Tokoh-tokoh masyarakat adat Malind di Kepala Kali Bian, Muting, selama tiga hari melakukan musyawarah adat, 5 – 7 Februari, di Rumah Pertemuan Adat, Kampung Muting, Distrik Muting, Merauke. Pertemuan diurus dan dipimpin oleh pimpinan dan pengurus LMA Malind Bian di Muting.

Puluhan tokoh masyarakat adat Malind dari Kandiki, Ulilin, Bupul dan sekitarnya ikut hadir dalam musyawarah tersebut guna membahas keberadaan masyarakat adat Malind dan investasi yang kini dihadapi masyarakat setempat.

Menurut Silvester Ndiken, tokoh masyarakat Muting, tema-tema pokok yang dibahas mencakup keberadaan dan hak-hak masyarakat, sistem kontrak dan izin perusahaan, insentif bagi masyarakat dan tanggung jawab perusahaan.

Pertemuan berlangsung dengan lancar dan terjadi perdebatan terkait penerimaan masyarakat terhadap perusahaan. Masyarakat mengkhawatirkan dengan keseriusan dan komitmen perusahaan dan pemerintah untuk bertanggung jawab mengatasi resiko dan mengurangi dampak social, ekonomi dan lingkungan. Masyarakat menekankan pentingnya pemerintah memberdayakan orang asli Papua.

“Sayang sekali hingga pertemuan ini berakhir tidak menghasilkan kesimpulan dan keputusan untuk pemerintah dan perusahaan”, dijelaskan Silvester, yang baru bisa dihubungi melalui hand phone (HP) nya.

Kemungkinan LMA dan panitia membuat rekomendasi untuk disampaikan kepada invetor pemerintah atau pihak lain, tetapi Silvester dan warga peserta lain tidak tahu apa isinya, “rekomendasi itu bukan dihasilkan dari dan oleh forum rapat, kalau ada rekomendasi hemat saya harus dibacakan di forum rapat”, ungkap Silvester.

Ank, Feb 2014

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Tokoh-tokoh masyarakat adat Malind di Kepala Kali Bian, Muting, selama tiga hari melakukan musyawarah adat, 5 – 7 Februari, di Rumah Pertemuan Adat, Kampung Muting, Distrik Muting, Merauke. Pertemuan diurus dan dipimpin oleh pimpinan dan pengurus LMA Malind Bian di Muting.

    Puluhan tokoh masyarakat adat Malind dari Kandiki, Ulilin, Bupul dan sekitarnya ikut hadir dalam musyawarah tersebut guna membahas keberadaan masyarakat adat Malind dan investasi yang kini dihadapi masyarakat setempat.

    Menurut Silvester Ndiken, tokoh masyarakat Muting, tema-tema pokok yang dibahas mencakup keberadaan dan hak-hak masyarakat, sistem kontrak dan izin perusahaan, insentif bagi masyarakat dan tanggung jawab perusahaan.

    Pertemuan berlangsung dengan lancar dan terjadi perdebatan terkait penerimaan masyarakat terhadap perusahaan. Masyarakat mengkhawatirkan dengan keseriusan dan komitmen perusahaan dan pemerintah untuk bertanggung jawab mengatasi resiko dan mengurangi dampak social, ekonomi dan lingkungan. Masyarakat menekankan pentingnya pemerintah memberdayakan orang asli Papua.

    “Sayang sekali hingga pertemuan ini berakhir tidak menghasilkan kesimpulan dan keputusan untuk pemerintah dan perusahaan”, dijelaskan Silvester, yang baru bisa dihubungi melalui hand phone (HP) nya.

    Kemungkinan LMA dan panitia membuat rekomendasi untuk disampaikan kepada invetor pemerintah atau pihak lain, tetapi Silvester dan warga peserta lain tidak tahu apa isinya, “rekomendasi itu bukan dihasilkan dari dan oleh forum rapat, kalau ada rekomendasi hemat saya harus dibacakan di forum rapat”, ungkap Silvester.

    Ank, Feb 2014

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on