Oleh: Ridzki R. Sigit,  February 1, 2014 5:55 am

Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Sorong, Papua Barat (29/01/2014) menuntut terdakwa Aiptu Labora Sitorus (LS), pemilik perusahaan kayu PT Rotua, dengan tuntutan 15 tahun, denda 100 juta rupiah subsider 10 tahun penjara.

Sidang tuntutan ini sendiri dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Martinus Bala, SH dengan anggota majelis hakim, Maria M. Sitanggang, SH, MH dan Irianto Tiranda, SH. Demikian seperti yang dikutip Mongabay Indonesia dari pemberitaan Papua Barat Pos.

Menurut Jaksa Penuntut Umum yang beranggotakan Rein Singal, SH, MH, Syahrul Anwar, SH, dan lainnya, LS dianggap telah melanggar pasal 55 ayat 1 KUHP, UU no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 53 huruf b, UU no 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi, pasal 3 ayat 1 huruf c UU no 15 tahun 2002 yang telah diubah menjadi Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan yang terakhir adalah pasal 3 UU no 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sebelumnya, seperti yang diberitakan oleh Mongabay Indonesia, kasus ini sempat menghebohkan karena terdakwa LS sempat diinformasikan memiliki rekening gendut hingga 1,5 triliun rupiah, yang diduga telah merugikan negara dalam jumlah raksasa dalam aksinya. Tidak saja kasus ilegal logging, kasus pencucian uang yang melibatkan terdakwa sempat mencuat pada bulan Mei 2013 menyusul penangkapan terhadap 2.264 meter kubik kayu merbau yang dimuat dalam 115 kontainer di Surabaya, Jawa Timur.

Semua kayu ini disuplai oleh perusahaan keluarga milik Labora Sitorus PT Rotua. Sekitar 1.500 kayu gelondongan juga diamankan di Papua, dan Pulau Batanta di Kepulauan Raja Ampat adalah sumber utama kayu ilegal ini.

Menanggapi tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, terdakwa LS, -yang sempat pingsan ketika pembacaan tuntutan dilakukan-, menyebutkan tidak terima dan sangat tidak sesuai dengan fakta persidangan. Dalam pernyataannya kepada wartawan setelah persidangan, terdakwa LS menyebutkan bahwa fakta sidang telah direkayasa oleh penyidik dengan berkoordinasi dengan kepolisian. Terdakwa pun menyebutkan telah terjadi permainan terhadap lelang sebanyak 115 kontainer yang disita di Surabaya. Menurutnya kayu yang dilelang bukan 6,5 milyar rupiah namun seharusnya berjumlah 20 milyar rupiah. Ia balik menuduh terdapat upaya permainan untuk memperoleh keuntungan dari sisa pelelangan sebanyak 13,5 milyar rupiah.

Lanjutan dari persidangan terdakwa dari LS akan dilakukan di PN Sorong minggu depan dengan lanjutan persidangan untuk membacakan pembelaan dari terdakwa.

Baca selanjutnya di: http://www.mongabay.co.id/2014/02/01/terdakwa-kasus-ilegal-logging-di-raja-ampat-dituntut-lima-belas-tahun-penjara/?fanpagefb

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh: Ridzki R. Sigit,  February 1, 2014 5:55 am

    Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Sorong, Papua Barat (29/01/2014) menuntut terdakwa Aiptu Labora Sitorus (LS), pemilik perusahaan kayu PT Rotua, dengan tuntutan 15 tahun, denda 100 juta rupiah subsider 10 tahun penjara.

    Sidang tuntutan ini sendiri dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Martinus Bala, SH dengan anggota majelis hakim, Maria M. Sitanggang, SH, MH dan Irianto Tiranda, SH. Demikian seperti yang dikutip Mongabay Indonesia dari pemberitaan Papua Barat Pos.

    Menurut Jaksa Penuntut Umum yang beranggotakan Rein Singal, SH, MH, Syahrul Anwar, SH, dan lainnya, LS dianggap telah melanggar pasal 55 ayat 1 KUHP, UU no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 53 huruf b, UU no 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi, pasal 3 ayat 1 huruf c UU no 15 tahun 2002 yang telah diubah menjadi Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan yang terakhir adalah pasal 3 UU no 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

    Sebelumnya, seperti yang diberitakan oleh Mongabay Indonesia, kasus ini sempat menghebohkan karena terdakwa LS sempat diinformasikan memiliki rekening gendut hingga 1,5 triliun rupiah, yang diduga telah merugikan negara dalam jumlah raksasa dalam aksinya. Tidak saja kasus ilegal logging, kasus pencucian uang yang melibatkan terdakwa sempat mencuat pada bulan Mei 2013 menyusul penangkapan terhadap 2.264 meter kubik kayu merbau yang dimuat dalam 115 kontainer di Surabaya, Jawa Timur.

    Semua kayu ini disuplai oleh perusahaan keluarga milik Labora Sitorus PT Rotua. Sekitar 1.500 kayu gelondongan juga diamankan di Papua, dan Pulau Batanta di Kepulauan Raja Ampat adalah sumber utama kayu ilegal ini.

    Menanggapi tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, terdakwa LS, -yang sempat pingsan ketika pembacaan tuntutan dilakukan-, menyebutkan tidak terima dan sangat tidak sesuai dengan fakta persidangan. Dalam pernyataannya kepada wartawan setelah persidangan, terdakwa LS menyebutkan bahwa fakta sidang telah direkayasa oleh penyidik dengan berkoordinasi dengan kepolisian. Terdakwa pun menyebutkan telah terjadi permainan terhadap lelang sebanyak 115 kontainer yang disita di Surabaya. Menurutnya kayu yang dilelang bukan 6,5 milyar rupiah namun seharusnya berjumlah 20 milyar rupiah. Ia balik menuduh terdapat upaya permainan untuk memperoleh keuntungan dari sisa pelelangan sebanyak 13,5 milyar rupiah.

    Lanjutan dari persidangan terdakwa dari LS akan dilakukan di PN Sorong minggu depan dengan lanjutan persidangan untuk membacakan pembelaan dari terdakwa.

    Baca selanjutnya di: http://www.mongabay.co.id/2014/02/01/terdakwa-kasus-ilegal-logging-di-raja-ampat-dituntut-lima-belas-tahun-penjara/?fanpagefb

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on