

Setiap hari, Orang Malind pergi ke hutan di daerah rawa untuk mencari ikan dan berburu binatang liar. Di Kampung Domande, Distrik Malind, Merauke, sudah sekitar sebulan lamanya, warga setempat panen ikan dari rawa Duhibob dan kolam-kolam yang berada disekitar kampung.

Warga Domande secara berkelompok mengambil ikan dari rawa Duhibob dengan menggunakan alat tangkap jaring yang dipasang melingkar lalu ditarik oleh beberapa orang. Jenis ikan rawa yang ditangkap adalah mujair dan nila yang beratnya rata-rata 1-2 kilogram. Rata-rata ikan mujair dan nila yang ditangkap setiap harinya rata-rata mencapai 50 ekor untuk ikan besar. Sedangkan ikan tangkapan di kolam alam kebanyakan jenis ikan betik dan gastor.

Tangkapan ikan mujair dan nila, selain untuk dimakan keluarga, juga dijual kepada pengumpul di kampung yang juga pemilik kios dengan harga Rp. 10.000 hingga Rp. 13.000 per tusuk, tergantung besar dan kecilnya ikan, yang rata-rata per tusuk mencapai berat lebih dari satu kilogram. Pemilik kios membawa ke kota Merauke dan menjual kepada pengumpul di kota dengan harga Rp. 15.000 – Rp. 25.000 per tusuk. Sedangkan, hasil tangkapan ikan gastor biasanya dibuat ikan kering yang diasinkan. Harga ikan asin per kilogram mencapai Rp. 13.000.-.

Stepanus Kaize dari Kampung Domande, mengaku hasil ikan di rawa sangat membantu menambah penghasilan keluarga. Selain di rawa, warga juga menangkap ikan dan udang di laut pada musim tertentu.

Namun, masyarakat khawatir dengan usaha tangkapan mereka akan semakin berkurang dikarenakan kehadiran dan dampak aktifitas perusahaan PT. Cendrawasih Jaya Mandiri dan PT. Karyabumi Papua, yang menggunakan lahan dan daerah rawa sekitar untuk perkebunan dan pabrik tebu.

Saat ini kedua anak perusahaan Rajawali Group tersebut telah membuka hutan disekitar daerah Iwakem, yang mana terdapat mata air dan Kali Yahunkihuhui dan Kali Ga’ul, serta mege pamaa, yang airnya mengalir hingga ke rawa Duhibob. Perubahan dan hilangnya hutan setempat diperkirakan akan berdampak pada perubahan sirkulasi air dan rona lingkungan setempat, serta akan mempengaruhi kehidupan hewan dan tanaman. Pada gilirannya berdampak mengurangi penghasilan warga Domande dan sekitarnya.

(Ank, Sept 2013)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    (Sept, 2013) Saat ini daerah Merauke umumnya sedang mengalami musim kering, hujan sudah sekitar sebulan terakhir tidak turun dan matahari sangat terik pada siang hari. Sebaliknya udara cukup dingin pada malam hari. Kebanyakan anak-anak kali kecil didalam hutan sampai kering. Genangan air di daerah rawa dan kolam-kolam alam yang dalam surut airnya hingga kedalaman selutut orang dewasa.

    Setiap hari, Orang Malind pergi ke hutan di daerah rawa untuk mencari ikan dan berburu binatang liar. Di Kampung Domande, Distrik Malind, Merauke, sudah sekitar sebulan lamanya, warga setempat panen ikan dari rawa Duhibob dan kolam-kolam yang berada disekitar kampung.

    Warga Domande secara berkelompok mengambil ikan dari rawa Duhibob dengan menggunakan alat tangkap jaring yang dipasang melingkar lalu ditarik oleh beberapa orang. Jenis ikan rawa yang ditangkap adalah mujair dan nila yang beratnya rata-rata 1-2 kilogram. Rata-rata ikan mujair dan nila yang ditangkap setiap harinya rata-rata mencapai 50 ekor untuk ikan besar. Sedangkan ikan tangkapan di kolam alam kebanyakan jenis ikan betik dan gastor.

    Tangkapan ikan mujair dan nila, selain untuk dimakan keluarga, juga dijual kepada pengumpul di kampung yang juga pemilik kios dengan harga Rp. 10.000 hingga Rp. 13.000 per tusuk, tergantung besar dan kecilnya ikan, yang rata-rata per tusuk mencapai berat lebih dari satu kilogram. Pemilik kios membawa ke kota Merauke dan menjual kepada pengumpul di kota dengan harga Rp. 15.000 – Rp. 25.000 per tusuk. Sedangkan, hasil tangkapan ikan gastor biasanya dibuat ikan kering yang diasinkan. Harga ikan asin per kilogram mencapai Rp. 13.000.-.

    Stepanus Kaize dari Kampung Domande, mengaku hasil ikan di rawa sangat membantu menambah penghasilan keluarga. Selain di rawa, warga juga menangkap ikan dan udang di laut pada musim tertentu.

    Namun, masyarakat khawatir dengan usaha tangkapan mereka akan semakin berkurang dikarenakan kehadiran dan dampak aktifitas perusahaan PT. Cendrawasih Jaya Mandiri dan PT. Karyabumi Papua, yang menggunakan lahan dan daerah rawa sekitar untuk perkebunan dan pabrik tebu.

    Saat ini kedua anak perusahaan Rajawali Group tersebut telah membuka hutan disekitar daerah Iwakem, yang mana terdapat mata air dan Kali Yahunkihuhui dan Kali Ga’ul, serta mege pamaa, yang airnya mengalir hingga ke rawa Duhibob. Perubahan dan hilangnya hutan setempat diperkirakan akan berdampak pada perubahan sirkulasi air dan rona lingkungan setempat, serta akan mempengaruhi kehidupan hewan dan tanaman. Pada gilirannya berdampak mengurangi penghasilan warga Domande dan sekitarnya.

    (Ank, Sept 2013)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on